Kenapa?

743 Words
"Haaaaccciiih..." pagi ini Tiara bangun sedikit kesiangan mengingat semalaman dia sempat terkena hujan. Topi hangat masih setia berada diatas kepalanya sampai menutupi kedua telinga agar lebih hangat, begitu juga dengan kaos kaki tebal yang masih setia membungkusnya. "Kau ini baru juga kencan semalaman sudah sakit.." Nana memberinya thermometer, "Ayo buka mulutmu aaaa..." Tiarapun membuka mulutnya membiarkan thermometer itu mendeteksi suhu tubuhnya. "Hm.. 37.80 dC syukurlah. Ayo sarapan dulu setelah itu kau minum obatmu." "Terimakasih Nana.. kau sungguh sahabat terbaikku." Usai makan dan minum obat Tiarapun kembali beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya kembali. *** Siang ini Nana sudah bersiap-siap sepertinya dia akan pergi kencan dengan kekasihnya. Nama kekasihnya itu Matheo si anak pengusaha bidang property. "Kau mau kemana?" "Kencan.. kau mau ikut? Ayolah ikut saja agar aku bisa mengenalkanmu kepada seseorang." "Tidak mau. Dihatiku hanya ada Jasson saja." "Hm.. ya sudah aku pergi dulu ya bucin syantik .." "Nanaaaaa...." Tiara tersenyum saat mendengarnya menyebut bucin syantik. Ehm lupakanlah karena sekarang kau juga harus mencari tahu kenapa priamu tak datang ke coffe semalam? Setelah merasa lebih sehat Tiara juga segera melenggang pergi leluar rumah kemana lagi jika bukan ke perusahaan Jasson. *** Baru saja dirinya menginjakan kaki di anak tangga, seorang satpam yang biasa berjaga segera menghadangnya. "Maaf nona anda dilarang untuk masuk keperusahaan ini." "Apa? Kenapa seperti itu memangnya kau ini tidak tahu siapa diriku?" "Maaf nona ini sudah merupakan keputusan tuan muda dan keputusan perusahaan." "Apa?" "Sekali lagi maaf nona, silahkan pergi dan jangan membuat keributan ditempat ini." Beribu rasa kesal membuatnya begitu emosi, berkali-kali menjejakan kakinya diatas lantai. Hm baiklah Jasson kau akan lihat seberapa nekatnya gadis itu. Tak menyerah Tiarapun segera pergi keapartemennya maksudnya apartemen milik Jasson. Mencoba memasukan password tapi tidak berhasil juga oh ya Tuhan jangan katakan jika Jasson juga mengganti passwordnya. "Aaaa ya ampun kenapa dia juga mengganti passwordnya sih? Dasar menyebalkan!" baiklah bukan Tiara namanya jika dia harus menyerah sekarang. Dirinya memilih untuk menunggu diteras apartemen, duduk dilantai hingga kantuk menyerang. *** Cahaya senja mulai menari-nari diufuk barat sebuah mobil masuk keparkiran apartemen. 2 pasang kakipun turun dari dalam mobil. Natalie terkejut saat mendapati Tiara tertidur seperti itu. "Oh my god! Apa-apaan gadis itu!" "Sudahlah biarkan saja, tidak perlu menggubrisnya." seru Jasson yang tidak peduli padanya. "Ayo." Menjijikan sekali sudah ditolak tapi masih tidak menyerah! Malam hampir menyapa, jam digital di hp Tiara menunjukan pukul 18.55 waktu setempat. Dirinyapun terbangun saat mendengar lolongan anjing. "Ooh!" masih mencoba mengusap kedua matanya agar penglihatannya kembali jelas, lalu melihat jam di hpnya. "Apa? Sudah jam 19.05? Kenapa aku tertidur disini?" pandangannya beralih ke parkiran apartemen bukankah itu mobil milik Jasson? Jasson pasti sudah pulang, hatinya senang sekali mengetahui hal tersebut. Segera dirinya mencoba mengetuk-ngetuk pintu apartemen namum tak juga ada jawabannya. Mencoba menelefon pria itu namun tetap saja tidak diangkat. "Angkat telefonku.. aku ingin bicara denganmu." pesan terkirim. Tak lama kemudian pintupun terbuka namun yang berdiri diambang pintu bukan pria itu melainkan Natalie. Byur! Segelas juice tersiram kewajah polos Tiara, "Haha rasakan itu dasar murahan!" Natalie melemparkannya berlembar-lembar uang sungguh hal yang begitu menyakitkan saat harga dirimu di injak-injak tepat dihadapan pria yang kau cintai. "Masih tidak mau pergi juga hah?" Natalie mendorong kuat d**a bagian atas Tiara dan membuatnya terhuyung beberapa langkah kebelakang. "Siapa kau kenapa menyuruhku untuk pergi dan kau juga tidak berhak mengatai aku murahan!" Tiara balas mendorong tubuh Natalie sekuat tenaga. Kesempatan bagus saat tubuh wanita itu terhuyung kebelakang segera saja Tiara masuk kedalam. Menapakai anak tangga menuju kamar Jasson dilantai 2. Saat pintu kamar terbuka dirinya mendengar suara gemericik air. "Hey kau perempuan tidak tahu malu!" Natalie meneriakinya sembari menaiki anak tangga. Sebelum Tiara tertangkap segera saja dia berlari masuk kedalam kamar Jasson dan mengunci pintunya. Klek! Pintu kamar mandi terbuka, sontak membuat Tiara terkejut wajahnya seketika merona merah saat mendapati Jasson hanya memakai handuk dari area perut kebawah. Menampakan body sispeknya yanh indah bak roti sobek. "Kenapa kau bisa masuk!" suaranya terdengar sangat tak suka. "Dan kenapa kau tida datang ke coffe itu? Aku menunggumu hingga larut." "Apakah aku yang menyuruhmu untuk menunggu? Tidak kan?" Tiara terhenyak dan terdiam, matanya sudah berkaca-kaca. "Kenapa kau begitu ingin sekali memilikiku?" Jasson duduk diatas sofa lalu mengangkat wajahnya memandang Tiara dengan tatapan hinanya. "Karena aku mencintaimu!" berucap lantang sudah tak peduli lagi dengan yang namanya harga diri. "Haha.. benarkah?" beranjak berdiri dan melangkah keranjang, "Buktikan dengan melayaniku sekarang juga diatas ranjang." seringaiannya membuat Tiara takut. "Aku memang mencintaimu tapi aku tidak akan mau melakukannya sebelum kita menikah." "Kau fikir aku akan menikahimu semudah itu?" Tiara kembali terdiam, "Pergilah.. aku juga sama sekali tidak tertarik untuk tidur denganmu!" "Tapi kenapa kau tak meberiku peluang? Bukankah kau bilang akan memberiku kesempatan?" air matanya sudah mau tumpah. "Bukankah sudah jelas jawabannya? Pergilah selagi aku memintamu dengan baik nona Tiara!" Diusir seperti itu membuatnya menatap langit-langit kamar agar air matanya tak tumpah dengan menyedihkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD