Dengan hanya memakai kaos lengan pendek yang dimasukan kedalam celana jeans nya serta sepatu kets putih yang selalu setia menemani kemanapun langkah gadis itu pergi, Naomi menginjakkan kakinya ke kantor DAA Corp.
Sebuah gedung berlantai 20 milik Darrel yang di gunakan sebagai kantor perusahaannya.
Ini pertama kalinya gadis itu menginjakan kakinya di kantor Darrel.
Saat di pintu masuk Naomi ia di datangi dua orang satpam yang menatapnya dengan penuh selidik.
"Selamat siang nona, ada yang bisa di bantu?" seorang satpam dengan papan nama bertuliskan Junaedi bertanya pada Naomi.
"Selamat siang pak, saya mau bertemu dengan pak Darrel Abraham." jawab Naomi tegas.
"Apa anda sudah membuat janji?" satpam yang lain yang bernama Aryanto menimpali.
"Belum pak."
"Anda tidak bisa bertemu dengan beliau nona, pak Darrel sedang sibuk."
Naomi tersenyum kecut, harusnya ia menelphone pria itu terlebih dahulu sebelum mendatanginya tiba tiba.
"Kalau begitu saya akan tunggu di lobby saja pak."
Kedua satpam itu saling pandang.
Gadis kecil di hadapan mereka sepertinya berbicara sangat percaya diri sekali.
Naomi melangkah memasuki lobby kantor yang berada tepat di samping pintu masuk.
Gadis itu duduk dengan tenang di sofa yang berada di tempat itu.
Mengambil majalah yang tergeletak di atas meja kemudian membacanya.
Terpajang foto Darrel sebagai cover majalah tersebut.
Pria yang berstatus sebagai kekasihnya kini ternyata orang yang lumayan terkenal di dunia bisnis walau usianya masih sangat muda.
Naomi tersenyum, terbersit rasa bangga pada pria nya itu.
'Pria nya', pantaskah sekarang Naomi mengakuinya?
Pandangannya beralih pada sepasang kaki yang berdiri di hadapannya.
Naomi mendongakkan kepalanya, wajah Darrel tersenyum menatap gadis yang tengah memegang majalah di tangannya itu.
"Kak Darrel?" Naomi membalas senyum Darrel lalu bangun dari posisi duduknya,
Darrel langsung merengkuh tubuh Naomi, tak mempedulikan puluhan pasang mata memandangnya aneh.
"Kenapa tidak menghubungiku dulu kalau mau kesini?"
"Perlukah? Aku hanya ingin memberi kejutan." Naomi mengurai pelukan Darrel dan melirik dua satpam yang kini sedang tertunduk karena Anthony membentaknya tadi.
"Kamu sudah makan?"
Naomi menggelengkan kepalanya, gadis itu memasang wajah nya yang paling manis menatap Darrel.
Darrel merengkuh pinggang gadis itu kemudian mengajaknya berjalan beriringan.
"Kita makan dulu."
Naomi mengangguk, matanya menangkap sosok Mario yang melambaikan tangannya sembari tersenyum melihat Naomi.
"Hai kak Mario. Kau juga datang?"
"Hallo juga gadis kecil. Aku ada urusan dengan kekasih tercinta mu ini." ucap Mario sambil mengerling nakal pada Darrel.
Darrel mendengus.
"Hallo pak Anthony."
"Iya nona Naomi."
"Jangan terlalu keras pada mereka. Bisa jantungan para orang tua itu di bentak oleh mu."
Anthony hanya mengangguk.
"Maafkan kami nona."
"Maafkan kami nona, kami tidak tahu."
"Tidak apa apa pak. Kerja kalian bagus. Semangat pak." Naomi mengacungkan genggaman tangannya pada kedua satpam yang tertunduk takut melihat keberadaan Darrel.
"Ayo pergi."
Darrel bersama Naomi duduk semobil yang di kendarai Anthony sedangkan Mario membawa mobilnya sendiri.
"Kita makan dimana kak?"
"Kamu mau makan apa?"
"Apapun yang kak Darrel makan." jawab Naomi dengan senyum manisnya.
Anthony meliriknya dari spion mobil, gadis itu terus saja tersenyum manis pada Darrel dan tak melepaskan rangkulan tangan pria itu dari pinggangnya.
Semoga ini hanya perasaan mu saja Anthony.
***
Mereka telah tiba di restoran jepang langganan Darrel.
Ini pertama kalinya Naomi di ajak oleh pria itu untuk masuk ke restoran jepang.
Terasa asing di mata dan lidahnya.
Namun Naomi tetap mengikuti apa yang Darrel sukai, mencoba beradaptasi dengan kehidupan pria yang berada di sampingnya itu.
"Kak.."
"Hmmmm..."
"Jangan tertawa ya..."
"Kenapa?"
"Aku baru pertama kali nya ke tempat seperti ini."bisik Naomi.
Darrel menahan senyum, gadis nya itu memang begitu polos dan selalu berkata apa adanya, itu salah satu yang membuat Darrel tak bisa melepaskan Naomi.
"Kalian berbisik apa?" Mario yang terus memperhatikan muda mudi yang tengah di mabuk cinta di hadapannya merasa tidak ada di antara mereka yang asyik sendiri.
"Itu.. Naomi.." Naomi buru buru membungkam bibir Darrel dengan telapak tangannya, ia malu bila harus mengakui kalau dirinya tidak berpengalaman di hadapan orang lain.
"Kak Darrel!!!" bentak Naomi sambil melototkan matanya.
Darrel meraih tangan Naomi dari bibirnya.
"Iya. Saya akan diam."
"Kalian itu, seperti anak muda saja." ucap Mario sambil tertawa.
"Memang aku masih muda kak. Kalian yang sudah tua tua." sungut Naomi.
"Aku juga masih muda." balas Darrel.
"Bukankah usiamu sudah seperempat abad?"
"Tapi masih muda."
"Terserah." Naomi membuang wajahnya, ia sedikit kesal .
Anthony masih dalam posisi diam., ia terus memperhatikan tingkah Naomi.
Pesanan mereka pun tiba.
Darrel memesan shabu shabu agar Naomi bisa memakannya tanpa kesulitan.
Kalau ia memesan sashimi seperti yang biasa ia nikmati dengan rekan rekannya, bisa bisa Naomi muntah pada suapan pertamanya.
"Sudah , ayo kita makan." Mario menengahi.
Darrel menyodorkan sumpit pada Naomi dan mengajari gadis itu cara menikmati makanan yang di hadapannya .
"Aku bisa pakai sumpit kak. Kalau makanan ini sih aku biasa lihat di drama kak." Naomi tersenyum, setidaknya ia tak akan malu atau melakukan kesalahan karena ia biasa menontonnya di drama drama yang ia lihat.
Darrel mengangguk mengerti, ia memperhatikan gadis nya menikmati makanannya.
"Makanlah yang banyak." ucap Darrel.
"Darrel, setelah makan kita harus langsung terbang ke Bali. Klien kita minta segera hadir 3 jam kedepan." Mario melirik ke arah Darrel yang sibuk menaruh irisan sayur kedalam mangkuk Naomi.
"Harus hari ini?" tanya Darrel
"Mereka yang meminta, kita hanya ikuti saja."
Darrel terdiam, sementara Anthony masih terus memperhatikan reaksi Naomi.
"Naomi, setelah ini kamu pulanglah ke Mansion. Saya harus langsung terbang ke Bali setelah ini."
"Bolehkah aku ikut? Atau akan merepotkanmu Kak?"
Darrel tersenyum, tak menyangka akan mendengar jawaban Naomi yang seperti itu.
"Saya tidak keberatan sama sekali. Saya justru senang kalau kamu mau ikut."
Naomi mengangguk, ia memasukan beberapa potong daging ke mulutnya.
'Aneh, benar benar aneh. Dia bereaksi memberontak saat Darrel memintanya ikut dalam perjalanan bisnis ke New York saat itu. Tapi lihat sekarang? Dia bahkan meminta ikut walau hanya ke Bali. Apa yang ada di pikiran gadis itu sebenarnya?' batin Anthony.
***
Tanpa perlu pulang ke Mansionnya terlebih dahulu, Darrel, Naomi, Anthony serta Mario langsung menuju bandara dan terbang ke Bali.
"Berapa lama kita di Bali kak?" tanya Naomi begitu mereka berada di mobil setelah keluar dari Bandara
"Tiga hari."
"Tiga hari?" Naomi membulatkan matanya menatap Darrel yang berada di sampingnya.
"Kenapa? Apa kamu ingin kita lebih lama disini? Apa kamu ingin berlibur?"
"Bukan begitu kak. Kita kesini bahkan tidak membawa apapun. Aku tidak membawa baju ganti sama sekali." Naomi terlihat panik namun hanya di tanggapi santai oleh Darrel.
"Kenapa kamu cemas seperti itu? Setelah saya, Mario dan Anthony pulang menemui klien, kita bisa pergi berbelanja."
"Itu pemborosan kak."
"Naomi, saya mencari uang untuk di nikmati. Bagaimana bisa di katakan pemborosan?"
Gadis itu terdiam, Darrel memang benar, namun dirinya masih memiliki banyak pakaian layak pakai jadi tak perlu membeli apapun.
"Naomi, calon suami mu ini kaya raya, habiskan saja seluruh hartanya, Darrel tidak akan keberatan." Mario yang berada di samping Anthony yang sedang mengemudi ikut menimpali.
"Tetap saja kak...itu pemborosan. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi padaku kelak. Mungkin sekarang kak Darrel sedang berada di sisiku. Entah apa yang terjadi besok, lusa, atau hari hari berikutnya. Bisa saja ia melempar ku ke jalanan saat aku sudah tidak di membutuhkannya lagi." ucapan Naomi yang panjang lebar itu membuat Mario tertawa, gadis kecil milik Darrel itu memang terlalu polos hingga mengungkapkan isi hatinya dengan transparan.
"Saya bukan pria seperti itu Naomi."
Naomi menggerdikan bahunya.
"Saya akan membuktikannya pada mu."
"Kita sudah sampai bos." laporan Anthony menghentikan perdebatan panas Darrel dan Naomi.
Mereka berempat tiba di sebuah resort dan di sambut oleh beberapa orang berjas hitam di depan pintu masuk.
"Selamat datang pak..." sambut orang orang tersebut sambil menganggukkan kepalanya memberi salam.
"Ya." Darrel hanya menjawab singkat kemudian melenggang masuk dengan Naomi yang berada disisinya.
Sementara Anthony dan mario mengikuti mereka dari belakang serta beberapa orang yang tadi menyambut.
Naomi mengedarkan pandangannya, tubuhnya yang sedang di rangkul erat oleh Darrel tak bisa berjauhan dari pria itu.
Gadis itu semakin bingung saat mereka hanya melenggang masuk tanpa check in terlebih dahulu di resepsionis.
'Apa mereka sudah reservasi tempat ini dulu sebelum datang?' batin Naomi.
Darrel dan Naomi melewati lorong yang berbeda dengan Mario dan Anthony.
"Kak..." dari pada penasaran akhirnya Naomi buka suara.
"Hmmm..." tanpa memandang gadis yang berada di sampingnya, Darrel menjawab.
"Kita tidak perlu check in dulu? Kakak sudah pesan tempat?"
Darrel menyunggingkan senyumnya kemudian melirik gadis nya sesaat.
"Apa tadi saya belum mengatakannya kalau kita menginap di resort milik kita?"
"Resort milik kita? Maksudnya" Naomi semakin bingung dengan penjelasan Darrel.
"Kamu adalah calon istri saya, jadi resort milik saya juga menjadi milik kamu." jawab Darrel.
Mereka berhenti di depan pintu besar dengan penuh ukiran.
Naomi terdiam, mencermati setiap kata yang Darrel jelaskan padanya.
"Jadi resort ini milikmu kak? Resort sebesar dan semewah ini?" mata Naomi membelalak, ia begitu kaget hingga meninggikan nada suaranya.
Darrel mengecup bibir gadis yang berdiri di sampingnya itu sesaat, kemudian menyentuh ujung hidungnya sembari tersenyum.
"Betul sekali."
Pintu yang berdiri kokoh di hadapan Darrel dan Naomi pun terbuka, mereka melangkah masuk ke dalam.
Naomi kembali mengedarkan pandangannya, ia semakin di buat takjub dengan kondisi dalam kamar resort.
Benar benar luas dan juga mewah.
Hampir sama persis dengan kamar Darrel yang berada di mansionnya.
Pelan pelan Naomi melangkah kan kakinya sembari mengedarkan pandangannya.
Gadis itu berjalan hingga ke pintu kaca samping yang langsung menyajikan pemandangan kolam renang pribadi yang di buat seolah menyatu dengan alam.
Gadis itu tak hentinya membuka mulutnya tanpa sanggup berkata kata dengan mata yang membola takjub.
'Sekaya itukah Darrel?'
Namun perasaan takjub itu berubah menjadi amarah, dadanya terasa sesak dan kepalanya terasa berat.
Pria b******k itu bisa hidup enak dan juga sukses dengan cara yang tidak adil.
Sepertinya Tuhan harus lebih teliti untuk memerintah malaikatnya dalam membagi rejekinya.
Tiba tiba sepasang tangan besar telah melingkar di perutnya.
Darrel mendekap Naomi dari belakang, merapatkan tubuh pria itu dengan Naomi dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher gadis itu.
"Kamu suka?" bisiknya parau.
Naomi tersenyum sembari mengangguk, ia mendekap tangan Darrel yang melingkar di perutnya.
"Suka sekali kak. Ini indah sekali."
***