PROLOG“Kaisar, cepat keluar!” Suara teriakan sang ayah terdengar amat keras memenuhi seluruh ruangan. Emosinya benar-benar sudah mencapai puncak hingga deru napas pun begitu kencang. Berita yang beredar di media sosial telah membuatnya marah besar.
“Dasar anak susah diatur!” pekiknya lagi sambil menggebrak meja. Tak sabar menunggu orang yang dipanggilnya datang.
“Ada apa, Pa?” Kaisar menghampiri dengan santai.
Bukan hal yang aneh baginya mendengar bentakan seperti itu di rumah. Namun, entah kesalahan apa yang telah membuat ayahnya menjadi geram. Tatapan mata yang berapi-api tidak bisa dihindari.
“Kamu lihat ini baik-baik dan beri penjelasan pada Papa!” tegas Alex seraya memperlihatkan layar ponselnya.
Alex Sudarmono menjadi bahan gunjingan dalam rapat internal partai yang mengusungnya untuk menjadi calon walikota. Hal ini disebabkan oleh gosip yang mulai tersebar tentang putra sulungnya. Sebuah unggahan dari akun misterius menyebutkan bahwa Kaisar berorientasi ke sesama jenis. Berita itu tidak hanya berupa tulisan, tetapi disertai juga dengan beberapa foto sehingga mengundang banyak komentar.
“Bohong ini, Pa! Orang gila kali yang posting! Kai masih normal, kok!” Lelaki berusia 31 tahun itu membela diri.
Kaisar tidak habis pikir. Bagaimana bisa keakraban dengan sahabatnya dijadikan gosip murahan seperti itu? Dia yakin, kalau hal ini adalah siasat dari kubu lawan sang ayah untuk menurunkan tingkat elektabilitasnya.
“Adanya berita ini membuat Papa menyadari sesuatu, Kai. Kamu itu sudah dewasa dan pantas berumah tangga. Adikmu saja sudah mau punya dua anak, sedangkan kamu masih betah membujang. Lupakan masa lalu itu!” Nada bicara Alex melunak, tetapi sorot matanya masih terasa menusuk.
“Lalu?” Kaisar seolah dapat menebak ke mana arah pembicaraannya.
Sang ayah tidak lekas menjawab. Dia teringat pada rencana perjodohan antara Kaisar dengan salah satu putri temannya. Alex merasa masalah ini hanya bisa diredam dengan adanya sebuah pernikahan. Pengorbanannya setelah mengundurkan diri sebagai TNI tidak boleh sia-sia akibat rumor tersebut.
“Buktikan kalau kamu laki-laki normal dengan menikahi putri Om Arif!”
“Apa?! Om Arif Martalegawa?” Kaisar terbeliak tak percaya.
Tanpa membuang banyak waktu, Alex menghubungi seseorang untuk segera menyusun rencana. Tidak ingin berita konyol itu terus menyebar dan membuat nama baiknya tercoreng.
Kaisar mendengkus kesal dan pergi meninggalkan sang ayah tanpa pamit. Sebuah pesan darurat dikirimnya dengan cepat.
[VIN, TOLONGIN GUE!]
***