"Kenapa.. kenapa kau seperti itu padaku? Tidak bisakah kau benar-benar memberiku kesempatan.." pipinya baru saja basah karena tetesan air mata.
Tiara mendudukan tubuhnya ditepi jembatan besar, ia menangis hingga sesegukan saat mengingat bagaimana dirinya diperlakukan seperti itu oleh seorang Jasson.
***
Ditempat kencan Nana dan Matheo mereka benar-benar larut dalam kebahagiaan, mereka pergi menonton ke bioskop.
"Sayang bukankah kau punya seorang sahabat, kenapa kau tidak mengajaknya?"
"Iya namanya Tiara, hm aku sudah mengajaknya tadi tapi dia sedang tidak enak badan. Oh ya apakah kau punya seorang kenalan pria agar aku bisa mengenalkan Tiara padanya."
"Aku punya kakak sepupu namanya Brian. Kalau kau mau mungkin besok kita bisa mempertemukan mereka di tempat biasa."
"Benarkah? Waaah sungguh aku sangat senang. Baiklah aku akan mengajaknya besok pagi."
Seperti itulah rencana perjodohan awal Tiara dan Brian, siapa yang akan tahu hubungan mereka kedepannya seperti apa?
***
Waktu menunjukan pukul 23.00 malam waktu setempat saat Nana sampai dirumah Tiara sudah tidur dengan nyenyak.
"Kau benar-benar tertidur bahkan tidak menyadari kedatanganku.."
Nana segera membersihkan dirinya dikamar mandi sebelum tersentuh air dirinya menyempatkan waktu sejenak untuk memakai lulur.
Kembali keatas ranjang Tiarapuj terbangun saat mendengarkan suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Nana? Kapan dia pulang, kenapa dia tidak membangunkanku?
Karena rasa kantuknya terlau kuat menyerang akhirnya Tiarapun kembali tertidur.
Tak lama kemudian Nanapun keluar dari dalam kamar mandi. Baru saja dirinya mau tidur namun mendadak perutnya bunyi keroncongan.
"Aaa ya ampun kenapa malah lapar sih?" mau tidak mau Nanapun segera keluar kamar untuk mengisi kampung tengahnya yang berdemo.
***
Pagipun tiba mereka berdua secara bersamaan membuka mata.
"Selamat pagi Nana.." senyum manisnya mengembang.
"Pagi.. tidurmu nyenyak sekali semalam apakah kau mimpi indah?" tanya Nana dengan suaranya yang sedikit parau.
Tiarapun menggeleng, "Mungkin karena aku masih sedikit tidak enak badan jadi butuh istrirahat lebih."
"Sekarang kau sudah baikan?"
"Hm.." mengangguk, "Kenapa aku merasa hari ini kau terlihat sangat antusias?"
"Bersiaplah dandan yang cantik aku akan memperkenalkanmu kepada seseorang." seru Nana sembari turun dari ranjang, dia meraih handuk yang tergantung lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Kemana?"
"Ikut saja."
"Kemana? Katakan dengan je -" suaranya terhenti saat melihat tangan Nana yang terangkat dan bergerak. Tangan itu sedang mengatakan diam dan ikut saja.
1 jam kemudian setelah keduanya bersiap, "Nana kenapa aku harus berpakaian seperti ini?" dress yang hanya sebatas paha berwarna biru putih dan corak bunga.
"Kau terlihat sangat cantik Tiara, sini biarkan aku memakaikan makeup padamu."
"Tidak mau, aku tidak terlalu suka pakai makeup."
Bujuk membujukpun terjadi hingga akhirnya Tiarapun mau untuk dimakeup.
Step awal hingga step terakhir makeup, "Sempurna.. hey Tiara coba buka matamu dan lihatlah betapa cantiknya dirimu ini.." Tiara segera membuka kedua matanya dan menatap pantulan dirinya didalam cermin.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Nana, dirinya sangat cantik namun Tiara mendadak bersedih hati saat mengingat kembali bagaimana dirinya saat ditolak oleh Jasson.
Obrolan merekapun terhenti sejenak saat sebuah telefon masuk untuk Nana dari Matheo.
"Hallo sayang?"
"Bagaimana, apakah Tiara bersedia untuk ikut?"
"Beres.. kita bertemu setengah jam lagi."
"Baiklah sayang sampai jumpa ditaman."