2). Melarikan Diri?

828 Words
"Enggak, Tuan, saya enggak siap ...." "Enggak mau, Tuan, tolong ...." "Tuan, saya enggak mau!" Terperanjat dari tidurnya yang nyenyak, Rinai terduduk dengan napas yang cukup terengah-engah. Seperti orang yang barusaja menyelesaikan lari maraton, itulah dia sekarang. Padahal, yang dialaminya beberapa detik lalu hanyalah sebuah mimpi. Mengedarkan pandangan dengan jantung yang masih berdegup kencang, Rinai meneguk saliva setelah tak dia dapati Jeffran di sudut mana pun. Lega, itulah dia karena semua yang dialaminya barusan benar-benar bukan kejadian nyata. "Mimpinya buruk banget, Ya Allah, aku ngeri sendiri." Diam sejenak untuk menenangkan pikiran, itulah yang selanjutnya Rinai lakukan hingga setelah kesadarannya terkumpul penuh, dia teringat pada sesuatu yaitu; pernikahannya dengan Jeffran yang akan dilaksanakan besok pagi. Bukan mimpi biasa, yang beberapa waktu lalu Rinai alami adalah bentuk ketakutannya terhadap Jeffran—sang calon suami, karena bukan atas dasar cinta, dia dan pria itu menikah setelah Cakra—abang kandung Rinai menjadikannya alaf untuk membayar hutang. "Aku enggak mau nikah sama Mas Jeffran," ucap Rinai setelahnya. "Demi apa pun aku enggak mau." Membayangkan betapa menyeramkannya Jeffran di mimpi yang dia alami, Rinai bergidik ngeri. Jangankan disentuh atau ditiduri, melihat Jeffran dari dekat saja rasa takut Rinai melebihi rasa takut dia melihat hantu, karena selain tubuh tinggi pun wajah seperti preman, Jeffran juga memiliki beberapa tatto di bagian tubuh yang membuat Rinai semakin ngeri. "Aku harus kabur," kata Rinai lagi pada dirinya sendiri. "Ya, sebelum semuanya terlambat, aku harus pergi." Tak sekadar berucap, atensi Rinai beralih pada jam dinding yang ada di kamarnya. Ada di angka satu dini hari, Rinai yakin sekarang adalah waktu yang paling tepat untuknya melarikan diri sehingga tanpa ba bi bu dia berkemas. Tak punya koper, Rinai mengemas pakaiannya ke dalam ransel. Membawa barang yang sekiranya penting, tak lupa dia membawa uang karena tak hanya baju ganti, dirinya membutuhkan uang. "Selesai." Masih dengan piyama tidur melekat, Rinai sudah siap dengan ransel di punggung. Tak mau membuang waktu yang menurutnya berharga, setelah itu yang dia lakukan adalah; berjalan menuju pintu. Tak langsung keluar, Rinai menyembulkan dulu kepala guna memastikan keamanan di luaran sana. Para penjaga terlelap, dia keluar dengan langkah yang mengendap sampai akhirnya tiba juga Rinai di halaman rumah. Sudah dipasang tenda, sekali lagi Rinai meyakinkan diri sebelum kemudian memantapkan hati. Tak mau terus mengalah, kali ini dia akan berontak. Persetan nasib sang abang, dia tak peduli karena sang abang sendiri pun selama ini tak peduli terhadap nasibnya. "Oke, Rinai, kamu pasti bisa." Mengeratkan lagi ransel, Rinai siap melarikan diri. Namun, sial dia ceroboh, karena saking semangatnya ingin kabur, Rinai tak sengaja menginjak botol kosong di halaman. Krek! "Rinai, ceroboh!" Memaki dalam hati, Rinai meringis sebelum kemudian menoleh ke belakang dan voila! Dua pria berbadan besar yang semula terlelap di sofa, terlihat menunjukan tanda-tanda bangun. Sial! "Heh, Rinai, lo mau kabur ya?" Benar-benar membuka mata, pertanyaan tersebut Rinai dapatkan—membuat dia dengan segera melakukan pergerakan. Tak berjalan, Rinai tentu saja berlari—membuat kedua pria yang tak lain anak buah Jeffran tersebut, lekas melakukan pengejaran. "Jangan kabur lo, Rinai! Berhenti!" "Gue habisin lo, Rinai! Lihat aja!" "Berhenti lo, gadis sialan!" Terus berlari di tengah makian demi makian, itulah yang Rinai lakukan sekarang. Tak lagi memakai sendal, kedua kakinya bahkan sudah bertelanjang sejak tadi karena sangat tak mendukung, sepasang sendal jepit yang dia pakai menghambat kedua kakinya untuk berlari. "Ya Tuhan, tolong biarin aku lolos!" Tak terus menyusuri jalanan, Rinai tanpa ragu menerobos kebun. Tak melihat apa saja yang dia injak, yang ada di pikirannya sekarang hanyalah kabur sehingga meskipun lelah bahkan sakit, Rinai tak peduli. "Rinai sialan!" Kejar mengejar sejauh beberapa kilometer, Rinai mulai kehabisan tenaga. Namun, seolah Tuhan menyetujui keinginannya untuk kabur, tak berselang lama—di jalanan yang dia lalui, sebuah mobil pick up datang. Tak ada pikir panjang, Rinai menghadang mobil tersebut sebelum kemudian memaksa ikut. "Pak, tolong, Pak! Saya dikejar orang jahat!" Tak ada keraguan, pintu bagian depan terbuka—membuat Rinai dengan segera masuk. Keberuntungan berpihak, pintu berhasil ditutup persis sebelum dua orang anak buah Jeffran datang sehingga dia pun aman. "Rinai, buka! Lo enggak boleh kabur!" "g****k, buka!" "Pak, tolong jalan," pinta Rinai—membuat sang supir pick up dengan segera melajukan mobilnya. "Mereka berdua mau jahatin saya." "Baik, Neng." Tak ada ba bi bu, pick up hitam yang Rinai kendarai melaju dengan kencang. Tak dibiarkan begitu saja, awalnya pick up yang Rinai tumpangi dikejar. Namun, karena laju mobil yang semakin kencang, Rinai akhirnya bisa bernapas lega karena kejaran tak lagi dia dapatkan. "Ya Tuhan, aku bebas." "Neng, kenapa dikejar preman itu?" "Mereka jahat, Pak, saya mau dikurung," kata Rinai asal, karena sejatinya hampir seperti itulah niat Jeffran menjadikan dia istri. "Ya Tuhan." "Makasih ya, Pak, udah bantu," kata Rinai. "Kalau Bapak berkenan, saya ikut lebih jauh biar aman dari mereka." "Silakan, Neng. Bapak kebetulan mau ke Jakarta." "Jakarta?" tanya Rinai dengan raut wajah kaget, karena tak dekat, jarak tempat tinggalnya dengan kota besar tersebut cukup jauh. "Iya, Neng. Neng mau nebeng sampai sana enggak? Kalau mau, enggak apa-apa saya gratisin."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD