BAB 5 TERCIDUK“Surat perjanjian?!” Aruni terbelalak.
Dari judulnya saja sudah membuat kedua lutut gadis itu terasa lemas. Dia mulai curiga saat melihat sekilas poin-poin yang tertulis di sana. Tak lama, Aruni tersentak ketika tiba-tiba Kaisar menyentuh pundak, lalu mendorongnya perlahan hingga mendekati kursi.
“Silakan duduk dengan nyaman, Nyonya Kaisar Gemilang Sudarmono!”
Setiap baris surat perjanjian itu mulai dibaca oleh Aruni. Sesekali seperti ada kilatan tajam dari lirikan mata yang mengarah pada Kaisar. Bibir tipisnya tampak mengerut menahan u*****n.
Kaisar masih berdiri sambil bersandar pada meja kerja. Dia berpura-pura memeriksa berkas laporan keuangan. Padahal, sebenarnya sedang menanti respons dari sang mahasiswi magang di hadapannya.
Ini adalah momen yang paling tepat bagi lelaki berkemeja abu-abu itu untuk memberikan pelajaran pada Aruni. Dia sengaja menuliskan tugas-tugas rumah tangga yang harus dikerjakan istrinya. Ditambah beberapa aturan yang ditetapkan demi kebaikan bersama.
“Aigoo ….” Gadis itu membuang napas dengan kasar. “Dengar, Pak! Saya ini istri Anda, bukan pembantu rumah tangga! Apa ini risiko berperan sebagai Nyonya Kaisar Gemilang Sudarmono?” Aruni tampak geram setelah selesai membaca seluruh isinya.
“Hei! Kita berdua tinggal di rumah yang sama, jadi memang seharusnya berbagi tugas rumah tangga,” balas Kaisar tidak mau kalah. “Atau … kamu mau saya laporkan ke mertuamu yang galak itu?”
Dalam surat perjanjian tersebut, Aruni harus mau menyapu dan mengepel lantai. Selain itu, dia wajib mencuci dan menyetrika pakaian. Sedangkan, Kaisar bertugas membereskan kamar tidur, memasak sarapan, dan mencuci perabot.
Nyali Aruni seketika menjadi ciut saat mengingat nama Alex Sudarmono. Akan tetapi, dia merasa pembagian tugas itu sangat tidak adil. Apalagi sebagai anak bungsu, dirinya memang tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga.
“Gimana kalau ada yang diubah? Saya nyapu, Bapak ngepel. Terus, saya masak dan Bapak yang nyuci perabot. Urusan pakaian bawa ke laundry ajalah, Pak!” Gadis itu beranjak mendekati Kaisar dan mencoba menawar. “Boleh ya, Pak? Please …,” rengeknya sambil menangkupkan kedua tangan.
Kaisar mengernyitkan dahi dan berusaha menjauhkan diri. Dia terus menghindar saat Aruni merayu sambil menarik-narik bagian lengan kemeja. Bukan karena benci, tetapi tiba-tiba saja ada bayangan masa lalu yang melintas dalam otaknya. Memori yang berusaha keras untuk dilupakan malah kembali muncul. Rasanya seperti sebuah deja vu.
“Ayolah, ‘kan itu masih bisa diedit dan di-print ulang! Pak Kai yang ganteng, pandai memasak, baik hati, tidak sombong, selalu menjaga kebersihan dan kerapian. Please, atuh ….” Aruni tidak menyerah. Hampir seluruh ruangan dikelilingi untuk mengejar manajer itu.
“Ck! Apa-apaan sih kamu! Tanda tangani atau saya telepon Papa sekarang juga?” ancam Kaisar sambil mengangkat ponsel yang baru berhasil diraihnya.
Aruni yang memiliki tinggi 155 sentimeter berusaha menggapai ponsel itu. Akan semakin kacau masalah bila pihak orang tua sampai tahu mengenai hal ini. Bahkan, bisa jadi ayah kesayangannya pun malah membela Kaisar. Gadis itu beberapa kali berjijit untuk merebutnya hingga hampir saja kehilangan keseimbangan. Dia terpaksa berpegangan pada Kaisar daripada terjatuh dan harus menanggung malu.
“Aw!” Kaisar merintih akibat nyeri yang tiba-tiba muncul pada bahunya. Perlahan dia menurunkan tangan kanan yang sejak tadi diangkat setinggi mungkin.
“Kalian sedang apa?” tanya seseorang yang berdiri di ambang pintu.
Aruni dan Kaisar menoleh bersamaan, lalu saling menjauh. Keduanya terkesiap dan salah tingkah. Mereka tidak menyangka, akan ada orang yang masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Hening sejenak.
“Vin?! Kok, gak bilang-bilang mau ke sini?” Kaisar berusaha memecah kebekuan. Suaranya terdengar gugup setelah adegan dramatis yang tadi terjadi.
“Hai, kamu yang namanya Aruni ya? Kenalkan, aku Alvino Anggara, biasa dipanggil Al atau Vino.” Lelaki yang mengenakan cardigan biru dongker itu malah menghampiri dan mengulurkan tangan pada Aruni.
Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Sesaat terpesona dengan ketampanan Vino yang berwajah oriental dengan kulit putih dan mulus. Melihat gaya berpakaian dan model rambutnya yang berwarna cokelat kehitaman, membuat dia teringat pada aktor drama Korea yang banyak diidolakan oleh K-lovers. Akan tetapi, kedua tangan Aruni disembunyikan ke belakang agar tidak perlu bersentuhan.
“Aku yang digosipkan jadi pacarnya Kaisar. Maaf, kemarin cuma sempat datang sebentar saat akad nikah kalian. Selamat ya!” lanjut Vino seraya menarik kedua sudut bibir.
“Vin!” sergah Kaisar sambil melemparkan gumpalan kertas ke arah sahabatnya itu. “Runi, nanti kita bahas soal yang tadi di rumah. Sekarang kamu bisa kembali ke dapur,” ujarnya lagi untuk mengusir sang istri secara halus.
Aruni tertegun dan kembali teringat pada gosip itu. Terlebih lagi dengan kejadian kemarin sore yang membuat Kaisar lebih memilih meninggalkannya seorang diri hingga larut malam setelah mendapat telepon dari Vino. Mungkinkah suaminya benar-benar memiliki kelainan?
“Aku cuma bercanda, kok!” ujar Vino seolah dapat membaca pikirannya.
Keduanya sempat saling menatap. Sorot mata yang terpancar dari gadis polos itu membuat Vino terkenang akan sesuatu. Sebuah luka yang tak kunjung sembuh meski sudah berusaha diobati. Bukan salah Aruni atau siapapun, tetapi dirinyalah yang belum siap untuk mengambil langkah.
“Ehem ….” Kaisar berdeham untuk mencuri perhatian Aruni. Dia terpaksa menarik tangan istrinya agar segera keluar dari ruangan dan tidak perlu banyak berinteraksi dengan Vino. Belum saatnya Aruni tahu semua yang terjadi sebelum pernikahan mereka berlangsung.
Dengan langkah gontai, mahasiswi magang itu meninggalkan ruang kantor yang ada di lantai dua. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya. Tentang hubungan antara Kaisar, Vino, dan kesialan yang menimpa dirinya hingga detik ini.
“Ah, jelas-jelas ini akibat ulah Kak Una yang bikin gue masuk jebakan si Manusia Es Balok!” tegasnya dalam hati sambil menggelengkan kepala untuk mengakhiri lamunan yang semakin berkelana.
“Gimana, Run? Kamu dimarahin ya?” Tiba-tiba Zul sudah berada di dekat gadis itu.
“Eh, Kang Zul bikin kaget!” Aruni mengusap d**a, menenangkan jantung yang hampir saja melompat. “Enggak, kok, tenang aja! Pak Kai gak akan berani macem-macem sama saya, Kang,” sahutnya diikuti tawa yang dipaksa. Tanpa ingin berlama-lama, Aruni segera berjalan cepat meninggalkannya.
Ketika hendak menyimpan salep dan obat yang dikantonginya, dia mendengar suara dering telepon dari dalam tas. Ternyata itu adalah panggilan dari sang ayah. Aruni bergegas menggeser layar ponsel untuk menerimanya.
“Ayah, kenapa baru nelepon balik sih? Runi tuh nungguin dari tadi!” protesnya dengan manja.
“Loh, justru Ayah sudah berkali-kali nelepon, tapi tidak kamu angkat. Tadi obat dan salepnya Ayah kirim pakai ojeg ke Kaisar,” jawab Arif.
Aruni terkejut hingga mulutnya sedikit terbuka. Dia mendapat jawaban untuk pertanyaan yang sempat membuatnya penasaran. Pantas saja tadi sang suami langsung menyuruh masuk ke kantor dan memintanya menunjukkan kedua tangan.
“Oh, iya. I-ini baru dikasih sama dia. Kamsahamnida.” Gadis itu terpaksa berbohong. “Hmm … Yah, boleh gak Runi minta jatah jajan? Harusnya ‘kan kemarin lusa, tapi karena Ayah lagi pusing jadi baru berani bilang sekarang,” sambungnya memelas.
“Mau berapa?”
“Seikhlasnya Ayah aja deh!”
“Oke, nanti Ayah transfer dua ratus ribu ya?”
“Apa?! Kok, cuma segitu?” Aruni kembali protes.
“Tadi kamu bilang seikhlasnya, jadi Ayah kirim segitu ya. Kamu ‘kan sudah bersuami, bukan tanggungan Ayah lagi. Bersikap baiklah pada Kaisar dan kalau libur ajak dia main ke rumah! Sekarang Ayah ada kerjaan dulu. Assalamualaikum.”
Setelah telepon itu ditutup, Aruni bersandar pada lemari loker dengan lemas. Kekecewaan terpampang jelas dari raut wajahnya. Dua ratus ribu itu memang cukup untuk mengganti uang Zul yang dipinjamnya. Hanya ada lebih sekitar lima puluh ribu untuk ongkos naik angkutan umum yang lebih hemat dibandingkan dengan ojeg online. Rasanya tidak mungkin bila harus menumpang pulang-pergi dengan Kaisar, bisa-bisa semua karyawan akan curiga dengan hubungan mereka.
“Aigoo …,” keluhnya seraya membuang napas dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
Ketika akan kembali ke dapur, tanpa sengaja Aruni melihat Kaisar dan Vino menuruni tangga. Dia begitu penasaran memperhatikan ekspresi wajah suaminya saat mengobrol. Keren. Sangat berbeda bila sedang bersamanya. Entah apakah dia akan sanggup untuk menjaga hati dalam menjalani peran ini.
Tiba-tiba, gadis itu dikagetkan oleh sebuah tepukan di pundaknya. Dia tersentak dan langsung menoleh ke belakang.
“Astagfirullah!”
***