BAB 13

1013 Words
"Tara.. " panggil seseorang yang sudah menunggunya. Tara enggan untuk menjawab, ia masih duduk di motor Putra. Masih memegang jaket cowok itu dengan erat. "Eh, lo dipanggil, buruan turun, gue mau balik" titah Putra yang kesal karena tak ada respon apapun dari Tara. "Gue ikut lo balik, gue gamau turun" ucapnya gemetar. Putra bingung dengan sikap Tara yang tiba - tiba berubah. Sedangkan seseorang tersebut berjalan mendekati Tara dan Putra. " Lo dari mana? Terus siapa cowok ini?" Tanya Rangga. Ya Rangga adalah orang yang sedang menunggu Tara di depan rumahnya. Tara jengah dengan Rangga, tak ada rasa bersalah sedikitpun pada dirinya. Ia menarik jaket Putra, tanda mengajaknya segera pergi meninggalkan rumahnya. Tapi sayang, Putra tidak paham maksudnya. Rangga melangkah mrndekati Tara, tangannya ingin menggenggam tangan Tara, tapi ditepis oleh Tara. "JANGAN SENTUH GUE b******k" ucap Tara gemetar. Putra yang mendengar ucapan itu dari mulut Tara merasa kaget sekaligus heran. Rangga mundur mendengar teriakan Tara. " Mending lo pergi deh bro" ucap Putra menginterupsi. " Lo siapanya Tara emang? Berani usir - usir gue?" tanya Rangga kesal. " Dia aja gamau lo sentuh, dan nyuruh lo pergi, dari tadi dia gamau turun dari motor gue gara - gara ada lo". "Dan satu lagi, gue lebih tua jauh dari lo, jadi yang sopan!" Ucap Putra yang mulai jengah. Rangga sedikit takut denngan tatapan Putra, ia mundur agak menjauh. " Oke gue pergi, dan lo Tar, inget, lo punya gue, gue pasti balik lagi" ucap Rangga sembari pergi meninggalkan rumah Tara. Setelah Rangga pergi, Tara segera turun dari motor Putra. Tanpa menoleh maupun mengucapkan terimakasih padanya. Melihat hal itu membuat Putra penasaran, ia menahan lengan Tara. Hal itu membuat jalan Tara terhenti. Tara berbalik dan melihat Putra yang menggengam tangannya. "Apa - apaan sih lo Tra? Gue mau masuk, dari tadi juga lo nyuruh gue turun, giliran gue udah turun lo nahan gue" ucap Tara sambil mengusap air matanya. "Lo ga papa? beneran?" tanya Putra meyakinkan. "Iya gue gapapa, udah balik sana" "Beneran?" tanyanya lagi. "Apaan sih lo, gue gapapa, udah sana balik, bosen tau ga liat muka lo dari tadi?" omel Tara. Putra melihat raut wajah Tara yang tidak sedang baik - baik saja. "Lo boleh meluk gue kok? Dan bisa cerita apapun ke gue, anggap aja gue abang lo, seneng kok gue punya adek cantik, ya walaupun agak galak si" ledek Putra. Sejak kejadian di toko, ada rasa iba yang muncul di hatinya, ia merasa telah terjadi sesuatu pada Tara hingga ia bersikap seperti itu. Melihat gadis kecil seperti Tara yang harus memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja, hidup seorang diri, rasa kagum dan ingin melindungi itu muncul. Bukan karena Putra menyukai Tara sebagai wanita, hanya saja ia menganggap Tara sebagai adiknya. "Ih, males banget gue punya abang kayak lo" ucap Tara sambil menjulurkan lidahnya. "Siniin hp lo bentar" pinta Putra. "Buat apa?" "Udah siniin aja kenapa!" Tara menyerahkan ponselnya pada Putra. Kemudian Putra mengambil alih ponsel tersebut dan mengetikkan nomornya. Ia menyimpan nomornya pada ponsel Tara, ia yakin, bahwa Tara pasti akan membutuhkannya. "Dih... abang genteng apaan?" cibir Tara saat melihat nama kontak Putra di ponselnya. "Udah ga usah protes, banyak cewek di luaran sana ngantri minta nomor gue, dan lo gue kasih geratis karena lo udah fix jadi adek gue hari ini" jelas Putra. Tara tertawa terbahak - bahak mendengan ucapan Putra. "Haaa.. Ha... Haa... Adek lo apaan? ya ampun, untung gue bukan cewek yang di luaran sana, jadi gue b aja si dapet nomor lo." ledek Tara. "Makasih ya" ucap Tara sambil tersenyum. Putra tersenyum saat melihat Tara tersenyum. "Ya udah lo masuk, gue mau balik nih, jangan lupa kunci pintu. Hubungin gue kalau ada apa - apa" ucap Putra lalu pergi meninggalkan rumah Tara. Sudah hampir 1 tahun tara bekerja di toko bu Dewi, hubungannya dengan Putra semakin dekat, benar Putra hanya menganggapnya adik, begitupun Tara merasa memiliki seorang kakak membuatnya sedikit bahagia. Rangga sudah tidak pernah mendatangi Tara lagi, entah karena peringatan Putra waktu itu atau apapun Tara tak perduli, ia merasa lega dengan kenyataan bahwa Rangga sudah tak mendatanginya lagi. "Tara..." panggil Syifa. "Cipa..." teriak Tara saat sahabatnya itu mendatangi toko tempatnya bekerja. "Eh.. lo sendirian? mana Bara?" tanya Tara sambil melihat sekeliling tak menemukan Bara. "Sibuk katanya. Eh kak Putra ada?" tanya Syifa tersenyum jahil. "Hari ini off besok baru masuk, hayoloh kenapa nanyain Putra?" tanya Tara jahil. "Kangen akutuh" ucap Syifa lalu keduanya kompak tertawa. "Kangen siapa lo?" tanya Bara yang tiba - tiba sudah berada di toko juga. "Ya kangen gue lah, masa kangen lo Bar" ucap Tara sambil mengedipkan matanya pada Syifa. Dan dibalas kekehan oleh Syifa. "Habis lo selesai kerja kita makan di seberang situ ya" ajak Bara. "Gue traktir" Tara dan Syifa kompak memeluk Bara. "Apa - apaan sih lo berdua, bukan muhrim" ucap Bara. Tara langsung mencubit perut Bara. "Gaya lo, biasa juga lo yang meluk kita" ucapnya. Bara hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jam kerja Tara sudah habis, sudah waktunya ia ganti shift dengan karyawan lain. Bara dan Syifa menunggu Tara di kursi yang berada di luar toko. "Yuk udah laper banget gue" ajak Tara "Yuk" ucap Syifa sembari menggandeng lengan Tara, biasa cewek - cewek kalau jalannya ga gandengan ga seru. "Terus siapa yang gandeng gue?" ucap Bara memelas. Tara melirik Syifa lalu ia bergeser disebelah kiri Bara. Ia menggandeng Bara dan Syifa menggandeng Bara dari sebelah kanannya. "Berasa punya istri 2 gue" ucap Bara di iringi tawa dari ketiganya. Sesampainya di tempat makan tersebut Bara memesan makanan untuk ketiganya, ia sudah hafal apa yang akan dimakan oleh Tara dan Syifa. Mereka sering makan di tempat tersebut. Selain rasa, harganya juga sangat terjangkau untuk mereka yang masih anak sekolah. "Gue ke toilet bentar ya" ucap Tara. Dibalas anggukan oleh Syifa dan Tara. Setelah selesai, Tara memutuskan segera kembali ke mejanya dan kedua temannya. Bugh... "Aw... sakit" ringis Tara. Ia menabrak badan seseorang di depannya. Traa yang sedang membernarkan tasnya tidak melihat ada orang di depannya dan kemudian menabraknya. "Aduh.. maaf ya saya ga sengaja" ucap Tara sembari memegangi keningnya yang sakit. Lalu tatapan mereka bertemu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD