Setelah tersadar, Tara langsung mendorong tubuh Gio. "Apa - apaan sih lo? Jangan suka seenaknya gitu lagi deh"
"Lagian lo masuk kamar cowok sembarangan" ucap Gio sembari tertawa melihat ekspresi Tara.
"Gue kan udah panggil - panggil lo, cuma lo nya aja yang ga mau keluar atau jawab"
"Gue baru dari kamar mandi, mana denger lo panggil, ada apa?" tanya Gio.
"Sama om dan tante disuruh turun, kita makan bareng" ucap Tara sambil melihat - lihat kamar Gio.
"Oke, bentar gue ganti baju dulu, lo mau keluar atau mau liat sekalian?" goda Gio.
"Ih apaan sih lo, ini juga mau keluar" gerutu Tara sembari keluar dari kamar Gio kemudian kembali menuju meja makan.
"Loh, mana Gionya?" tanya Anisa.
"Masih ganti baju tante, katanya sebentar lagi turun" jelas Tara masih dengan wajah kesal.
"Kamu kenapa Tara, kok cemberut?" tanya Anisa lagi.
"Ga papa kok tante" ucap Tara sambil melanjutkan makannya. Tak lama kemudian, Gio turun dan duduk di depan Tara bersebelahan dengan Gery.
"Lama banget lo bang" ujar Gery.
"Biasa aja deh perasaan" jawab Gio sembari mengambil makanan.
"Udah, kita makan aja dulu, ada yang mau papa omongin sama kalian" ucap Fahri menengahi.
Mereka melanjutkan makan, suasana tenang tanpa ada yang bicara. Tara yang masih kesal enggan menatap Gio di hadapannya. Sedangkan Gio, ia terus menatap Tara, menyenangkan melihat Tara dengan wajah kesalnya. Tiba - tiba tatapan mereka bertemu.
Seringai terbentuk di bibir Gio, sedangkan Tara, ia malah membuang muka, tak ingin menatap wajah menyebalkan Gio.
"Nyebelin banget tau ga" batin Tara.
Setelah beberapa saat, acara makan malampun selesai.
"Habis ini kita kumpul sebentar ya di ruang keluarga" titah Fahri.
Kemudian Fahri menuju ke ruang keluarga, diikuti oleh Anisa, Gery, dan Gio. Tara masih membereskan meja makan.
"Loh mana Tara?" ucap Anisa setelah sampai di ruang keluarga.
"Masih beresin meja makan kayaknya ma" jawab Gery.
"Loh, ya ampun Tara, tuh anak ga bisa diem banget deh, dek, kamu panggil Tara sekarang!" ucap Anisa.
"Mager deh ma, Gery tuh kekenyangan, tadi makannya banyak banget" ucap Gery beralasan
"Lo mah alasan doang, bilang aja malas" ledek Gio.
"Udah, abang aja kalau gitu yang panggil" perintah Anisa.
"Kan, jadi abang deh" gerutu Gio sembari beranjak menuju ruang makan untuk memanggil Tara.
Setelah sampai di ruang makan, ia melihat Tara dengan terampil merapikan meja makan, makanan yang masih tersisa di meja, ia membersihkan semuanya, mencuci piring dan peralatan yang kotor setelah digunakan. Kagum, rasa itu muncul begitu saja saat melihat Tara dapat melakukan semuanya, di saat teman - temannya hanya bisa mengandalkan asisten rumah tangga, Tara dapat melakukan semua itu tanpa kesulitan.
"Ngapain lo di sini?" ucap Tara yang membuat lamunan Gio buyar.
"Udah beres - beresnya? ditungguin mama sama papa tuh" jawab Gio sok dingin.
"Udah, ini tinggal bilas sedikit lagi"
"Gue bantu biar cepet selesai" ujar Gio sembari mengabil alih piring yang dipegang Tara.
"Eh, ga usah" sergah Tara sembari mencegah Gio. Tapi Gio malah menutupi dengan badannya.
"Gio, ga usah, biar gue selesaiin aja, lo balik duluan sana ke om sama tante" perintah Tara.
"Gue juga bisa kali kalau cuma cuci piring aja mah" jawab Gio membanggakan diri.
Prang...
"Kan, udah gue bilangin juga" ucap Tara sembari memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai.
Gio kaget, bingung harus berkata apa, ia tak sengaja menjatuhkan piringnya. Ia sama sekali tak pernah membantu mamanya untuk mencuci piring, mamanya selalu melarang dengan alasan nanti piring mamanya akan habis jika ia dan Gery membantu. Ternyata ini alasannya.
"Aww.." ringis Tara saat pecahan piring ada yang mengenai tangannya.
Melihat itu reflek Gio ikut berjongkok dan meraih tangan Tara, kemudian di masukkan ke dalam mulut untuk menghentikan darah yang keluar.
"Ada apa ini?" tanya Anisa dan yang lain yang datang ke ruang makan karena mendengar suara benda yang jatuh. Semua kaget dengan adegan yang sedang berlangsung antara Tara dan Gio.
Melihat Anisa dan yang lain datang Tara langsung menarik tangannya yang sedang di genggam Gio.
"Kok lo tarik sih, itu masih berdarah" ujar Gio yang masih belum menyadari kedatangan Anisa karena masih panik.
"Ga ada apa - apa kok tante, cuma piring jatuh aja" ucap Tara bermaksud untuk memberitahu Gio.
Gio mendongak, menatap mama, papa, dan adiknya yang menunjukkan raut wajah meminta penjelasan.
Ia berdiri di samping Tara "Tadi maksudnya abang mau bantuin Tara cuci piring biar cepet selesai, tapi malah jatuhin piringnya" jelas Gio sambil cengengesan.
"Lo cuci piring?" ucap Gery penasaran sekaligus bermaksud meledek kakaknya.
"Udah biar nanti mama yang beresin, sekarang kalian tunggu di ruang keluarga, papa mau ngomong itu dari tadi" perintah Anisa.
"Tara, tangan kamu gapapa?"
"Ga papa tante, cuma kegores sedikit aja kok" jawabnya.
"Kalau gitu, kamu bisa bantu tante ambil sapunya" tanya Anisa.
"Iya tante" ucap Tara sembari pergi mengambil mengambil sapu.
"Kalian ikut papa" titah Fahri. Gio dan Gery mengikuti papanya. Gery menatap Gio dengan tatapan menyelidik.
"Apa?" ucap Gio hanya dengan gerakan bibir saja. Hanya dibalas dengan senyum penuh arti oleh Gery.
***
Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Papa sama mama akan berangkat ke negara J besok pagi, mungkin sekitar 2 minggu, kalian gapapa kami tinggal?" tanya Fahri.
"Gapapa ma" jawab Gio.
"Sekarang mah gapapa kalau mama sama papa pergi jauh - jauh, kita ga akan khawatir lagi" ucap Gery.
"Maksudnya?" tanya Anisa bingung.
"Udah ada yang ngurusin dan masakin kita, ya nggak Tar?" ucap Gery sembari menyenggol lengan Tara.
"Iya tante, Tara bisa jagain mereka" ucap Tara tersenyum.
"Makasih ya Tara, jagain bayi - bayi tante ya" ledek Anisa.
"Yang ada abang yang bakal jagain kalian tau ga" pamer Gio.
"Yakin?" tanya Fahri meledek. Gio yang tahu maksud papa nya tentang kejadian tadi langsung salah tingkah.
"Pokoknya mama minta kalian harus akur, saling menjaga ya, rencana 2 minggu, kalau masih ada yang diurus bisa lebih dari itu" jelas Anisa.
"Iya ma/tante" ucap Gio, Gery, dan Tara bersamaan.
"Ya udah, sekarang kalian bisa istirahat" ucap Fahri.
"Kalau gitu Tara permisi om, tante" ucap Tara sembari pergi menuju kamarnya.
"Abang juga pamit ma, pa" pamit Gio. Sedangkan Gery masih bermanja dengan mamanya.
Tara sudah masuk ke dalam kamarnya, pintu kamar Tara selalu ia tutup, tapi tidak di kunci. Ia membuka buku pelajaran, mulai mengerjakan tugasnya untuk besok. Ada satu soal yang tidak ia mengerti, ia berpikir keras tetap tidak menemukan jawabnnya.
Ia memutuskan untuk bertanya pada Gery, tapi ternyata dia sudah tertidur.
"Ya ampun anak mama, udah tidur" ledeknya sambil menghela nafas.
"Gimana dong ini, besok giliran gue lagi yang ngejelasin di depan" ucap Tara bermonolog.
Ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya, saat melihat pintu kamar Gio masih terbuka, dan sang empunya masih duduk di meja belajarnya, membuat Tara memutuskan untuk bertanya padanya.
"Gio" panggil Tara dari pintu. Gio menoleh ditatapnya Tara yang berdiri di depan pintu.
"Kenapa?" tanya Gio masih di posisinya.
"Gue mau nanya tugas yang ga gue ngerti" jelas Tara.
"Sini, gue mager mau keluar" ucap Gio.
Mendengar jawaban Gio membuat Tara langsung masuk dengan membawa bukunya. Ia menunjukkan soal yang tidak dimengerti.
Gio dengan telaten menjelaskan jawaban dari soal tersebut.
Tara tak sengaja menatap wajah Gio yang sedang serius menjelaskan, tanpa sadar ia berucap "Sempurna", Gio yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya pada Tara.
"Apanya?" tanya Gio. Tara yang tersadar langsung gelagapan, ia merutuki kebodohannya "Eh, itu penjelasan lo sempurna banget, gue bener - bener paham" jelas Tara agar tak mencurigakan.
"Ya udah kalau gitu, makasih ya, gue balik ke kamar dulu"
"Tunggu, bayar dulu" ucap Gio.
"Bayar? Berapa?" tanya Tara.
Gio lalu berdiri dari kursinya, ia berjalan mendekati Tara, Tara sontak mundur "Lo mau ngapain?"
"Gue mau bayaran gue" jawab Gio.
"Jangan macam - macam deh" ancam Tara. Hanya dibalas seringai dari Gio. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Tara, Tara langsung memjamkan mata.
"Besok berangkat sama gue?" bisik Gio. Tara langsung membuka mata.
"Lo mikir gue mau ngapain lo, sampai lo tutup mata?" tanya Gio terkekeh.
"Ih, gue ga mikir apa - apa, iya besok gue berangkat sama lo" jawab Tara sembari berjalan menuju pintu untuk kembali ke kamarnya.
"Oh iya, jangan lupa buatin bekal juga ya" teriak Gio dari dalam kamarnya sambil tertawa gemas.