Cerita Kutukan - Jesika

1509 Words
Aku mengambil napas panjang dan tersenyum padanya. “Mpo inget sama kutukan yang ada di sekolah itu?” tanyaku. Mpo Rodiyah menjawab dengan anggukan kepala. Dahinya semakin mengernyit. Aku tahu kalau dia sudah sering mendengar desas-desus masalah kutukan di SMA Angkasa. Aku sama dia saja lebih lama dia mengetahui sekolah itu, pasti dia sudah sering mendengar informasi kasus kutukan di SMA Angkasa yang berujung kematian. “Tadi itu ada yang berantem di kantin, dua orang cewek yang lagi ngerebutin masalah cowok. Biasa urusan anak perempuan, Mpo ngerti lah pasti. Salah satu di antara mereka berdua itu ngutuk lawannya, Mpo!”  jelasku dengan suara rendah agar tidak ada yang mendengar pembicaraan kami. Wajah Mpo Rodiyah langsun berubah dari ketakutan menjadi terkejut. Tangannya mencengkeram bahuku dengan keras. Sudah aku katakan untuk tidak mendengarkan ceritanya, dia pasti ketakutan. Baru saja aku katakan, Mpo Rodiyah sudah ketakutan banget. “Astaga! Serius, nih?” kata Mpo Rodiyah dengan nada yang mengecil tidak seperti biasanya. “Lo beneran itu anak pada berantem? Gue jadi takut, nih. Lo jangan bohong, Jes! Lu tau rumah gue di deket sekolahan. Kalau kejadian nanti gimana nih?” Aku hampir tertawa melihat ekspresi ketakutan Mpo Rodiyah. Kalau saja aku sedang bersama Vina, pasti dia akan tertawa melihatnya. “Makanya tadi aku udah bilang mau dengerin apa enggak. Kalau dengerin nanti takut Mpo ketakutan. Sekarang buktinya begini. Terus gimana, Mpo? Mpo mau tidur di rumah sendirian aja, nih?” Mpo Rodiyah melihat ke sekelilingnya dengan mata yang melotot. Sepertinya dia tidak akan tidur di rumah malam ini. Aku yakin dia ketakutan banget. Jelas saja, aku yang rumahnya lumayan jauh dari sekolah pun ketakutan, apa lagi Mpo Rodiyah yang dekat banget? Bisa-bisa Mpo Rodiyah justru melihat adegan kutukan itu berlangsung. “Sebenernya takut, Jes. Apa lagi gue tidur sendirian. Paling habis ini gue tutup warung, deh. Terus nanti malem tidur di rumah sodara,” jawabnya. Terserah apa yang dia rencakan, aku tidak peduli. Mengurus urusanku saja sudah sulit, untuk apa mengurus urusan Mpo Rodiyah yang ketakutan juga. Lagi pula, aku sekarang jadi punya ide bagus. Mumpung sekarang ada Mpo Rodiyah, lebih aku menanyakan masalah kutukan itu dengannya. Mpo Rodiyah tinggal di sini sudah lama, aku yakin dia pasti banyak mendengar masalah kutukan itu lebih banyak dari pada siswa-siswa yang sekolah sekarang. Aku bisa mendapatkan informasi yang penting darinya. “Mpo, Jes mau tanya sama Mpo boleh nggak?” tanyaku ketika Mpo Rodiyah baru saja berdiri. Perempuan itu kembali duduk dan menghadap ke arahku. “Mau nanya apaan?” “Masalah kutukan itu, Mpo tau sesuatu nggak? Kalau Mpo ada cerita awal pertama kali masalah kutukan, Jes mau denger, dong. Jes pengin tahu banyak soal masalah itu. Mpo mau cerita?” Aku menatap Mpo Rodiyah dengan wajah yang sangat melas. Terang saja, aku perlu meyakinkannya agar mau bercerita. Kalau sikapku membuatnya malas, dia juga pasti tidak sudi untuk bercerita. Mpo Rodiyah mengembuskan napasnya dengan kencang. Dia mendekatkan wajah kami berdua, mungkin agar suaranya tidak terlalu dengar. Setelah itu dia berbisik sangat pelan. “Gue ceritain dari awal, tapi lo janji nggak boleh nyebar ini ke semua warga sekolah. Kalau sampai nyebar, gue nggak mau tanggung jawab.” Aneh-aneh saja Mpo Rodiyah, seperti tidak kenal aku saja. Aku sudah lama hidup dan sering jajan di warungnya, dia seharusnya sudah mengetahui kepribadianku yang sangat pendiam dan tidak mau cerita dengan siapa pun. Jangankan bercerita yang mengeluarkan banyak kata dan tenaga serta pikiran, berbincang dengan orang yang tidak dekat saja aku tidak mau. “Iya, Mpo. Jes nggak cerita sama siapa pun,” ucapku sambil tersenyum. Untuk saat ini aku bisa memastikan untuk tidak cerita pada siapa pun. Namun, aku tidak tahu kalau nanti Vina ingin mengetahuinya dariku. Kalau dia memaksa aku untuk bercerita, tidak mungkin aku diam dan tidak memberitahukannya. Anak itu pasti akan menggunakan berbagai cara agar aku mau membocorkan informasi yang super penting dari Mpo Rodiyah. “Sebenernya, gue pake kata samaran, ya. Kita sebutnya dodol aja gimana?” tanya Mpo Rodiyah yang tersenyum sambil menampilkan barisan giginya. “Oke, kita sebut kata itu dengan samaran dodol!” Hal yang tidak bisa dihindari dari Mpo Rodiyah adalah leluconnya. Dia pasti punya satu atau dua lelucon untuk membuatku tertawa. Seperti sekarang, aku sedang menahan tawa mendengar leluconnya. Kalau saja tidak ada kejadian tadi siang, pasti aku akan tertawa kencang. “Jadi, dodol itu udah lama terjadi, Jes. Nggak baru-baru ini doang. Pertama kali dodol terjadi itu saat angkatannya siapa, ya? Gue lupa namanya, tapi inget tahunnya. Kalau nggak salah tahun 2006, deh. Iya tahun itu, gue inget-inget segitu. Nah, dodol itu kejadiannya ke seorang cowok bandel, yang ngucap juga bukan siswa lain, tapi gurunya sendiri,” jelas Mpo Rodiyah. Oh, jadi kutukan itu dimulai pada tahun 2006. Astaga, itu sudah hampir 12 tahun yang lalu. Kalau sampai sekarang kutukan itu masih ada, sudah berapa banyak nyawa yang hilang? Aku heran, apa ini benar-benar kutukan? Rasa-rasanya aku tidak percaya dengan kutukan. “Terus itu cowok akhirnya mati, Mpo?” tanyaku dengan polos. Aku tidak tahu kalau ada perbedaan antara kata mati dengan meninggal, makanya Mpo Rodiyah langsung marah kepadaku. “Enak aja ngomongnya mati! Meninggal, Neng nyebutnya, jangan mati aja! Biar lebih enak didengarnya gitu, kan kesannya kayak halus bahasanya. Iya begitu, dia meninggal di sekolah. Ketahuannya seminggu kemudian di gedung badminton pas ada yang mau olahraga di sana. Udah bau busuk banget mayatnya,” kata Mpo Rodiyah. Oh tidak! Aku sangat merinding mendengarnya. Mayatnya baru ketahuan seminggu yang lalu dan itu dalam keadaan sudah bau busuk. Memang gedung badminton itu jarang terpakai karena hanya dipakai saat kelas badminton saja dan itu pun seminggu sekali. Omong-omong, bagaimana semua orang bisa meyimpulkan kalau itu kutukan? Memangnya ada yang ingat tentang kutukan guru kepada siswanya waktu itu? Mpo Rodiyah bilang sudah seminggu kemudian baru ketemu, itu artinya sudah lama. “Terus gimana bisa orang-orang tahu kalau itu kutukan, Mpo? Bukannya itu udah seminggu kemudian baru ketahuan? Siapa yang tahu kalau itu bukti kutukan?” tanyaku dengan mata yang sedikit menyipit. Mpo Rodiyah mendengkus mendengar pertanyaanku. Aku yakin dia juga pasti bingung harus menjawabnya bagaimana. Memang aneh kalau dipikir-pikir ini adalah bukti kutukan yang sudah lama terjadi. Pasti ada orang yang mengada-ada kalau itu adalah kutukan dan semua warga sekolah setuju. Aduh, dasar manusia zaman dulu, percayanya dengan hal-hal mistis saja. “Dalam bulan itu nggak cuma satu dodol, Neng. Ada dodol lagi yang terjadi sama dua siswa kelas sebelas. Itu si mayatnya nggak sampe seminggu ditemuin, bahkan malem harinya, Neng. Orang tuanya nyari karena sampe jam berapa malem anaknya belum pulang-pulang. Kata temen sekelasnya nggak ada yang lihat, jadinya disamperin ke sekolah. Anaknya udah gantung diri, mulutnya udah melet sambil kelojotan gitu, Neng!” sahut Mpo Rodiyah. Astaga, aku tidak ingin membayangkan wajah siswa itu, bisa-bisa aku kepikiran terus dan tidak bisa tidur malam ini. Lagi pula, Mpo Rodiyah ini aneh-aneh saja, mengapa dia ceritakan sampai sedetail ini? Kalau untuk masalah kutukan kedua, aku bisa setuju kalau itu adalah kutukan. Kejadiannya sangat dekat waktunya. Aku menoleh ke arah Mpo Rodiyah. “Jadi, dari dua kejadian itu siswa mulai curiga kalau ada kutukan di sekolah ini? Terus karena dua kejadian itu juga akhirnya kutukan di SMA Angkasa tenar dan benar-benar dipercaya sampai sekarang?” Mpo Rodiyah menganggukkan kepalanya. “Iya, jadi begitu. Walaupun Mpo nggak percaya itu kutukan, tetep aja buktinya udah banyak. Mending Mpo kabur aja, deh. Lo nggak pulang sekarang? Gue mau tutup, nih!” Aku langsung melihat ponselku. Ojek ini benar-benar keterlaluan, sampai aku cerita dengan Mpo Rodiyah juga dia belum datang. Apa yang dai lakukan di luar sana? Sudah lima belas menit aku di sini. “Yah!” “Kenapa, Neng?” tanya Mpo Rodiyah dengan nada khawatir. “Ojek aku nggak bisa dateng sekarang, Mpo. Katanya dia takut ke sini. Gimana, dong?” tanyaku ke Mpo Rodiyah. “Masa Jes pulang jalan kaki sendirian? Kalau tau gitu, mending Jes tadi nebeng sama Vina aja. Dia bawa motor tadi.” “Yah, gimana, ya? Mpo nanti juga nggak sekarang pulangnya. Mpo mau mandi sama rapi-rapi warung. Lo mau tungguin Mpo di sini?” balasnya. Tidak mungkin aku menunggu Mpo Rodiyah, itu akan sangat merepotkannya. Sepertinya aku harus jalan kaki saja. Lahi pula, jarak dari sini ke rumah tidak terlalu jauh. Aku hanya harus mengelilingi sekolah dari luar dan ketemu jalan raya. Nanti aku tinggal lurus saja sampai ke rumah. Sepertinya aku bisa melakukan itu. “Jes jalan aja, deh. Pamit, Mpo. Terima kasih ceritanya,” ucapku langsung pamit ke luar dari warung Mpo Rodiyah. Suasana di luar warung benar-benar sepi banget. Tidak ada orang yang berjalan, mungkin hanya aku sendirian nanti yang berjalan. Astaga, dampak dari kutukan itu memang benar sangat kuat. Kalau tahu akan sesepi ini, aku tidak akan mau jalan kaki. Aku berjalan mulai melewati sekolah. Tidak ada tanda kehidupan dari dalam sana, pasti semuanya sudah tidur. Aku langsung berjalan terburu-buru dengan wajah yang ditundukkan. Aku harap tidak ada orang yang bisa mencelakaiku nanti. Aku juga berharap kalau ada sosok pahlawan yang mau mengantarku pulang sampai rumah. Kalau ada, aku bersedia menuruti keinginannya nanti. “Jess!” pekik seseorang dari belakang aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD