Alex POV
Namaku Alexander Josh Michael, aku memilih SMA RIS menjadi tempatku menuntut ilmu dan juga mencapai tujuanku. Saat aku duduk di kelas 10, aku berpacaran dengan Angela Tyara. Siswi tercantik di sekolahku, jangan ragukan itu karena seleraku tinggi dalam memilih pacar. Dia memang sudah menjadi incaranku, bahkan sejak aku belum resmi menjadi siswa di SMA RIS. Sialnya, dia sangat pintar dan tidak bisa dibohongi. Aku ketahuan menjalin kasih dengan Monic Van Louise, kakak kelasku saat masih di SMP sekaligus mantan pacarku.
Saat Monic lulus SMP hubungan kami berakhir dan terjalin lagi saat di SMA. Tyara tidak tahu kalau Monic dan aku pernah berpacaran saat masih SMP. Akhirnya, Tyara memutuskanku. Dia sempat dekat dengan Reynard, damn! Aku sangat marah saat Reynard mendekati Tyara! Rasanya saat itu aku ingin membunuh Reynard terkutuk itu! Sejak kejadian itu, aku selalu mengawasi Tyara, kalau ada yang mendekatinya sudah pasti akan kuhajar. Alhasil, tidak ada yang berani mendekati Tyara dengan serius, karena mereka harus melangkahi mayatku dulu! Aku tidak pernah lelah walaupun mendapat penolakan dan perlakuan tidak menyenangkan dari Tyara. Hal itu membuatku lebih bersemangat untuk mencuri perhatiannya sampai dia jatuh ke pelukanku lagi dan akhirnya aku bisa mencapai tujuanku.
Hari ini aku diundang Coach David untuk menjadi special guest di sesi latihan tim putri. Tentu saja langsung kuterima permintaan itu. Aku sengaja datang lebih awal di GOR karena aku ingin bermain basket sebentar. Saat aku bermain, aku merasa seperti ada sepasang mata yang memperhatikanku di lapangan dan hmmm.... hari ini memang hari keberuntunganku! Aku tidak menyesal datang lebih awal karena ternyata Tyara juga datang lebih awal dan dia memperhatikanku saat bermain di lapangan! Hari ini dia sangat cantik dengan rambutnya yang dikuncir ekor kuda. Aku merasakan ada sedikit perubahan dalam diri Tyara. Tyara yang biasanya menghindariku, hari ini sangat manis saat latihan basket. Sepertinya dia sedikit canggung dengan kehadiranku, permainannya kurang memuaskan menurutku. Rasanya aku ingin memeluknya dari belakang dan mengarahkan tangannya saat akan shooting.
***
“Ya, Mon,” sapa Alex di telepon.
Tyara melirik ke arah Alex, Alex menangkap bola mata Tyara. Saat itu Alex ingin tertawa karena tiba-tiba dia mendapat ide untuk menggoda Tyara. Kali ini dia berusaha terlihat serius, seolah-olah sedang menerima telepon dari Monic. Ini juga salah satu cara Alex untuk mengetahui perasaan Tyara. Tepat seperti dugaan Alex, Tyara memilih meninggalkannya seorang diri. Tyara memberi kode pada Alex bahwa dia akan pulang, walaupun papanya belum menjemputnya. Alex mengawasi Tyara dari kejauhan, Tyara berjalan menuju ke arah lobby sekolah. Lobby sekolah ada di sebelah utara, di gedung utama. Untuk menuju ke lobby, Tyara harus melewati hutan sekolah yang cukup banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Beberapa kali Alex melihat Tyara menendang batu kerikil yang dilewatinya. Alex tersenyum, sejengkel itukah Tyara melihat Alex menerima telepon dari Monic? Tyara tidak tahu kalau sebenarnya Alex hanya berpura-pura menerima telepon dari Monic.
***
Rara POV
Sepertinya aku harus memeriksakan diri ke psikolog. Huuuhhhh bisa-bisanya aku bersikap manis pada Alex?? Buat apa coba??? Mendengar nama Monic membuatku muak pada Alex! Ayo otak dan hatiku, aku mohon bekerjasamalah, please...!!
***
Alex segera melajukan mobilnya saat dia melihat ada mobil berwarna hitam mendekati Tyara. Dia harus memastikan kalau Tyara benar-benar dijemput papanya.
“Papa! Kenapa telat sekali jemputnya!” protes Tyara saat papanya turun dari mobil.
“Ra, Papa pesankan taksi ya! Kamu pulang naik taksi, ya! Di rumah ada Bi Pur,” jelas papanya.
“Papa gimana sih! Papa kan sudah sampai di sini, kenapa Rara tidak pulang sama Papa saja?!” Tyara cemberut.
“Papa ada urusan penting, Ra. Papa sudah terlambat nih! Tadi Papa antar Oma dan Opa dulu ke bandara soalnya.”
“Oma dan Opa ke mana?”
“Tante Clea melahirkan hari ini, jadi Oma dan Opa ke Singapura,” jelas Dany.
“Om, biar saya saja yang mengantar Rara pulang kalau diperbolehkan.” Tiba-tiba Alex sudah berada di tengah percakapan Tyara dan papanya.
“Wah, kebetulan sekali Lex! Om lagi ada urusan penting, daripada Rara pulang naik taksi, ya kan? Om titipin Rara ke kamu, ya!” Dany bernafas lega karena ada Alex yang bersedia mengantar Tyara pulang.
“Saya boleh ajak Rara makan di luar dulu, Om?” Alex meminta izin pada Dany.
“Ya, boleh-boleh! Anak muda main-mainlah di luar. Ajak Rara pergi, ya! Kasihan dia selalu di rumah, takut sama omanya tuh. Mumpung omanya tidak ada di rumah, Lex!” Dany menepuk punggung Alex.
“Papa!” protes Tyara
“Makasih, Om. Saya tidak akan malam-malam antar ke rumah,” sambung Alex.
“Oke! Papa duluan ya, Ra! Om titip Rara ya, Lex!”
“Ya, Om. Hati-hati di jalan, Om”
Dany melambaikan tangannya ke arah Tyara dan Alex. Beberapa detik kemudian mobil Dany sudah melaju meninggalkan Alex yang tersenyum bahagia dan Tyara yang cemberut.
“Ayo, cantik.” Alex membukakan pintu dan membujuk Tyara agar segera masuk ke dalam mobil.
“Kamu menyebalkan!”
“Iya, aku menyebalkan tidak apa, yang penting kamu masuk mobil dulu,” jawab Alex dengan penuh kesabaran demi bisa membawa Tyara pergi.
Akhirnya pertahanan Tyara runtuh, dia masuk ke dalam mobil Alex. Pandangannya dibuang ke arah jendela menatap aspal jalanan untuk menghindari pembicaraan dengan Alex.
“Aku menyebalkan karena antar kamu pulang atau karena Monic menelponku?” Alex melirik Tyara.
“Dua-duanya!” Tyara spontan bereaksi.
“Ooooww....baiklah tuan putri, aku minta maaf ya...” akhirnya Alex tersenyum bahagia mendengar pengakuan Tyara.
Tyara hanya terdiam mendengar ocehan Alex. Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, dia bisa semobil dengan Alex. Dulu selama 2 bulan pacaran dengan Alex mereka hanya bertemu dan mengobrol di sekolah. Tyara belum mengizinkan Alex berkunjung ke rumahnya, karena Tyara belum siap mengatakan pada omanya kalau dia sudah punya pacar saat itu.
“Kita mau makan di mana?” tanya Alex.
“Aku mau pulang aja, Lex. Lengket sekali badanku!” jawab Tyara.
“Oke, aku antar kamu pulang buat mandi. Setelah itu kita makan di luar!” Alex menegaskan permintaannya.
Tyara hanya terdiam, hal ini diartikan sebagai tanda setuju oleh Alex. Mobil Alex memasuki halaman rumah Tyara.
“Bi Pur tolong siapkan kamar mandi tamu ya! Teman Tyara mau mandi. Oya, Bi Pur, tolong tidak usah cerita ke Oma sama Opa, ya! Ini tadi Papa yang suruh dia antar Rara,” jelas Tyara panjang lebar.
“Iya, Non,” jawab Bi Pur.
Alex hanya tersenyum melihat tingkah Tyara. Bi Pur mempersilahkan Alex menuju ke kamar mandi tamu. Kamar mandi tamu di rumah Tyara ada di samping taman kecil depan ruang tamu. Alex melewati ruang tamu yang terkesan sangat hangat itu. Ada foto keluarga terpajang di dinding ruang tamu. Foto itu mengabadikan momen keluarga dari sang pemilik rumah. Foto-foto saat Tyara kecil juga dipajang di dinding. Alex berdecak kagum melihat foto-foto Tyara saat masih kecil. Tyara memang tercipta cantik sejak lahir gumam Alex.
Selesai mandi Alex menunggu Tyara di ruang tamu sambil mengecek ponselnya. Tak berapa lama Tyara muncul di ruang tamu. Dia memakai off shoulder sweater warna putih dipadukan dengan jeans pendek setengah paha yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Alex terpesona dengan penampilan Tyara malam ini. Walaupun ini bukan malam Minggu dan status Tyara bukan lagi pacarnya, namun Alex merasa seakan-akan ini adalah kencan pertamanya dengan Tyara.
“Bi Pur!” teriakan Tyara membuyarkan lamunan Alex.
“Ya, Non!” jawab Bi Pur.
“Rara keluar sebentar, ya. Jaga rumah baik-baik,” pesan Tyara.
“Baik, Non.”
***
Tyara mendahului Alex menuju ke mobil. Alex membukakan pintu untuk Tyara lalu Alex masuk ke mobil, bersiap melajukan mobilnya. Alunan lagu When We Were Young dari Adele menemani perjalanan mereka.
“Diam saja, Ra?” Alex mencoba mencairkan suasana.
“Hmm? harus ngomong apa?” jawab Tyara pendek.
“Yahh...contohnya, terima kasih ya Lex sudah antar aku pulang.” Alex melirik Tyara yang tidak bergeming mendengar kata-kata Alex.
“Atau...kamu keren sekali malam ini, Lex!” sambung Alex dengan asal, sambil terus menyetir.
Tyara masih terdiam.
“Atau...kamu lapar ngga, Lex?”
Tyara tetap diam membisu, namun Alex tidak menyerah.
“Atau...kamu tadi ngobrol apa di telpon sama Monic, Lex?” Alex sengaja mengusik titik sensitif Tyara dengan pertanyaannya.
Benar saja, Tyara yang sedari tadi memandang ke arah jendela membalikkan badan ke arah Alex dan langsung menaikkan volume DVD player di mobil Alex. Membuat si empunya mobil melonjak kaget dan tertawa lepas melihat ulah Tyara.
“Seharusnya kamu temani dia, bukan malah pergi denganku!”
“Dia siapa?” goda Alex.
Tyara hanya terdiam seolah pantang baginya menyebutkan nama Monic Van Louise. Alex hanya tersenyum melihat ulah gadis cantiknya. Akhirnya, mobil Alex terparkir di restoran yang menyajikan makanan Korea.
“Ayo masuk,” Alex menggenggam erat tangan Tyara.
Tyara yang tidak siap dengan genggaman Alex hanya terdiam sambil memandang tangannya yang digenggam erat oleh sang mantan.
“Kamu mau pesan apa?” Alex memandang lekat-lekat wajah Tyara.
“Emm..ini aja beef bulgogi bibimbap sama strawberry milk.” Tyara memberi kode waitress untuk mencatat menu pilihannya.
“Ramen, tuna kimchi fried rice, cheesy tteok bokki, sama strawberry mint iced tea.”
Tyara membelalakkan mata hazelnya saat mendengar menu pesanan Alex.
“Kenapa?” tanya Alex.
“Gapapa,” jawab Tyara pendek.
Setelah mencatat pesanan mereka berdua, waitress meninggalkan mereka untuk menyiapkan menu makanan yang sudah dipesan.
“Ra?”
“Hmm?”
“Bisakah kita seperti dulu lagi? Masihkah ada kesempatan?” Alex menggenggam tangan Tyara.
“Aku tidak tahu, Lex..” jawab Tyara lirih sambil berusaha melepaskan tangan Alex, namun Alex semakin mengeratkan genggamannya. Tyara mengingat kembali perselingkuhan Alex dengan Monic dan itu rasanya sakit.
“Ra, sebenarnya akulah yang mengkhianati Monic. Sebenarnya kamulah selingkuhanku, Ra.” Alex menatap tajam ke arah Tyara.
“Apa????!!!”
_______