BAB 12

898 Words
"Thanks ya kalian, bahagia banget gue punya sahabat kayak kalian, kalian pulang aja gue ga papa. Habis ini gue kerja" ucap Tara pada Syifa dan Bara. Syifa menghela nafas kasar. "Lo yakin? Berani ga di rumah sendiri?" Ledek Syifa. "Sembarangan, ya berani lah gue" Syifa dan Bara beranjak dari ruang tamu, Tara mengantar mereka menuju teras rumah. " Hati - hati y, kalau ada apa - apa, lo bisa hubungin gue atau Syifa" ucap Bara menenangkan. Tara mengangguk. " Bye" ucap Syifa sembari melambaikan tangan. Setelah mengunci pintu, Tara memilih masuk ke dalam kamar. Ia mengambil ponselnya, melihat banyak obrolan di grup sahabatnya, ia membuka obrolan tersebut dan mulai mengetikkan sesuatu. Tara : "Hai guys Tara is back" Fara : "Ya ampun, kemana aja lo, ga ada respon kita sama sekali" Farhan : " Semedi dia, belajar hidup tanpa elektronik sementara waktu, mungkin" Tara tertawa membaca obrolan dengan sahabatnya, sejenak lupa akan kejadian yang telah menimpanya. Chiara : " Susah banget tau nih anak di hubungin, gue kan kangen kalian " Farhan : " Gue mah enggak Chi, gue b aja ya " Chiara : " Heh, gue juga b aja kalo sama lo mah" Fara : " hhhaaaa..aaa b aja Han " Farhan : " Jahat banget deh lo pada" Tara : " Gimana kabar kalian? Gue juga kangen :'(" Fara : " Liburan semester kita meetup ya" Chiara : " Setuju..... " Fara : " Idem" Farhan : " Kalo ini gue juga setuju" Tara : " deal" Tara sudah mulai bekerja di toko yang berada di ujung jalan, ia rela melepas sekolahnya. Ia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Ia bekerja untuk jam pagi, dari jam 7 sampai jam 5 sore. " Kembaliannya 23 ribu ya bu, terimakasih, selamat datang kembali" ucap Tara ramah saat ada pembeli yang datang. " Kamu udah sarapan Tar?" Tanya bu Dewi, ia adalah pemilik toko, sekaligus teman mamanya. " Sudah bu, tadi di rumah" balas Tara sopan. " Ya sudah, ibu tinggal ya, kalau ada apa - apa, kamu bisa telepon ibu, atau ga sebentar lagi Putra juga datang, kamu tinggal bilang sama dia ya" jelas bu Dewi. " Iya bu" jawab Tara sembari mencium tangan bu Dewi. Tak lama setelah bu Dewi pergi, datang seorang laki - laki yang langsung menuju ruang karyawan. " Maaf ya pak, kami tidak menjual barang yang bapak cari, karena itu dilarang" ucap Tara memberi penjelasan pada sang bapak yang ingin membeli minuman beralkohol. " Toko macam apa ini? Masak minuman aja ga dijual" omel bapak tersebut. " Mohon maaf bapak sekali lagi kami memang tidak menjual minuman seperti itu" " Kurang ajar, kenapa ga mau kasih si" ucap sang bapak sembari berjalan mendekati Tara. " Bapak mau ngapain? Tolong jangan mendekat pak, saya bisa laporin bapak ke polisi" ucap Tara mulai ketakutan. Bapak - bapak tersebut semakin mendekati Tara, sontak Tara langsung terduduk, ia mengingat kejaidan itu lagi, ia memeluk lututnya sambil menangis. " Bapak, tolong keluar anak bapak sudah menunggu dirumah" ucap Putra, dia adalah karyawan sekaligu, keponakan ibu Dewi. Sontak laki - laki tersebut langsung terdiam, ia berbalik menatap Putra, " iya, anak saya nunggu saya di rumah" lalu bapak tersebut bergegas keluar toko dan pulang. " Udah pergi bapaknya" ucap Putra saat melihat kondisi Tara. " Masa gitu ddoang lo nangis? Cengeng banget" Tara mengangkat kepalanya, tubuhnya masih gemetar. Ia menatap Putra. " Lain kali panggil gue kalau orang itu dateng lagi" ucap Putra lalu pergi meninggalkan Tara. Tara kesal dengan ucapan Putra, ia tidak tahu kejadian apa yang suddah menimpanya. Jam makan siang pun tiba, masih banyak pembeli, apalagi saat seperti ini banyak karyawan yang membeli makanan ringan ataupun minuman. " Masih banyak pelanggan, gue gantiin. Lo makan aja duluan" ketus Putra. " Jutek banget si jadi orang, ga bisa apa ngomong manis - manis sama cewek?" Sindir Tara sembari meninggalkan Putra yang masih mematung mendengar ucapan Tara. Usia Putra 24 tahun, sedangkan Tara masih berusia 16 tahun, jauh memang perbedaan usia mereka, tapi Tara tidak mau memanggil Putra dengan sebutan kakak, ataupun panggilan yang lebih sopan, karena Putra sudah membuat Tara merasa jengkel di hari pertamanya bekerja. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Tara bersiap untuk pulang. " Lo balik sendiri?" tanya Putra. " Iya lah" jawabnya ketus. " Gue anter" pinta Putra. " Gamau gue, bisa sendiri" jawab Tara. " Biasa bapak - bapak tadi suka nungguin anaknya pulang di depan gang situ" ucap Putra sembari oergi meninggalkan Tara. Tara berpikir sejenak "sialan, malah nakut - nakutin gue lagi" batin Tara. " Tunggu, iya, gue ikut" kesalnya. Putra yang melihat wajah Tara tersenyum tipis, Tara tidak akan melihat senyum itu. " Buruan" teriak Putra dari atas motor. " Iya, bawel banget, kayak emak - emak aja lo" cebik Tara. Diperjalanan benar, Tara melihat bapak - bapak tersebut duduk di depan gang yang Putra bicarakan tadi. Setelah sampai di depan rumah, Tara melihat ada seseorang yang tengah duduk di ters dan tersenyum padanya. Tara melihat siapa orang tersebut, langsung memegang jaket Putra erat. Putra merasakan pergerakan dari Tara dan melihat dari spion raiut wajah Tara. " Lo ga turun?" Tanya Putra membutarkan tatapan Tara " Ehm... Anterin gue ke toko lagi aja" ucapnya dengan mata berkaca - kaca. " Kenapa? Jam kerja lo udah selesai, gue juga mau balik, males banget nganter lo ke toko lagi" tolak Putra. Tara sangat kesal pada Putra, kenapa banyak tanya banget.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD