Pertemuan Separuh Hati

1644 Words
Pertemuan Separuh Hati Jenar tengah memandang gerbang pesantren Al-Hikam, kakaknya sedang bertanya kepada satpam yang sedang bertugas di posnya. Bus yang mereka tumpangi sempat mogok lama sehingga mereka baru sampai di Al-Hikam pukul delapan malam lebih sepuluh menit. Dan sepertinya sedang ada pengajian rutinan di dalam Pondok. Karena sejak tadi Jenar bisa menangkap suara seseorang yang sedang berceramah. Jenar menarik nafasnya dalam-dalam. Entah apa yang dirasakan oleh separuh hatinya. Kenapa Jenar bilang separuh? Karena separuhnya lagi, sedang terluka akibat dititipkan kepada Arif. Lelaki yang Jenar anggap bisa menjaga separuh hatinya justru malah menjadi si pemberi luka. Jadi saat ini Jenar hidup hanya dengan separuh hati saja. Jenar menatap gerbang bertuliskan Al-Hikam dengan penuh minat. Karena terlalu fokus, dia sampai tak menyadari kedatangan sebuah mobil dan malah berdiri di tengah jalan. Tin. Tin. Tin. Jenar tersentak dan otomatis minggir ke arah kanan. Seorang pemuda melongok melalui kaca mobil. “Mbaknya mau mondok?” Tampan, bisik hati Jenar. “Mbak. Mbak!” teriak Azmi. “Eh. Iya, Mas.” Azmi tersenyum melihat tingkah Jenar. Sebagai lelaki, Azmi terpesona dengan wajah ayu sang gadis. Sekali lihat saja, Azmi tau kalau gadis di depannya sangat lugu. “Sendirian?” “Enggak Mas, sama kakak saya cuma lagi tanya sama pak satpam disana.” “Oh.” Cakra datang ke arah mereka. “Je. Bener, ini rumah pengurus pusatnya di sini. Ayok kita masuk.” “Mau ke ndalem, Mas?” tanya Azmi. “Nggih, Mas.” “Mari ikut saya sekalian.” “Wah, matur nuwun. Ayok Je, ikut masnya. Mumpung ada tumpangan.” Jeje mengangguk dan membuka pintu belakang sedangkan Cakra duduk di samping Azmi. Selama perjalanan baik Azmi dan Cakra nampak ngobrol dengan akrab. Jenar sendiri lebih suka menjadi pendengar. *** “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” “Om ....” Teriak tiga anak berusia sekitar sembilan tahunan ke arah Azmi. “Keponakanku sayaaang … om kangen,” pekik Azmi sumringah. Azmi memeluk dan mencium satu persatu keponakannya. Lalu dia segera beralih pada wanita paruh baya yang tergopoh-gopoh menyambutnya. “Azmiii!” pekik Umi Aisyah. “Umiiii. Azmi kangen Umi. Mas Azzam, Azmi kangen. Mbak Cacaaa ... Azmi juga kangen. Aquilla, keponakan om yang paling cantik.” Azmi memeluk satu persatu anggota keluarganya kecuali Caca tentu saja. Hahaha. “Bah ....”Azmi menghampiri Abah Ilyas yang tengah duduk menyandar pada sofa. Abah Ilyas tersenyum semringah melihat putra bungsunya. “Kamu pulang, Mi?” “Nggih Bah, Azmi pulang.” Azmi mencium tangan abahnya dan memeluknya erat sekali. “Alhamdulillah.” Abah Ilyas menepuk-nepuk punggung putra bungsunya. Semua keharuan ini tak lepas dari pengamatan Jenar dan Cakra. Jenar bahkan hampir mewek karena melihat keharuan antara anak dan ayahnya. Jenar jadi ingat pada kedua orang tuanya. “Pripun Mas, Mbak? Ada yang bisa kami bantu?” tanya Caca ketika menyadari ada tamu yang datang. “Ini Ning, saya mau mengantar adik saya mondok di sini.” “Oh ... Mas Azzam ada yang mau mondok.” Caca memanggil suaminya. “Iya, Dek. Azmi bisa kamu jaga Quila sama Aslan Triplet. Mas sama Mbak Caca mau menemui tamu dulu.” “Beres, Mas.” “Mari,” ajak Azzam pada kedua tamunya. Jenar dan Cakra pun mengikuti langkah Azzam menuju ruang tamu. *** “Mbak Jenar nanti tidur di kamar ini ya. Kamar pojok ini jarang ada yang mau pake katanya berhantu. Mbak Jenar takut hantu gak?” “Mboten, Ning. Saya takutnya dikasih hati dan di PHP-in doang,” sahut Jenar. “Hahaha. Gitu yah. Ya udah deh. Tenang aja penghuninya baik selama yang tidur di sini gak bikin ulah.” “Nggih, Ning.” “Ya sudah saya tinggal ya Mbak. Takut dicari sama anak-anak.” “Nggih, Ning.” “Semoga kerasan ya Mbak Jenar. Punya panggilan sayang gak, Mbak?” “Jeje, Ning.” “Wow panggilannya bagus Mbak.” “Ya sudah, Mbak Jeje istirahat dulu ya. Saya tak pamit,” lanjut Caca. “Monggo, Ning.” “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Setelah Caca pergi, Jenar langsung masuk ke kamarnya. Benar kata Ning Caca ternyata ada penghuninya. Meski begitu, Jenar tahu kalau penghuninya tak akan mengganggu Jenar selama Jenar berkelakuan baik. Setelah membersihkan diri, Jenar merebahkan dirinya di kasur lantai. Jenar menatap langit kamar. Pikirannya melayang pada kedua orang tuanya dan juga Arif. Ah ... ayolah Je, move on. Kamu harus bisa move on. Ingat, Arif sudah menjadi suami orang. Karena rasa lelah dan capek hati, akhirnya Jeje tertidur juga. Sementara di kamarnya, Azmi tengah melihat ponselnya. Sejak tadi, Yasmin menghubunginya. Dari mulai chat hingga ratusan telepon namun sengaja diabaikan oleh Azmi. Percuma. Karena setelah membaca chat Yasmin isinya sama saja. Azmi disuruh menunggu lagi. Dan Azmi sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tak akan menunggu Yasmin lagi. Dia memang tak tahu takdir jodohnya tapi setelah mendapatkan wejangan dari sang abah, Azmi sadar jika selama ini dia terlalu mengedepankan rasa cintanya pada manusia tanpa mengedepankan rasa cintanya kepada Allah. “Om …,” panggil Azada. Azada datang menghampiri Azmi di kamarnya. “Iya. Kenapa?” “Zada bobok sini ya?” “Oke. Sini bobok sama om.” Azada segera merebahkan dirinya di samping Azmi. Dalam waktu tak kurang dari lima menit, keduanya sudah terbuai dalam mimpi. Azzam seperti biasanya menengok ketiga putranya. Begitu sadar hanya ada Abrisam dan Aidan, dia langsung menuju ke kamar adiknya. Azzam tersenyum melihat adik dan putranya sudah tidur dengan memeluk guling masing-masing. Azzam pun segera masuk ke kamarnya dimana sang istri baru saja menidurkan Aquilla Chana Mustika Aslan di box tempat tidurnya. Puterinya baru berumur satu tahun. “Anak-anak udah pada tidur, Mas?” “Udah, Azada malah tidur di kamar Azmi.” “Oh.” Azzam merebahkan tubuh di kasur dan menepuk bahu kirinya. Caca yang sudah tahu maksud sang suami segera merebahkan diri disamping sang suami dan menjadikan bahu sang suami sebagai bantalnya. “Hemmm ... selalu senyaman ini,” gumam Caca. “Hemmm … dan selalu sehangat ini,” sahut Azzam. Mereka saling berpandangan dan tersenyum manis. Selanjutnya jangan tanya lagi, Azzam segera memperpendek jarak wajahnya dengan wajah sang istri. Diciumnya bibir Caca dengan ciuman yang lembut nan memabukkan. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi liar, dalam dan menuntut. Malam ini, Azzam mengajak Caca mengarungi samudra cinta dengan penuh gelora. Dinginnya malam tak mereka rasakan lagi, justru rasa gerah nan panas akibat keringat yang dihasilkan lewat olahraga malam yang tengah mereka lakukan. *** Jenar sedang membantu para khadamah memasak makanan untuk keluarga kyai. Jenar sudah berkenalan dengan para khadamah lain yaitu Fitri, Afi, dan Desi. Rupanya mereka seumuran. Mereka bertiga kini menjadi mahasiswi semester empat di universitas Al-Hikam dengan mengambil jurusan PGSD. “Mbak Jenar bisa tidur nyenyak semalam?” tanya Afi. “Panggil saya, Jenar atau Jeje aja Mbak. Bisa, kok. Kenapa?” “Kamar pojok terkenal angker loh, Mbak. Eh … Je maksudnya,” sahut Desi. “Benarkah?” “Iya. Terakhir kamar itu lama ditempati sama Ning Caca. Tapi setelah Ning Caca jadi istrinya Gus Azzam. Kamar itu gak ada yang mau menempati lagi. Katanya kalau yang tidur di situ sering diganggu gitu,” kini Fitri yang bersuara. “Oh ya, benarkah?” “Iya beneran. Katanya ….” “Ekhem.” Keempat gadis itu segera menoleh ke sumber suara. Mereka langsung kikuk mendapati Gus Azmi tengah berada di belakang mereka tanpa mereka sadari. “Maaf ya Mbak, cuma mau tanya makanannya udah siap apa belum? Itu Aslan triplet udah pada minta makan, Abah juga harus makan biar bisa minum obat. Oh iya, sekalian bisa buatkan saya kopi kalau kalian udah selesai ngerumpinya.” “Nggih Gus,” ucap keempatnya sambil menunduk. Setelah Gus Azmi pergi, ketiga teman baru Jenar langsung heboh. “Duh gantengnya.” “Ya Allah, mau aku jadi istrinya Gus Azmi. Ternyata benar Gus Azmi gantengnya kayak Gus Azzam.” “Iya. Lebih muda lagi.” Jenar hanya tersenyum menatap tingkah ketiga sahabat barunya. Dia pernah dengar dari teman-temannya bahwa salah satu kesenangan dalam mondok adalah mengagumi para gus, terutama kalau gusnya tampan. Jenar yang hanya mondok di pondok kecil dan masih berada di lingkungan kampungnya di Wonosobo tidak pernah menemukan gus karena anak kyainya cuma Ning Alifah. Mengingat Ning Alifah lagi-lagi Jenar teringat akan Arif. Huft. Move on ternyata susah juga. Begitu pikir Jenar. *** “Kamu yang kerasan di sini. Habis ini mas mau balik Kalimantan lagi.” “Iya, Mas.” “Ngajinya yang bener. Sama bantu-bantu keluarga kyai dengan tawadhu ya. Yang ikhlas.” “Nggih, Mas.” “Jangan nangisan.” “Iya, Mas.” “Jangan baperan.” “Iya, Mas.” “Jangan lupa move on.” “Iyaaa … Mas Cakra. Udah deh sana pergi!” usir Jenar sambil mengibaskan tangan sebagai gerakan mengusir. “Hehehe. Oke. Mas pulang ya. Jangan ....” “Wa’alaikumsalam.” “Hahaha. Assalamu’alaikum.” Jenar menunggu sampai Cakra naik gojeg dan tak terlihat lagi. Setetes air matanya jatuh namun segera ia hapus. Saat berbalik menuju ndalem secara tidak sengaja dia bertubrukan dengan Azmi yang tengah tergesa-gesa. “Astaghfirullah!” seru keduanya. “M-maaf, Gus.” “Eh.. I-iya. Saya yang harusnya minta maaf.” Keduanya tersenyum kikuk hingga niat hati ingin segera pergi dari kecanggungan, mereka malah bergerak berlawanan arah. Azmi ke kirinya, Jenar ke kanannya. Sehingga mereka justru bergerak ke sisi yang sama. Dan … bruk! Sekali lagi mereka bertubrukan. Mereka otomatis berganti arah namun malah beralih ke sisi yang sama lagi bahkan sampai tiga kali dan sebanyak tiga kali pula keduanya bertubrukan. Hingga akhirnya Azmi bergerak ke samping kiri sedangkan Jenar ke samping kanan. Dan mereka pun melangkah berlawanan arah. Jenar menuju ndalem, Azmi keluar ndalem. Azmi segera melangkah cepat menuju mobilnya. Setelah duduk di kursi pengemudi, dia memegang dadanya. Astaga, baru kali ini dia bersentuhan tak sengaja dengan lawan jenisnya. Dan rasanya entahlah. Sesuatu dalam dadanya berdebar kencang. Fiuh. Setelah menormalkan detak jantungnya, Azmi segera melajukan mobilnya. Hal serupa terjadi dengan Jenar. Sesampainya di dapur. Jenar menyandar pada dinding. Dia meraba jantungnya yang sudah jumpalitan. “Wangi ... khas cowok. Bahkan bau parfumnya lebih wangi dari parfumnya Mas Cakra yang cuma seharga lima belas ribu.” “Mbak Jeje lagi ngapain?” tanya Caca. Jenar sendiri kaget bukan main. “Eh ... Ning Caca. Anu saya ... saya ... habis teringat sama bapak dan simbok di rumah, Ning,” ucap Jenar sambil cengar cengir gaje. “Oh ... kalau gak sibuk bisa bantuin saya ya, jagain Quila. Soalnya saya ada jadwal ngajar di SMA sama di Universitas. Susunya Quila udah ada di kulkas tinggal di angetin aja. Makannya juga udah saya siapin. Biasanya jam sepuluh saya kasih biskuit kalau enggak buah. Semaunya Quila aja ya, Mbak.” “Oh. Nggih, Ning.” “Ya sudah. Quila-nya sedang bobok di kamar bawah ya. Tenang, Aslan triplet sekolahnya sampai sore. Njenengan aman dari gangguan ketiga singa kecilku. Paling saya minta tolong njenengan bantuin Umi kalau Umi butuh bantuan buat merawat Abah.” “Nggih, Ning.” “Ya sudah. Pergi dulu ya, Mbak Jeje. Semoga kerasan di sini. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Jenar melakukan tugas dengan baik yaitu menjada Quila. Jenar yang mudah akrab dengan anak kecil tak merasa kesulitan dengan Quila. Ketika tiga singa kecil pulang dari sekolahnya, Jenar langsung bisa mengendalikan ketiganya. Bahkan si duo perusuh Aidan-Azada pun bertekuk lutut pada Jenar. Mengingat selama ini banyak khadamah yang angkat tangan dalam mengasuh mereka berdua. Kalau Abrisam itu sangat kalem dan mudah dijaga namun sayang Abrisam jarang mau diurusi sama mbak-mbak khadamah. Dia lebih suka mandi dan apa-apa sendiri. Pokoknya mandiri sekali. Sehingga mbak-mbak khadamah cuma bisa gigit jari. Yah ... gagal deh colek-colek gus triplet yang cakepnya kebangetan huhuhu. Cucian deh. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD