3). Kesialan Pertama?

818 Words
"Neng, bangun, kita udah sampai." Terlelap dengan posisi bersandar pada jok, Rinai terusik setelah perintah tersebut menerobos masuk ke dalam telinga kanannya yang semula hening. Membuka mata secara perlahan, hal pertama yang Rinai rasakan adalah pusing sehingga dengan pandangan yang masih buram, dirinya diam. Memandang lurus ke depan, selanjutnya Rinai menoleh ke sebelah kiri dan yang dia dapati di luaran sana adalah; gedung menjulang tinggi. "Pak, apa kita udah di Jakarta?" tanya Salma sambil menoleh pada supir baik hati di jok sebelah kanan. "Gedungnya tinggi-tinggi." Tak punya tujuan kemudian merasa harus mengamankan diri dari Jeffran mau pun sang abang, beberapa waktu lalu Rinai memutuskan untuk ikut ke Jakarta bersama supir yang menolongnya. Meninggalkan Lembang, Rinai tak tahu berapa lama perjalanan mereka karena setelah setengah jam tak melakukan apa-apa, rasa kantuk datang sehingga tak menikmati perjalanan, dia memutuskan untuk tidur. "Iya, Neng, kita udah di Jakarta, dan maaf banget karena Bapak kayanya cuman bisa numpangin kamu sampai sini. Bapak ada urusan habis ini dan bapak enggak bisa bawa kamu. Jadi enggak apa-apa, kan, kalau Neng turun sekarang?" Tak langsung memberikan jawaban, Rinai membisu. Memeluk erat ransel yang dia bawa, keraguan bahkan ketakutan datang karena selama dua puluh lima tahun hidup, belum pernah sekali pun Rinai memijakkan kaki di Jakarta sebelum sekarang. "Neng?" "Ah iya, Pak, saya turun sekarang," kata Rinai yang pada akhirnya pasrah. "Makasih ya, Pak, udah bantu saya. Saya berhutang budi banget sama Bapak." "Sama-sama, Neng, hati-hati ya." "Iya, Pak." Tak banyak berbasa-basi, selajutnya Rinai turun. Memeluk ransel kemudian memegang ponsel, Rinai seperti orang linglung karena tak ada yang berbeda, kedua kakinya masih tak beralas. Tak pergi setelah mobil yang memberikan tumpangan untuknya, kembali melaju, Rinai masih berada di posisinya. Tak tahu harus ke mana, itulah yang ada di pikirannya sekarang sehingga setelah semula diam, dia mengedarkan pandangan. "Cari kontrakan aja kali ya habis ini?" tanya Rinai pada diri sendiri. "Tempat tinggal ada, aku bisa cari kerja karena di sini biaya hidupnya pasti mahal. Duh, Jakarta ternyata segede ini. Kaget banget aku." Setelah hampir dua puluh menit tak melakukan apa-apa, kedua kaki Rinai perlahan melangkah. Menyusuri trotoar tanpa memakai alas kaki, sosok Rinai menarik atensi beberapa orang di sana. Namun, meskipun begitu Rinai tak berhenti melangkah hingga di tengah nyamannya dia berjalan, kejadian tak mengenakan terjadi. Kurang erat memegangi ransel yang dia gendong di depan, Rinai tersentak setelah sebuah tangan melakukan perampasan tanpa permisi. Tak hanya ditarik, ranselnya dibawa kabur sehingga tanpa ba bi bu dia berteriak, "Jambret!" Tak sekadar berteriak, Rinai juga berlari untuk mengejar dua preman yang kini membawa kabur ransel miliknya. Seolah benar-benar dianggap asing, teriakan bahkan berlarinya Rinai sekarang sama sekali tak mengundang empati orang di sekitarnya. Tak ada yang membantu, Rinai benar-benar mengejar penjambret tersebut seorang diri. Mulai dari jalan ramai kendaraan hingga jalan alternatif, Rinai terus mengejar dua penjahat tersebut hingga ketika situasi mengharuskannya kembali menyebrang, Rinai berlari. Sial, dirinya tak selalu beruntung karena belum selesai dia menyebrang jalan, bunyi panjang klakson mobil terdengar—membuat kedua kakinya berhenti tanpa permisi. Menoleh dengan raut wajah kaget, kedua mata Rinai membulat setelah dari jarak dekat, sebuah mobil melaju ke arahnya—membuat dia refleks berteriak sebelum kemudian berjongkok. "Aaaaaaa!" Beberapa detik berlalu, Rinai yang spontan menutup mata, kembali melihat dunia. Tak ada benturan apalagi dirinya yang mengalami luka, Rinai masih cukup baik sehingga setelahnya dia menoleh. Tak tahu harus berkata apa, yang jelas detak jantung Rinai tak menentu ketika mobil yang hampir saja menabraknya, berhenti persis di dekat dia yang kini masih berjongkok. Tak tahu sejago apa supir yang mengendarai mobil tersebut, Rinai tak tahu. Namun, yang jelas dia bersyukur karena dirinya masih baik-baik saja hingga sekarang. "Tidak tahu adab menyebrang ya kamu? Kalau ketabrak gimana? Enggak sayang nyawa?" Setelah beberapa detik dilanda lega, Rinai menoleh setelah suara berat seorang pria terdengar. Membulatkan mata untuk yang kesekian kali, itulah dia ketika di depannya kini—pada jarak yang cukup dekat, seorang pria berkemeja berdiri dengan raut wajah tak ramah. "Pak, Ya Allah saya minta maaf," ucap Rinai dengan raut wajah memelas. Tak terus berjongkok, perlahan dia beranjak. "Saya tadi lagi kejar copet makanya enggak lihat kanan kiri dulu. Jadi asal nyebrang." "Iya, Tap-" "Aunty dicopet?" Belum selesai pria di depan Rinai bicara, suara gadis kecil lebih dulu terdengar—membuat atensi Rinai beralih, dan di sisi kiri mobil, seorang gadis cilik berdiri dengan seragam sekolah yang terlihat cantik. "Eh, Adek," jawab Rinai. "Iya Adek, aku dicopet." "Ayah," panggil gadis itu pada pria di depan Rinai. "Auntynya dicopet, ayo kita bantu." "Enggak bisa kaya gitu, Li, tante ini asing buat kita. Jadi mana bisa dibantu." "Tapi auntynya kasihan, Ayah. Lily enggak tega." "Iya tapi kan ... eh, astaga!" Tak selesai pria itu bicara, ambruknya tubuh Rinai membuat rasa kaget lebih dulu mendera. Tak diam saja, dengan segera dia mendekat kemudian pelan, sebuah tepukan didaratkan di pipi gadis aneh yang hampir mencelakakan dirinya tersebut. "Hei, kamu bangun. Kamu enggak seharusnya pingsan di sini, bangun."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD