BAB 14

1029 Words
Gionino Wijaya, cowok yang super duper dingin, cuek, pokoknya most wanted banget deh, saat ini ia sudah duduk di bangku kelas XI di salah satu sekolah favorit di kota B, yaitu SMA Garuda. Gio merupakan anak pertama dari pasangan Fahri Wijaya dan Anisa. "Kalau jalan liat - liat makanya" ucap Gio ketus. Ya, orang yang ditabrak secara tidak sengaja oleh Tara adalah Gio. Gio berada di kota S karena ajakan sang ayah. Fahri Wijaya sang ayah, adalah salah satu donatur terbesar di sekolah Gio, jadi sangat mudah untuk Gio mendapatkan izin ketika akan bepergian dan tidak masuk sekolah, dan sebagai catatan, Gio merupakan salah satu murid terpandai di sekolahnya. Fahri mengajak Gio ke kota S adalah untuk mempelajari bisnis, sering ia mengajak anakknya itu. "Kan gue ga sengaja, udah minta maaf juga" ketus Tara sambil meninggalkan Gio yang masih berdiri di tempat. Gio mengejar Tara lalu menahan tangannya yang seketika itu langsung ditepis oleh Tara. "Jangan pegang - pegang!" ucap Tara sambil membalikkan badan dan menatap Gio. Gio heran, "sebegitu ga mau di pegangnya apa ni cewek?" gumamnya dalam hati. "Mau lo apa? gue udah minta maaf. Tadi gue buru - buru" jelas Tara. "Minta maaf lo ga ikhlas" "Ya ampun, segitu dipermasalahinnya ya, oke, gue minta maaf ya mas" kalimat per kalimat ditekan oleh Tara yang justru membuat Gio semakin kesal. "Karena lo udah nabrak gue, sebagai permintamaafan lo, traktir gue minum" "Jadi lo nahan gue cuma pengen ditraktir minum? segitu ga punya duitnya lo? outfit aja keren, duit ga ada" oceh Tara sembari meninggalkan Gio. "Gila nih cewek baru ketemu udah bikin kesel aja, dia sama sekali ga terpesona apa sama gue? biasa cewek lain bakalan klepek - klepek kalo liat gue" gumam Gio sembari mengikuti Tara. Tara langsung memesankan minuman untuk Gio, "Nih, gue udah ga punya utang maaf atau apapun itu" sembari memberikan minuman yang sudah Tara pesan tadi. Lalu ia pergi menuju meja di mana Syifa dan Bara berada. "Siapa?" tanya Syifa dengan senyum menggoda. Bara juga menoleh ke arah yang Syifa tunjuk. "Apaan sih, itu orang nyebelin, ga punya duit, terus minta gue buat beliin dia minum" jelas Tara sambil menyeruput minumannya tadi. "Tapi ngeliatin kesini terus deh Tar, jangan - jangan naksir lo lagi" ucap Syifa antusias. "Hush ... cewek kalau udah ngomongin cowok ganteng ga habis - habis deh" ledek Bara. "Tau tuh Syifa, gue kan udah jelasin tadi gimana, masalah dia ngeliat kemana ya urusannya dia" kesal Tara. "Baru juga ketemu udah bete aja jeng" ledek Syifa lagi. "Udah ah, ayo pulang, udah jam segini" ajak Bara. "Iya, gue capek banget, liat kalian aja masih pake seragam" ucap Tara "Yah, ga seru, masa sebentar doang ngumpulnya" ucap Syifa sedih. "Kayak apa aja deh Cipa nih, udah pulang sana. Bara, anterin temen gue sampai rumah. Kalau ga lo anter bisa mampir di tempat lain lagi nanti nih bocah" ledek Tara. "Tau nih, ga capek apa seharian di luar rumah, mama kamu tuh bingung nyariin, kebiasaan ga ngasih kabar dulu kalau pulang telat" omel Bara. Bara dan Syifa memang sudah dekat semenjak kejadian yang di alami Tara. Bara sering mengantar dan menjemput Syifa saat sekolah, jadi orang tua Syifa sudah lumayan mengenal Bara. "Ya udah deh, gue balik duluan ya Tara" ucapnya sembari memeluk sahabatnya itu. Tara membalas pelukan Syifa. "Lo hati - hati ya, istirahat, jangan terlalu capek. Hubungin gue atau Syifa kalau ada apa" ucap Bara sembari mengusap kepala Tara. "Iya, kalian juga hati - hati. Makasih ya traktirannya" ucap Tara sambil tersenyum. Dari kejauhan Gio masih setia meminum minuman yang dibelikan Tara dan duduk sambil menatap Tara dan teman - temannya. "Cih... itu dipegang sama cowok juga biasa aja, kenapa waktu gue nahan tangannya kayak jijik banget. Munafik" oceh Gio. Tiba - tiba datang seorang pria paruh baya menghampiri Gio. "Kamu ngapain disini? ini minuman dari mana? dompet sama ponsel kamu ada sama papa" tanya Fahri, ayah Gio. "Ditraktir orang pa, kasian dia liat Gio masa cowok ganteng gini ga punya uang buat beli minuman" jawab Gio sekenanya. "Kamu tuh ada - ada aja, ayo kita ke tempat temen papa yang waktu itu papa ceritakan. Sudah hampir satu tahun ini belum ada kabar dari dia" ucap Fahri. Fahri dan Gio pergi menuju rumah Bian Bagaskara. Ya, Fahri mencari kabar sahabatnya, Bian, ayah dari Tara. "Kok sepi banget rumahnya pa, ga ada mobil sama sekali juga" ucap Gio setelah tiba di rumah Bian. "Papa juga ga tau, coba papa tanya ke tetangga sebelah dulu ya" Fahri pergi menuju rumah tetangga sebelah Bian. "Maaf bu, pak Biannya kemana ya kok sepi rumahnya" tanya Fahri "Loh, bapak ini siapa? Belum tau pak Bian sudah meninggal hampir 1 tahun yang lalu?" tanya ibu tersebut "Apa?" tanya Fahri tak percaya. "Iya pak, pak Bian sama bu Dinda kecelakaan, meninggal di rumah sakit. Sekarang yang di rumah cuma mbak Tara aja, sebentar lagi biasa udah pulang kerja dia pak" beritahu ibu tersebut. "Tara? bekerja?" Fahri tak percaya, rasa ingin menangis mendengar kabar kematian sahabatnya dan keadaan anak semata wayang mereka. "Iya pak, saya ga tau masalahnya apa, tapi sudah hampir setengah tahunan ini mbak Tara kerja di toko punya bu Dewi" jelasnya. "Baik bu, terimakasih infonya, saya tunggu Tara pulang saja di teras depan" jelas Fahri kemudian berpamitan dan menuju rumah Tara. "Gimana pa?" tanya Gio. "Papa kenapa?" "Papa terlambat nak, Bian sudah pergi meninggalkan papa, dan anaknya harus bekerja keras untuk kehidupannya tanpa papa ketahui" ucap Fahri lirih. Bian sangat berjasa untuk hidupnya. Bian memberikan support bahkan bantuan materi untuk Fahri membangun usahanya hingga sampai berkembang pesat seperti sekarang. "Bukan salah papa, semua udah diatur sama Tuhan pa" ucap Gio mencoba menenangkan papanya. "Sekarang ayo kita pulang pa" ajak Gio. "Tidak, papa mau nunggu Tara pulang dulu. Katanya sebentar lagi dia pulang" "Ini oma udah ngomel - ngomel minta di anterin ke tempat tante Zahra pa" jelas Gio yang tadi menerima telepon dari omanya. "Kamu pulang duluan aja, bawa mobilnya, nanti papa pulang naik taksi. Kamu masih inget jalannya kan?" "Masih lah pa, aku kan waktu SMP sempet di sini, jadi masih hafal jalannya" terang Gio. "Ya udah, kamu hati - hati" Gio melajukan mobilnya menuju kediaman omanya. Sedangkan Fahri masih menunggu Tara datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD