Ingatan

1061 Words
"Ya, aku setuju bahwa untuk berbuat baik kita tidak mesti punya alasan." Kania menatapku beberapa detik, sebelum akhirnya ia kembali menatap ke arah jalanan yang kami lalui. "Kau benar, Kania. Aku hanya berpikir bagaimana caranya membalas kebaikanmu," ucapku lagi. "Jangan memikirkan hal itu, sungguh aku tidak pernah mengharap balasan apa pun. Kita teman dan aku kira wajar jika kita ada rasa ingin menolong bukan?" tanyanya seraya menoleh dan tersenyum padaku Aku mengangguk, sekali lagi membenarkan ucapannya. "Itu ... Kertas apa yang kau pegang, Lara?" tanya Kania yang kini memperhatikan kertas di tanganku. "Oh ini aku dikasih oleh Aira, katanya ini gambar untukku." "Maksudnya?" Kania bertanya lagi. "Anak itu suka sekali menggambar, tadi dia datang ke toko tempatku bekerja dan membeli buku gambar beserta pensilnya. Ia bilang ingin melukis bundanya yang sangat cantik. Dan saat aku pulang tadi kebetulan bertemu lagi dengan Aira, dia menunjukkan gambar hasil karyanya padaku. Terus dia juga bilang bahwa baru saja selesai melukis aku. Jadi dia memberikan hasil gambarnya untukku. Aku tahu dari Bu Salma bahwa Aira sangat merindukan Ibunya. Anak itu selain cantik ternyata dia pintar." Aku menuturkan panjang lebar pada Kania, perempuan di sebelahku itu mengangguk. "Boleh kulihat gambarnya?" "Tentu saja," ucapku sambil menyodorkan kertas itu padanya. Untuk beberapa saat Kania memperhatikan gambar itu. "Apa kau mengenal Aira?" "Ya, itu juga baru tadi pagi," jawabku cepat. "Apa kau kerasan tinggal di pulau kecil ini?" tanyanya lagi. "Kerasan atau tidak itu tidak akan menjadi alasan, terpenting bagiku adalah menjauh dan pergi dari orang yang selama ini terus menyakiti. Aku ingin memulai hidup dengan bebas dan baik-baik saja. Itu mengapa aku sampai di tempat ini." "Ya, aku tahu itu." Mendengar jawaban Kania seperti itu aku tentu saja kaget. Dia sudah tahu? Dari mana? Aku bahkan tidak mengungkapkan hal ini pada siapa pun. "Kau tidak usah kaget seperti itu," ucapnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan. "Aku hanya menebak sesuai feeling saja, jika kebetulan benar, ya mungkin aku berbakat menjadi paranormal," ujarnya lagi. "Apa?" Detik itu akhirnya tawa kami pecah bersamaan, lucu saja dengan alasan yang dikemukakan oleh perempuan berlesung pipi ini. "Aku juga sama sepertimu Lara, menjauh dari kebisingan dan memilih menenangkan diri di tempat tak banyak orang yang mengetahui. Aku benar-benar menikmati sepi, dan kesunyian adalah tempat di mana aku merasa berada sesungguhnya." Kania berkata dengan serius tetapi aku belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang dia katakan. "Apa kau akan selamanya tinggal di pulau ini, atau cuma sekedar singgah hanya untuk sementara?" tanyanya lagi. "Entahlah, kita lihat saja nanti." *** Malam ini udara terasa sangat dingin. Aku meringkuk di atas dipan. Untunglah ada selimut cukup tebal, meskipun tidurku kali ini tanpa hambal. Secangkir coklat hangat yang tadi sudah habis aku minum seolah tidak memberi efek apa-apa untuk menghangatkan. Aku menggigil. Memeluk diri sendiri dengan gigi bergemelutuk menahan suhu yang dinginnya terasa menusuk hingga ke tulang. Apa aku sakit? Sekelebat bayangan Danil melintas di pikiran. Lelaki itu, aku yakin dia masih terus berusaha mencari-cari keberadaanku. Dia tipe yang tidak mau menyerah begitu saja sebelum apa yang diinginkannya tercapai. Aku terus berdoa agar lelaki itu tak pernah lagi menemukanku. Cukup sudah kekerasan dan luka yang ditorehkan olehnya padaku. Tiba-tiba aku merasakan denyutan nyeri di kepala, mata terasa sangat berat dan entah di jam berapa aku akhirnya terlelap begitu saja. Tengah malam aku terbangun oleh suara benda jatuh, detak jantung ini seolah menggila dalam debar ketakutan. Ingatanku kembali pada Danil, aku takut kalau tiba-tiba dia muncul di sini dan membawaku pulang ke rumah. Lalu di sana aku kembali dikurung dalam sangkar pengekangan dan penderitaan. Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Angin berhembus sangat kencang. Saat pandanganku menyapu ke ruangan, terlihat kaca jendela terbuka hingga membuat gorden bergerak-gerak tertiup angin. Aku lupa menutup jendela dan kini aku langsung beranjak dari dipan dengan cepat untuk menutup jendela. Saat hendak berbalik menuju dipan, satu kakiku amblas ke lantai papan hingga mencipta lubang di lantainya dan tubuhku terjerembab jatuh. Karena saking terkejutnya aku berteriak lalu saat tersadar segera membungkam mulut sendiri. Apa yang kulakukan ini sungguh bodoh, bisa saja teriakanku terdengar seseorang. Seseorang? Bahkan aku tak punya tetangga di sini, kecuali Kania tetapi aku bahkan belum pernah ke tempatnya yang katanya tidak jauh dari sini. Wait, bukan kah tadi aku mendengar suara benda terjatuh? Adakah orang datang ke sini tengah malam? Atau kah tadi hanya suara kelapa yang jatuh di belakang rumah? Aku menerka-nerka dengan hati yang mawas. Kembali terdengar suara, kali ini cicitan dari bawah lantai dan sontak saja segera kuangkat kaki kiri yang tadi terjebak pada lubang, saat diintip ada tikus lewat di bawahnya. Aku menghembuskan napas lega, setidaknya aku tahu bahwa itu hanya binatang bukan orang jahat suruhannya Danil. Perlahan aku kembali membaringkan tubuh ke atas dipan, menarik selimut hingga menutupi ke bagian d**a. Kepala terasa berdenyut lagi, dan aku memilih untuk terpejam agar kondisi tubuh bisa stabil di saat esok hari. Besok aku harus fit untuk bisa bekerja, besok juga aku punya pekerjaan tambahan yaitu menambal papan kayu yang berlubang itu. Tentu saja agar para tikus tidak berkeliaran dan masuk ke ruangan. Untunglah aku bukan tipe penakut terhadap binatang seperti itu, jadi kali ini aku bisa beristirahat lagi. Aku berdoa dalam hati semoga saja Danil tidak menemukanku di sini, semoga saja di pulau kecil ini polisi tidak mengenaliku sebagai Laysa. Laysa yang fotonya kini terpampang di jalan-jalan dengan tulisan sebagai 'buronan' betapa hidup begitu kejam terhadapku yang ingin bebas dari ketidakadilan Danil. Kenapa lelaki itu selalu menyusahkan dan lagi-lagi membuat ruang gerakku terbatas. Dengan kekuasaannya dia menyewa orang-orang untuk mencariku, dengan uangnya ia menghubungi aparat yang dipercaya dan membayarnya agar aku ditangkap dengan tuduhan palsu. Jelas-jelas dia yang selama ini melakukan kekerasan dalam rumah tangga, ada pun saat dia terluka itu karena aku melakukan perlawanan. Aku kira masalah akan selesai saat aku milih pergi dari rumah dan juga pergi dari kehidupan lelaki temperamen itu, namun ternyata masalah masih belum selesai. Aku persis buronan yang setiap saat harus waspada, yang setiap saat merasa ketakutan oleh orang asing yang aku kira adalah suruhannya Danil. Aku menghirup napas panjang tiga kali, mengembuskannya secara perlahan. Begitu terus kulakukan hinga tujuh kali, hal itu bisa menetralisir perasaan yang tak karuan. Ingatan yang berkelebat dalam pikiran seolah terus menjadi beban. Tuhan, lindungi aku dari kejahatan Danil. Aku percaya tidak ada masalah yang tak memiliki jalan keluar. Kalimat itu terus menerus aku tanamkan dalam hati dan pikiran, agar menjadi sebuah sugesti positif untukku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD