BAB 19

1068 Words
"Makasih ya" ucap Tara ketika sudah berada di luar kelas. "Sama - sama, kalau butuh bantuan gue bilang aja, anak - anak di sini emang pada kepo" sahut Gery sembari memberikan minuman. Gery mengajak Tara kabur ke kantin. "Lo emang paling ngerti gue tau ga" ucap Tara sambil tersenyum. "Jangan senyum Tar, lo tuh cantik banget kalau senyum" batin Gery. "Eh, ga papa nih, lagi jamkos gini kita ke kantin?" tanya Tara penasaran. "Ga pa pa selama ga ada guru dan anggota osis yang liat" Gery dan Tara asyik ngobrol di kantin, mereka malas jika harus kembali ke kelas. Tak lama terdengar ketukan di meja yang mereka duduki. "Bagus ya, waktunya pelajaran malah nongkrong di kantin" seketika Gery dan Tara menoleh ke arah sumber suara tersebut. "Eh, abang" ucap Gery cengengesan. Tara hanya membuang muka, malas menatap Gio yang sedang berdiri di samping mejanya. "Ga belajar kalian?" tanya Gio mengintimidasi, "Dan lo murid baru, jangan cari masalah, poin lo bisa minus dan bisa jadi alasan lo di keluarin dari sekolah ini" Tara menatap Gio tajam. "Kenapa sih lo sensi banget sama gue?" "Kayaknya apapapun yang gue lakuin itu salah banget di mata lo." ucap Tara sembari berdiri. "Ger, gue balik duluan, males banget disini" "Hati - hati, lo ga lupa arah ke kelas lo kan?" teriak Gio meledek. Tara terus berjalan tanpa memperdulikan teriakan Gio. "Tar, tunggu gue" panggil Gery yang langsung mengikuti Tara. Gio yang melihat kedekatan adiknya dan Tara, membuat hatinya sedikit panas. "Dasar cewek nyebelin, kenapa si, setiap ngeliat dia selalu emosi terus bawaannya" ucap Gio bermonolog kemudian bangkit dan kembali menuju kelasnya. "Si Gio nyebelin banget si Ger, pengen banget gue cubitin itu badannya biar tau rasa" omel Tara saat berjalan di koridor kelas bersama Gery. "Emang gitu, tapi dia tuh care sama kita, gue juga sering banget tuh berantem cuma karena hal sepele, tapi ya balik lagi, apa yang dibilang bang Gio semua itu bener" "Abang sama adek kok sifatnya bisa berbanding terbalik. Untung lo baaaaaiiikkkkk banget sama gue" ucap Tara sembari menggandeng tangan Gery. Tara dan Gery memang sudah akrab dari awal kedatangan Tara, berbeda dengan Gio, entah dia menolak kedatangan Tara di keluarganya atau apa, hanya saja sikapnya terhadap Tara memang sudah dingin dan menyebalkan. Tara dan Gery sudah berada di kelasnya, dan duduk di tempat masing - masing. "Kalian dari mana?" tanya Dita penasaran. "Dari kantin, Gery bilang dia laper, jadi minta gue temenin makan deh" bohong Tara. "Lo sama Gery sedeket itu emang? kalian pacaran?" Tara merasa jengah dengan rasa penasaran Dita, sebaiknya ia mengatakan yang sebenarnya, toh Gery tidak pernah melarang apapun untuk diceritakan. "Oke, gue ceritain deh, tapi janji, jangan ember" ucap Tara pada Dita. dan dibalas anggukan oleh Dita. "Gue sama Gery itu emang tinggal serumah, jadi kenapa gue sama dia bisa sedekat itu, ya karena kita emang selalu sama - sama" Dita menutup mulutnya tanda kanget dengan pernyataan Tara. "Kenapa gue bisa tinggal sama Gery, karena orang tua dia itu sahabat orang tua gue, dan karena orang tua gue udah ga ada, jadi om fahri nampung gue deh" ucap Tara sembari tersenyum. "Ya ampun.. maafin gue Tar, ga ada maksud buat ngingetin lo deh" sesal Dita. "Gapapa, santai aja, gue udah ikhlasin semuanya kok" Sesampainya di rumah, Tara dan Gery duduk di ruang tengah, Tara masih memgang jaket milik Gio, ia gunakan untuk menutup rok nya saat tadi di perjalanan pulang. "Capek banget ya" ucap Tara dibalas anggukan oleh Gery. "Mau minuman dingin ga?" "Mau dong, kebetulan haus banget, sumpah deh panas banget cuacanya hari ini" balas Gery. "Tunggu ya, gue buatin dulu" ucap Tara sembari menuju dapur dan membuat minuman untuk dirinya dan Gery. Tak butuh waktu lama Tara datang dengan minuman rasa jeruk di kedua tangannya. "Nih" disodorkannya salah satu gelas tersebut pada Gery. "Makasih, gini ya rasanya punya istri" ucapnya terkekeh. "Sembarangan, gue nih kayak kakak lo tau ga" cibir Tara. "Kok bisa?" "Gue tuh telat masuk sekolah 1 tahun, jadi umur gue lebih tua dari lo dek" ucap Tara bangga. "Serius? lo sama bang Gio jadi seumuran?" Hanya dibalas anggukan oleh Tara sembari meminum minumannya. Tak lama setelah mereka berbincang, terdengar deru mesin mobil. Gio masuk setelah memarkirkan mobilnya. Cuaca yang panas membuatnya haus. Saat masuk ia melihat minuman dingin yang menggoda di atas meja. Ia langsung meraihnya dan meminumnya. "Gioooo... itu minuman gue tau, kok lo minum?" teriak Tara. Gio langsung tersedak, ia sudah minum minuman Tara? Berarti secara ga langsung bibir mereka bersentuhan. Pipi Gio bersemu. "Kan, habis deh minuman gue, coba bilang kan bisa gue buatin, ga main minum punya orang" gerutu Tara. "Kebiasaan emang si abang mah" ucap Gery yang sudah paham sikap Gio. "Hhhe.. maaf, abisnya kelihatan seger banget sih, menggoda" ucapnya sembari melirik Tara. "Tau ah, gue balik ke kamar dulu" ucap Tara sembari meninggalkan kakak beradik itu. "Semarah itu?" tanya Gio pada Gery. Hanya dibalas dengan gendikan bahu oleh Gery. Fahri dan Anisa baru saja tiba saat makan malam, sudah tersaji beberapa makanan untuk menu makan malam mereka. "Siapa yang masak ma?" tanya Fahri penasaran. "Kayaknya Tara deh pa, ga mungkin kan abang atau adek yang masak?" jawab Anisa. "Enak ya kalau punya anak cewek di rumah, bisa bantuin kamu masak" ucap Fahri. Anisa tersenyum. Ia bahagia Tara hadir di tengah keluarga mereka. "Loh, om sama tante udah dateng? mau makan bareng?" tanya Tara. "Boleh, kebetulan om laper banget ini" ucap Fahri, "Tolong kamu penggilin Gio sam Gery ya" "Iya om" Tara menuju kamar Gery. "Ger, lo di dalem?" "Apa?" Gery membuka pintunya "Ke bawah gih, ditunggu om sama tante" "Oke" Gery langsung keluar dari kamarnya. "Lo panggil Gio" pinta Tara. Gery yang melihat itu langsung berlari ke bawah dan meninggalkan Tara "Lo yang panggil" ucapnya dari lantai bawah. "Nyebeleiiiinn" Tok...tok... "Gio, buka pintunya" teriak Tara. Tak ada jawaban dari dalam "Gio, lo denger gue ga?" masih tak terdengar jawaban dari dalam. Tara lalu berinisiatif untuk membuka pintunya. Pintu kamar Gio tidak dikunci. Tara lalu masuk, kamar Gio cukup rapi di banding kamar Gery yang super duper berantakan. Tak banyak hiasan dinding, dan dekorasi, sangat simpel. Tiba - tiba tangan Tara di tarik oleh Gio. Tara berbalik dan menabrak tubuh polos Gia. Ia baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Tara terbelalak, ia kaget di hadapakan dengan pemanadangan yang tak biasa. Seketika tubuhnya kaku, ia tak bisa bergerak. "Jangan suka masuk ke kamar orang tanpa izin" ucap Gio yang masih mendekap Tara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD