“Anak Papa ini kok susah dibilangin yah. Tadi Papa bilang apa coba?”
Willan merenggangkan pelukannya dan kini ayah dan anak itu bertatapan. Aku dan Bu Salma memperhatikan Willan dan anaknya yang sedang terlibat percakapan.
“Papa bilang supaya aku jangan pergi ke toko ini sendirian.” Gadis itu berkata dengan polos.
“Itu tahu, kenapa Aira ke sini sendirian? Papa khawatir loh takut Aira kenapa-kenapa pas nyebrang jalan.”
“Nungguin Papa itu lama, Aira sebel karena pengen cepat menggambar. Papa lupa ya kalo buku gambar Aira sudah penuh semua, pensil warnanya juga sudah pendek-pendek,” cerocosnya dari mulut mungilnya membuatku tersenyum. Aku suka gaya bahasa anak-anak, mereka akan tetap jujur dalam kondisi apa pun.
“Papa nggak lupa, Sayang. Tadi kan Papa sibuk karena banyak pengunjung di resto. Ya sudah Papa bayarin dulu ya buku sama pensilnya, biar Aira bisa gambar lagi.”
Mendengar penuturan Papanya gadis itu mengangguk dengan wajah ceria. Willan berdiri dari posisi jongkoknya, lelaki itu melangkah menghampiriku dan Bu Salma yang masih berdiri.
“Lain kali kau harus lebih hati-hati menjaga Aira, dia gadis yang lincah dan terlihat nekad saat keinginannya belum terpenuhi,” ucap Bu Salma. Setelah mengatakan itu pada Willan Bu Salma menuju meja kasir di ikuti oleh lelaki berambut pirang itu dari belakang, sementara mereka melakukan pembayaran aku memilih mendekati Aira yang kini terlihat membuka jilid buku gambar di tangannya.
“Jadi namamu Aira?” tanyaku sambil berjongkok untuk mensejajarinya. Gadis itu mengangguk, bening bola matanya kini menatapku.
“Mbak siapa? Aku baru lihat, biasanya kan yang di sini Mbak Ike.”
“Aku Lara, boleh panggil Mbak Lara.” Aku mengulurkan tangan mengajaknya berjabat sebagai salam perkenalan. Gadis di hadapanku tersenyum dan segera menyambut uluran tanganku, dia mengecup punggung tanganku.
“Aku Aira,” ucapnya. “Kalau Mbak Lara mau makan seafood terenak di pulau ini, maka datanglah ke resto Papa, di sana.” Aira menunjuk bangunan resto bergaya klasik persis berhadapan dengan toko ini hanya dipisahkan oleh jalan. Aku tersenyum, tentu saja karena merasa lucu anak sekecil Aira punya jiwa marketing yang bagus, buktinya dia menyebutkan menu di sana sambil mempromosikan dengan gaya polosnya.
“Ya tentu saja, nanti Mbak akan ke sana. Senang berkenalan denganmu,” ucapku seraya mengusap puncak rambutnya yang berwarna sedikit pirang.
“Kalian sedang bicara apa?” Tiba-tiba tanpa kusadari Wilan sudah berada di antara kami.
“Aku sedang berkenalan dengan Mbak ini, dan juga menawarkan untuk makan di resto kita, Pa,” tutur Aira seraya menggelendot di tangan papanya.
“Oke,” jawab Wilan singkat. Lelaki itu melirikku sekilas dan tersenyum tipis.
"Aku senang akhirnya kamu bekerja di toko Bu Salma. Tetap semangat dan jangan pernah lagi terlihat putus asa seperti kemarin itu," ungkap Willan pelan.
"Terima kasih karena kemarin sempat menolongku, Will. Aku tidur nyenyak di restomu malam itu," ucapku pelan serupa bisikan.
Willan hanya mengangguk dengan senyumnya yang ramah. Tatapannya kini beralih ke arah Aira.
“Kita harus balik ke resto sekarang, Sayang. Ayok,” seru lelaki jangkung itu sambil menggandeng lengan kecil putrinya. Setelah mengucapkan terima kasih, Willan berlalu dengan membawa serta Aira. Aku kembali menyusun dan merapikan beberapa produk item ke barisan rak-rak yang berjejer rapih.
“Anak itu sangat merindukan Ibunya, tetapi sayang Ibunya telah pergi,” ucap Bu Salma seraya ikut membereskan barang di sampingku.
“Pergi?” tanyaku dengan dahi mengernyit. Kata ‘Pergi’ memiliki banyak arti, bisa pergi ke suatu tempat, pergi karena bercerai, atau pergi karena ….
“Ibunya meninggal karena leukemia,” tandas Bu Salma. Mataku membola dan untuk beberapa detik aku tertegun seketika karena mendengar kalimat yang barusan di ucapkan oleh Bu Salma.
“Wilan tipe setia, meski sudah bertahun lamanya ditinggalkan, lelaki itu tetap teguh dengan kesendirian. Kadang aku prihatin karena Wilan tak kunjung membuka hati pada perempuan lain, ia selalu terjebak dan larut dalam kenangan bersama isterinya. Dulu setiap bulan ia bersama isteri dan anak-anaknya selalu pergi ke danau, tempat dulu ia menghabiskan waktunya bersama almarhum isterinya, tetapi sekarang ia selalu menghindari tempat itu,” tutur Bu Salma panjang lebar. Aku tidak tahu kenapa perempuan itu menceritakan tentang Willan padaku. Dan aku tak bisa menanggapinya dengan kalimat apa pun selain diam dan cukup menjadi pendengar.
Willan pernah menolongku, dia lelaki baik, aku bahkan sangat berterima kasih saat malam itu ia memberiku tempat untuk tidur dan berlindung. Selebihnya hatiku tetap masih merasa trauma terhadap sebuah hubungan yang terikat dengan lelaki, seolah menjadi hal yang menakutkan.
Pada umumnya perempuan itu pemaaf tapi ia tidak pernah menjadi pelupa terhadap peristiwa yang pernah menorehkan luka di jiwanya.
“Lara, tidakkah kau tertarik pada Wilan? Dia tampan dan tipe yang setia.” Perkataan Bu Salma membuatku menarik napas dalam dan akhirnya hanya menggeleng pelan.
"Maaf Bu, aku belum terpikirkan untuk hal itu."
***
Sore ini saat perjalanan pulang dan melewati belokan jalan aku melihat Aira yang duduk di bawah pohon angsana di sebuah lapangan kecil, seorang anak lelaki yang usianya aku perkirakan berbeda satu atau dua tahun dengan Aira tengah menendang-nendang bola di lapangan kecil itu. Mereka hanya berdua di lapangan. Aku baru saja mau menghampiri gadis kecil berambut ekor kuda itu, tetapi dia kini sudah menyadari kehadiranku.
“Mbak Lara …,” pekiknya dengan suara setengah berteriak. Senyumnya terbit menciptakan dua lesung pipit di pipi kiri dan kanannya. “
“Aira, kau di sini?” tanyaku mulai duduk di bangku kayu kecil di sebelahnya. Gadis itu mengangguk seraya mendekap buku gambar ke dadanya.
“Aku akan menunjukkan hasil gambarku, apa Mbak Lara mau melihatnya?” Mata sabitnya berbinar.
“Ya, tentu saja aku ingin melihat hasil gambarmu, Sayang,” jawabku sambil mengelus puncak kepalanya. Gadi itu mulai membuka lembaran buku gambar itu, kemudian ia menyodorkannya tepat di depanku.
“Apa Mbak Lara bisa menebak siapa saja yang aku gambar ini?” tanyanya dengan antusias.
Aku melihat goresan pensil membentuk bulatan wajah dengan garis yang cukup berantakan ala anak kecil, ia mungkin menggambar seseorang yang ada dalam pikirannya. Bermata bulat dengan rambut panjang melewati pundak. Di atasnya juga tertulis sebuah nama, aku membacanya ‘Bunda’ tentu saja gadis itu menggambar sosok bundanya.
“Bundamu?” Aku menoleh dan menelengkan kepala ke arah gadis itu, senyumku berkembang sempurna saat ia mengangguk.
“Bundaku cantik, dan aku ingin terus menggambarnya.” Lagi-lagi Aira mengatakan bahwa bundanya cantik, entah mengapa hatiku tersentuh haru melihat bahasa tubuh dan ucapannya tentang seorang bunda yang ia rindukan itu.
“Ya, kau benar Aira, Bundamu sangat cantik.”
“Aku juga menggambar Mbak Lara.” Aira berkata dengan antusias.
“Oh ya? Mana coba?”
Gadis itu membuka lembaran buku gambar di pangkuanku. Lalu di halaman kedua setelah gambar bundanya, ia menunjukkan hasil goresan tangannya itu padaku.
“lihatlah, Mbak Lara juga cantik,” tunjuknya pada buku gambar yang kupegang.
“Waw kau ternyata sangat suka menggambar ya?”
Gadis itu mengangguk, ia menyobek satu lembar kertas yang tadi ditunjukkan padaku.
“Ini buat Mbak Lara,” ungkapnya seraya menyodorkan lembaran itu di hadapan wajahku. “Tadi aku menggambarnya sambil mengingat wajah Mbak.”
“Terima kasih Aira, Mbak senang deh dikasih gambar ini.”
“Aku juga senang bisa berkenalan dengan Mbak Lara,” ucapnya dengan senyum yang menerbitkan lesung pipit di kedua pipinya. Senyumnya mendadak hilang saat sebuah lengan menariknya. Anak lelaki yang tadi sedang main bola sendirian itu kini sudah berdiri di antara aku dan Aira. Wajahnya menatapku dengan raut tak suka.
“Jangan terlalu dekat dengan orang asing Aira,” ucapnya tegas.
“Kak, ini Mbak Lara, aku sudah mengenalnya.” Aira berusaha menjelaskan.
“Kak Miko nggak suka,” ucapnya seraya ,melirikku dengan tatapan tajam.
“Pokoknya sekarang kita kembali ke resto.” Anak lelaki berambut keriting itu menarik lengan Aira dengan paksa agar mengikuti langkahnya.
Aku baru saja akan mengatakan sesuatu ketika Aira melambaikan tangannya ke arahku dengan senyum khasnya.
“Besok kita bertemu lagi kok Mbak. Sampai jumpa,” teriaknya. Ia melangkah dengan tergesa mengikuti anak lelaki yang berjalan cepat di depannya. Aku balas melambaikan tangan pada Aira, senyumku terus terkembang sepanjang jalan menuju pulang, tentu sja karena mengingat gadis kecil berambut ekor kuda itu. Apakah lelaki kecil yang bersama Aira tadi temannya, atau abangnya?
Langkahku sudah sampai ke arah masuk hutan kecil, meskipun Kania bilang bahwa ini bukan hutan tetapi sebuah taman yang sudah tak terawat lagi, tapi bagiku kawasan ini tak ubahnya hutan. Tak ada rumah selain bangunan panggung yang kutempati.
“Lara ….” Aku menolehkan kepala ke arah sumber suara. Senyumku terbit saat melihat Kani dari arah jalan sebelah timur melangkah menghampiriku. Ah ya ampun kemarin bahkan aku lupa untuk menanyakan harga sewa bangunan yang aku tinggali pada perempuan itu.
“Hai … Kania.” Aku menyambutnya dengan senyuman.
“Kau baru pulang?” tanyanya, ia memberiku sebuah minuman dingin rasa jeruk.
“Ya,” jawabku mengangguk, kami berjalan pelan bersisian.
“Oh iya, kemaren aku lupa menanyakan harga sewa rumah yang kini aku tempati. Berapa harga yang harus aku bayar?”
Aku mulai meneguk minuman dingin pemberian Kania.
“Kau tidak usah memikirkan harga sewanya.” jawaban Kania membuatku tertegun dan menghentikan langkah.
“Kenapa begitu?”
“Karena aku sudah membayarnya.”
“Kenapa kau begitu baik padaku, Kania?”
“Apakah untuk berbuat baik kita harus punya alasan?”