CHAPTER 1
"Oppa saranghae..."aku tersenyum menatap kedua manik mata sendu pria tampan di hadapanku.
Oppa Gong Yoo, artis idola ku kini tengah berdiri di hadapanku dengan senyum manisnya dan lesung pipi di kedua sudut bibirnya.
Mataku beralih turun, menatap d**a bidang yang top less dengan roti sobek melekat di tubuh sexy nya.
Oh my God...air liurku hampir menetes disuguhkan pemandangan indah yang tersaji di hadapanku.
Mimpikah ini?
Ku majukan tanganku, ku beranikan diri untuk meraba d**a bidang sexy makhluk Tuhan dihadapanku itu.
Oppa Gong Yoo masih mengembangkan senyumnya memandangku yang masih takjub memujanya.
Ups...jantungku berdebar kencang tidak karuan serasa akan lompat dari rongga dadaku.
Dada bidang nan sexy itu begitu WOOOWWWW...
Langsung saja ku peluk tubuh pria sexy di hadapanku itu,ku tutup kedua mataku dan ku letakan wajahku tepat di dadanya yang topless, menghirup aroma maskulin yang menyeruak dari tubuhnya.
Aku dapat merasakan detak jantungnya dan hembusan nafasnya yang teratur.
Tapi tunggu...
Bagaimana ini bisa terjadi?
Apakah aku sekarang sedang berada di Korea?
Ataukah oppa Gong Yoo yang mendatangiku ke Indonesia?
Aku membuka mataku, namun kenapa ini?
Kenapa sulit sekali?
Ada apa denganku?
Dengan sekuat tenaga sekali lagi aku membuka mataku.
Aaahhhh..syukurlah, akhirnya terbuka juga.
Aku kembali tersenyum, ini nyata...
Oppa Gong Yoo masih di hadapanku dengan tubuh toplessnya dan tentunya aku masih dalam keadaan memeluknya.
Tapi...kenapa sekarang kami berada di atas ranjang?
Kapan aku berganti posisi seperti ini?
Ku dongakkan wajahku memandang pria yang kini sedang berbaring di sampingku?
"Aaaaaaaa...."
Aku melonjak kaget, ku tarik tanganku dari tubuh pria yang tidur di sampingku setelah aku melihat wajahnya.
Jantungku berdebar kencang, bingung, kaget dan panik, akupun terduduk.
Namun kesadaran ku segera kembali, ku tarik selimut yang hampir terlepas dari tubuhku.
Apa apaan ini?
Kemana seluruh pakaian ku?
Dan...kenapa bisa pria ini yang berada di sampingku? Dimana oppa Gong Yoo? batinku bingung.
Ku edarkan pandanganku, mencoba mencari jawaban bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini.
Tiba tiba pria yang tengah tidur di sampingku pun menggeliat, seperti nya ia mulai sadar atau mungkin kaget karena teriakanku tadi.
"Berisik sekali." ucapnya datar sambil mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya matahari yang mulai masuk lewat jendela kamar.
Aku menoleh ke arah pria di sampingku, ia bangkit dari posisi tidurnya dan duduk walau masih dalam keadaan mata terpejam.
"Uncle! Kenapa uncle...maksudku kita...."Aku tergagap, bingung harus mulai dari mana.
Namun bukannya menjelaskan, pria itu malah turun dari atas ranjang dan berjalan melenggang meninggalkanku.
Aku membuang pandanganku, pria itu turun dari atas ranjang dan berjalan tanpa menyadari kalau dirinya tidak mengenakan sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.
Oh Tuhan...gila rasanya....
Aku kembali mengedarkan pandanganku, mencari selembar pakaian yang mungkin bisa ku kenakan.
Mataku menangkap sebuah kaos putih polos tergeletak di atas lantai.
Saat aku mulai turun dan berjalan untuk mengambil kaos yang tergeletak di atas lantai, ku rasakan tubuhku seperti remuk tak bertenaga, setiap persendian terasa lolos dari tempatnya dan...di bagian pangkal pahaku, lebih tepatnya di bagian inti tubuhku, terasa begitu nyeri dan perih sekali.
Apa aku...
Aku menggeleng gelengkan kepalaku, mencoba menghilangkan pikiran negatif kemungkinan yang terjadi padaku.
Segera saja ku ambil dan ku kenakan, sangat besar hingga pas menutupi seluruh tubuhku bahkan hampir sampai ke lutut.
Kembali ku edarkan pandanganku, mencari di mana tas atau telephone genggam milikku.
Namun sebelum ku temukan, pria itu telah keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basahnya dan tubuhnya yang telah berbalut bathrob.
Mata kami saling beradu.
"Mandilah, bersihkan tubuhmu." dangan nada datar dan masih dingin seperti biasanya, pria itu berkata padaku.
"Uncle bisa jelaskan apa yang terjadi?"
Kata kata itu akhirnya keluar dari bibirku, walau tubuhku masih bergetar, kaki ku seolah tidak kuat untuk menumpu tubuhku yang masih lemas.
Mataku masih menatap kedua manik mata pria yang berdiri di hadapanku.
Darrel Alexander Abraham, pria yang ku panggil 'uncle', dia adalah paman dari teman sekolah ku, David Marchello Abraham.
Entah bagaimana bisa kami berdua berakhir dalam keadaan...
Aahhhh...sulit sekali aku mengatakan nya.
Darrel menuntun tubuhku untuk duduk di atas sofa dekat jendela dan aku menurut.
Aku menunggu penjelasan darinya.
Setelah beberapa menit keadaan hening, akhirnya Darrel menghela nafas nya sesaat kemudian mulai membuka suaranya.
"Apa kau ingat semalam kita bertemu di balkon?"
***FLASHBACK ON***
David mengundang seluruh teman kelasnya di kampus untuk datang ke mansion milik pamannya.
Dia mengadakan pesta untuk merayakan hari pertama masuk kuliah.
Pesta yang begitu meriah dengan musik yang keras di gelar di ruang tengah serta ruang tengah mansion.
David sengaja memilih tempat pamannya karena memang pria itu tinggal sendiri di mansion megah yang berada di pinggiran kota.
David Marchello Abraham adalah anak tunggal dari pasangan Tonny Marchello dan almarhumah Lidya Abraham.
Sedangkan Darrel adalah adik bungsu dari Lidya, mommy David.
"Silakan dinikmati pestanya..." sebagai tuan rumah David mempersilakan teman teman kuliahnya yang telah datang ke pestanya.
"Naomi...akhirnya kau datang"
David memeluk Naomi Khanaya, teman kampusnya sekaligus gebetannya yang telah incar semenjak ia duduk di bangku kelas tiga akhir.
Gadis biasa namun cerdas itu adalah pindahan dari luar kota.
Tanpa sengaja ia mengenal David saat ayah pria itu mencarikannya guru pembimbing yang mau dengan sabar mengajari putranya yang manja dan pemarah.
Karena itulah David bisa mengenal Naomi, jatuh cinta dengan kesederhanaan, kecerdasan dan kegigihan gadis itu.
David tergila gila pada Naomi dan berharap bisa bersama dengan gadis itu.
Naomi tersenyum, dengan balutan dress warna peach sepanjang lutut tanpa lengan, Naomi memang terlihat cantik.
Tak lupa ia menggerai rambut panjangnya, tak ingin susah susah berdandan karena memang ia tak begitu suka melakukannya.
"Hai Dave..."sapa Citra, gadis cantik yang datang bersama Naomi, sahabat Naomi juga teman sekelas David.
David tersenyum sesaat pada gadis itu, kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Naomi.
"Silakan masuk dan nikmati pestanya."
David mempersilakan kedua gadis itu masuk ke dalam Mansion.
Bukan pertama kalinya Naomi datang ke mansion milik paman David.
Mereka sering mengerjakan tugas bersama atau saat Naomi memberikan bimbingan pelajaran pada David selalu di mansion milik pamannya itu.
Namun Naomi begitu takjub dengan isi dalam mansion yang begitu besar mewah dan megah itu yang di rubah menjadi tempat pesta layaknya bar.
Keluarga David memang terkenal dalam jejeran keluarga berada.
"Pestanya ramai sekali ya Ci..."
Citra mengangguk, walau gadis itu telah terbiasa dengan pesta pesta namun tetap saja takjub dengan apa yang dilihatnya kali ini.
Berbeda dengan Naomi, gadis itu terbiasa hidup dengan sederhana, ia hanya melakukan aktifitas sewajarnya anak seusianya.
Baginya itu sudah lebih dari cukup untuknya yang hanya seorang yatim piatu.
"Mau minum apa?" tanya bartender saat kedua gadis itu duduk di sebuah minibar.
"Apapun yang bisa membuat senang..."jawab Citra setengah berteriak karena musik memang sudah terdengar amat kencang di telinga.
"Baiklah...silakan..." bartender menyodorkan dua gelas kecil berisi minuman yang pastinya beralkohol.
"Terimakasih.."
"Ci...aku tidak minum ini..." bisik Naomi.
Citra mengerutkan dahinya, menatap bingung pada sahabatnya itu.
"Kenapa? Ini enak...kau harus mencobanya..." Citra menyodorkan gelas yang sudah di hidangkan bartender di atas meja kepadanya.
"Bisakah aku minta orange jus saja?"
Bartender mengangguk, tak lama segelas orange jus terhidang di meja mini bar.
"Kalian tidak turun berdansa?" tiba tiba David muncul dari belakang Naomi dan merangkul gadis itu.
Naomi terkesiap, kemudian buru buru melepaskan rangkulan tangan David.
"Aku disini saja." jawab Naomi.
"Bagaimana kalau kau turun denganku?" Citra menawarkan diri.
David dengan berat hati mengangguk, di teguknya gelas berisi wiski milik Naomi dalam sekali tenggak, kemudian turun melantai dengan Citra.
Naomi hanya memandang teman temannya yang sedang asyik berpesta.
Sebenarnya ia juga menikmati pesta yang di adakan David, hanya saja gadis itu belum terbiasa.
Tubuhnya masih kaku dihadapkan dengan suasana seperti.
Dilihatnya Citra begitu menikmati berjoget berhadapan dengan David.
Mereka bahkan berkali kali berjoget sembari meneguk minuman yang di bawa oleh pramusaji yang sedang berkeliling.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 00.23 pagi.
Sepertinya sudah satu jam lebih Naomi berada di pesta David.
"Dave, sudah pagi. Aku pamit pulang."
David memutar pandangannya, pestanya belum usai, bahkan teman temannya semakin ramai berdatangan.
Dengan sempoyongan David tersenyum memandang Naomi.
"Tunggulah di balkon atas, ada yang ingin aku sampaikan padamu..."
Naomi mengangguk, David memang mengatakannya tadi siang saat memintanya datang ke pesta yang akan ia adakan, pria itu akan mengatakan hal penting pada Naomi.
Maka dari itu Naomi setuju untuk datang.
"Bawalah, dan tunggu aku sebentar." Naomi menerima segelas orange jus yang di sodorkan David.
Dan iapun berlalu, berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.
Gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari tempatnya untuk duduk begitu tiba di balkon.
"Uncle..." gumamnya begitu ia mendapati Darrel yang tengah duduk di sofa ujung balkon.
Angin malam menerpa rambut pria tampan itu, tubuhnya hanya berbalut kaos oblong putih tipis namun seperti nya ia tak merasa kedinginan sedikitpun.
Naomi berjalan mendekati Darrel.
"Sedang apa sendirian disini uncle? Tidak turun ke bawah?"
Darrel tetap hanya diam, ia meneguk botol minuman yang berada di tangannya dengan tatapan kosong.
Naomi sudah terbiasa dengan sikap pria itu, karena ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan paman dari teman sekolahnya itu.
Naomi menghela nafasnya, meneguk orange jus yang berada di tangannya hingga hampir tak tersisa.
Pandangannya tertuju pada taman bunga yang terbentang cantik terlihat dari atas balkon.
Balkon berada agak jauh dari ruang tengah tempat pesta sehingga musik keras disana hampir tak terdengar sampai ke balkon.
Tiba tiba nafas Naomi naik turun, ia merasakan dadanya sedikit sesak dengan udara dingin balkon yang tiba tiba saja berubah menjadi panas.
Jantungnya berdebar begitu kencang, dan tubuhnya bergetar aneh, entah perasaan apa yang sekarang dirasakannya, tiba tiba matanya berkabut.
Naomi memegang pagar pembatas di balkon, tubuhnya seolah melayang hampir terlepas dari gravitasi bumi.
Bahkan gelas yang berada di genggamannya pun lepas terhempas ke lantai.
Darrel menoleh ke arah Naomi.
Tubuhnya bangkit dari posisi duduknya dan langsung menghampiri Naomi.
Menangkap tubuh gadis itu yang hampir terjatuh ke lantai.
"Hei...hei..." Darrel menepuk nepuk pipi Naomi.
"Uncle..." desah Naomi memanggil Darrel
"Hei...kau kenapa?" dengan wajah agak panik Darrel terus saja menepuk nepuk pipi Naomi agar gadis itu tetap tersadar.
Namun tiba tiba Naomi justru menarik tengkuk leher pria itu dan langsung menyambar bibir sexy Darrel.
Darren membulatkan matanya, terkesiap dengan tindakan tiba tiba yang di lakukan Naomi.
Pria itu berusaha melepaskan rangkulan tangan Naomi namun ia justru malah terbuai dengan bibir ranum gadis itu.
Darrel membalas ciuman Naomi dan mereka larut saling membalas tautan bibir masing masing.
***