BAB 2 BANG KAI?Kelopak mata Aruni terbuka perlahan. Namun, tidak ada seorang pun yang menemaninya di ruangan itu. Samar-samar, dia mendengar suara orang-orang yang sedang mengobrol di luar. Gadis itu mulai kebingungan, entah di mana dia berada sekarang.
Aruni masih terbaring dan memperhatikan sekeliling. Kamar itu dihias dengan bunga mawar putih yang masih terlihat segar. Ditambah wangi aroma terapi yang terhirup begitu semerbak. Tidak salah lagi, dia ada di sebuah kamar pengantin.
“Aigoo… mampus gue!” batinnya sambil menarik selimut hingga menutupi kepala.
Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang yang sedang menaiki tangga. Aruni sama sekali tidak berani menurunkan selimut. Matanya terpejam sambil menahan debar jantung yang terus menggebu. Ingin sekali berteriak memanggil sang ayah dan meminta pertolongan.
“Sudah sadar?” tanya seseorang itu.
Suaranya tidak asing di telinga. Gadis itu berdeham sekali untuk menyingkirkan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokan. Dia menurunkan selimut dan tersenyum lebar memamerkan barisan giginya yang rapi.
“Ki-kita di mana, Pak?” tanya Aruni sedikit terbata.
“Di rumah saya,” sahut Kaisar singkat tanpa menatap.
Sudah sekitar dua tahun belakangan ini, Kaisar memilih tinggal terpisah dari orang tuanya. Meskipun rumah mungil itu hanya dikontrak dari seorang teman, dia merasa lebih nyaman hidup sendiri. Namun, mulai sekarang dia harus membiasakan diri berbagi kediamannya dengan Aruni.
Lelaki bertubuh tinggi itu berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa pakaian. Kemudian, dia kembali turun menuju kamar mandi. Tak ada kata-kata yang diucapkannya, irit bicara seperti biasa.
Aruni membuang napas lega. Dia segera menyingkirkan selimut karena badannya terasa begitu gerah. Gadis itu duduk sambil mengipasi wajah dengan kedua tangan.
Kedua netranya mulai menjelajahi seluruh ruangan. Rumah itu tidak memiliki sekat antarruang dengan mezanin yang digunakan sebagai kamar tidur. Plafonnya cukup tinggi, sekitar lima meter dari lantai. Dari tempatnya berada, Aruni dapat langsung melihat sebagian lantai bawah karena dinding pembatas hanya menggunakan kaca.
Perlahan, dia menuruni tangga yang terbuat dari kayu. Ketika sampai di bawah, gadis itu melihat-lihat isi ruang tamu sederhana dengan sofa abu-abu berbentuk huruf L. Sebuah pot tanaman palem kuning yang cukup besar diletakkan di sudut ruangan. Kemudian, dia berjalan menuju dapur yang dibatasi oleh meja minibar. Seulas senyum tampak di wajah yang masih dihiasi make-up pengantin itu. Dia terkagum dengan penataan interior rumah yang minimalis dan rapi.
Akan tetapi, senyum itu tiba-tiba memudar. Aruni teringat pada sang kakak yang seharusnya berada di sini sekarang. Bukan dia yang berhak untuk ikut menikmati semua fasilitas ini. Bagaimanapun juga, dirinya hanya sebatas istri pengganti yang tetap harus tahu diri hingga nanti tiba saatnya Aruna kembali.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Kaisar yang baru saja membuka pintu kamar mandi.
Aruni terkesiap. Bola matanya bergerak ke kanan dan kiri sambil berpikir untuk mencari alasan.
“Hmm … sa-saya lagi nyari minum, Pak. Haus banget! Iya, beneran haus!” jawabnya kikuk diikuti senyum lebar.
Kaisar menatap penuh curiga. Padahal, jelas-jelas teko air minum dan gelas sudah tersedia di atas meja minibar.
“Itu apa?” ucapnya sambil mengarahkan pandangan pada kedua benda tersebut.
Lagi-lagi, Aruni hanya bisa memperlihatkan barisan giginya. Dia benar-benar merasa seperti gadis bodoh di hadapan Kaisar. Hari ini saja sudah beberapa kali dia melakukan hal yang memalukan.
“Oh, iya! Saya gak lihat, Pak.” Gadis berkerudung itu segera mengisi gelas hingga penuh, lalu meneguknya sekaligus hingga tandas.
“Saya bukan bapak kamu!”
Air minum yang belum sempat tertelan seketika tersembur hingga mengenai kaos yang dipakai Kaisar. Hal itu sontak membuat kedua matanya membulat. Aruni langsung menarik handuk yang ada pada bahu suaminya untuk mengelap semua bagian yang basah dengan asal. Sayangnya, semburan air itu sudah terlanjur terserap.
“Haduh, maaf ya, Pak!” ujarnya penuh sesal.
Kaisar membuang napas dengan kasar. Dia mulai kesal dengan tingkah konyol istrinya dan bergegas meninggalkan Aruni untuk kembali berganti pakaian di kamar.
“Jangan panggil saya dengan sebutan ‘Pak’ lagi!” pinta lelaki dengan tinggi 175 sentimeter itu sambil berlalu.
Aruni merasa heran, entah apa yang salah dengan sebutan itu. Padahal, biasanya Kaisar disapa dengan panggilan yang sama oleh karyawan lain di katering. Meski masih belum mengerti, dia memutuskan untuk ikut ke lantai atas.
“Arggghhh ….” Gadis itu berteriak sambil menutup wajah saat melihat suaminya bertelanjang d**a.
Kaisar terkesiap. Dia langsung bersembunyi di balik pintu lemari dan hanya kepalanya yang terlihat. Hampir saja lupa kalau sekarang ada orang lain yang tinggal di rumah mungil itu.
“Kamu tuh apa-apaan sih!” sergahnya kesal.
“Lagian salah sendiri! Punya kamar, tapi gak ada pintunya! Saya cuma mau tanya, handuk Pak Kai ini harus ditaruh di mana?” Aruni berusaha membela diri sambil membalikkan tubuh.
Kaisar buru-buru memakai kaos yang baru. Dia tidak ingin dituduh memamerkan bagian atas tubuhnya. Untung saja lengan kekar, d**a bidang, dan perutnya yang rata itu tidak sampai terekspos.
“Hei, kita ini di rumah, bukan di katering! Jadi, gak usah manggil Pak Kai!”
“Terus, manggilnya apa dong?” tanya Aruni dengan polos.
Keduanya terdiam, sama-sama memikirkan panggilan apa yang terdengar cocok bagi Kaisar.
“Om Kai?” cetus gadis bermata sipit itu. “Eh, jangan deh! Nanti saya dikira sugar baby!” sambungnya.
Kaisar hanya mengerlingkan mata tanpa memberikan tanggapan. Dia mengalihkan perhatian pada ponsel yang ada di meja nakas, lalu mengecek pesan-pesan yang masuk. Akan tetapi, telinganya masih mendengarkan ocehan sang istri.
“Mas Kai?” Aruni kembali memberi usul. “Idih, terlalu sweet kedengarannya!”
“Aa Kai atau Kak Kai?” ujarnya lagi. “Eh, gak jadi, kagok ngomongnya!”
Gadis itu masih mondar-mandir di dekat tangga dengan melingkarkan handuk di leher. Sesekali matanya melihat ke arah langit-langit untuk mencari inspirasi.
“Gimana kalau Bang Kai?”
“Apa?! Bangkai?” Kaisar terkejut hingga ponselnya terjatuh ke lantai. Lirikan mata yang tajam langsung diarahkan pada Aruni.
“Iya, Bang Kai. Itu singkatan dari Abang Kaisar. Gak kagok, ‘kan?”
Kaisar mengembuskan napas panjang, berusaha meredakan rasa kesal yang semakin memuncak. Tidak disangka bila menikahi seorang mahasiswi magang akan menguji kesabarannya. Padahal, ini baru hari pertama dan entah akan bagaimana hari selanjutnya.
“Kamu tahu, ‘kan bangkai itu apa? Udahlah panggil Kai aja langsung daripada ribet!” Lelaki itu berdiri, lalu berjalan ke arah Aruni.
“Gak sopan lah! Usia kita bedanya sepuluh tahun, ingat itu!”
“Memang kenapa?” Kaisar semakin mendekat. Tangannya mulai bergerak hingga membuat Aruni mundur selangkah. “Apa saya kelihatan tua?” bisiknya pelan.
“Hmm … eng-engak!” jawab Aruni gugup.
Rasa takut mulai menyerang, apalagi ketika kedua lengan Kaisar mengungkungnya hingga mentok ke dinding. Tiba-tiba terbayang bila harus tidur dengan lelaki menyebalkan yang sudah berstatus sebagai suaminya malam ini. Haruskah dia kabur seperti yang dilakukan Aruna?
“Biar saya yang naruh handuknya,” pungkas Kaisar seraya melepaskan benda itu dari leher istrinya. Kemudian, dia kembali ke lantai bawah demi mengakhiri obrolan konyol mereka.
Aruni tampak membeku. Wangi parfum Kaisar ditambah dengan bisikan lembut berhasil membuat gadis itu larut dalam imajinasinya sendiri. Namun, dia segera menggelengkan kepala. Jangan sampai terbuai apalagi jatuh cinta lebih dulu.
Suara dering telepon membuat Aruni semakin tersadar. Dia mencari sumber suara dan melihat nama yang muncul di layar ponsel itu.
“Pak Kai, ada telepon dari Vino,” teriaknya.
Tak lama kemudian, Kaisar menghampiri dengan setengah berlari dan segera mengambil ponselnya. Telepon itu memang sudah ditunggu sejak tadi. Dia sedikit menjauh, tidak ingin Aruni mendengar pembicaraannya.
“Saya mau pergi dulu, mungkin akan pulang larut malam. Kalau lapar, kamu bisa masak sendiri bahan yang ada di kulkas atau lemari makanan.” Raut wajah Kaisar tampak cemas. Dengan terburu-buru, dia mengambil kunci motor dan memakai jaket kulit hitam sambil menuruni tangga.
“Memangnya ada apa?” tanya Aruni penasaran. Sayangnya, tidak ada jawaban hingga sang suami menutup pintu rumah.
“Siapa Vino? Kenapa Kaisar kelihatan panik?” batin gadis itu.
***