Apa yang lebih membuat seseorang bersedih selain merasa seorang diri di tengah sakitnya? Seperti yang kurasakan saat ini, kepala terasa berat dan suhu tubuh yang naik beberapa derajat. Matahari mungkin sudah naik sepenggalah di luar sana, sedangkan di sini tubuhku terasa menggigil hingga ke tulang belulang. Aku memaksakan diri untuk bangun meski rasanya seluruh tubuhku bergetar. Baru beberapa hari masuk kerja di toko milik Bu Salma, rasanya tidak enak jika harus absen dan tak masuk kerja. Apalagi hanya aku satu-satunya pekerja di toko itu. Air sumur yang baru kutimba terasa sangat dingin di kulit, tanpa menunda lagi segera membersihkan muka dan menggosok gigi, bahkan untuk mandi aku menyerah karena tidak ingin kondisi tubuhku tambah drop gara-gara suhu yang kini sedang tak stabil. Setelah bersiap aku segera ke luar dan mengunci pintu. Segera berjalan secepat yang aku bisa menuju ke tempat kerja, aku tahu hari ini akan terlambat tetapi itu bukan hal yang buruk dari pada tidak masuk kerja sama sekali bukan?
“Maaf Bu Salma hari ini aku datang terlambat,” ucapku saat baru saja masuk ke toko dan mendapati perempuan berbadan subur itu tengah mengetap barang. Wanita itu menoleh padaku dengan senyum ramahnya.
“Tidak apa-apa, Lara. Santai saja lah, lagi pula datang barang dari supplier nanti setelah dzuhur, jadi pagi ini aku tidak seberapa sibuk juga,” ucapnya seraya melangkah mendekatiku. Kemudian mata Bu Salimar menatapku lekat, senyumnya memudar diganti dengan ekspresi menelisik wajahku.
“Kau terlihat pucat, Lara. Apa kau sakit?” tanyanya sambil terus menatapku.
“Aku hanya sedikit tidak enak badan, Bu. Tetapi aku masih kuat kok.” Aku berusaha meyakinkan.
“Dengar Lara, jika kau sedang sakit jangan memaksakan diri untuk bekerja. Aku khawatir kau kenapa-napa. Ayo bilang di mana rumahmu biar kuantar pulang agar kau bisa beristirahat.”
“Tidak usah, Bu. Aku baik-baik saja,” ungkapku mencoba meyakinkan lagi. Padahal di satu sisi kepalaku terasa berdenyut nyeri. Bu Salma telah begitu baik terhadapku, maka aku harus bekerja sebaik mungkin untuknya.
“Permisi, Bu. Aku butuh satu gallon aqua.” Tiba-tiba suara pembeli yang baru saja masuk membuatku dan Bu Salma menoleh bersamaan.
“Ada, tapi galonnya di luar,” jawab Bu Salma.
“Biar saja aku yang menunjukkannya, Bu.” Aku segera melangkah ke luar untuk menunjukkan letak gallon, sedangkan pembeli tadi terlihat membayar dulu kepada Bu Salma.
Di luar toko, aku segera menunjukkan letak gallon. Pembeli itu langsung mengangkatnya lalu diletakkannya di depan metik yang akan ia kendarai. Aku baru saja akan masuk lagi ke dalam saat tak sengaja mataku menangkap sosok gadis kecil yang sedang menyabrang jalan menuju ke arah toko. Aku tertegun sesaat ketika menyadari bahwa gadis kecil itu adalah Aira, ia menyebrang tanpa melihat arah kiri dan kanan. Sedangkan tepat di saat itu aku melihat sebuah mobil pribadi berwarna silver tengah melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
“Aira ….” Aku mencoba berteriak sambil berlari ke arah gadis kecil yang tengah menyebrang itu. Berlari sekuat yang aku bisa agar Aira tak celaka, padahal saat ini pandangan mataku terasa berkunang-kunang dengan kepala yang cukup berat. Aku perkirakan jarak toko ini ke jalan hanya tujuh langkah, cukup dekat oleh karenanya tak begitu sulit untukku meraih dan menarik tubuh Aira agar segera menepi dari jalan, tubuh Aira terdorong ke pinggir jalan dan lepas dari tanganku. Sedangkan langkahku sedikit terseok untuk menghindari laju mobil yang begitu cepat, entah di detik ke berapa aku merasakan benturan keras mengenai sisi tubuh sehingga membuatku terpelanting, aku merasakan nyeri di sekujur tubuh sebelum penglihatanku gelap sempurna dan tak lagi mengingat apa-apa.
***
Aku mulai membuka mata, buram dan terasa menyakitkan. Terpejam kembali untuk bisa meredam nyeri yang kini menjalari setiap sendi. Bahkan untuk menggerakkan tubuh saja rasanya sakit sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?
Hening, dingin. Aku mencoba menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Lagi-lagi aku bertanya dalam benak, apa yang terjadi?
Aku ingin melihat jam dinding untuk memastikan waktu saat ini, siang atau kah malam? Tetapi untuk membuka mata rasanya belum sanggup untuk kulakukan, jadi dari sini aku hanya bisa menerka-nerka saja. Mungkinkah ini di rumah sewaku? Apakah Kania menemaniku di sini? Kenapa rasanya hening sekali, selain kudengar suara napasku yang teratur dan … Aku mendengar suara isak tertahan di sebelahku. Siapa? Siapa yang menangis?
"Mbak Lara ...," lirih suara itu terdengar di telinga. Aku merasakan tanganku di genggam oleh sebentuk tangan kecil yang terasa lembut.
“Bangun, Mbak,” lirihnya lagi. Suara isaknya makin terdengar memilukan. Aku merasa bersalah padanya karena detik ini juga rasanya sangat berat untuk membuka mata apalagi untuk menggerakkan tubuh. Mungkin aku butuh istirahat lebih lama untuk memulihkan sekujur tubuhku yang terasa ngilu dan nyeri ini.
“Aira takut kehilangan Mbak Lara, bangun Mbak. Aira akan melakukan apa pun asalkan Mbak Lara mau bangun lagi. Jangan seperti bunda, bunda telah meninggalkan Aira untuk selama-lamanya. Kumohon bangunlah.” Kali ini aku merasakan ada yang terjatuh dan terasa basah di lenganku. Itu pasti air mata Aira yang terjatuh. Sedu sedannya bahkan terdengar jelas.
Aku ingin membuka mata lalu merengkuhnya, memeluknya dengan erat dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tetapi benarkah bahwa semuanya baik-baik saja? Sedangkan aku masih kesulitan untuk mengingat semua yang telah terjadi.
“Aira sudah, Sayang. Mbak Lara pasti akan terbangun dan baik-baik saja, mata indahmu akan bengkak jika tidak berhenti menangis.”
Suara itu? Aku mengenali suara itu adalah milik Bu Salma. Perempuan baik itu ternyata juga di sini.
“Ini gara-gara Aira, Mbak Lara seperti ini gara-gara menolongku.” Gadis itu kembali menyalahkan diri.
“Bukan Nak, ini sudah takdir. Tenangkan dirimu, percayalah bahwa sebentar lagi Mbak Lara akan terbangun. Ibu akan pulang dan Ibu minta agar Aira jangan menangis lagi, ini bukan salahmu, Sayang. Ini murni kecelakaan. Baik-baik di sini ya, jangan menangis lagi.” Setelah mendengar suara Bu Salma yang mencoba menenangkan Aira, hatiku rasanya sedikit lega. Setidaknya kini gadis itu tidak terus menghiba dan meratap menyesali diri. Tak berapa lama kudengar suara sepatu menjauh, aku yakin Bu Salma baru saja pergi.
Wait, tadi aku mendengar Bu Salma mengatakan bahwa hal ini murni kecelakaan, jadi aku baru saja mengalami kecelakaan? Kenapa aku tidak mengingatnya?
“Mbak Lara … Maafkan Aira, kumohon bangunlah Mbak,” ucapnya lagi. Nada sedih dan sedu-sedannya kembali terdengar.
Aku mencoba menarik napas perlahan untuk menenangkan diri dari suara bernada sedih dan panik milik Aira. Setelah beberapa menit merasakan ketenangan, aku mencoba untuk memutar memori untuk bisa mengingat.
Aku terus berusaha dan mencoba untuk mengingat potongan peristiwa yang seharusnya bisa kuingat dengan mudah tetapi kenapa rasanya masih sulit? Apakah aku mengalami benturan keras di bagian kepala? Bisa jadi gara-gara itu sebagian ingatanku hilang, tetapi tidak mungkin seperti itu sebab aku masih mengenali Aira dan Bu Salma bahkan hanya mendengar dari suaranya saja.
“Kalau saja Aira tidak nyebrang dengan ceroboh mungkin Mbak Lara tidak akan seperti ini.” Tangis Aira kembali pecah.
Aira, gadis itu kenapa masih menangis juga? Aku mendengar dengan jelas dia mengungkapkan penjelasannya tadi. Ya Tuhan, aku bahkan ikut merasa bersalah saat gadis kecil itu terus menerus menangis dengan nada penuh penyesalan.