5). Bujukan Memelas?

849 Words
"Ya sudah, Bibi boleh keluar." Sambil menyugar rambut ke belakang, perintah tersebut Mahesa luncurkan untuk sang art yang sejak beberapa menit lalu mengobrol dengannya. Tak lagi di kamar tamu tempat gadis asing yang dia tolong, berada. Mahesa menjadikan balkon rumah sebagai tempatnya dan sang art mengobrol. Bukan membahas masalah Rinai, yang dibicarakan adalah; durasi Bi Asih bekerja di rumahnya. Lupa tentang kapan Bi Asih pulang ke kampung, Mahesa sedikit terkejut ketika sang art mengingatkannya tentang hari terakhir beliau bekerja yang ternyata jatuh pada hari ini. Tak rela melepaskan Bi Asih begitu saja pun menerima Rinai sebagai art, Mahesa mencoba untuk bernegosiasi. Namun, gagal karena tak bisa diubah, Bi Asih akan tetap pulang kampung di hari esok sehingga Mahesa pun tak bisa memaksa. "Baik, Pak, saya permisi ya kalau begitu. Maaf kalau keputusan saya bikin Bapak kecewa. Saya udah janji soalnya sama anak saya." "Iya enggak apa-apa." Ditinggal sendiri, Mahesa tak langsung pergi. Dihampiri bingung perihal nasib sang putri setelah ini, itulah dia karena selama ini—ketika dia bekerja, Bi Asihlah yang menjaga Lily. Tak bohong, jawaban yang dia lontarkan pada Rinai benar. Tak punya istri, Mahesa sudah enam tahun menduda setelah sang pujaan hati meninggal usai melahirkan Lily. Belum memiliki istri lagi, Mahesa membesarkan Lily seorang diri. Namun, karena pekerjaannya sebagai dokter di salah satu rumah sakit besar, Mahesa tak bisa berada di samping sang putri selama dua puluh empat jam sehingga Bi Asihlah yang dia percaya. "Ayah kenapa sedih? Apa ada sesuatu?" Setelah hanyut dalam lamunan selama beberapa menit, Mahesa beralih pandang usai pertanyaan tersebut didapatkannya. Bukan dari orang lain, Mahesa mendapat pertanyaan dari sang putri yang entah sejak kapan datang, dia sendiri tak tahu. Namun, meskipun pikirannya kini sedikit kalut, Mahesa tetap berusaha untuk tersenyum. "Eh, ada princessnya Ayah," kata Mahesa. "Ayah enggak sedih kok, cuman agak bingung aja." Mendengar ucapan Mahesa, Lily yang tahun ini berusia enam tahun itu, perlahan mendekat. Berhenti di ambang pintu, dia bertanya, "Bingung kenapa? Apa karena Bibi mau pulang kampung?" "Iya," kata Mahesa dengan senyuman tipis. "Senin sampai sabtu, kan, Ayah sibuk kerja. Kadang minggu juga kerja. Nah, kalau Bibi enggak ada, Ayah bingung Lily sama siapa. Ada bapak supir sih di sini, tapi kan Lily bilang bapak supir enggak asik. Jadi ini Ayah lagi mikirin solusi gitu. Kira-kira setelah Bi Asih enggak ada, Lily gimana?" "Kenapa Ayah enggak terima aunty cantik itu aja buat kerja di sini?" tanya Lily—membuat Mahesa mengernyit. "Barusan Lily dari kamar Aunty cantik dan dia cerita banyak soal semua yang terjadi. Auntynya kasihan lho, Ayah. Dia dijual sama kakaknya terus diminta nikah sama orang yang enggak dia suka makanya kabur. Sebelum ketemu kita, aunty itu juga dijambret. Jadi sekarang enggak punya apa-apa selain hp." Menghela napas pelan, Mahesa memandang sang putri untuk beberapa saat sebelum kemudian berjongkok. "Aunty itu orang asing buat kita, Cantik. Jadi mana bisa Ayah percayain dia buat jagain kamu selama Ayah enggak ada," ucapnya kemudian. "Kamu itu berharga buat ayah. Jadi yang jaga kamu enggak boleh orang sembarangan." "Terus Ayah maunya gimana?" tanya Lily. "Aku enggak mau ikut ayah ke rumah sakit, karena aku enggak suka suasananya. Aku juga enggak mau dititipin di daycare karena aku enggak suka main di luar. Aku sukanya di rumah. Satu lagi, Aku enggak mau di rumah sama Pak Jupri aja karena dia enggak bisa masak. Aku bisa kelaparan kalau tinggal berdua sama Pak Jupri." "Emangnya kalau sama Aunty baru itu, Lily enggak akan kelaparan?" tanya Mahesa lembut. "Lily kan enggak tahu juga aunty itu bisa apa enggak masak makanan enak. Iya enggak?" "Saya bisa masak, Pak." Beralih dari Lily, senyuman Mahesa luntur setelah sosok Rinai yang beberapa waktu lalu dia tinggalkan di kamar tamu, berdiri tak jauh darinya dan sang putri. "Kamu." "Aunty cantik," sapa Lily dengan senyumannya. "Aunty udah enggak pusing lagi kepalanya?" "Enggak, Lily, Aunty udah baikan," kata Rinai sambil tersenyum. "Kalau sudah baikan, silakan pergi dari rumah saya," kata Mahesa. "Saya sudah berbaik hati bawa kamu ke sini. Jadi tolong tahu diri." "Enggak mau dipikirin, Pak, ucapan saya yang tadi?" tanya Rinai—kembali dengan raut wajah memelas. "Saya bukan orang jahat kok. Saya cuman orang kampung yang terpaksa harus ke sini saking enggak maunya dipaksa nikah. Enggak cuman jadi art, saya siap jagain dan rawat Lily anak Bapak. Izinin ya? Digaji berapa pun saya mau, karena yang terpenting buat saya tuh tempat tinggal. Saya enggak tahu harus ke mana dari sini." "Bukan urusan saya." "Ayah kenapa jahat?" tanya Lily—membuat Mahesa menatapnya. "Ayah bilang, kita harus mau bantu orang yang kesusahan, tapi kenapa sekarang ayah enggak mau bantu Aunty cantik? Dia padahal minta kerjaan sama ayah, bukan minta uang secara cuma-cuma." "Lily." "Jangan jahat, ayah," kata Lily. "Ayah dan aunty cantik sama-sama lagi membutuhkan. Jadi ayo terima aunty cantik biar setelah bibi pergi, Lily punya teman." Tak menjawab, Mahesa diam hingga ucapan Rinai membuatnya mengalihkan atensi. "Bapak boleh ngajuin beberapa syarat kalau mau. Saya siap terima." Mendengar ucapan Rinai, Mahesa menaikkan sebelah alis."Syarat apa?" "Syarat untuk saya diterima kerja di sini, Pak," kata Rinai. "Terima saya yuk. Saya siap kok kerjain apa pun yang bapak minta. Serius deh."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD