"Lo tau ga Tar, di grup kelas lagi rame tau" beritahu Syifa yang sedang membaca grup WA kelasnya. Tara tidak masuk dalam grup tersebut karena ia sudah memutuskan untuk berhenti sekolah dan berhubungan dengan sekolah itu.
"Rame kenapa?" tanya Tara yang sedikit penasaran.
"Bara ngasih pelajaran dong ke cowok b******k itu" ucap Syifa antusias.
Seketika Tara kaget dengan ucapan Syifa. "Beneran? Bara ngelakuin itu?"
"Ehemm.."
Syifa memutuskan untuk menginap di tempat Tara, dan hari ini dia sudah di izinkan oleh Bara untuk tidak masuk sekolah. Hanya satu hari, ia ingin menemani Tara. Mereka menghabiskan waktu untuk bercerita, menonton film dan lain - lain.
Drt.... drt... drt.... Suara getaran yang perasal dari ponsel Tara.
"Tar, hp lo bunyi tuh, ada telpon deh kayaknya" ucap Syifa agak berteriak saat Tara sedang berada di kamar mandi.
Syifa melihat layar ponsel Tara, dilihatnya nama 'Chiara' yang sedang menelponnya.
Tara keluar kamar mandi lalu mengambil ponselnya. "Hai Chi" sapanya. Ya Tara sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya kembali. Ia tau bahwa masih banyak orang yang perduli dengan dirinya. Ia juga tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa dengan keadaannya sekarang.
"Hai Tara.... Eh, Lo ga sekolah? Ya ampun, Tara udah berani bolos dong" goda Chiara.
"Gue males sekolah, capek"
"Eh.. sembarangannya ini anak kalo ngomong, oh iya, itu siapa?" tanya Chiara yang melihat Syifa berada di belakang Tara.
"Oh iya, kenalin temen gue, namanya Syifa. Syif ini Chiara" ucapnya sambil menunjukkan ponselnya menghadap Syifa.
"Eh, hai Chiara, gue temennya Tara, temen sebangku dia, salam kenal" ucap Syifa sembari tersenyyum.
"Hai Syif, salam kenal juga. Tolong lo gantiin gue buat jagain temen gue ini ya, di tuh sok kuat banget, padahal mah rapuhnya kebangetan"
Syifa tersenyum dengan ucapan Chiara. Mereka mengobrol di video call sangat lama, entahlah, ada saja bahan pembicaraanya.
"Eh,, udah dulu ya, ada guru masuk nih" interupsi Chiara yang kemudian langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Seru ya temen lo" ucap Syifa.
"Iya, mereka selalu care sama gue Syif, sama kayak elo dan Bara" ucap Tara tulus.
Syifa langsung memeluk Tara "Lo yang kuat ya, ada gue sama Bara yang selalu ada buat lo, lo semangat ya. Rencana lo habis ini apa?" tanya Syifa setelah melepas pelukannya.
"Gue mau cari kerja deh, gue juga butuh duit kan, ga mungkin gue pake uang tabungan gue terus" ucap Tara sendu.
"Udah tau mau ngelamar kerja dimana? Jangan kerja yg berat², kasihan badan kecil lo" Syifa tersenyum jahil.
"Sembarangan kalau ngomong, biar kecil gini gue kuat tau" cebik Tara. Kemudian mereka tertawa terbahak berdua.
Tok... tok...tok
"Siapa Syif?" tanya Tara.
"Kayaknya Bara deh, tadi dia ngabarin gue udah otw soalnya." ucap Syifa lalu menuju ruang tamu dimana suara pintu itu diketuk.
Tara mengikuti Syifa menuju ruang tamu. Ia tak enak jika Bara datang dan dia malah asyik di kamar sendiri.
"Hai sayang.." ucap seseorang saat Syifa membuka pintu.
"Lo udah dateng Bar, kok cep.." ucapan Tara terpotong, ia kaget, takut, marah. Semua bercampur menjadi satu. Ia sontak memundurkan langkahnya. matanya berkaca - kaca, lidahnya ikut kelu, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya untuk saat ini.
"Lo ngapain kesini b******k" ucap Syifa yang sudah pasang badan untuk melindungi sahabatnya.
"Mau ketemu pacar gue lah" ucap Rangga tak tahu diri."Asal lo tau, dia masih cewek gue" ucapnya sambil tersenyum.
Syifa tanpa diketahui oleh Rangga sudah menelpon Bara, dan sudah tersambung dengannya. Bara mendengar percakapan antara Syifa dan Rangga. Ia mengepalkan tangannya, ia bergegas melajukan motornya menuju rumah Tara.
"Lo pergi atau gue lapor polisi?" ancam Syifa.
Rangga menatap Syifa tajam, ia tak perduli dengan ancamannya, ia hanya ingin melihat Tara. Rindu? tentu saja sangat rindu. Ia sangat mencintai atau bahkan sangat terobsesi pada Tara sampai ia tega melakukan hal itu.
"Lo ga kangen gue sayang?" tanyanya lagi yang membuat Tara langsung menitikkan air mata yang sudah di tahannya dari tadi.
"Jangan coba - coba lo masuk!" bentak Syifa.
Tara diam, ia menatap Syifa. Ia takut, tapi jika seperti ini terus Rangga akan mendatanginya, saat ini ada Syifa, tapi nanti? saat ia sendiri? bagaimana?
Tara maju, memberanikan diri dan menguatkan hatinya. Ia menarik lengan Syifa, ia berdiri tepat didepan Rangga.
"Tar," ucap Syifa khawatir.
"Lo pergi dari rumah gue" ucap Tara yang terus memberikan tatapan tajam pada Rangga.
"Gue kangen sama lo, lo ga kangen gue?" tanya Rangga tersenyum.
"Gue bilang pergi dari rumah gue, dan satu lagi, kita putus, lo udah ga ada urusan lagi di sini" ucap Tara hendak menutup pintu, tapi ditahan oleh Rangga.
"Gue ga mau putus dari lo, gue sayang lo Tar, makanya gue lakuin itu biar lo ga bisa pergi gitu aja dari gue"
Syifa melotot, di teras tampak Bara sudah memarkirkan motornya, ia mendengar percakapan Tara dan Rangga.
Plak.. Tara menampar Rangga, emosi yang sudah ia tahan dari tadi dapat tersalurkan walau hanya sedikit.
"Cowok b******k kayak lo bilang sayang? Lo mikir ga? apa yang udah lo lakuin ke gue udah ngehancurin masa depan gue" luapan emosi Tara.
"Gara - gara lo gue jadi berhenti sekolah, gara - gara lo gue harus kerja banting tulang buat ngehidupin diri gue. gara - gara lo cita - cita dan harapan gue hancur dan gara - gara lo juga gue ngecewain orang tua gue. Gue udah ditinggal sendiri dan sekarang lo hancurin semuanya, semuanya b******k" ucap Tara sambil memukuli Rangga. Bara yang mendengar itu merasa iba, kenangan adiknya dulu masih teringat jelas, sama seperti Tara, adik semata wayangnya telah dilecehkan, tapi ia tak sekuat Tara, ia memilih mengakhiri hidupnya dan kini kajadian Tara mengingatkan dirinya pada adiknya.
"Gue bakalan tanggung jawab Tar" ucap Rangga.
"b******n, PERGI LO DARI RUMAH GUE"
"Tapi?"
"PERGI!!!"
Bara berjalan menuju Tara "Lo pergi sekarang" titahnya pada Rangga.
Rangga menatap Bara kesal, tapi ia masih merasakan sakit di bibirnya setelah dihajar Bara tadi. Jika ia tidak segera pergi, maka akan ada luka lagi di bagian lain.
Rangga pegi meninggalkan rumah Tara. Tara menangis, Syifa langsung mengajak Tara duduk di ruang tamu, Bara mengikuti mereka dan duduk di sebelah Tara.
"Lo gapapa?" tanya Bara, di balas anggukan oleh Tara. Lalu diraihnya tubuh Tara, ia membawa Tara kedalam pelukannya.
Syifa yang melihat itu sedikit cemburu, tapi ia tahu sahabatnya itu butuh Bara saat ini.
"Lo bisa keluarin semua kesakitan lo, jangan di tahan. Nangis aja sepuasnya, tapi janji habis ini lo ga boleh nangis lagi" ucap Bara sambil mengelus rambut Tara.
Tara yang sedang berada dipelukan Bara menangis mendengar ucapan itu, ucapannya sama seperti mamanya. "Nangis aja sepuasnya, tapi besok udah ga boleh nangis, kan stok air matanya udah di habisin hari ini" ucapan yang selalu terngiang di hati dan telinga Tara.
Ia memeluk Bara erat, menyalurkan kesedihannya. Bara menepuk - nepuk bahunya agar ia menjadi lebih tenang