"Aku ada dimana?"
Setelah beberapa detik lalu membuka mata, pertanyaan tersebut meluncur dari mulut Rinai dengan rasa penasaran yang kini menyertai. Tak langsung bertanya, sebelumnya Rinai sudah mengedarkan pandangan. Namun, sejauh mata memandang, dia tak mengenali tempatnya berada sekarang.
Mengingat lagi kejadian yang menimpanya, otak Rinai bekerja hingga tak berselang lama kilasan demi kilasan peristiwa melintas tanpa permisi. Sedikit mengernyit ketika rasa pusing mendera kepala, ingatan Rinai berhenti di momen dirinya yang diomeli seorang pria, kemudian dibela anak kecil berambut panjang.
Diam, selanjutnya Rinai sibuk menerka-nerka hingga pintu yang dibuka dari luar membuat atensinya beralih.
"Sudah sadar ternyata kamu."
Sedikit membelalak, itulah Rinai setelah sosok pria yang beberapa waktu lalu mengomelinya, berdiri di ambang pintu. Kembali menebak, dia pikir pria itu menolongnya sehingga sekarang—mungkin, dia ada di rumah pria tersebut.
"Eh, Pak," panggil Rinai sambil beringsut, sementara pria berkaos polo putih di ambang pintu, berjalan mendekat. "Ini saya di mana ya, Pak? Saya enggak ingat apa-apa soalnya setelah kejadian tadi."
"Kamu di rumah saya," kata pria tersebut. "Tadi kamu mendadak pingsan. Jadi saya bawa ke sini. Sebenarnya saya malas bantu kamu, tapi karena anak saya yang minta, mau enggak mau saya tolongin kamu."
"Jadi yang tadi anak bapak?"
"Iya, dia anak saya."
"Oh," kata Rinai.
Tak tahu harus berkata apalagi, selanjutnya dia diam hingga ucapan pria di depannya itu kembali membuat dia mengangkat pandangan.
"Karena kamu sudah bangun, silakan pergi. Kejadian tadi enggak akan saya permasalahkan, tapi lain kali hati-hati karena perbuatan kamu bisa membuat orang lain celaka."
Tak memberikan respon, yang Rinai lakukan justru diam. Bingung, demi apa pun itulah yang dia rasakan sekarang karena jangankan uang, baju ganti saja dirinya tak punya.
Semua yang dia bawa—kecuali ponsel, raib dibawa penjambret sehingga setelah ini dia tak tahu harus pergi ke mana karena jangankan menyewa tempat tidur, membeli makanan saja dia tak bisa.
"Kenapa diam?"
Sedikit melamun, Rinai tersentak setelah pertanyaan tersebut dilontarkan untuknya. Memandang lagi pria jangkung di depannya, dia berpikir keras sebelum kemudian bertanya,
"Nama Bapak siapa kalau boleh tahu?"
"Kenapa mendadak nanya nama saya?"
"Pengen tahu aja," kata Rinai. "Apa?"
"Mahesa," jawab pria bernama Mahesa tersebut, singkat.
"Mahesa aja?"
"Mahesa Adjie Gautama," kata Mahesa—menyebut nama lengkapnya tanpa banyak drama. "Kenapa?"
"Hm, Bapak ada istri?" tanya Rinai lagi—mencoba untuk mengulur waktu, sebelum mengungkap keinginannya. "Nolong saya terus bawa saya ke rumah takutnya bikin istri Bapak salah paham."
"Enggak ada," kata Mahesa. "Istri saya meninggal pas lahirin Lily. Jadi enggak ada yang salah paham pas saya bawa kamu ke sini."
"Oh gitu."
"Turun dari kasur saya sekarang," ucap Mahesa lagi. "Saya enggak kenal kamu dan kamu asing buat saya. Jadi pertolongan saya untuk kamu cukup sampai di sini."
"Saya Rinai, Pak," kata Rinai sambil mengulurkan telapak tangan kanan. "Dahayu Rinai Insdraswari, itu nama lengkap saya dan saya orang Lembang. Bapak tahu Lembang, kan?"
Tak menimpali, yang Mahesa lakukan justru menaikkan sebelah alis. Memandang Rinai dari ujung kepala hingga ujung kaki, dia hampir membuka mulut. Namun, Rinai yang menyadari pandangannya, mendahului apa yang hendak dia lakukan.
"Saya tuh dijual sama abang saya ke juragan gitu, Pak. Dia punya hutang banyak dan saya harus mau dinikahin. Padahal, juragan itu udah punya istri," ungkap Rinai dengan raut wajah memelas. "Karena saya enggak mau, jam satuan tadi saya kabur terus saya numpang sama mobil sampai akhirnya sampai di Jakarta. Setelah turun dari mobil, niat saya tuh cari kontrakan, tapi saya dijambret dan tadi pas hampir ketabrak sama mobil bapak, saya ngejar penjambret cuman gagal karena sekarang saya justru di sini."
"Jadi kamu menyalahkan saya?"
"Bukan nyalahin, Pak, tapi gimana ya?" tanya Rinai bingung sendiri. "Intinya sih boleh enggak, Pak, saya numpang tinggal di sini? Enggak lama kok, paling beberapa hari doang. Mungkin sampai saya dapat kerjaan atau uang. Saya enggak pegang uang sama sekali soalnya."
"Are you kidding me?" tanya Mahesa dengan senyuman miring. "Kita saling kenal aja enggak, tapi kamu minta numpang di rumah saya. Waras kamu?"
"Saya waras, Pak, cuman saya enggak punya uang," kata Rinai—terus memelas dengan harapan; Mahesa akan tersentuh, karena demi apa pun dia tak tahu harus pergi ke mana setelah pergi dari rumah pria yang menolongnya itu. "Bapak bantu saya ya. Saya yatim piatu lho, Pak. Pahalanya gede kalau Bapak bantuin saya."
"Kamu butuh uang?"
Rinai mengangguk, sementara Mahesa sendiri merogoh sesuatu dari saku celana dan bukan barang, yang pria itu keluarkan adalah; empat lembar uang seratus ribuan.
"Ini," kata Mahesa setelahnya. "Saya kasih kamu uang, tapi setelah ini kamu pergi dari rumah saya tanpa terkecuali. Saya enggak sedermawan itu untuk menampung orang asing di rumah saya."
"Empat ratus ribu, Pak?"
"Iya, kenapa? Kurang?" tanya Mahesa. "Nih saya tam-"
"Pak Mahesa permisi."
Tak selesai Mahesa bicara, suara dari ambang pintu terdengar—membuat atensinya mau pun Rinai beralih. Di sana, Bi Asih berdiri dengan raut wajah canggung dan tak terus diam, dia buka suara.
"Barusan saya enggak sengaja dengar obrolan bapak sama mbaknya, dan saya mendadak kepikiran ide, Pak. Boleh enggak saya ungkap ide saya?"
"Apa?" tanya Mahesa sambil menaikkan sebelah alis.
Ragu-ragu bahkan Segan, Bi Asih menatap Mahesa sebelum kemudian buka suara. "Bapak enggak lupa tentang niat saya besok, kan?"
"Niat?" tanya Mahesa dengan kerutan di kening yang seketika terbentuk.
Saling melempar tatapan dengan Bi Asih, itulah dia selama beberapa detik hingga tak berselang lama Bi Asih beralih pada Rinai yang juga dilanda penasaran.
"Saya rasa Mbak ini bisa ...."
"Bi Asih," panggil Mahesa dengan segera, sementara dengan rasa penasaran yang semakin memuncak, Rinai bertanya,
"Bisa apa, Bi?"