"Ya ampun, Tara...." Syifa berlari ke arah Tara yang sedang duduk di lantai dengan pakaian yang lusuh, rambut seperti rumput yang tertiup angin, benda - benda yang lain berhambur kesegala arah. Bian mengikuti langkah Syifa.
"Tara,, elo kenapa?" tanya Syifa lagi yang shock dengan keadaan Tara. "Bar, pindahin ke kasur deh.
Bara mengangkat tubuh Tara, ia hanya melihat Bara sekilas lalu tiba - tiba menendang Bara hingga terdorong kebelakang.
"JANGAN SENTUH GUE, PERGI LO DARI SINI!!!" usir Tara ketika melihat Bara.
Syifa melihat Bara seolah - olah bertanya, ada apa?, Bara melihat kearah Syifa, lalu menggendikkan bahu tanda ia juga bingung apa yang terjadi barusan.
"PERGI, COWOK b******k" ucapan Tara membuat Syifa dan Bara benar - benar kaget. Terlihat kemarahan dan kekecewaan di wajah Tara, membuat Syifa menyuruh Bara agar menunggu di lua.
"Mending lo keluar dulu deh Bar, biar gue coba tenangin dia, gue akan coba tanya, sebenernya ada apa". ucapan Syifa sembari mengantar Bara keluar kamar Tara. Bara mengangguk, ia memilih menunggu Syifa di ruang tamu rumah Tara.
"Kenapa ya Tara segitunya ke gue? perasaan dulu dia biasa aja deh deket sama cowok. Tara bukan tipe cewek yang cuma temenan sama cewek doang kan? kayaknya ga deh, dia kan pacaran sama Rangga. Ga tau ah, nanti tanya Syifa aja, shock gue di giniin sama Tara" ucapnya bermonolog.
Di kamar, Syifa masih mencoba memindahkan Tara ketempat Kasur, masih belum ada respon apapun, setelah kemarahan Tara pada Bara tadi, ia masih duduk di lantai dengan menyender di dinding. Syifa masih belum berhasil memindahkan Tara.
"Tar, lo kenapa? ini gue Syifa" cobanya berbicara pada sahabatnya itu.
Tara menoleh kearah Syifa, lalu tiba - tiba ia memeluk Syifa dengan erat. Terdengar isakan, tidak, tangisan yang terasa menyakitkan kala Syifa memeluk Tara.
"Ada apa? cerita deh ke gue. Gue sahabat lo Tar, kita sahabat kan? lo bisa berbagi kesedihan lo ke gue!" pinta Syifa sambil mengelus punggung Tara yang masih memeluknya dengan erat.
"Hiks... gue... hiks...." ucap Tara terbata - bata. Ia masih belum mampu meceritakan hal tersebut pada siapapun. Tapi ia tahu, ia butuh tempat untuk mencurahkan isi hatinya yang selama beberapa hari ini tak mampu ia ungkapkan dan tahu harus kepada siapa ia harus meminta pertolongan. Frustasi, depresi, entah perasaan yang seperti apa yang dirasakan oleh Tara saat ini, ia bingung, takut, kesal, marah.
"Tenang dulu, pelan - pelan aja, lo ga harus nyeritain semuanya kalau emang belum bisa cerita. Gue siap dengerin kapanpun saat lo udah siap" titah Syifa yang masih memeluk sahabatnya itu.
"Sekarang kita pindah ke kasur ya, lo istirahat yang bener, kayak mayat tau ga kondisi lo sekarang" ucap Syifa diselingi canda agar sahabatnya itu terhibur. Namun tidak ada respon apapun dari Tara, entah ia dengar candaan Syifa atau memang ia belum tau cara mengungkapkan ekspresinya untuk saat ini.
Tara menatap Syifa setelah melepas pelukannya.
"Kenapa? ini gue Syifa. Ga lupa kan lo sama gue?"
"Lo ngapain di sini?" tanya Tara yang akhirnya berbicara.
"Astaga Tara, lo baru sadar? gue ada di sini dari tadi" ucap Syifa gemas.
Kemudian Syifa membantu Tara berdiri dan memindahkan tubuhnya di kasur.
"Lo baring di sini, jangan di bawah. Ini lagi lo kok bisa sampai kurus kering begini si Tar? baru juga 3 hari gue ga ketemu lo. Kondisi lo memprihatinkan banget." prihatin Syifa dengan keadaan sahabatnya itu.
Tara kembali menangis, memikirkan kejadian itu membuat Tara semakin kecewa tapi tenaga dan air matanya sudah terkuras selama 3 hari ini, ia hanya menangis tanpa suara.
"Lo udah makan?" tanya Syifa sembari mengusap air mata sahabatnya itu.
Hanya gelengan yang mampu diberikan oleh Tara dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Tunggu bentar ya, gue ke bawah dulu, siapa tahu ada makanan yang bisa gue bawa kesini" ucapnya lalu pergi meninggalkan Tara yang masih diam.
"Bar, lo udah makan? bisa tolong beliin makan ga? sekalian buat lo juga" pinta Syifa setelah dari dapur dan tak mendapatkan makanan apapun. Entah Tara selama beberapa hari ini makan apa, itu yang di pikirkan Syifa sekarang.
"Bisa, mau makan apa? Tara gimana? udah mau cerita?" tanya Bara sambil mengenakan jaketnya.
Syifa menggeleng, tanda belum mendapatkan jawaban apapun dari Tara.
"Ya udah pintunya gue kunci dari luar ya, lo langsung ke kamar Tara aja lagi." ucap Bara lalu pergi mencari makanan untuk mereka.
Syifa kembali menuju kamar Tara. Dilihatnya Tara masih berada di posisi bahkan tatapan yang sama juga. Ia menghela nafas kasar, bingung harus melakukan apa agar sahabatnya itu mau bercerita dan ia bisa memberikan solusi jika diperlukan.
"Syif.." ucap Tara tiba - tiba. "Makasih lo udah perduli sama gue" ucapnya lagi sambil tersenyum.
"Iyalah, gue sahabat lo Tar, udah sewajarnya gue perduli sama sahabat gue" ucapnya lalu memeluk Tara. "Lo bisa cerita kalau emang udah siap"
"Gue menjijikkan banget ya Syif?" ucap Tara lagi sambil menitikkan air mata. "Gue kotor banget ya sekarang?"
Syifa bingung maksud perkataan Tara, bingung mau merespon seperti apa
"Pelan - pelan aja Tar kalau mau cerita, gue siap jadi tempat curhat lo, lo tahu itu kan?" Syifa berkata sambil memeluk sahabatnya.
"Gue udah kotor Syif, gue kotor banget, gue menjijikkan, pertama orang tua gue, gue coba buat nerima dan berusaha bangkit, disaat gue bangkit dan gue percaya sama dia, dia nglecehin gue Syif, gue jijik sama diri gue sendiri" rintih Tara di pelukan Syifa.
Bara yang baru saja datang, melihat dari pintu adegan dua sahabat tersebut mengurungkan niatnya untuk memberikan makanan. Ia memilih kembali ke ruang tamu dan memainkan ponselnya di sana.
Di kamar Tara, ia masih menangis di pelukan Syifa. Dengan lembut Syifa mencoba menenangkan sahabatnya tersebut.
"Gue udah dilecehin sama cowok b******k itu Syif" ucapan Tara sontak membuat Syifa kaget, ia masih mencerna kata - kata sahabatnya.
"Tunggu deh, maksud lo gimana? gue ga ngerti." tanya Syifa setelah melepaskan pelukan Tara. Ia menatap lekat sahabatnya tersebut sembari menuntut penjelasan.
Tara menatap Syifa, ia yakin sahabatnya ini benar - benar perduli, sama seperti Chiara, Fara, dan Farhan.
"Gue..." ucapan Tara terputus, ia menangis kembali, mencoba menguatkan hatinya dan mengingat kejadian tersebut lagi.
"Rangga udah perkosa gue Syif." ucapan Tara sontak membuat Syifa membualatkan mata dan kaget bukan main "APA?" Syifa berteriak tak percaya.
Bara yang berada di ruang tamu sampai kaget mendengar teriakan Syifa, ia buru - buru naik ke atas dan berhenti di depan pintu kamar Tara.
"Rangga udah perkosa lo?" tanyanya lagi memastikan. Dibalas anggukan oleh Tara yang masih menangis sambil tangannya menggenggam selimutnya erat.
"Kurang ajar" gumam Bara yang mendengar percakapan Tara dan Syifa, tapi ia memutuskan untuk tidak masuk ke kamar, ia berfikir Tara akan histeris seperti tadi saat melihatnya nanti.
"Mau gue temenin ke kantor polisi? kita laporin aja biar dia jera." ujar Syifa yang ikut geram dan marah saat mengingat respon Rangga di sekolah saat ia bertanya tentang Tara tadi. "b******k" gumamnya pelan.