Aku kembali berusaha mengingat pelan-pelan. Dan ingatan itu kini seperti kaset yang diputar dalam kepala. Ketika itu aku sedang menunjukkan letak gallon pada pembeli dan baru akan masuk ke dalam toko kembali, sesaat setelah pembeli itu pergi namun saat membuka pintu aku melihat Aira sedang menyebrang jalan, dia tak memperhatikan kanan dan kiri, nyaris tertabrak sebuah mobil yang melaju dengan cepat tetapi aku segera meraih tubuhnya. Aku yang sedang menahan sakit di kepala merasakan sebuah benturan keras sebelum kesadaran ku hilang.
Ya, akhirnya aku ingat sebuah peristiwa yang membuatku terbaring seperti saat ini. Sungguh ini bukan kesalahan Aira, ini adalah upayaku menyelamatkan gadis itu dari bahaya. Ada pun jika aku akhirnya mengalami hal seperti ini bagiku tak apa-apa yang penting Aira selamat. Entah mengapa hati ini tidak rela jika Aira dalam bahaya, dia gadis yang menyenangkan dan aku sangat menyayanginya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah beberapa kaki yang mendekat, aku ingin membuka mata untuk melihat siapa kah yang datang?
“Dokter, aku ingin tahu kondisi teman saya ini. Kenapa dia belum juga sadar? Aku mohon lakukan yang terbaik untuknya, dok.”
Aku mengenal nada suara itu.
“Kami sudah menanganinya dengan baik Pak, tenanglah dulu. Pasien butuh waktu untuk menstabilkan tubuhnya. Harus banyak istirahat juga. Percayalah bahwa teman Bapak ini akan baik-baik saja. Dia butuh masa pemulihan dan tidur lebih banyak bukan hanya karena terserempet mobil saja, tetapi tubuhnya juga sedang drop karena suhunya yang lumayan tinggi.”
Penjelasan dokter membuatku mengerti dan paham kenapa kini rasanya tubuhku sangat lemah dan untuk bergerak saja rasanya tidak memiliki daya. Adanya dokter tadi juga membuatku tahu bahwa kenyataannya kini aku berada di rumah sakit. Aku merasakan sebentuk tangan menyentuh kening dengan lembut. Apakah dokter sedang mengecek suhu tubuhku? Atau mungkin Willan yang melakukan hal itu?
“Kapan kira-kira teman saya ini akan bangun, Dok? Dia sudah lama tidak sadar." Lagi-lagi suara Willan terdengar sangat khawatir saat menanyakan perihal aku pada dokter.
“Seharusnya pasien ini sudah bangun, tetapi seperti yang tadi saya bilang, Pak karena suhu tubuhnya sedang tinggi jadi itu bisa berpengaruh juga pada kondisinya yang belum bisa terbangun. Jangan khawatir kemungkinan sebentar lagi juga dia akan segera sadar. Tadi sudah dikasih obatnya juga melalui selang infusan. Saya permisi, karena masih banyak pasien yang harus saya tangani.”
Setelah dokter mengatakan hal itu, terdengar langkah kaki dari bunyi sepatu melangkah menjauh dan pergi.
“Mbak Lara … Maafin Aira Mbak,” tangisan Aira kembali terdengar. Tidak Nak, kau tak perlu minta maaf seperti itu. Ini bukan salahmu.
“Sudah Sayang, jangan terus menangis seperti ini. Sebentar lagi Mbak Lara juga bangun.” Terdengar suara Willan yang tengah membujuk Aira.
“Ini semua gara-gara Aira ya, Pa?”
“Tidak Sayang, ini kecelakaan.”
Aku mencoba kembali untuk membuka mata, agar Aira tak bersedih dan menangis terus. Aku berusaha menarik napas dan mengembuskannya perla –lahan. Kelopak mata ini terasa berat saat aku harus menggerakkannya. Setelah berusaha mencoba sedikit demi sedikit akhirnya kini aku bisa membuka mata dan menggerakkan tangan. Ruangan serba putih dan berbau etanol cukup menegaskan apa yang tadi aku terka saat terdengar percakapan Willan dengan dokter tadi. Ya, ini di rumah sakit. Separah itu kah lukaku hingga harus di bawa ke sini?
“Mbak Lara ….” Gadis itu terpekik senang saat aku membuka mata dan tersenyum ke arahnya. Ia menghambur dan memelukku dengan erat. “Maafin Lara ya Mbak.”
Terlihat Wilan menatap iba kepadaku dan juga kepada Aira yang kini tengah memelukku.
“Aira tidak perlu minta maaf begini, Sayang. Ini bukan salah Aira, ini kecelakaan, Sayang. Mbak Lara sudah tidak apa-apa, sudah sembuh kok,” tuturku berusaha menjelaskan.
“Mbak Lara belum sembuh, ini banyak perban dan luka-luka,” jawab Aira seraya menunjuk ke arah lengan dan juga kepalaku yang diperban. Setetes air mata gadis kecil itu terjatuh dari sudut matanya.
“Ini hanya luka kecil, akan segera sembuh secepatnya. Aira jangan nangis dong, Mbak Lara nanti ikut sedih,” ucapku parau sambil mengelus pipi mulusnya yang chubby. Gadis itu mengangguk tapi tak urung kulihat kembali air matanya kembali terjatuh. Namun gadis itu segera menghapusnya dengan ujung jari.Bibir mungilnya berusaha tersenyum dengan sedikit bergetar.
“Aira pulang ya, ini sudah malam. Aira harus istirahat di rumah. Besok Air bisa kok jenguk Mbak Lara lagi,” bujuk Willan seraya mengelus puncak kepala gadis kecilnya itu dengan lembut.
Gadis itu menggeleng, “Aira ingin di sini saja, menemani Mbak Lara.”
“Aira pulang ya, Nak. Mbak Lara juga sudah sehat kok.” Aku ikut membujuk agar gadis itu mau pulang.
“Nanti Mbak Lara sendirian kalau Aira pulang. Biar Aira di sini saja ya menemani Mbak.”
“Ada perawat yang menemani Mbak di sini, Sayang. Jadi Aira nggak usah khawatir.” Aku mencoba menjelaskan.
“Aira nggak usah khawatir, Sayang. Papa yang akan menemani Mbak Lara di sini, tapi Papa nganterin Aira pulang dulu.” Willan menambahkan.
“Aku nggak papa, Wil. Tidak usah ditemani.” Kali ini aku menoleh pada lelaki berambut mohawk itu. Willan terlihat menghela napas, ia menggelengkan kepalanya pelan.
“Kumohon jangan keras kepala di saat seperti ini,” lirihnya seraya membalas tatapanku.
“Aira pulang ya.” Aku mengalihkan tatapan dari Willan dan membujuk Aira lagi.
“Baiklah Aira mau pulang tetapi biarkan Papa menunggui Mbak Lara di sini ya.” Gadis kecil itu berkata dengan nada memelas. “Aira nggak mau Mbak Lara sendirian,” tambahnya lagi.
“Iya Sayang,” jawabku kemudian. Gadis kecil itu terus melambaikan tangan dan pandangannya tak lepas dariku sampai ia berlalu melewati pintu, Aira dan Willan berlalu pergi. Aku bisa merasakan bagaimana Aira menghawatirkan keadaanku. Ia begitu tulus dan kini aku tak bisa membendung haru yang kian membuncah di d**a. Kubiarkan air mata ini terjatuh begitu saja.
Di sini aku seolah mendapat orang-orang baru yang begitu peduli, di sini kehidupan baru benar-benar telah dimulai, aku bahkan tak menyesal meninggalkan tempat di mana selama ini aku tinggal. Aku tak menyesal meninggalkan kota besar yang di dalamnya pernah membuatku terluka dan jatuh berkali-kali dalam jurang kebodohan, ya aku baru menyadari betapa bodohnya aku yang sudah berulang kali memaafkan Danil tetapi ia tak kunjung berubah memperlakukanku dengan kasar, aku baru sadar cinta macam apa yang pernah kujalani bersama orang temperamental itu hingga membuatku harus merasakan kesakitan berulang-ulang.
Sungguh aku tak menyesal meninggalkan semua kemewahan bersama Danil. Hidup dengan lelaki itu membuatku terkurung dalam sangkar luka dan juga penderitaan. Apa yang kulakukan kini dengan cara menjauh pergi adalah keputusan tepat agar diri dan juga hati tak lagi dilukai.
Aku tahu kota kecil yang kutinggali saat ini adalah sebuah pulau yang tak banyak diketahui orang. Cukup terpencil dengan keindahan alamnya yang masih alami. Aku terus menekankan dalam benak bahwa aku aman di sini, aku aman meskipun tetap saja harus waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Aku cukup bersyukur dengan kehadiran orang-orang baik seperti Bu Salma yang mau menerimaku bekerja di tokonya, padahal perempuan berusia setengah abad itu sama sekali tidak mengenalku sebelumnya dan tidak tahu asal-usulku dari mana. Ia begitu terbuka menerima kehadiranku. Bahkan hingga kini aku belum menceritakan perihal aku terhadapnya.
Kania yang tiba-tiba hadir dan memberi bantuan untuk mendapatkan rumah sewa yang kini kutinggali, bahkan begitu baik membayarnya untukku. Dia sangat baik untuk ukuran seorang teman yang baru kenal, aku bersyukur karena sejatinya Tuhan telah menolongku lewat perantara orang-orang seperti Kania dan juga Bu Salma. Dan Aira entah kenapa aku sangat menyayangi gadis kecil itu, bahkan jika dia bukan putri dari lelaki pemilik resto yang pernah menolongku saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, aku tetap menyayangi gadis kecil dengan mata yang selalu berbinar itu. Benar, hidupku memang sebatang kara tetapi Tuhan tak pernah membiarkanku sendirian di dunia. Terima kasih Rabb.
***