Aku berjalan di sebuah rumah yang gelap. Udara dinginnya menusuk kulit, seakan tiap tarikan nafas membawa masuk kabut hitam yang melayang di udara. Langkahku pelan, berat, seperti ada beban tak terlihat di pergelangan kaki.
Di ujung ruangan ada seorang wanita duduk di kursi goyang, punggungnya menghadapku. Kursi itu bergerak pelan, kreeek… kreeek…, bunyinya seperti papan kayu yang protes dipaksa menahan rahasia. Rambut wanita itu tergerai panjang, kusut, dan aku bisa merasakan tulang punggungku kaku begitu menyadari sesuatu. Siluet tubuhnya… mirip Isna, adikku yang sudah lama tiada.
Aku ingin mendekat. Ingin memastikan wajahnya. Ingin tahu apakah benar dia Isna, sosok yang sampai sekarang masih menghantui tiap malamku.
Tapi sebelum aku sempat meraih bahunya, wanita itu menghentikan kursinya. Gerakannya mendadak, tak wajar. Ia menoleh setengah, dan sebelum wajahnya terlihat jelas, suara itu datang.
“BANGUN!”
Aku terlonjak.
Mataku terbuka, dan aku mendapati wajah Kang Bagja tepat di sampingku. Tangannya menepuk pundakku keras, bikin jantungku mau copot.
“Heh, teu naon-nano, Wid?” tanyanya heran, logat Sundanya kental.
Aku masih setengah linglung. “Ah, e-eh… teu nanaon, Kang.” Suaraku serak, kupaksa senyum.
Baru saat itu aku sadar, aku duduk di kursi depan mobil. Dan Kang Bagja, dengan tangan kasarnya, sedang mengendalikan setir. Mobil itu berguncang kecil setiap kali roda menghantam lubang jalan.
Di kursi belakang, aku bisa melihat Davin yang khusyuk menatap peta dan laptopnya, Dessy yang sibuk ngoceh tentang apa pun yang ada di luar jendela, Resti dengan earphone tapi sesekali ikut nyeletuk, dan Laila… duduk paling dekat dengan kaca, matanya menatap keluar, adem seperti biasa.
“Biarin aja, Kang,” Davin nyeletuk tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Widar tuh kalau tidur suka aneh.”
Aku ingin protes, tapi malas. Toh mereka udah kebal dengan segala keanehanku.
Mobil itu terus melaju menembus jalan yang semakin sepi. Bangunan kota lama-lama hilang, berganti dengan hamparan sawah dan bukit yang samar terlihat di kejauhan. Angin terasa lebih lembab, seperti membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram hujan.
Tapi jantungku belum sepenuhnya tenang. Karena kami sedang menuju tempat kami akan PKL, tempat aku dibesarkan tempat yang aku ingin hindari namun semua seperti diarahkan kembali kesini ke desa Hulu Wulung.
***
Perjalanan terasa panjang sampai akhirnya mobil berhenti di ujung jalan aspal. Di depan sana, aspal hitam yang mulus berakhir begitu saja, berganti dengan jalan tanah lebar yang hanya ditumbuhi rerumputan liar dan akar-akar pohon yang menyembul.
Aku menelan ludah. “Udah sampai sini aja, Kang?”
Kang Bagja mengangguk dan tak mengucapkan hal apapun seolah mengerti hal lain yang Rak atak bisa ucapkan.
“Dari sini kita jalan kaki” ucapku pelan pada teman-temanku.
Dessy langsung protes, “Hah?! Jalan kaki? Sejauh apa, Dar?”
“Cuman bentar ko.” aku berusaha menenangkan mereka sembari berpamitan dengan Kang Bagja yang kembali memutar arah.
Kami turun dari mobil. Angin desa langsung menyergap, membawa aroma campuran tanah basah dan daun kering. Jalan setapak membentang di depan, dinaungi pepohonan besar yang saling menutup, membuat cahaya matahari sore hanya masuk dalam garis-garis tipis.
Satu demi satu kami melangkah.
Aku berjalan paling depan, entah kenapa.
Suasana menjadi hening, obrolan menjadi buntu karena kehabisan topik saat didalam mobil. Tiba-tiba Laila angkat suara, nada bicaranya tenang tapi penuh ingin tahu. “Kenapa Kang Bagja nggak ikut antar kita sekalian sampai desa?”
“Dia udah ga boleh masuk desa lagi.” jawabku pelan.
“Kenapa, bukanya Kang Bagja juga warga Desa?” Tanya Dessy penasaran. Resti sampai melepas earphonenya, sementara Dessy berhenti menatap alam sekitar.
Aku menjelaskan bahwa memang Kang Bagja dulunya warga Hulu Wulung, tapi dia sudah dianggap warga luar. Berbeda denganku yang keluar untuk mencari ilmu, Kang Bagja menikah dengan warga luar yang melanggar adat. Aku berhutang banyak kepada Kang Bagja, karena tanpanya aku takan bisa bersekolah setinggi ini.
Kami terus melangkah menyusuri jalan hingga tak terasa memasuki tengah hutan sebelum sampai desa Hulu Wulung. Saat itulah aku sadar sesuatu. Di sisi kanan jalan, ada cabang jalan lain. Tapi jalan itu tak seperti jalan biasa. Sebuah pagar bambu membentang rendah, dan di baliknya tumbuh pepohonan tinggi yang rapat. Dari kejauhan aku bisa melihat ada semacam papan kayu, ditulisi huruf-huruf Sunda Buhun yang aku kenali samar-samar.
“Widar, itu apa?” Laila menunjuk ke sana.
Aku berhenti. Tenggorokanku mendadak kering. “Itu… hutan larang.”
“Hutan larang?” Dessy memiringkan kepala. “Apa itu kayak… hutan lindung gitu?”
Aku menggeleng. “Bukan. Itu hutan yang bahkan orang desa pun nggak boleh masuk.”
“Kenapa?” Tanya Davin.
Aku menahan napas sebentar, lalu menjawab singkat, “Pokoknya jangan tanya. Kita lanjut jalan aja.”
Meski aku berusaha tenang, bulu kudukku sudah meremang. Ada desis samar dari arah hutan itu, seperti suara orang berbisik, tapi terlalu jauh untuk jelas.
Akupun mempercepat langkah.
***
Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, kami akhirnya sampai di sebuah titik terbuka. Dari sana, aku bisa melihat Desa Hulu Wulung dari kejauhan.
Pemandangan itu… dari dulu aku merasa aneh.
Di satu sisi, desa itu tampak indah, persawahan hijau membentang luas, rumah-rumah panggung dari kayu berdiri rapi, dan jalan setapak dari batu tersusun menuju ke dalam desa. Tapi entah kenapa, ada sesuatu yang membuat semua itu terasa terlalu rapi. Terlalu… sempurna.
Seperti ada tangan tak kasat mata yang menata tiap detailnya.
Davin langsung mengeluarkan kameranya, wajahnya sumringah. “Ini… ini luar biasa! Kalian lihat? Ini desa dengan nilai budaya otentik. Perfect banget buat PKL kita!”
Dessy juga melompat kecil, kegirangan. “Astaga, kayak di film-film! Aku nggak sabar pengen masuk ke sana.”
Aku hanya berdiri mematung, menatap desa itu dari kejauhan.
***
Langkahku terasa berat begitu melewati gerbang kayu raksasa itu. Gerbang yang berdiri menjulang, lebih tinggi dari pohon kelapa, dibuat dari batang jati tua berwarna hitam keemasan, dengan ukiran aksara Sunda Buhun yang tak bisa aku baca sama sekali. Di bagian bawahnya ada sesajen berupa bunga kantil, kelapa muda, pisang raja, dan sebatang dupa yang masih mengepulkan asap tipis.
Bau kemenyan bercampur tanah lembab membuat tenggorokanku kering. Aku menelan ludah, mencoba menenangkan d**a yang terus berdebar. Dari balik kabut tipis sore itu, kulihat mereka, anak-anak kecil berbaris rapi di sisi kiri dan kanan jalan. Laki-laki mengenakan pangsi putih dengan sinjang yang dililitkan di pinggang, sementara perempuan memakai kemben putih yang sederhana, rambut mereka disanggul dengan bunga kantil yang baunya menusuk.
Senyum mereka terlalu lebar. Terlalu seragam.
“Selamat datang…” suara kecil mereka terdengar lirih, tapi karena serempak, justru membuat bulu kudukku berdiri.
Sebelum aku sempat menjawab, salah satu anak maju. Ia mengalungkan bunga melati ke leherku. Kelopaknya basah, entah karena embun atau sesuatu yang lain. Aku merasa dingin menjalar ke kulit leherku, seperti disentuh tangan yang tak bernyawa. Nyi laras membakar akar-akaran hingga berasap dan asapnya dia kelilingkan ke arah kami.
Dessy cekikikan kegirangan, “Ih, kaya turis aja kita, Ka!” katanya sambil memamerkan kalung bunganya.
Aku hanya bisa memaksakan senyum. Karena mataku tak bisa lepas dari sosok yang berdiri di ujung jalan, menungguku.
Ki Wira.
Ia berdiri tegak, mengenakan pangsi putih lengkap dengan iket kepala berwarna hitam. Di tangannya ada tongkat kayu dengan ukiran kepala naga. Wajahnya tenang, tapi senyumnya… senyum itu terlalu lama. Tidak pernah pudar, bahkan saat matanya menatap lurus menembusku. Ada sesuatu di balik tatapan itu, sesuatu yang membuat perutku mual.
“Wilujeng sumping,” Ki Wira akhirnya bicara, suaranya dalam, berat, seperti berasal dari tanah itu sendiri. “Kalian bukan lagi tamu. Kalian adalah bagian dari kami.”
Kata-katanya membuat udara semakin dingin.
Tabuhan kendang mulai terdengar. Diikuti suling bambu dan bonang yang dipukul pelan, menghasilkan alunan gamelan Sunda. Tapi bukan nada riang, melainkan ritme berulang yang monoton, seperti mantra. Dari arah balai desa, sekelompok penari muncul.
Mereka bergerak lambat, tangan terulur, kaki melangkah setengah mengambang. Kain putih panjang yang melilit tubuh mereka sesekali menyentuh tanah, meninggalkan bekas debu. Aku menatap terpaku, karena setiap gerakan itu terlihat begitu indah sekaligus… asing. Bukan tarian penyambutan biasa. Ada bagian di mana mereka menunduk serendah mungkin, lalu menatap lurus ke arah kami, dengan mata melotot seakan ingin menelan.
Resti berbisik di sampingku, “ko agak serem ya...”
Aku mengangguk kecil, tapi tak menjawab.
Kami digiring menuju balai desa, bangunan kayu besar dengan atap julang ngapak khas Sunda. Atap yang melebar seperti sayap burung. Tiang-tiang kayunya tebal, dihiasi ukiran motif kawung. Di bagian depan, dua menhir batu berdiri, di atasnya ada sesajen baru, ayam hitam yang sudah dipotong kepalanya, darahnya masih menetes di wadah anyaman bambu.
Aku memalingkan wajah cepat-cepat. Teman-temanku tampak terlalu sibuk mengagumi “keunikan budaya” untuk menyadarinya.
Di dalam balai, kami dipersilakan duduk bersila di atas tikar pandan. Aroma dupa semakin pekat. Ki Wira berdiri di depan, di kursi ukiran jati yang lebih mirip singgasana. Di belakangnya ada kain putih besar dengan simbol matahari, bulan, dan huruf-huruf Buhun yang tak bisa kuterjemahkan.
“Anak-anakku…” suara Ki Wira menggema di ruangan itu. “Kalian datang membawa harapan. Hulu Wulung adalah tanah yang murni, dan dengan kedatangan kalian, tanah ini akan semakin… sempurna.”
Aku merasakan tenggorokanku tercekat. Kata “sempurna” keluar dengan nada yang aneh, terlalu panjang, seolah punya makna ganda.
Davin, tentu saja, tampak terpesona. Ia bahkan bertepuk tangan kecil, mengangguk-angguk seperti mahasiswa teladan yang mendengar dosennya. Resti hanya mencatat dengan serius, sementara Dessy sibuk melirik makanan yang tersaji di depan.
Ya, makanan itu.
Di tengah balai, meja panjang penuh dengan hidangan tradisional, nasi liwet dalam kastrol tanah liat, ayam bakakak, pepes ikan mas, lalapan segar, sambal terasi, sampai kue basah berwarna-warni. Indah, melimpah, seperti pesta besar.
Tapi ada yang salah.
Tumpeng nasi kuning di bagian tengah terlalu tinggi, dihiasi bunga kantil dan melati, bukan hiasan makanan biasa. Dan aku bersumpah, saat melihat lebih dekat, ada noda merah kecoklatan di bagian dasar tumpeng itu.
Aku menutup mulut, mencoba menahan rasa mual.
Ki Wira mempersilahkan kami makan. Semua langsung menyambut dengan semangat, tertawa, bersulang dengan gelas berisi bandrek hangat. Aku juga ikut menyuap sedikit nasi liwet ke mulut, tapi rasanya hambar. Lidahku seolah menolak.
Saat menoleh ke arah Ki Wira, aku melihatnya tersenyum. Kali ini senyumnya lebih lebar.
Selesai makan, aku mengira acara berakhir. Tapi ternyata belum.
“Sekarang,” ujar Ki Wira dengan suara yang lebih lembut, “kita bersihkan diri. Agar anak-anakku bebas dari kotoran dunia luar.”
Aku menelan ludah.
Kami digiring keluar balai desa. Jalan setapak dari batu membawa kami ke arah sungai. Bulan baru naik, dan cahaya perak menimpa permukaan air, membuatnya berkilau seperti kaca retak. Di tepian sungai sudah menunggu para sesepuh, membawa kendi tanah liat berisi air bunga.
Laki-laki dan perempuan dipisahkan. Aku berjalan bersama Davin, mengikuti arahan.
Kami diminta melepas baju luar, hanya memakai kain putih tipis yang sudah disiapkan. Kain itu dingin, basah, seakan baru direndam. Aku menggigil, berdiri di sungai setinggi lutut. Airnya begitu dingin, menusuk tulang.
Tabuhan gamelan masih terdengar dari kejauhan, ritmenya semakin cepat. Sesepuh mulai menyiramkan air ke tubuh kami. Setiap tetes terasa seperti pisau kecil di kulit.
Aku menengadah, mencoba menahan napas, dan… aku melihatnya.
Di atas pohon beringin besar di seberang sungai, ada sesuatu. Bayangan hitam, besar, matanya berkilat merah. Air liur menetes dari mulutnya, jatuh ke permukaan sungai. Sekejap aku merasa air di sekelilingku berubah lebih lengket.
Aku mundur setapak, tapi tak ada yang lain menyadari. Seolah hanya aku yang bisa melihat makhluk itu.
“Wid, gapapa?” Davin bertanya, menepuk bahuku.
Aku ingin menjawab, tapi mulutku kelu. Aku hanya mengangguk.
***
Prosesi selesai. Kami diberikan kain kering, lalu kembali ke desa. Aku masih bisa mendengar kidung Sunda kuno dilantunkan para sesepuh di tepi sungai. Lagu itu tak kunjung berhenti, bahkan ketika kami sudah jauh meninggalkan tempat itu.
Aku berjalan dengan langkah berat, kalung bunga di leherku makin terasa mencekik. Saat kami hampir sampai di balai desa, aku menoleh ke samping. Laila tampak pucat, Resti masih diam, Dessy tetap heboh bercerita soal makanan tadi.
Dan Davin…
Davin tidak ada.
Aku berhenti, menoleh ke belakang. “Vin?” panggilku.
Tidak ada jawaban.
Aku berbalik sepenuhnya. Jalan setapak kosong. Hanya ada kabut tipis, dan… sesuatu di tanah.
Kalung bunga. Kalung yang tadi dipakai Davin, tergeletak basah, seperti baru saja jatuh.
Jantungku berdetak semakin kencang. Aku menunduk mengambilnya, tapi saat tanganku hampir menyentuh, aku melihatnya. Bayangan hitam merayap cepat ke dalam pepohonan, meninggalkan suara lirih seperti desahan.
Aku tercekat. Nafasku hilang.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak pulang ke Hulu Wulung, aku sadar, tidak ada jalan keluar dari sini.
***