Kembali ke Huluwulung

2747 Words
Gadis itu meraung. Matanya memutih, tubuhnya melengkung tak wajar, seakan ada tali tak kasat mata yang menarik setiap sendinya. Aku masih bisa mendengar jeritan gadis-gadis desa yang pecah di telingaku. Terlambat! Cakar panjangnya sudah menembus perut seorang anak perempuan sebayanya. Darahnya muncrat seperti cat merah dilempar ke kanvas gelap. Aku melihat perut itu koyak dan seolah dunia ikut retak. Bayangan tubuh yang bergeliat ditelan cahaya kelabu. Psstt… ini terlalu menyeramkan. Psst.. Atau… ini bukan kenyataan? Psstt… Di tengah kekacauan itu, suara yang bukan suara manusia menyusup. Serak, berat, bergema, seperti datang dari kedalaman tanah paling purba. Suara itu membelah telingaku, lalu meledak di kepalaku. “BANGUN!” Aku terlonjak bangun, nafas memburu. Tubuhku basah oleh keringat dingin, seperti habis lari jauh tanpa tahu apa yang kukejar atau kutinggalkan. Kegelapan kamar kosku masih terasa menjerat, menyimpan bayangan mimpi yang barusan menelanku hidup-hidup. Wajah itu, mata putihnya itu, kuku panjang, darah, jeritan! Semua membekas di benakku! Tanganku refleks menekan dadaku, memastikan bahwa ini nyata. Bahwa semua itu hanya mimpi. Tapi rasanya… sama. Terlalu nyata untuk sekedar bunga tidur. Aku duduk lama menatap langit-langit kamar. Hening. Hanya bunyi kipas tua yang berdecit. Dengan “senyum tipis”, senyum yang bahkan aku tahu senyum itu palsu, aku meraih guling di sebelahku. Kadang aku sadar, satu-satunya cara menahan retakan di dalam hatiku hanyalah berpura-pura tidak ada yang retak. Kupeluk guling itu erat, kugencet dengan pahaku. Seperti orang gila, aku menghibur diriku sendiri. Dan anehnya, itu berhasil bikin aku tertawa kecil. Lalu aku menggumam lembut, suara yang sengaja dibuat-buat. “Oh… Lai…” “NGREEEK!” Pintu kamar berderit. Davin nongol dengan wajah serius khasnya. “Wid… ayo kita berangkat, udah tel—” Dia berhenti. Matanya menangkap adegan absurd aku yang peluk-pelukan sama guling dengan ekspresi mabuk cinta. Davin menutup pintu pelan, mukanya kaku. Kayak orang yang baru saja melihat sesuatu yang membuatnya menutup kembali pintu kamarku dan berangkat sendirian. Akhirnya Aku berangkat sendirian ke Kampus. Siapa juga si yang ga bete pagi-pagi liat gituan. Oh iya, Aku Widar. Seorang mahasiswa dari daerah yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Bandung. Teman-temanku selalu bertanya gimana caranya aku belajar biar sepintar ini? Dan aku selalu jawab dengan ga belajar. Aku merasa ga sepintar itu makanya aku jarang belajar tapi orang lain yang selalu bilang kalo aku itu emang pintar. Ahh… pagi Bandung nggak pernah berubah. Jalanan penuh motor berderu, klakson sahut-menyahut, aroma gorengan dari gerobak kaki lima bikin perutku ikut keroncongan. Aku berjalan agak menunduk, mencoba menetralkan sisa mimpi tadi. Tiba-tiba aku berhenti. Di tengah hiruk pikuk itu, ada sosok yang berbeda. Seorang pengemis tua. Rambutnya kusut kayak serabut ijuk, janggutnya menjuntai sampai d**a. Bajunya gamis putih, lusuh, compang-camping. Di tangannya ada tasbih kayu, butirnya berbunyi klik pelan, mirip suara hujan di atap seng. Yang anehnya suara tasbih itu terdengar jelas meski keadaan sedang ramai. Mata pengemis itu menatapku lama. Keruh, tapi dalam. Seolah ada sesuatu di balik sana… sesuatu yang lebih tua daripada dunia ini. Ia mengulurkan tangan, meminta sedekah. “Ah, punten, Pak… besok ya. Lagi mepet, duh,” kataku sambil nyengir, menolak sehalus mungkin. Dia tidak marah, tidak memaksa. Hanya tersenyum tipis. Senyum yang membuat bulu kudukku meremang. Senyum yang seperti tahu lebih banyak tentang diriku daripada yang seharusnya. Aku cepat-cepat berlalu. Tapi langkahku tidak menghapus bunyi tasbih itu. Masih terdengar di belakangku. Klik… klik… klik… Kampus rame banget siang itu, kayak pasar kaget. Aku baru aja sampai, belum sempat duduk, langsung disergap pelukan keras dari belakang. “Eh si Widar kang omes (otak m***m) ini dateng juga!” suara Dessy meledak di telingaku. Rambutnya dikuncir ekor kuda, energinya seperti aki baru dicas. Dia menepuk-nepuk punggungku seakan aku tiang pancang. “Dess, atuh… mau bikin tulang rusuk aku pindah tempat?” Aku meringis, tapi masih ketawa. Resti, yang mengikuti Dessy, nyeletuk dengan nada datar, “Biarin aja. Biar nggak m***m. Pantes tiap pagi telat, ternyata sibuk pacaran sama guling.” Aku cuma nyengir, garuk-garuk tengkuk. “Aduh, rahasia negara kebongkar nih. Bahaya.” Tak jauh dari sana, Davin duduk dengan laptop terbuka. Keningnya berkerut, sibuk mengetik sambil nunjukin keahlian ke gadis di sampingnya, Laila. Laila sang kembang kampus, yang memiliki suara lembut, sopan, setiap kata kayak disaring dulu. Sesekali matanya melirik ke arahku. Dan tiap kali itu terjadi, Laila menahan tawa. Sial. Sepertinya Davin udah nyebarin kejadian pagi tadi ke orang yang paling aku nggak pengen dia tahu. Aku pun terdiam. Malu. Kami berlima duduk dalam lingkaran kecil. Davin, mantan presiden BEM dengan IPK tinggi. Aku, mahasiswa slengean tapi anehnya nilainya selalu nyaris sama. Laila, si bunga kampus. Resti dengan otak analisisnya. Dessy, ceria kayak anak matahari. Aku hanya menunduk, tenggelam di dalam lingkaran itu. Untungnya, Dessy tahu cara ngerjain aku biar balik ceria. “Hei, Widar… jadi siapa yang kamu sebutin tadi pagi?” godanya. “Apaan sih, Dess!” Aku terkejut. “Emangnya ada apa?” tanya Laila penasaran. “Itu… ehm…” Aku buru-buru nutup mulut Dessy sebelum dia bisa ngomong lebih jauh. Resti hanya menghela napas panjang. Davin menutup laptopnya. “Ayolah, kalian serius dikit!” katanya tegas. “Ini juga gara-gara maneh, Vin, yang nyebarin gosip!” balasku kesal. “Gua cuma bilang kalau gua ngeliat pemandangan buruk pagi ini!” sergahnya. Kami hampir debat lagi, sampai akhirnya Laila menengahi. Dia nggak teriak, nggak maksa. Tapi semua diam. Karena ya… begitulah persahabatan. Semakin dekat, semakin sering juga berantem. Suasana riuh mereda ketika aku bangkit dari kursi. Entah kenapa, semua langsung terdiam. Mungkin karena orang paling nggak serius di antara mereka tiba-tiba punya tatapan serius, tatapan kayak lagi lihat hantu. Mereka menoleh ke arah yang aku lihat. Di ujung koridor, di antara kerumunan mahasiswa yang sibuk lewat, ada sosok berdiri diam. Tinggi, ramping, memakai pangsi putih dan iket putih. Pakaian itu terlalu bersih, terlalu asing di tengah hiruk pikuk kampus. Aku berhenti. Jantungku berdegup tak karuan. Mataku menajam, mencoba memastikan. Sosok itu tidak bergerak, tidak bicara. Hanya menatap lurus ke arahku. Seketika, kerumunan lewat menutup pandanganku. Dan ketika lorong itu kembali kosong, sosok berpakaian putih itu sudah hilang. “Siapa tadi, Dar?” suara Dessy memecah lamunanku. Aku kaget. Jadi…aku tidak berhalusinasi?. “Yang di lorong kampus? Kamu liat kan?” Dessy mendesak, tatapannya serius. Aku diam sebentar, lalu menghela napas. “Itu Ki Wira… kepala desa Hulu Wulung.” Lingkaran kami mendadak hening. Nama itu terdengar asing di telinga mereka, tapi buatku… nama itu terlalu berat. Resti mencondongkan tubuhnya, wajahnya berkerut. “Ki… siapa?” “Ki Wira,” ulangku pelan. “Tetua di kampungku. Kepala desa. Bisa dibilang, semacam sesepuh yang dihormati.” “Terus kenapa kamu keliatan kaget banget tadi?” tanya Laila, lembut tapi tepat sasaran. Aku mencoba mencari alasan. “Kamu tahu kan, di desaku itu menganut Sunda Wiwitan?” “Terus kenapa?” Dessy langsung motong, nada suaranya lebih ke penasaran. “Ya… aturan adat di sana kalau kemana-mana teh harus jalan kaki. Jadi aku kaget aja, Ki Wira bisa nongol di kampus,” jawabku, kembali nyeleneh, berusaha menutup keresahan. Davin mengangkat alis. “Serius? Terus kenapa bisa muncul di kampus?” Aku hanya angkat bahu, pura-pura santai. Senyum miring yang bahkan aku sendiri nggak percaya. “Udah, itu nggak penting. Sekarang gimana soal PKL kita?” Davin langsung membuka laptopnya, memperlihatkan dokumen penuh angka dan diagram. Lalu ia mendongak dengan nada penuh perhitungan. “Kita harus mikirin PKL. Waktu kita tinggal sebentar lagi. Kalau asal pilih lokasi, laporan kita bakal standar. Aku nggak mau project PKL kita cuma jadi catatan kaki. Harus sesuatu yang beda, biar lulusannya nggak cuma sekadar formalitas.” Semua menoleh ke arahnya. Aku cuma menekuk bibir, setengah malas, setengah nunggu pembicaraan ini ke mana. “Aku setuju,” Resti langsung menimpali. “Kita harus cari lokasi yang masih ‘perawan’, yang belum banyak tersentuh. Kalau bisa, punya nilai sosial atau budaya.” “Exactly,” Davin mengangguk mantap. “Aku mau desa yang tertinggal bisa maju dengan project-project kita.” Laila, yang dari tadi lebih banyak diam, akhirnya bicara. Suaranya lembut, tapi kalimatnya seperti anak panah yang langsung menusuk jantungku. “Kalau begitu… kenapa kita nggak PKL di desanya Widar saja?” Meja langsung hening. Aku refleks menegakkan tubuh, mata membelalak. “Apa?!” “Kenapa?” Laila tersenyum tipis. “Dari ceritamu, desa itu masih memegang adat, belum tersentuh modernisasi. Itu kan cocok banget dengan tema kita? Bisa jadi nilai tambah besar kalau kita bisa mendokumentasikan sesuatu yang otentik.” Dessy mengangguk heboh. “Ih, iya bener juga! Aku pengen lihat, Ka, kayak apa kampung kamu. Pasti asri, kan? Tradisional banget gitu.” Aku cepat-cepat menggeleng. “Nggak, nggak. Gila aja kalian. Desa itu… bukan tempat yang bisa kalian datengin buat main riset. Bukan…” suaraku tercekat. Kata terakhir itu terlepas begitu saja. Dan mendadak semua jadi terdiam. Resti menyipitkan mata. “Maksudmu apa, Dar?” “Pokoknya, jangan.” Nadaku kali ini tegas. Lebih serius daripada biasanya. Ketegangan menggantung. Lalu Davin, dengan gaya dinginnya, kembali ambil alih. “Apapun itu, kita tetap butuh lokasi. Aku nggak peduli kampungmu cocok atau nggak. Yang jelas, dosen pembimbing kita pasti minta kepastian lokasi sebelum minggu ini.” Seolah semesta pengen ngejek aku, ponsel Davin bergetar di atas meja. Notifikasi w******p dari kampus. “Panggilan pertemuan sama rektor sore ini,” k****a cepat. “Soal penentuan PKL.” “Perfect timing,” Davin menyeringai, seakan semua ini udah sesuai rencananya. Aku cuma bisa menunduk. Rasa gelisah makin berat. *** Sore itu, kami berenam masuk ke ruang rektor. Ruangan luas, Kursi jati, cahaya sore menyusup dari jendela besar. Aku jalan paling belakang. Dalam hati, aku cuma pengen pertemuan ini cepat selesai. Tapi langkahku berhenti mendadak. Di kursi tamu, tepat di samping rektor, duduk seorang pria tua dengan rambut memutih, jubah pangsi putih. Tatapannya terlalu dalam untuk ukuran manusia biasa. Ki Wira. Aku membeku. Jantungku seakan ditusuk jarum es. Rektor mulai bicara dengan senyum lebar. “Anak-anak, kalian mahasiswa terbaik. Project PKL kalian menarik, bisa membawa perubahan besar. Tapi sulit sekali menemukan desa yang mau menerima.” Davin cepat menyambar, “Kalau begitu, apakah PKL ini hanya formalitas, Pak? Apakah tidak akan berakhir dengan perubahan yang berarti?” Rektor mengangguk pelan. “Kalian beruntung. Desa Hulu Wulung membuka diri untuk pertama kalinya. Ki Wira sendiri yang datang mengajukan kerja sama. Beliau bahkan sudah menyiapkan lahan dan fasilitas agar project PKL kalian bisa berjalan di sana.” Kalimat itu bagai palu godam menghantam kepalaku. Aku melirik ke arah Ki Wira. Dia tidak bicara. Hanya menatapku lekat-lekat. Tatapan yang sama persis seperti di lorong tadi siang. Tatapan yang menembus kulit, menembus daging. Aku ingin berteriak, menolak. Ingin bilang bahwa desa itu bukan sekadar desa. Tapi kata-kata lenyap di kerongkongan. Yang lain justru tampak girang. Laila matanya berbinar, Resti langsung menulis ide di catatan, Dessy menepuk bahuku sambil ngakak, “Wih, gokil, Ka! Kita PKL di kampung lo! Seru banget!” Davin hanya melirikku dengan senyum samar, campuran puas dan sinis. Dan di tengah semua kegaduhan itu, aku cuma bisa tersenyum. Senyum terpaksa, menahan gemuruh yang nggak bisa aku bagi ke siapa pun. *** Aku pulang dengan langkah gontai. Dadaku sesak, seakan menanggung beban yang nggak bisa aku ceritakan kepada siapapun. Semua orang, bahkan sahabat-sahabatku sendiri, lagi bersorak gembira karena PKL kami sudah dapat tempat yang dianggap ideal, Desa Hulu Wulung. Tapi buatku, desa itu bukan sekadar kampung halaman. Aku pengen nolak, pengen teriak kalau keputusan itu salah. Tapi di ruang rektor tadi, lidahku beku. Tatapan Ki Wira masih nempel di pikiranku dingin, dalam, seolah mengunci semua kata di tenggorokan. Sekarang, di jalan pulang menuju kos, cuma rasa gelisah yang terus menghantui. Kosku ada di bangunan susun tua, tiga lantai, dindingnya kusam penuh bekas tempelan iklan kontrakan dan coretan spidol. Tangga sempitnya berderit tiap kali diinjak. Aku menapaki anak tangga satu per satu menuju lantai tiga, tempat kamarku. Tapi sejak di lantai dua, aku ngerasa ada yang aneh. Setiap langkahku kayak diikuti langkah lain. Bukan cuma gema sepatuku sendiri, tapi semacam bisikan samar, mirip helaan napas panjang di tengkuk. Aku sempat berhenti, menoleh ke belakang. Tangga kosong. Pintu-pintu kamar tertutup rapat, sepi. “Halusinasi…” gumamku pelan, coba nenangin diri. Aku maksa kaki ini terus naik meski bulu kuduk berdiri. Sampai di kamar, aku langsung ngunci pintu rapat-rapat. Bersandar di baliknya dengan napas terengah. Seluruh tubuhku kayak ditindih beban tak kasat mata. Kutundukkan kepala, kututup wajah dengan kedua tangan. “Perasaan ini pasti ulah dia,” bisikku getir. Hanya satu nama yang muncul, Ki Wira. Lelaki tua itu bukan cuma kepala desa. Dia simbol dari sesuatu yang lebih besar, lebih kelam. Aku tahu, hanya orang seperti dia yang bisa bikin keputusan besar sampai PKL kami berlabuh ke desa itu. Aku mencoba menenangkan diri dengan menghela nafas segar. Aku pun berjalan ke jendela, menyingkap tirai tipis yang bergoyang kena angin malam. Begitu pandanganku terbuka, aku langsung membeku. Di luar sana, ada bayangan seseorang. Besar, tegap, rambut panjang terurai. Tubuhnya dibalut kain hitam kusam, menutupi hampir seluruh lekuk tubuh. Bayangan itu berdiri di depan jendela kamarku, padahal aku di lantai tiga! Napas tercekat. Keringat dingin ngalir di pelipis. Aku nutup mata sekejap, lalu buka lagi. Bayangan itu masih ada. Diam. Tak bergerak. Cuma matanya yang berkilat samar dalam gelap. “Bukan… manusia…” pikirku. Cepat-cepat kutarik gorden, nutup jendela rapat-rapat. Jantungku gedebak-gedebuk, seolah mau meledak. Tapi di sela panik, aku nekat ngintip lagi. Bayangan itu hilang. Yang tersisa cuma jalanan kota Bandung malam hari. Lampu jalan temaram. Suara motor lalu-lalang di kejauhan. Tapi mataku menangkap sesuatu. Tepat di bawah kos, di sisi jalan yang remang, berdiri sosok pengemis tua yang kutemui pagi tadi. Rambutnya masih kusut, gamis putih lusuhnya terayun pelan. Tapi yang bikin aku terpaku adalah senyumnya. Tenang. Dalam. Senyum seolah tahu persis apa yang barusan aku alami. Entah kenapa, senyum itu bikin gelisahku sedikit mereda. Aku menatap lama ke bawah, lalu akhirnya memberanikan diri keluar kamar. Kuturuni tangga dengan hati-hati, sampai di depan si pengemis yang duduk bersila di trotoar. Tasbih kayu di tangannya berbunyi klik pelan. “Punten, Pak… kenapa bapak ada di sini?” tanyaku pelan. “Ah hente, Bapa nuju milarian tuang,” jawabnya. (Bapak sedang mencari makan.) Aku buru-buru ngasih nasi padang yang masih ada di tasku. “Ini pak, kalau mau makan saja.” Matanya berbinar, seolah melihat sesuatu yang sudah lama dia rindukan. Dia langsung makan lahap, tanpa basa-basi. Aku cuma bisa tersenyum melihatnya. Di tengah kunyah nya, dia menoleh. Menatapku dengan mata keruh yang anehnya terasa hangat. “Naha anjeun katingali bingung, nak?” (Kenapa kamu terlihat bingung, nak?) Suaranya serak tapi jernih, dia memakai bahasa Sunda halus, bahasa yang bahkan jarang dipakai orang Sunda sehari-hari. Aku ragu-ragu. Biasanya aku nggak gampang cerita ke orang asing. Tapi entah kenapa, bibirku malah terbuka. Kuceritakan soal PKL kami di Hulu Wulung. Tentang keresahanku, tentang adat di sana yang penuh hal-hal aneh. Hal-hal yang nggak bisa kujelaskan gamblang, bahkan ke sahabatku sendiri. Aku takut, budaya desa itu bakal menghancurkan persahabatan kami. Takut mereka semua bakal ninggalin aku. Pengemis itu mendengarkan tanpa menyela. Lama sekali ia diam, sebelum akhirnya berbisik lirih, “Lamun bener-bener sobat, manusa moal ninggalkeun sobatna. Tapi lamun aya anu nyumputkeun jahat di haténa… hartina lain sobat nu sajati.” (Kalau sahabat sejati, mereka tidak akan meninggalkanmu. Tapi kalau ada yang menyimpan kebusukan di hatinya, berarti mereka bukan sahabat sejati.) Kata-kata itu sederhana. Tapi bagai pisau menusuk batinku. Aku langsung teringat Davin dengan ambisinya, Laila dengan tatapannya yang penuh rahasia, Dessy dengan keceriaannya, Resti dengan ucapannya yang selalu nyelekit tapi jujur. Aku menunduk. Tak bisa balas kata-kata itu. Saat aku hendak pamit, pengemis itu tiba-tiba menahan pergelangan tanganku. Tangannya dingin. Keras. Seperti kayu tua. Dari genggamannya, ia menyerahkan sesuatu. Sebuah tasbih kayu. Lebih besar dari tasbih biasa. Butir-butirnya berat saat kugenggam. Aku terdiam. Ingin bertanya lebih banyak, tapi lidahku kelu. Aku hanya bisa menerima tasbih itu, menunduk dalam-dalam. Dan saat aku mendongak lagi, pengemis itu sudah hilang. Malam itu, ketika aku kembali ke kamar, ada sesuatu yang berubah. Bukan ketenangan. Bukan pula jawaban. Tapi firasat… bahwa masa depanku bukan lagi milikku sendiri. Malam itu aku berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar kos yang kusam. Tasbih kayu pemberian si pengemis masih kugenggam erat, butirnya dingin, berat, seakan menekan nadi di pergelangan tanganku. Setiap kali kupejamkan mata, bayangan wajah Isna dan tatapan kosong Ki Wira saling tumpang tindih seperti layar televisi rusak, berkelip dan bergetar di dalam kepalaku. Aku ingin percaya semua ini hanya mimpi buruk yang kebetulan datang bersamaan. Tapi jauh di lubuk hatiku, aku tahu… mimpi itu hanyalah pintu, dan pintu itu sudah terbuka. Apapun yang menunggu di baliknya, aku tidak bisa lagi menghindar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD