BAB 10

1007 Words
Syifa langsung memeluk Tara. ia amat sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa sahabatnya, tak ada orang tua ataupun keluarga yang dapat ia jadikan tempat bersandar. "Kita lapor polisi aja ya?" tanyanya lagi pada Tara. Tara menatap Syifa lekat, kemudian menggeleng. "Ga usah Syif, gue yakin Tuhan bakalan balas dia cepat atau lambat." Syifa menghela nafas kasar mendengar jawaban sahabatnya. "Ya udah, sekarang kita makan ya, gue juga belum makan tau, pulang sekolah langsung kesini." Hanya dibalas anggukan kecil oleh Tara. Syifa keluar menuju ruang tamu, berharap Bara sudah datang dari membeli makanan. Dilihatnya Bara sedang memainkan ponsel di ruang tamu dengan bungkusan makanan di atas meja. "Kok, ga ngasih tau gue sih kalo udah dateng dari tadi?" omel Syifa. Bara lalu menoleh dan menatapnya, isyarat meminta penjelasan dari penyataan Tara yang ia dengar tadi. "Beneran?" tanya Bara to the point. Syifa mengeryitkan kening, tanda ia bingung dengan pertanyaan Bara. "Apanya?" Syifa menjawab sambil duduk di kursi bersebelahan dengan Bara. "Yang gue denger tentang Tara barusan" seketika Syifa melolot kaget, ia bingung bagaimana Bara bisa tahu hal itu. "Lo nguping gue sama Tara?" ledeknya. Bara menatap Syifa tajam, rahangnya mengeras. tanda ia sedang dalam kondisi yang sangat marah. Syifa yang melihat perubahan pada wajah Bara mendadak takut. Ia menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangan dari Bara. "Emm... Iya bener, Rangga yang udah ngelakuin itu ke Tara." ucapnya sambil menunduk dan menahan tangis. "Dia di lecehin di perpus waktu bantuin tu laki - laki b******k belajar. Kurang ajar banget kan, ga tau terimakasih." ucapnya lagi sambil menyeka air matanya. Bara yang melihat Syifa seketika wajahnya berubah teduh kembali, ia menarik Syifa ke dalam pelukannya, mencoba memberi ketenangan dan rasa nyaman untuk temannya. Deg... deg....deg.... "Kok Bara tiba - tiba meluk gue sih, jantung gue jadi ga aman tau" batin Syifa. "Udah, lo tenang aja, gue bakal bikin perhitungan sama cowok b******k itu." ucap Bara menahan emosi. "Gue gatau harus gimana deh Bar, kayaknya Tara bakalan di drop out dari sekolah. Dia udah 3 hari ga masuk, lagian dia anak beasiswa juga, itu udah memenuhi syarat buat dia dikeluarin atau ga beasiswanya dicabut. Harus gimana ya gue jelasin ke dia?" ucap Syifa prihatin. "Gue berhenti sekolah Syif." terdengar suara Tara menginterupsi, Ia dari tadi berada diujung tangga, jadi dapat mendengar dan melihat dan mendengar apa yang Syifa dan Bara bicarakan. "Tara.." ucap Syifa kaget, begitupun dengan Bara, ia langsung menatap Tara heran, sejak kapan? "Gue udah mutusin buat berhenti sekolah, tolong jangan tanya alasan gue, gue butuh privasi " ucapnya datar. Syifa menatap Bara dan di angguki oleh Bara, tanda ia harus menerima keputusan sahabatnya itu. "Gue udah mutusin buat bangkit, gue juga capek nangis terus" ucap Tara sambil tersenyum. Senyum yang amat sangat di paksakan. "Maafin sikap gue tadi Bar" ucapnya pelan. "Gue masih emosi dan kecewa saat ngeliat laki - laki." "Gue maklumin Tar, tapi lo juga harus tau, ga semua laki - laki kayak dia. Akan ada laki - laki yang tulus dan menghargai lo sebagai perempuan" ucap Bara menenangkan. Syifa menatap Bara lekat, tak menyangka pemikiran ketua kelas nya ini sangat dewasa, ah.. jadi tambah kagum, upss. "Ngapain lo liatin gue? Kagumnya sampai kayak gitu banget ya?" bisiknya di telinga Syifa. Seketika Syifa meremang, geli dan malu saat Bara mengatakan hal demikian. Dan Bara hanya tersenyum melihat sikap Syifa. "Ehmm... eh,, kita makan yuk, udah dibeliin Bara nih dari tadi, mubadzir kalau ga cepet dimakan." ucap Syifa sambil mengeluarkan makanan dari pembungkusnya. "Makan juga ya Tar." pinta Syifa pada sahabatnya. Dibalas anggukan oleh Tara. Mereka makan bersama dengan Tara yang perlahan sudah mulai membuka diri. "Lo nginep di sini aja deh Syif, temenin Tara, besok lo gue izinin ke guru, pulang sekolah gue langsung kesini lagi" ucapnya setelah menyelesaikan makannya. "Lo pulang aja Syif, gue ga papa. Gue udah baik - baik aja" ucap Tara. "Gue emang mau nginep sini, udah ngabarin orang tua gue juga, dan mereka ngizinin gue"ucap Syifa sumringah. "Gue ngrepotin jadinya." sesal Tara. "Di antara sahabat itu ga ada yang namanya ngrepotin, ya ga Bar?" ucap Syifa. Di angguki oleh Bara. Kemudian ia beranjak dan pamit pulang. "Lo liat Rangga ga?" tanya Bara pada teman sekelasnya karena tak mendapati Rangga di kelas. "Ga tau juga, tadi si gue liat sama Andre tuh keluar" jawab temannya tersebut. "Biasa kalau Andre ke taman belakang sekolah tuh" jawab yang lain memberi tahu. Andre memang siswa yang lumayan nakal, ia ke taman belakang biasa untuk merokok, di sana sepi dan tidak ada anak - anak yang mau kesana karena seram. "Oke, thanks" ucapnya sembari berlari keluar menuju taman yang dimaksud tadi. "Elo berhasil?" tanya Andre sambil menghisap rokoknya. "Iyalah, gue gitu loh" jawab Rangga sembari menaikkan kerah bajunya. "Gila lo, bisa juga naklukin Tara, dapet enaknya lagi" ucap Andre sambil tertawa. "Puas ga lo?" "Hahha.... puas banget gue, masih virgin lagi. Suruh siapa jual mahal banget, mau dicium aja selalu ngehindar. Dulu pas gue tembak alesannya masih kecil, harus fokus belajar. Mana bisa gue nahan" ucapnya lagi sambil terbahak - bahak. Bara sudah sampai dari tadi di tembok ujung taman, ia bisa mendengar dengan jelas ucapan kedua orang tersebut. Ucapan yang membuat rahangnya mengeras dan mengepalkan tangannya. Ia berjalan menuju 2 orang tersebut. Menarik kerah Rangga, dan.. Bugh.. bugh.. Entah sudah berapa kali ia memukul wajah Rangga, emosinya sudah tak tertahan. Bagaimana bisa laki - laki punya pemikiran seperti itu, menjadikan wanita sebagai pelampiasan emosinya. "b*****t, kurang ajar lo, b******n" ucap Bara sambil terus menghajar Rangga. Andre yang melihat itu langsung menengahi dan memisahkan keduanya. "Woy... tenang. Kalian kenapa si?" tanya Andre yang bingung. Sedangkan Rangga, ia tersungkur dan tergeletak tak berdaya setelah dihajar habis - habisan oleh Bara. Bara menoleh menatap Andre, Ia menciut saat Bara menatapnya. Bara tidak pernah marah sedikitpun saat dirinya selalu membuat keributan di kelas. Tapi sekarang, Rangga sampai hampir tidak sadarkan diri dihajar oleh Bara. Bara langsung meninggalkan mereka berdua. Puas? tentu saja belum. Tidak ada kata puas untuk menghajar dan menghabisi para b******n seperti mereka. Setelah kepergian Bara, Andre segera membawa Rangga ke UKS untuk mendapatkan perawatan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD