BAB 15

636 Words
Sesampainya di rumah, Tara bingung melihat ada seseorang yang sedang duduk di depan rumahnya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal hampir tidak pernah ada orang lain atau rekan kedua orang tuanya yang datang. "Maaf pak, bapak cari siapa ya?" tanya Tara sembari mendekati orang tersebut. Fahri menoleh, iya memutuskan menunggu Tara tiba. "Assalamu'alaikum Tara, apa kabar nak?" "Wa'alaikumsalam, alhamdulillah sehat. Bapak siapa ya?" tanya Tara bingung. "Kamu lupa? ini om Fahri, sahabat papa kamu, yang dulu pernah kesini" "Ya ampun om Fahri, iya Tara inget. Om fahri apa kabar? kok bisa disini? tanya Tara sembari duduk di kursi teras bersama Fahri. "Oh iya, bentar ya om Tara ambilin minum dulu." Lalu Tara masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan Fahri minuman. Setelahnya Tara duduk di teras kembali dan berbincang bersama Fahri. Ia memang tidak pernah mempersilakan tamu untuk masuk, dengan keadaan rumah yang sepi, ia hanya mempersilakan tamu duduk di teras rumahnya. "Ini om minumnya, silakan diminum" persilakan Tara pada Fahri. Dibalas anggukan dan Fahri meminumnya. "Om kebetulan lagi ada kerjaan di sini. Tadi om sama anak om kesini, cuma omanya minta di temenin jalan - jalan, jadi dia udah pulang duluan" terang Fahri. "Oh iya, om turut berduka cita ya nak, om bener - bener ga dapat kabar sama sekali, jadi om ga tahu kalo Bian dan Dinda sudah tiada" sesal Fahri. "Iya om makasih, alhamdulillah Tara udah ikhlasin mama sama papa kok" ucap Tara sembari tersenyum. "Kamu sendirian?" tanya Fahri "Iya om, Tara sendiri" "Kenapa berhenti sekolah?" tanya Fahri lagi. Rasanya ia sedang mengintrogasi putrinya. "Gapapa om, Tara kerja buat menuhin kebutuhan Tara, soalnya kan Tara harus bisa urus diri Tara sendiri" jelasnya. "Kamu ga pengen sekolah lagi?" tanya Fahri "Pengen dong om, Tara lagi kumpulin uang, biar nanti bisa ikut ujian paket, terus Tara bisa cari beasiswa buat lanjutin kuliah" terangnya bahagia. "Om akan sekolahin kamu nak, lusa om akan kembali ke kota B, kamu bisa sekolah di sana. Om mohon jangan tolak permintaan om. Anggap om sebagai orang tua kamu sendiri" ucap Fahri penuh harap. Tara kaget mendengar pernyataan Fahri, ia terharu sekaligus bahagia, ia bisa sekolah kembali tanda bingung memikirkan cara untuk bertahan hidup lagi. Tapi ia sedih harus meninggalkan kota dan juga orang tuanya di sini. "Tolong jangan ragu nak, om sungguh - sungguh, orang tua kamu adalah sahabat om yang paling berarti, om ingin membalas kebaikan orang tua kamu nak, tolong terima ajakan om ya" pinta Fahri. "Tara pikirin dulu ya om, besok Tara kabarin" jawab Tara "Ya sudah kamu pikirkan dulu, ini kartu nama om, kalau kamu butuh apa - apa atau mau memberikan jawaban dari ajakan om, bisa hubungi nomor yang ada di situ ya" sembari memberikan kartu namanya. Kemudian Fahri beranjak pergi. "Gue harus gimana ya?"gumam Tara pada dirinya sendiri. "Ah... capeknya" ujar Tara setelah tiba di kamarnya. "Coba gue minta saran ke para bestie aja deh." Kemudian ia menekan tombol telepon, dan menghubungi para sahabatnya. "Hai guys, mau tanya" ucap Tara to the point setelah panggilan bersama ketiga sahabat SMPnya tersambung. Farhan : "Apan sih Tar? banyak nih tugas gue" Fara :"Ada apa si sayang?" Chiara : "Kenapa - kenapa? gue lagi free, bebas curhat sepuasnya" Fara : " Lo left aja deh Han, kerjain tugas lo aja, biar kita ciwi - ciwi yang cerita" Farhan : "Enak aja, gamau lah gue, kepo tau ga" Chiara : "Diem deh, si Tara ga jadi cerita nanti" Tara : "Gue minta saran dari kalian. tadi temen bokap gue kesini, terus ngajakin gue pindak ke kota B,buat ngelanjutin sekolah lagi" Farhan : "Yakin, temen bokap lo? Kalau nanti dia penculik terus dia nyulik lo, terus dia jual organ lo, gimana?" Tara : "Diem deh lo Han, bikin gue parno tau ga jawabannya" Chiara : "Gue saranin si lo ikut aja, raih cita - cita lo yang sempet ketunda
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD