BAB 4 KEHILANGAN CINCIN

1272 Words
BAB 4 KEHILANGAN CINCINKaisar mendengkus kesal. Seharusnya, masih ada beberapa pekerjaan yang ingin dia tugaskan pada Aruni. Sebagai orang baru yang tinggal di rumahnya, ada aturan yang harus diikuti. Setelah memastikan seluruh ruangan bersih dan rapi, Kaisar berangkat menuju katering. Dia mengenakan jaket kulit hitam dan helm full face merah andalannya. Suara knalpot yang menderu terdengar saat motornya mulai melaju. Ketika melewati halte yang tidak jauh dari tempatnya bekerja, Kaisar mengurangi kecepatan motor. Dia berhenti dengan jarak sekitar tiga meter dan tetap menepi di sana. Dari kaca spion, lelaki itu terus memperhatikan istrinya yang sedang berada di halte. Aruni tampak sedang duduk sendiri. Dia menunduk sambil sesekali memainkan kaki, menggeser-geser flat-shoes seperti menggilas sesuatu. Kedua tangannya saling mengusap secara bergantian. Kaisar masih terus mengawasi gadis itu dan curiga ada orang lain yang sedang ditunggunya. Dengan helm yang tertutup rapat, keberadaannya pasti tidak akan diketahui. Setelah sekitar lima menit berlalu, dia melihat ada seseorang yang mendatangi Aruni. Kehadiran seorang lelaki yang wajahnya tidak asing itu berhasil menyulut emosi. Dia hendak turun dari motor. Namun, saat melihat raut wajah istrinya yang tampak semringah, Kaisar memutuskan untuk pergi. Gadis bermata sipit itu tersenyum lebar saat Zul datang menyapa. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan salah satu juru masak di katering yang paling baik dan perhatian. Bisa jadi, ini adalah jalan pertolongan untuknya. “Kok, tumben Kang Zul gak bawa motor?” tanya Aruni berbasa-basi. “Tadi dititip dulu di bengkel, jadinya barusan saya naik angkot.” Seulas senyum tersimpul dari wajah lelaki itu. “Run, tangan kamu kenapa merah-merah begitu?” balasnya bertanya. Aruni segera menutupi tangan dengan tas. Ada rasa malu yang tiba-tiba bergelayut ketika Zul menyadari perilakunya yang terus mengusap-usap telapak tangan. “Alergi saya kambuh, Kang,” jawabnya diikuti tawa canggung. “Waduh, alergi kenapa? Udah diobatin?” Dahi Zul langsung mengernyit menunjukkan kekhawatiran. “Tadi gara-gara nyuci piring, Kang. Justru masalahnya obat dan salep yang biasa dipakai itu ketinggalan. Saya mau beli, tapi uangnya kurang.” Lagi-lagi gadis itu memamerkan gigi. Sebenarnya sejak tadi, Aruni berpikir keras mengenai hal ini. Tangannya yang memerah sudah mulai terasa gatal. Usapan demi usapan tidak lagi berpengaruh dan ingin terus digaruk. Bahkan muncul rasa perih akibat sela jari yang lecet. Sayangnya, uang yang ada di dompet hanya cukup untuk ongkos pulang-pergi katering hari ini. Sedangkan, saldo yang ada di rekening bank tidak cukup untuk ditarik di mesin ATM. Aruni merutuki kebodohannya yang lupa meminta jatah uang jajan pada sang ayah di malam sebelum pernikahan dadakannya. Sedari tadi, dia sudah menghubungi Arif untuk mengantarkan salep itu, tetapi masih belum ada jawaban. “Kalau gitu, kita ke apotek dulu, yuk! Biar saya yang bayar nanti,” ajak Zul yang terlihat begitu peduli. “Hmm ... gak usah, Kang! Kalau boleh, saya pinjam uang Kang Zul dulu aja. Nanti saya ganti setelah ....” Aruni bingung sendiri. Dengan statusnya yang sudah menikah, entah ke mana dia harus meminta uang. Rasanya tidak pantas bila terus mengandalkan pemberian dari sang ayah, tetapi dia juga tidak berani menuntut pada Kaisar. Tanpa menunggu Aruni selesai bicara, Zul langsung menarik tangan gadis itu. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk memberikan perhatian khusus pada Aruni. Akan tetapi, tangan itu terlepas kembali. “Maaf. Kang Zul duluan aja ke katering, biar saya yang ke apotek sendiri. Lagian, ini udah jam delapan kurang sepuluh menit. Nanti bisa telat dan dimarahin Pak Kaisar, loh,” ujar gadis yang mengenakan jascook hitam itu. Zul melihat ke arah jam tangannya. Menimbang-nimbang antara mengantar Aruni atau pergi ke katering lebih dulu. “Tapi, nanti kamu juga bisa telat, Run! Gak apa-apa, biar saya yang izin. Hayuk!” Lelaki berusia 26 tahun itu kembali merayu. Aruni tidak punya pilihan lain. Daripada tangannya terus gatal dan semakin lecet, dia pun menerima ajakan juru masak itu. Yang penting bisa mendapatkan obat secepatnya. *** Sudah lebih dari setengah jam berlalu, Kaisar belum melihat kedatangan Aruni dan Zul. Dia sudah berdiri di dapur sambil melipat kedua lengan. Raut wajahnya tampak kesal. Kepala juru masak pun merasa heran. Entah ada angin apa yang membuat sang manajer itu terlihat tidak sabar karena sudah berkali-kali menanyakan keberadaan mereka, padahal biasanya tidak bersikap seperti itu. Tak lama kemudian, dia bernapas lega melihat Zul tiba disusul oleh Aruni di belakangnya. “Bukankah aturan di katering ini sudah cukup jelas? Shift pagi masuk jam delapan dan tidak boleh ada yang pacaran!” tegas Kaisar dengan sorot mata yang tajam. “Mohon maaf, Pak Kai. Saya yang salah. Tadi kami ....” Kaisar mengibaskan tangan, tidak ingin mendengar penjelasan dari Zul. “Aruni, ke ruangan saya sekarang juga!” perintahnya seraya berlalu. Setelah lelaki dingin itu melewatinya, Aruni menepuk-nepuk dahi sendiri. Sebagai mahasiswi yang masih harus menjalani praktik kerja lapangan, seharusnya tidak boleh bertindak macam-macam. Apalagi dia hanya sendiri, sedangkan teman-temannya memilih magang di hotel. Sarvina Catering mulai dirintis sejak enam tahun yang lalu. Kabarnya, pemilik katering ini tinggal di luar negeri dan memercayakan seluruh kegiatan operasional pada Kaisar sebagai pimpinan. Baru kali ini ada seorang mahasiswi jurusan pendidikan tata boga yang diizinkan menjalani kegiatan magang di sana. Itu pun atas desakan dari seorang Alex Sudarmono. Kaisar tidak bisa menolak perintah dari sang ayah yang otoriter itu. Tiga bulan pertama memang semua berjalan baik-baik saja. Namun, sekarang ternyata gadis itu malah menjadi istrinya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Kaisar. Dia memutar kursi kerja dan mempersilakan seseorang itu untuk masuk. Dalam hati sangat yakin, pasti Aruni yang datang. “Maaf, Tuan.” Gadis berkerudung putih itu langsung menutup mulut. “Eh, bukan! Pak, maksudnya. Eh, Kai ....” Aruni serba salah, bingung harus memanggil apa pada suami sekaligus atasannya bila sedang berada di katering. Kaisar memasang wajah datar. Dia berdiri dan berjalan menghampiri sang istri. Rasa kesal, marah, dan curiga membaur dalam benaknya. Apalagi saat memperhatikan kedua tangan Aruni yang terus disembunyikan di belakang. “Saya mau lihat tangan kamu!” pintanya saat sudah berada di hadapan gadis itu. Aruni tampak ragu dan terus menunduk. Perlahan, dia melepaskan tautan jemari dan mengeluarkan tangan kirinya yang tidak terlalu parah. “Mana yang kanan?” tanya Kaisar dengan ketus. Mahasiswi magang itu terpaksa menunjukkan tangan kanan dan berusaha membela diri sebelum dimarahi. “Tuh, lihat! Ini gara-gara Tuan, alergi saya kambuh! Tuan harus tanggung jawab!” “Hei, siapa yang nyuruh kamu manggil saya Tuan? Memangnya saya majikan kamu?” Lelaki berkemeja abu-abu itu mulai naik darah. “Jadi, mentang-mentang kamu mau janjian dengan Zul makanya berangkat lebih awal sampai cincin nikah pun gak dipakai?” Kaisar mengalihkan pandangan sambil berdecak kesal. Kedua mata Aruni ingin melotot, tetapi tidak berhasil karena terlalu sipit. Dia baru menyadari kalau cincin yang disematkan oleh Kaisar kemarin sudah tidak ada di jari manisnya. “Aigoo!“ keluhnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Niat untuk meminta pertanggungjawaban malah membuat kecerobohannya terkuak. Otaknya langsung berpikir keras, mengingat-ingat di mana dia meletakkan benda berharga itu. “Hmm … sa-saya lupa naruh di mana. Tadi dilepas karena tangannya gatal, Tuan. Eh, Pak!” Lagi-lagi dia salah memanggil suaminya. “Ckckck! Baru sekitar 24 jam kamu nikah, cincin seharga sepuluh juta sudah hilang ditambah kamu berani selingkuh. Gimana kalau Pak Alex tahu ya?” Kaisar kembali melipat kedua lengannya. “Please, jangan dilaporin ke Pak Alex! Tadi tuh telat gara-gara ke apotek jalan kaki buat beli ini nih.” Aruni mengeluarkan kemasan salep dan satu strip obat yang diambil dari sakunya. Lelaki bertubuh tinggi itu sama sekali tidak tertarik dengan penjelasan dari sang istri. Dia kembali ke meja kerja dan mengambil berkas kertas putih. Kemudian, menyerahkannya pada Aruni. “Tanda tangani ini sekarang juga!” perintah Kaisar tanpa ingin ada tawar menawar. “Surat Perjanjian?!” Aruni terbelalak. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD