CHAPTER 27

1664 Words
Naomi terus menundukan wajahnya, tak berani menatap Darrel sejak setengah jam yang lalu mereka keluar dari pusat perbelanjaan. 'Bodoh bodoh bodoh kamu Naomi' umpatnya dalam hati. Namun Darrel tak hentinya melebarkan senyumnya, ini pertama kalinya Naomi memuji dirinya tampan. Mereka berdua berjalan menyusuri pantai sambil bergandengan dalam diam. Hanya suara angin dan desir ombak yang mengiringi langkah mereka. "Naomi.." "Hmmm..." Naomi gugup melirik ke arah Darrel yang tak hentinya mengulum senyum. "Itu..." "Apa?" "Apa saya tampan?" Naomi terdiam, harusnya pria itu tak perlu membahasnya lagi, karena itu sudah jelas. Pastilah Naomi bukanlah orang pertama yang memujinya seperti itu, tapi kenapa reaksi Darrel begitu berlebihan? Seperti ABG yang baru jatuh cinta saja. "Hmmm..." jawabnya singkat. "Apa? Saya tidak dengar." "Hmmmm..." Naomi sengaja mengeram sedikit keras, namun di jawab kekehan oleh pria tampan di sampingnya itu. Darrel merangkul pundak Naomi, merapatkan tubuhnya dan merasakan tubuh Naomi bergetar. Gadis itu pasti merasa malu mengakuinya. "Kita makan disana ya..." Naomi hanya mengangguk, ia sedang malas bicara atau berdebat dengan Darrel, perasaannya sedang campur aduk sekarang. Mereka duduk di sebuah restoran di pinggir pantai. Hari ini pengunjung begitu ramai, untunglah Naomi dan Darrel mendapat tempat untuk duduk tanpa reservasi. Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawakan buku menu. Naomi menyerahkannya pada Darrel, apapun pilihan pria itu ia mengiyakan. Setelah kepergian pelayan tersebut, Naomi kembali diam. Ia sibuk dengan perdebatan di hati dan pikirannya sendiri. Alunan musik yang di sajikan penyanyi di panggung latar, menambah suasana romantis malam itu. Darrel terus memandang wajah Naomi, masih dengan senyum di bibirnya. "Urusan ku disini besok selesai, jadi kita masih ada waktu sehari untuk berlibur. Apa kamu mau saya memperpanjang liburan kita Naomi?" "Aku ada kuliah kak, kalau tahu lama seperti ini, aku tidak jadi ikut." ucap Naomi dengan nada ketus. Darrel tidak tahu kenapa suasana hati Naomi cepat sekali berubah. Kadang gadis itu manis sekali pada nya, namun tiba tiba berubah cuek dan ketus seperti ini. Tak lama kemudian pelayan mendatangi mereka, membawakan makan malam yang telah Darrel pesan. Pria itu mengeluarkan selembar uang ratusan ribu kepada pelayan tersebut, dan setelah di terima pelayan tersebut mengangguk dan pamit permisi. Naomi masih membuang pandangannya ke arah pantai. Matanya terpejam menikmati alunan lagu yang di perdengarkan seorang penyanyi pria di restoran tersebut. "Makan dulu Naomi." Tersaji di meja sate, bebek betutu dan nasi campur, serta dua gelas orange jus dan air mineral. Naomi menatap makanan yang tersaji di meja, bebek betutu salah satu makanan favorit ayahnya. Gadis itupun mengambil sendok dan garpunya kemudian mulai menikmati makanannya. Darrel seketika tersenyum, setidaknya gadis itu bisa makan terlebih dahulu sebelum meneruskan aksi ngambeknya. "Ngomong ngomong kak Mario dan pak Anthony kemana kak? Aku belum melihatnya dari tadi sore." "Mereka sedang bersenang senang sekarang. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka." "Siapa juga yang mengkhawatirkan para perjaka tua itu. Mereka tentunya tidak akan melewatkan malam indah di Bali." "Mereka belum terlalu tua Naomi. Kami baru 25 tahun." "Iya ...oom oom..." Naomi menelan habis bebek betutunya dengan lahap tanpa menyisakan sedikitpun. Darrel terus memperhatikan Naomi, ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Saya tidak menyangka." "Kenapa?" "Bibir kamu begitu kecil tapi muat segalanya." "Kenapa? Menyesal? Belum terlambat untuk mundur." "Naomi..." "Hmmmm..." Naomi mengambil setusuk sate dari piring kemudian menggigitnya. "Kenapa kamu sensitif sekali malam ini?" Naomi terdiam, Darrel benar, harusnya ia bisa bersikap manis pada pria di hadapannya itu. Langsung saja Naomi mengembangkan senyum termanisnya. Ia meneguk air mineral hampir setengah botol dan meletakkannya di meja, Naomi kembali menatap Darrel manja. "Mau aku suapi kak?" tanya Naomi manja. Dan inilah yang selalu membuat Darrel bingung untuk mengimbangi sikap gadis itu. 'Ada apa dengan mu Naomi?' Darrel menghentikan aktifitas makannya. "Ada yang ingin saya tunjukkan pada kamu Naomi." Naomi menatap Darrel, menunggu apa yang akan di lakukan pria itu. Darrel bangkit dari posisi duduknya dan berjalan meninggalkan Naomi menuju panggung latar tempat penyanyi restoran bernyanyi, dan itu tak putus dari pandangan Naomi. Darrel membisikan sesuatu yang di balas anggukan serta senyuman sang penyanyi pria. Penyanyi tersebut memberikan gitar yang berada dalam pangkuannya pada Darrel, dan penyanyi itupun pergi meninggalkan Darrel yang tengah duduk di atas panggung dengan gitar berada di pangkuannya. Naomi terus melihat aksi Darrel, entah apa yang akan di perbuat pria itu. "Ehm...ehm..tes.." Darrel berbicara di depan mikrofon mengetes suara beratnya. "Selamat malam semuanya, maaf menganggu kenyamanan kalian malam ini. Saya Darrel Alexander Abraham, malam ini akan menyanyikan sebuah lagu untuk kekasih saya yang suka ngambek, Naomi Khanaya." Darrel tersenyum dan menunjuk Naomi yang duduk kursi paling ujung. Suara riuh para pengunjung restoran bertepuk tangan menambah semangat Darrel. "Semoga kalian menikmatinya." Dan mulailah, jari jari lentik pria itu memetik senar senar gitar membentuk kunci yang mengalun merdu, suara Darrel yang berat dan sedikit parau terdengar sexy mendendangkan lagu milik Ed Sheeran yang berjudul Perfect. Naomi terdiam, melihat aksi Darrel. Debar jantung Naomi begitu kencang kala Darrel terus bernyanyi dengan merdu sembari tersenyum menatapnya. Sepasang mata hitam legam menatapnya dengan penuh cinta. Pantaskah Naomi menerima semua yang Drarel berikan padanya. Pantaskah ia mendapatkan cinta pria itu? Well I found a woman, stronger than anyone I know She shares my dreams, I hope that someday I'II share her home I found a love, to carry more than just my secrets To carry love, to carry children of our own Weare still kids but we're so in love Fighting against all odds I know we'll be alright this time Darling just hold my hand Be my girl I'll be your man I see my future in your eyes Naomi terbuai dengan alunan lagu yang di bawakan Darrel, bahkan gadis itu tak hentinya menatap kedua manik mata pria itu dari kejauhan. Apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya? Pada pria b******k itu? Tidak mungkin dan tentunya tidak boleh. Darrel tersenyum mengakhiri lagunya. Pria itu berdiri dengan riuh tepuk tangan dari para pengunjung restorant. "Naomi, kemarilah..." pinta Darrel ia melambaikan tangannya mengode Naomi agar menghampirinya. Naomi bingung, dan tentunya gugup karena banyak pasang mata yang memandangnya. Dengan ragu ragu gadis itu bangkit dari posisi duduknya dan berjalan pelan menghampiri Darrel. Mereka kini berdiri berhadapan. Darrel menggenggam salah satu tangan Naomi dan tangan satunya masih memegang mic. Tiba tiba pria itu berlutut di hadapan Naomi, membuat gadis itu bertambah bingung dengan sikap aneh Darrel. "Naomi.." "Apa apaan sih kak? Ayo bangun, malu banyak orang..." bisik Naomi sambil membulatkan matanya. "Naomi, saya tahu saya banyak kekurangan , saya bukan manusia sempurna, saya sering bertindak bodoh yang membuat kamu kesal. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, kalau saya mencintai kamu dan itu serius" Darrel menatap manik mata Naomi lekat. "Iya kak, aku tahu. Sekarang ayo bangun.." bisik Naomi lagi. Darrel melepaskan tangannya pada Naomi kemudian memasukan tangannya ke kantong celananya, ia mengeluarkan sebuah kotak hitam kecil berbahan beludru kemudian membukanya. Sebuah cincin putih bertahtakan sebuah berlian berada di dalamnya. Jerit pengunjung yang sedari tadi memperhatikan semakin riuh, bahkan banyak dari mereka sengaja mendekat dan memvideo aksi Darrel. "Naomi Khanaya, walau pertemuan kita singkat, tapi malam ini saya ingin meminta mu untuk menjadi istri saya, menjadi ibu dari anak anak saya, dan menemani saya baik dalam keadaan suka maupun duka, sakit maupun sehat, susah maupun senang, sampai maut memisahkan. Will you marry me?" Darrel terus tersenyum, sebenarnya tanpa bertanya pun Darrel sudah tahu jawabannya karena memang mereka sudah merencanakan untuk menikah dalam waktu dekat. Hanya saja Darrel merasa ajakannya menikah hanya dengan berbicara pada Naomi saat mereka sedang makan nasi goreng di dapur usai mereka b******a beberapa hari yang lalu serasa kurang romantis. Ia ingin sesuatu yang spesial karena ini akan menjadi sekali dalam seumur hidupnya. Naomi memutar pandangannya, pengunjung yang sedang menonton adegan romantis itupun bersorak. "Terima " "Terima" "Terima" Naomi menghela nafas, ia pun tersenyum dan mengangguk memandang Darrel. Darrel langsung memeluk Naomi dan menyematkan cincin di jari manis tangan kiri gadis itu. Riuh pengunjung dan tepuk tangan meramaikan suasana lamaran dadakan yang di siapkan Darrel. "Terimakasih Naomi.." ucap Darrel sembari memeluk gadis itu dan mengecup puncak rambut Naomi. *** "Kak..." "Hmmm..." "Kapan kau menyiapkan semua itu?" Naomi dan Darrel tengah berjalan jalan di tepi pantai seusai acara lamaran dadakan yang di saksikan banyak orang. Gadis itu tak hentinya mengulum senyum sambil terus memandang cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia tak menyangka akan merasa bahagia mendapat lamaran dari pria tampan yang tengah menggandengnya kini. "Awalnya saya hanya ingin memberikan cincin ini untuk kamu, tapi tiba tiba saya mendapat ide ini setelah tanpa sengaja menemukannya dalam pencarian di google." "Owh..." Naomi hanya ber owh ria menanggapi jawaban Darrel, pikirannya masih berbunga bunga. "Kapan kau membeli cincin ini kak?" "Itu...sudah lama. Saat saya dan Mario berada di New York" Naomi kembali mengangguk, Darrel merangkul pundak Naomi erat, merapatkan tubuhnya. "Kamu suka?" Naomi kembali mengangguk, bibirnya seolah tak mampu berkata kata lagi. Mereka berjalan melewati beberapa pertokoan, mata Darrel menangkap sebuah galery yang menarik perhatiannya. "Naomi, ikut saya." Mata Naomi membola, Darrel mengajaknya masuk kedalam sebuah galery tato. Ada beberapa wanita dan pria yang sedang duduk di dalam galery tersebut. Dan seorang pria berambut panjang yang tengah duduk dengan jarum tatto di tangannya,melukis tubuh seorang pria dengan benda tajam di tangannya. "Ada yang bisa kami bantu bos?" seseorang menghampiri Naomi dan Darrel yang baru masuk dan memutar pandangannya. "Hallo bos, kami ingin membuat tatto." "Silakan melihat lihat, apabila ada gambar yang ingin di buat..." seorang pria bertubuh tinggi dengan potongan rambut pendek serta sebuah tatto bergambar seekor ular naga di lengan kirinya memberikan sebuah katalog pada Darrel dan pria itupun menerimanya. "Kakak mau tatto? " bisik Naomi tepat di telinga Darrel. Darrel yang tengah sibuk membuka buka katalog gambar aneka tatto tersenyum memandang gadis di hadapannya. "Bukan saya Naomi, tapi kita." Mata Naomi kembali membola mendengar jawaban Darrel. "Semakin hari ku rasa kau semakin gila kak. Aku tidak mau, tatto terlihat menyeramkan kak. Dan tentunya akan sakit saat jarum lancip itu menusuk nusuk kulit ku. Ayo kita pergi dari sini." rengek Naomi. "Saya hanya ingin membuat sebuah tatto kecil di tubuh kita masing masing Naomi, itu sebagai lambang kalau saya adalah milik kamu dan kamu adalah milik saya..." jelas Darrel ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD