Selasa sore seperti biasa adalah jadwal latihan basket untuk tim basket putri. Setelah menurunkan Tyara di depan GOR sekolah, Pak San langsung melajukan mobil meninggalkan Tyara. Hari ini Tyara datang 1 jam lebih awal karena kebetulan Pak San nanti izin ada keperluan keluarga, jadi Tyara diantar lebih awal. Sampai di depan pintu masuk GOR Tyara terkejut karena melihat mobil Alex terparkir di halaman parkir GOR. Tyara berhenti sejenak, lalu mengeluarkan ponsel untuk melihat hari dan tanggal di layar ponselnya.
“Ini kan memang benar hari Selasa, jadwal latihan tim putri. Kenapa mobil Alex ada di sini?” gumam Tyara bingung.
Biasanya coach David tidak mengizinkan ada tim putra saat jadwal latihan tim putri begitu juga sebaliknya. Latihan tim basket putra seharusnya hari Rabu.
Tyara memasuki GOR dengan langkah ragu, tidak mungkin Alex berani melanggar peraturan dari Coach David. Namun, saat Tyara memasuki GOR ternyata benar ada Alex di sana. Alex sedang bermain basket di lapangan itu sendirian. Hari ini Alex memakai jersey warna hitam kombinasi hijau tua bernomor punggung 23. Tyara segera mengambil tempat duduk yang agak jauh supaya Alex tidak bisa melihatnya. Setelah selesai mengikat rambutnya, Tyara fokus melihat Alex. Tidak bisa dipungkiri pesona Alex saat dia bermain basket, badannya yang tinggi, tegap dan atletis, wajahnya yang dingin dan angkuh membuat banyak wanita terhipnotis oleh misterinya. Ditambah lagi kepiawaiannya bermain basket di lapangan membuat dia menjadi bintang lapangan yang sering diteriaki dengan histeris oleh para gadis.
“Oh Tuhan, dia melihatku..” gumam Tyara salah tingkah.
Alex yang sedari tadi merasa ada yang memperhatikan dirinya saat bermain segera menoleh ke arah datangnya magnet tersebut dan bingo! Alex melihat Tyara sedang menatapnya, tanpa mengulur waktu, Alex berlari kecil ke arah tempat duduk Tyara.
“Hei..” sapa Alex
“Hei, Lex. Kok hari ini latihan?” selidik Tyara.
“Ngga latihan kok, cuma pengen ketemu kamu aja,” goda Alex.
“Nanti kamu dapat sanksi dari coach lho!”
Alex hanya tersenyum manis. Entah cuacanya yang mendung mendukung untuk bermanis-manis ataukah memang Tyara yang kembali terpesona pada Alex? Tapi yang jelas Tyara merasa hari ini Alex sungguh manis.
“Kamu sendiri kenapa datangnya lebih awal?” Aĺex melirik jam dinding di GOR lalu duduk di samping Tyara.
“Iya, Pak San ada keperluan jadi aku diantar lebih awal,” jawab Tyara.
“Nanti mau pulang bareng?” tanya Alex
“Hmmm...aku dijemput Papa, mungkin lain kali aja,” jawab Tyara.
Tyara salah tingkah karena Alex duduk di sampingnya, akhirnya dia mencari kesibukan dengan mengaduk-aduk tasnya untuk mengambil sesuatu. Dia mendapat ide untuk mengambil handuk kecilnya dan diberikan pada Alex.
“Ini pakai handukku, keringatmu banyak banget.”
“Thanks, Ra. Aku memang selalu berkeringat kalau dekat kamu,” Alex tersenyum nakal.
“Oh, gitu ya? Baiklah, berarti handuknya ngga berguna."
Tyara hendak mengambil kembali handuk yang sudah dipegang Alex. Namun, dengan sigap Alex menarik tangan Tyara. Mereka berpandangan beberapa saat, saling menatap tidak berkedip. Dan dug..dug..dug...suara detak jantung Tyara seolah memberi tahu Alex kalau gadis ini sedang ada masalah dengan tatapan mata Alex dan sentuhan tangannya. Tyara membuang pandangannya ke arah lapangan basket untuk menghindari kontak mata dengan Alex yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.
“Maafin aku, Ra,”
“Maaf? Maaf untuk apa?”
“Maaf kalau selama ini aku membuatmu jengkel. Aku cuma ingin kita kembali seperti dulu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia dengan laki-laki lain sampai kapanpun,” jelas Alex.
Ada desiran aneh dalam diri Tyara saat dia mendengar Alex mengucapkan kalimat itu. Tyara bingung antara mendapat sanjungan atau mendapat ancaman?
“Haruskah kamu bicarakan hal semacam ini, Lex?” Tyara menyilangkan tangannya di depan d**a. Namun, sebelum Alex menjawab pertanyaan Tyara, satu per satu teman-teman tim basket Tyara mulai berdatangan. Tak ingin teman-temannya berpikiran yang tidak-tidak, Tyara segera bergabung dengan mereka di lapangan untuk bersiap-siap pemanasan. Alex tersenyum bahagia melihat Tyara yang salah tingkah hari ini .
Sebelum pemanasan dimulai, Coach David dan asistennya, Coach Dewi, memberikan pengarahan.
“Hai team! Hari ini saya sengaja mengundang seorang yang istimewa dari tim putra untuk bergabung dalam latihan kita hari ini,” jelas coach David sambil memandang ke arah Alex.
“Hari ini Alex akan membantu saya menilai performa kalian, jadi silakan memberikan penampilan terbaik kalian hari ini!”jelas coach David.
Semua mata bergantian memandang Alex lalu memandang Tyara, seolah-olah ingin melihat apa reaksi mereka berdua. Hubungan Alex dan Tyara memang bukan rahasia, semua tahu Alex menginginkan Tyara dan semua tahu Tyara tidak mau kembali pada Alex.
“Apakah ada pertanyaan team?” tanya coach David.
“Coach tanya!” Marisca sahabat Tyara mengeluarkan suara nyaringnya.
“Ya, Marisca silakan!”
“Kenapa harus Alex? Kenapa tidak Wilson atau Leandro?” Marisca menyebutkan beberapa nama anggota tim putra.
“Semua yang kamu sebutkan hebat, Mar. Tapi tidak semua bisa memberikan evaluasi yang tajam. Untuk urusan ini Alex yang terbaik,” jawab coach David.
“What???” jawab Marisca seakan tidak percaya, sedangkan Alex tersenyum sinis ke arah Marisca.
Setelah pemanasan, Coach David membagi 2 kelompok untuk bertanding yaitu tim A dan tim B. Tyara masuk di tim A. Terus terang kehadiran Alex membuat Tyara sedikit gelisah dan salah tingkah. Tyara beberapa kali tidak bisa fokus karena tatapan mata Alex seakan-akan mengikutinya.
“Fokus, Tyara!!”
Suara Alex menggelegar di tengah pertandingan, dia menampakkan wajah yang tidak puas dengan penampilan Tyara hari ini.
Skor akhir 31-20 untuk kemenangan tim Tyara. Tim A dan tim B berkumpul di tengah lapangan setelah selesai bertanding untuk evaluasi pertandingan hari ini.
“Oke team! Hari ini saya tidak akan berkomentar, semua komentar akan disampaikan oleh Alex,” jelas Coach David.
“Terima kasih, Coach! Penampilan masing-masing tim hari ini kurang maksimal. Tim A, Tyara...”
Alex memandang Tyara tajam namun penuh arti.
“Kamu tidak fokus Tyara, beberapa kali kamu kehilangan bola dan tidak tepat sasaran! Tidak ada power juga!” jelas Alex.
Alex mengomentari banyak hal tidak hanya Tyara saja yang dikomentari tapi semua anggota tim. Dalam hati, Tyara merasakan sedikit kegembiraan karena ternyata Alex yang biasa menyanjungnya bisa juga mengkritik dirinya. Berarti Alex memang seorang yang profesional, ini membuat Tyara memberikan penilaian yang positif untuk Alex hari ini.
“Oke team! Saya rasa latihan hari ini sudah cukup, sampai ketemu di latihan berikutnya untuk memperbaiki penampilan kalian hari ini!” jelas Coach David.
“Thank you, Coach!” jawab mereka serentak.
Satu per satu anggota tim meninggalkan GOR, menyisakan Tyara, Marisca, Alex, dan Coach David yang kebetulan belum pulang. Tampak Alex masih ngobrol serius dengan Coach David. Sedang Tyara berjalan bersama Marisca keluar dari GOR sambil mengobrol dan tertawa.
“Hei, aku yang salah paham atau bagaimana ya?” kening Marisca berkerut.
“Kamu bicara apa sih, Mar?” tanya Tyara tidak mengerti.
“Kenapa hari ini wajahmu bersemu merah jambu, ya?” Marisca menatap ke arah Tyara sambil mengamati perubahan mimik wajah Tyara.
“Ah! Biasa juga begini deh wajahku,” bela Tyara
“Apa karena Alex? Hmmm.....biasanya Rara yang kukenal selalu teguh pendiriannya walaupun dirayu Alex,” lirik Marisca.
“Apa sih, Mar. Hari ini biasa saja! Kalian saja yang menganggap hari ini luar biasa, memangnya aku tidak tahu apa? Kalian memandangku dan memandang Alex bergantian, hah?” protes Tyara.
“Tapi kalian memang beda hari ini, aku bisa mencium bau-bau CLBK nih,” jawab Marisca terkekeh.
“Hihhh....awas ya kamu, Mar!” Tyara mencubit Marisca.
“Aduh, aduh, Ra. Sakit tau!” Marisca meringis mendapat cubitan dari Tyara.
“Tuh, Mar kamu sudah dijemput.” Tyara mendongakkan kepalanya saat melihat mobil Marisca memasuki pintu gerbang GOR.
“Bareng yuk! Aku antar sampai rumah,” ajak Marisca.
“Aku dijemput Papa, Mar. Sudah janjian soalnya,” jawab Tyara.
“Okey, take care ya! Telepon kalau butuh apa-apa,”
“Oke! Bye, Mar!”
Marisca menghilang dari pandangan Tyara, sayup-sayup Tyara mendengar suara Alex dan Coach David artinya mereka sudah berjalan mendekati pintu keluar GOR.
“Oke, Lex. Thank you ya sudah meluangkan waktu hari ini.”
“Ya Coach, sama-sama.”
“Lho, Tyara belum dijemput?” tanya coach David.
“Belum, Coach. Paling sebentar lagi,” jawab Tyara.
“Oke, saya duluan ya!” Coach David melirik Alex untuk memberi kode.
“Siap, Coach,” jawab Alex seolah menjawab kode dari Coach David.
Setelah Coach David meninggalkan mereka, tinggalah Tyara dan Alex berdua duduk di depan GOR. Tyara menutupi kecanggungan suasana dengan memainkan ponselnya.
“Bener dijemput papa?” selidik Alex.
“Hu-um,” jawab Tyara sambil tetap memainkan ponselnya.
“Ini udah jam 6 sore lho, Ra. Aku antar pulang, ya?” Alex menawarkan tumpangan untuk Tyara.
“Aku nunggu Papa aja, Lex. Kamu kalau mau pulang duluan gapapa,” jawab Tyara.
Beberapa saat hening sampai akhirnya Alex menerima telepon penting dari seseorang.
“Ya, Mon,” sapa Alex
Tyara melirik ke arah Alex, Alex menangkap bola mata Tyara.
Tyara POV
Mon? Pasti Monic. Ya pastilah....siapa lagi kalau bukan Monic?? Monic Van Louise. Hhuuuhh! Kenapa lagi-lagi nama itu merusak moodku hari ini? Sebaiknya aku berjalan kaki sampai depan lobby sekolah. Buat apa coba aku di sini, nanti dikira aku menguping pembicaraan mereka!
***
Tyara memberi kode pada Alex bahwa dia akan pulang. Alex sempat celingukan melihat apakah papa Tyara sudah menjemput? Tapi ternyata belum ada siapa-siapa. Alex tersenyum dalam hati, pasti Tyara tidak mau mendengar pembicaraannya dengan Monic.
Tyara melangkahkan kakinya menuju lobby sekolah, sesekali dia menendang kerikil-kerikil kecil yang dijumpainya sepanjang perjalanan ke lobby. Tyara kesal karena dia masih belum bisa melupakan perselingkuhan antara Alex dan Monic. Kekesalannya dilampiaskan dengan menendang kerikil-kerikil kecil itu. Saat itu, Tyara sedang sayang-sayangnya pada Alex, namun dia harus menerima kenyataan pahit kalau ternyata Alex dan Monic berselingkuh di belakangnya.
_____