BAB 8

1333 Words
"Arghhhhh......." teriak Tara sembari menghambur dan menghancurkan barang - barang yang ada di kamarnya. Hidupnya benar - benar hancur. Ia merasa Tuhan tak adil, mengambil kedua orang tuanya dan juga mengambil segalanya dari dirinya. Keputusannya untuk melanjutkan hidup dan mencoba untuk menerima dengan ikhlas kepergian kedua orang tuanya terasa sia - sia. Ia menatap cermin yang terdapat di meja rias kamarnya. Ia melihat tanda yang ditinggalkan b******n tersebut. Kurang ajar, b******k, kata - kata tersebut tidak dapat mengungkapkan perasaan yang dialaminya sekarang. Melihat pantulan dirinya dicermin memunculkan rasa jijik dan muak, ia berlari menuju kamar mandi dan menggosok seluruh tubuhnya, berharap bekas yang telah ditinggalkan oleh Rangga bisa hilang. "Gue kotor, gue jijik liat tubuh gue sendiri" isaknya sambil terus menggosok tubuhnya hingga terasa perih. "Mama, Papa, Tara ga kuat, Tara udah kotor, Tara pengen nyusul Mama sama Papa" ucapnya lirih, Tara hilang kesadaran di dalam kamar mandi. "Tara..." notifikasi pesan grup yang Chiara kirimkan untuk Tara. Chiara telah melanjutkan sekolahnya di kota B, seperti yang telah direncanakan dahulu. "Woy Tara... kemana sih nih anak, ga ada respon" pesan dari Fara. "Ciwi - ciwi gue ikutaaann..." Farhan ikut bergabung dalam grup tersebut. Tara hanya menatap layar teleponnya, tak ada niat sama sekali untuk melihat bahkan membalas pesan grup dari sahabat - sahabatnya. Tiga hari setelah kejadian di perpustakaan, Tara tidak masuk sekolah. Bukan malas, hanya saja ia tidak ada gairah untuk melanjutkan hari - harinya seperti biasa, ia bagaikan mayat hidup. Tinggal sendirian, hidup seorang diri tanpa ada yang benar - benar perduli dan menguatkan dirinya. Sahabat - sahabatnya pun sudah jauh dari dirinya, bukan karena menjauh, tapi karena jarak antara mereka yang terlalu jauh. Tubuh lemah, kurus tanpa ada makanan yang masuk, entah akan bertahan berapa lama ia akan seperti ini. Jika saja kedua orang tuanya masih hidup, pasti ia tidak akan mengalami hal seperti ini. Di sekolah, Syifa yang merupakan teman terdekat Tara bingung, temannya sudah 3 hari ini tidak masuk sekolah tanpa pemberitahuan. Ia sudah mencoba menghubungi Tara tapi tidak ada respon darinya. "Eh, Bar, elo tau alamat rumah Tara ga?" tanyanya pada ketua kelas Bara. "Ga tau sih gue, cuma nyimpen no telepon anak - anak sama orang tuanya gue mah" jawab Bara "Tapi kalau Tara ga ada walinya, dia tinggal sendiri soalnya" timpalnya lagi. "Coba gue tanya ke guru ya". Dibalas anggukan oleh Syifa. "Lo kemana si Tara?" gumamnya lagi. "Oh iya Rangga, lo tau ga Tara kemana? Lo kan pacarnya, Tara ga masuk 3 hari kok lo tenang - tenang aja si?" tanya Syifa sambil memcingkan mata curiga. Rangga hanya menatap Syifa dan mengangkat bahunya tanda ia juga tak tahu apa yang terjadi pada Tara. Dasar cowok bajigan. "Pacar macam apa sih lo, ceweknya ga ada kabar kok ga ada khawatir - khawatirnya" ucap Syifa lalu pergi meninggalkan Rangga. Tak butuh waktu lama Bara kembali sambil membawa selembar kertas. "Gue dapet alamatnya" ucapnya sambil menunjukkan kertas tersebut pada Syifa. "Alhamdulillah" Syifa berucap sembari mengambil alih kertas yang dipegang oleh Bara. "Emm... Bar, pulang sekolah bisa temenin gue ke rumah Tara?" tanya Syifa malu - malu. Bara adalah sosok ketua kelas yang bertanggung jawab, secara fisik dia sempurna, tinggi, tampan dan juga ramah. Bara menatap Syifa gemas. "Iya nanti pulang sekolah gue anter ke tempat Tara. Udah jangan khawatir lagi" ucap Bara sambil mengelus kepala Syifa. Deg... deg... deg... "Kok gue deg - degan sih" batin Syifa sembari melangkah menuju mejanya. Jam pulang sekolah telah tiba, Rangga? masih sama, ia tak perduli sedikitpun pada keadaan Tara. "Syif, jadi ga nih?" tanya Bara yang sudah siap untuk pulang. Syifa menoleh ke arah Bara "Jadi, jadi, tunggu bentar, gue siap - siap nih masihan" ucap Syifa sembari membereskan buku - bukunya. "Lo bawa motor ga?" tanya Bara setelah mereka keluar kelas menuju parkiran. "Enggak lah, gue kan dianter sama bokap gue, belum diizinin lah gue bawa kendaraan sendiri" terang Syifa. "Panjang amat jawabannya, gue kan nanya bawa apa ga doang" protes Bara. "Lo kabarin bokap lo kalau mau ke tempat Tara sama gue, nanti bokap lo keburu jemput kesini lagi" titah Bara. "Oh iya, gue lupa ngabarin, eh.. tapi.." ucapan Syifa belum selesai langsung dipotong oleh Bara. "Nanti gue yang anter lo pulang, ga usah khawatir, gue laki - laki bertanggung jawab kok" ucap Bara sambil tertawa. "Apaan sih, iya udah gue kabarin bokap gue, ayok berangkat ke rumah Tara, khawatir banget deh gue" Bara memberikan helm pada Syifa. Syifa bingung cara memakainya, jujur ia berasal dari keluarga kaya, seumur - umur belum pernah merasakan naik motor apalagi memakai helm. Ia hanya menatap helm yang diberikan oleh Bara. "Hey, dipake buru helm helmnya, mau cepet berangkat ke rumah Tara nggak si?" Bara mulai kesal "Ini cara bukanya gimana?" "Ya ampun Syifa... lo tuh udah SMA loh, masa buka pengait helm aja ga bisa?" gerutu Bara. "Gatau caranya, bukan ga bisa. Gue kan ga pernah naik motor apalagi pake helm" Jelas Syifa sambil cemberut. Diambilnya helm dari tangan Syifa, lalu dipasangkan padanya. Syifa menatap Bara dengan degup jantung yang sudah tidak karuan. "Jantung, please detaknya normal aja dong, jangan lebay gini" batinnya. "Udah, ayo naik keburu sore." Syifa naik, ia bingung, roknya terangkat agak tinggi, motor yang dikendarai Bara adalah motor sport. "Ck... pendek banget sih rok lo" gerutu Bara lalu melepas jaket yang ia kenakan dan memberikan pada Syifa. "Pake, paha lo kemana - mana" "Ih... apaan sih loh, v****r banget ngomongnya" lalu Syifa menggunakan jaket Bara untuk menutupi pahanya yang terbuka. "Pegangan" ucap Bara lalu melajukan motornya menuju rumah Tara. "Duh, pegangan gimana nih gue, takut jatuh, ah bodo amat gue pegang kayak yang di tv - tv aja" batin Syifa sembari memegang, lebih tepatnya memeluk Bara. Merasakan tangan Syifa yang mulai memeluknya, Bara tersenyum puas. Sesaimpainya di rumah Tara, Bara memarkirkan motor di halaman yang cukup luas. Suasana rumah nampak sepi, seperti tak berpenghuni. "Lo yakin ini alamatnya bener? ini rumah Tara?" tanya Syifa sambil terus memperhatikan sekeliling rumah Tara. "Kalo dari alamat yang dikasih sekolah si bener ini, tapi kok sepi banget ya? berpenghuni ga si nih rumah?" "Coba lo tanya tuh ada bapak - bapak di seberang" tunjuk Syifa. Bara menghela nafas, ia pun menuruti kata - kata Syifa, ia bertanya kepada bapak - bapak tersebut. "Permisi pak, apa benar itu rumah bapak Bian Bagaskara dan ibu Dinda ya? anaknya namanya Tara?" "Bener nak, cuma pak Bian dan bu Dinda sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, yang tinggal di situ cuma anaknya, neng Tara. Cuma beberapa hari ini bapak ga liat neng Tara keluar, biasa selalu nyapa bapak kok kalo mau sekolah." terang pak Parjo. "Iya pak, udah beberapa hari ini dia ga masuk sekolah, biar kita cek dulu ya pak, terimakasih infonya, mari pak" ucap Bara lalu kembali menuju rumah Tara. "Gimana?" "Kata bapaknya Tara udah beberapa hari ga kelihatan keluar rumah, jangan - jangan dia sakit" "Jangan ngaco deh, coba lo ketuk pintunya" pinta Syifa yang agak takut. Tok ... tok... tok.... Tidak ada jawaban ataupun tanda - tanda pintu tersebut akan dibuka. Akhirnya Bara berinisiatif untuk membuka handle pintu rumah tersebut. Cklek... pintu terbuka, ternyata pintunya dari tadi tidak terkunci. "Ceroboh banget sih temen lo, masa pintu rumah sampai ga dikunci gini" omel Bara. "Udah, kita masuk aja" ajak Syifa. Bara dan Syifa akhirnya masuk kedalam rumah Tara, dilihatnya rumah Tara bergitu rapi, banyak foto - foto antara Tara dan kedua orang tuanya. Setelah mengitari seluruh rumah, Syifa mendongak ke atas, terdapat ruangan di lantai atas. "Kamar Tara di atas kali ya?" tanyanya pada Bara. "Mana gue tau, gue kan baru pertama kali kesini" jawabnya. Syifa mencubit lengan bara. Bara meringis kesakitan. Syifa menarik tangan Bara, ia mengajak Bara menuju lantai atas. Ada 2 ruangan di sana. "Tara...." panggil Syifa. Tapi tak ada jawaban dari manapun. Lalu ia melihat pintu kamar dengan tulisan 'Tara's Room'. Ia berfikir pasti kamar Tara yang ini. Syifa membuka knop pintu kamar tersebut. Pintunya tidak terkunci, ia melihat sekeliling gelap, lalu ia menyalakan saklar lampu yang terdapat pada dinding dekat pintu. Syifa pun melihat sekeliling dan ia melihat....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD