Tak Peduli

471 Words
Mobilpun melaju meninggalkan area parkir rumah, sejak tadi Tiara merasa risih saat kedua pahanya terekspos dan memperlihatkan sebagian tibuhnya yang sexy. "Kau cantik Tiara percayalah kau pasti akan menyukai Brian." Tiara hanya tersenyum menanggapinya lalu menolehkan pandangannya menatap jendela mobil. Setelah sampai di taman mereka berdua segera turun dari mobil dan duduk di sebuah kursi taman berwarna biru. Sembari menanti Tiara memberitahukan kepada Nana jika dirinya ingin pergi ketoilet. *** Setelah kembali dari toilet ternyata Brian dan Matheo sudah sampai ditempatnya menunggu tadi. "Hai nona Tiara?" Matheo menyapanya dengan manis. "Hai.." Tiara kembali merasa risih dan tak nyaman saat Brian menatapnya dengan pandangan penuh arti. "Tiara perkenalkan dia Brian dan ini pacarku Matheo." Setelah memperkenalkan diri masing-masing mereka berempatpun melakukan kencan ganda. "Bagaimana jika kita pergi makan siang di restauran baru.. kudengar makanan disana enak-enak loh." Nana dengan antusias mengajak mereka bertiga. "Benarkah? Jika begitu aku yang akan mentraktir kalian." imbuh Brian menimpali. "Baiklah tunggu apa lagi, nona Tiara kau ikutkan?" tanya Matheo padanya. "Ehm iya aku sama sekali tidak keberatan." "Baiklah ayo.." seru Nana. Tak seberapa lama mereka berempatpun sampai direstauran baru tersebut. Memesan meja disudut ruangan, restauran dengan desain interior dan outdoor yang elegan dipadukan dengan desain klasik ditambah lagi dengan alunan musik dari penyanyi lokal restauran. Brian menarik kursi untuk Tiara duduk, "Silahkan duduk nona Tiara." "Terimakasih tuan Brian, tidak perlu memanggilku dengan sebutan nona paggil saja Tiara." "Baiklah aku juga tidak keberatan jika kau memanggilku Brian tanpa sebutan tuan." "Waaah waah kalian ini kenapa serasi sekali sih?" ucap Nana mencoba menggoda mereka. Seorang pelayan datang dengan membawa memo kecil untuk mencatat setiap pesanan pengunjung, "Selamat pagi tuan nona, mau pesan apa?" "Aku pesan arancini dan mimumannya granita.." Tiara "Kalau aku panini lalu minumannya, hm ini saja.." Nana menunjuk gambar minuman, "Aperetivo." "Aku pesan panzanella.. minumannya sama saja aperetivo." Matheo "Baik.. kalau anda tuan?" pelayan tersenyum ramah pada Brian. "Aku pesan cannoli, dan minumannya spritz." "Baiklah tuan dan nona akan segera kami siapkan, permisi." *** Untuk yang kesekian kalianya Tiara merasa dirinya sungguh tidak nyaman saat Brian memandanginya seperti itu lagi. Tak seberapa lama pelayanpun tiba dengan mendorong troli menu. Setelah meletakan menu-menu itu segera pelayan tersebut undur diri dengan sopan. "Silahkan dinikmati.." "Terimakasih.." seru Nana dan Tiara bersamaan. Waktu makanpun telah usai, baru saja mereka mengatur nafas dan posisi duduk terlihat dari kejauhan seorang pria tampan bersama beberapa kolega bisnisnya sedang melangkah masuk kedalam restauran yang sama dengan mereka berempat. Dialah Jasson si pria dingin yang dengan mudahnya menghempaskan Tiara dari dalam hidupnya. Bola mata Tiara membulat sempurna saat melihat seorang wanita yang tak lain adalah Natalie yang ternyata juga ikut bersamanya. Gandengan tangan dengan mesra, Dari awal aku hanya orang asing, dan hingga detik ini akupun hanya orang asing saja. Jasson sama sekali tak menggubris dan tetap menampikan keberadaan Tiara di restautan itu, namun dadanya tiba-tiba merasa bergemuruh saat tahu ternyata Brian juga ada disana. Jasson dan Brian adalah 2 pria yang saling bersaing ketat di dunia bisnis. Bahkan dia juga sama sekali tidak ingin tahu saat ini siapa yang sedang bersamaku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD