Darrel dan Anthony pergi ke Club malam langganan mereka, Paradiso Club.
Malam ini begitu ramai karena malam ini adalah malam minggu.
Puluhan bahkan ratusan pasang mata memandang Darrel dan juga Anthony saat mereka masuk bersama ke dalam Club.
Dua orang pria tampan dengan tubuh atletis dan tinggi berbalut kemeja sepanjang siku berjalan sexy masuk ke dalam Club.
Gadis gadis yang entah itu sendiri atau sedang bersama teman atau pasangan mereka, tak melepas pandangannya tiap kali Darrel dan Anthony datang ke tempat itu.
"Selamat malam bos."
"Pesan yang seperti biasa." Anthony mewakili Darrel untuk memesan minuman.
"Baik." bartender memberikan dua gelas whisky pada Darrel dan Anthony.
Darrel menyesap minumannya, matanya berkeliling, ia ingin mencoba sesuatu yang baru.
Ini bukan pertama kalinya ia datang kemari bersama Anthony, hanya saja sebelumnya mereka datang kemari bersama teman atau rekan bisnis Darrel dan berakhir dengan meninggalkan mereka dengan gadis gadis yang berada di situ.
Namun kali ini Darrel ingin melihat dan merasakan sendiri, mencoba kehidupan yang berbeda layaknya pria lajang lainnya.
"Hai ganteng, boleh nemenin?"
Seorang gadis cantik berpakaian kurang bahan duduk di samping Darrel, temannya yang lain juga duduk di samping Anthony.
"Marsha..." gadis itu mengulurkan tangannya namun tidak di sambut baik oleh Darrel.
Pria dingin itu hanya tersenyum seperlunya dan menyebutkan namanya.
"Darrel.."
"Hai, aku Miranda."
"Anthony." playboy cap kadal bawahan Darrel itu selalu menyambut manis tangan gadis gadis cantik yang menghampirinya.
Prinsip hidupnya adalah, rejeki jangan di tolak, pesta pasti berakhir maka puas puasin deh...
"Sudah lama disini?"
"Baru saja."
Terus saja Anthony yang menjawab, sementara Darrel terlalu asyik meyesap minumannya tanpa menghiraukan sikap agresif Marsha yang duduk di sampingnya dengan tangannya yang mulai menggrayangi tubuh pria itu.
'Kenapa aku sama sekali tidak b*******h melihatnya? Bahkan saat di grayangi oleh tangan gadis yang menurut Anthony sexy ini, juniorku sama sekali tak bereaksi. Mungkin kah aku sakit?' Darrel bergumam dalam hati.
Hampir dua jam mereka duduk di tempat itu, bahkan sudah puluhan gadis yang bergantian duduk menemani mereka, namun tetap tidak memberikan efek sama sekali pada Darrel.
Anthony mendengus kesal, ia sudah hampir pada puncak kesabarannya menghadapi bos nya sementara dirinya harus menahan gairah sejak tadi akibat sentuhan gadis gadis sexy yang tadi menghampirinya.
"Bos..."
"Hmmm..."
"Apa anda sama sekali tidak tertarik? Mereka semua cantik dan sexy, terlebih sangat menggairahkan. Saya bahkan sudah tidak tahan untuk memakannya."
"Tuntaskan dulu hasratmu, jangan lama lama."
Anthony tersenyum senang, ia siap untuk beraksi memanjakan juniornya.
Saat dirinya baru beranjak dari tempat duduknya dan merangkul gadis terakhir yang duduk di sampingnya , matanya menangkap sosok gadis yang teramat di kenalnya.
"Bos..."
"Hmmmm..."
"Nona Naomi bos."
"Naomi kenapa?"
"Nona Naomi ada disini."
Darrel meletakan gelas whiskinya dan memutar pandangannya, matanya berkeliling mencari sosok Naomi.
"Disana bos." Anthony menunjuk pojok meja club yang tak berada jauh dari tempat mereka duduk.
"Perlu saya panggilkan bos?"
"Tidak, kita tunggu disini. Kita lihat apa yang akan gadis itu lakukan."
Anthony menghela nafas kesal, di usirnya gadis yang seharusnya bersenang senang dengannya malam ini.
Naomi duduk tenang di pojok ruangan.
Gadis itu sibuk memainkan telephone genggamnya dan masih berpakaian rapi dengan setelan kemeja lengan panjangnya dan celana jeansnya layaknya akan berangkat ke kampus.
Tak seperti gadis gadis disini dengan pakaian minim mereka.
Darrel terus memperhatikan gerak gerik Naomi tanpa melewatkan sedetikpun.
Gadis itu sepertinya tidak menyadari ada sepasang mata yang terus memandangnya.
Tangan Darrel terus mengepal, ia menahan emosi serta gairahnya yang tiba tiba saja naik saat melihat sosok Naomi.
Seorang pria tinggi tampan dengan kemeja putih menghampiri Naomi sembari tersenyum dan di balas senyum pula oleh gadis itu.
Pria itu menyodorkan segelas minuman yang sepertinya terlihat seperti orange jus.
Naomi meneguk hampir setengah gelas minumannya kemudian mengobrol sesaat dengan pria itu.
Tak lama kemudian, pria itu menggandeng tangan Naomi dan mereka keluar dari club.
"Ikuti mereka."
Anthony mengemudi di depan dan Darrel duduk dengan emosi yang meluap di kursi penumpang.
Bisa bisa nya Naomi dengan kondisi tubuh sedang berbadan dua seperti itu datang ketempat seperti ini?
Dan sekarang gadis itu tengah berboncengan dengan seorang pria menggunakan sepeda motor, begitu rapat dan terlihat akrab.
Darrel ingin sekali memberikan tinjunya ke muka pria yang berani dekat dengan ibu dari calon bayinya itu.
Emosinya sudah sampai ke ubun ubun.
Motor yang di kendarai Naomi dan pria itu telah sampai di depan rumah yang di sewa Naomi.
Pria itu mengedarkan pandangannya sesaat, kemudian tersenyum menatap Naomi.
Di elusnya puncak rambut gadis itu.
Naomi sepertinya terlihat bahagia dengan sentuhan pria di hadapannya.
Pria itu mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya kemudian memberikan beberapa lembar uang pada Naomi.
Naomi menerimanya kemudian berkali kali menganggukan kepalanya seperti mengucapkan terimakasih.
Dan mereka pun berpelukan.
Darrel sudah tidak bisa menahannya lagi.
Dengan emosi yang memuncak, ia turun dari mobilnya dan berteriak.
"Naomi!!!"
Naomi dan pria itu menoleh secara bersamaan, Darrel mendekat dan langsung mengurai pelukan mereka.
Sebuah tinju melayang dari tangan Darrel ke muka pria itu.
Naomi menjerit histeris karena pria itu tersungkur.
"b******k! Beraninya kau menyentuh wanitaku!"
Belum juga pria itu bangkit, Darrel langsung menarik kerah kemeja pria itu dan melayangkan tinjunya kembali.
"Uncle hentikan!! Uncle aku mohon..." teriakan Naomi tak di pedulikan Darrel.
Anthony ikut turun dari mobil dan berdiri di belakang Naomi.
"Pak, tolong hentikan mereka...." rengekan Naomi pada Anthony tak di hiraukan pria itu.
Naomi berlari dan langsung memeluk tubuh Darrel agar pria itu berhenti memukuli pria yang bersamanya.
"Sudah berhenti uncle..." ucap Naomi sambil terisak.
Darrel menghentikan aksinya, menatap sesaat wajah Naomi kemudian menarik tangan gadis itu.
"Kamu ikut saya."
"Habisi dia!!" Darrel menyuruh Anthony untuk menghajar pria yang bersama Naomi.
Naomi semakin menjerit histeris.
"Jangan uncle. Jangan. Aku mohon...."
Darrel tak mempedulikan teriakan Naomi, di dorongnya tubuh gadis itu agar masuk kedalam mobil.
Darrel menjalankan mobilnya dan meninggalkan Anthony yang tengah menghajar pria itu.
"uncle...kita kembali kesana..."
"Aku mohon uncle..."
Naomi terus saja meracau, namun tetap tidak di hiraukan Darrel tatapan Darrel begitu tajam, bahkan ia semakin dalam menginjak pedal gas nya.
"Diam!!!" bentak Darrel.
Naomi hanya bisa meneteskan air matanya sambil berpegangan pada jok mobil karena takut.
Tak pernah ia melihat pria disampingnya semarah itu.
Tak lama kemudian mereka telah samapi di mension milik Darrel.
Darrel menarik paksa Naomi keluar dari mobilnya dan masuk kedalam mansionnya.
"Keluar kalian semua!! Jangan perbolehkan siapapun masuk!" perintah Darrel.
Dan seketika mansion itu kosong, semua asisten rumah tangga dan pengawal keluar.
Darrel melempar Naomi ke atas ranjangnya dengan kasar.
"Dasar perempuan murahan!!!Kamu menolak pertanggungjawaban saya dan memilih menjual diri kamu dengan pria itu? Berapa kamu di bayar oleh dia? Saya bayar kamu sepuluh kali lipat dari yang dia berikan!!"
Naomi begitu emosi mendengar ucapan Darrel yang menghinanya terlebih menyebutnya perempuan murahan, ia bukan wanita yang seperti itu.
Naomi bangun dari atas ranjang Darrel kemudian menampar pipi pria tampan itu.
"Tutup mulut uncle! Aku bukan wanita seperti itu."
Emosi Darrel semakin memuncak, di hempaskannya kembali tubuh Naomi ke atas ranjang king size nya.
"Lalu kamu wanta seperti apa? Wanita pemuas nafsu laki laki? Kalau begitu puaskan saya! Akan saya bayar ratusan kali lipat lebih banyak dari yang pria itu berikan padamu."
Darrel langsung menindih tubuh Naomi dan meraup bibir gadis itu.
Naomi memberontak, di pukulnya d**a pria itu sekuat tenaga.
Namun sekuat apapun Naomi tidak mampu menggeser satu centi pun tubuh Darrel dari atas tubuhnya.
Darrel menarik kemeja Naomi hingga sobek dengan kancing yang berhamburan, kemudian melemparnya asal ke lantai.
Dan desahan sialan itupun keluar dari bibir Naomi.
"Aahhhh..kak Darrel...aku mohon jangan..." dengan air mata yang masih mengalir, namun di selangi desahan nikmat keluar dari bibir Naomi.
Darrel semakin hilang akal.
Ia melepaskan seluruh pakaian yang di kenakannya dan menarik celana serta pakaian dalam yang di kenakan Naomi.
Hasratnya sudah tidak tertahankan lagi, ingin segera di lepaskan, ia segera menyatu dengan gadis itu.
Naomi memekik, rasa sakit bercampur perih dan tentunya nikmat kembali di rasakannya.
"Ah..."desahan kembali lolos dari bibir gadis itu.
Darrel terdiam sesaat.
Matanya berkabut, menatap lekat kedua manik mata gadis yang berada di bawah kuasanya itu.
Darrel menangkup wajah Naomi dan kembali melumat bibir gadis itu.
Merasakan sensasi hebat.
Darrel begitu menikmatinya, tak berbeda jauh pula dengan gadis itu.
Rasa sakitnya tergantikan dengan rasa nikmat yang membuatnya serasa melayang ke angkasa.
Tangannya mencengkeram erat punggung Darrel hingga meningglakan bekas luka cakaran, namun tak di rasakan pria itu.
Ia begitu terhanyut dengan aksinya.
"Aku mohon hentikan kak..."
"Saya akan membayarmu lebih dari pria manapun."
"Aku bukan p*****r kak..aahhhhh..." rintih Naomi, di sela sela permainan.
Tak hentinya gadis itu menitikkan air mata, ia begitu kecewa di perlakukan tidak senonoh oleh Darrel.
Hampir dua jam lamanya mereka baru menyelesaikan aktifitas yang menguras tenaga itu.
Tubuh Darrel tersungkur di atas tubuh Naomi yang sudah lemas.
Kepalanya di telusupkannya di sela sela pundak dan leher gadis itu.
"Kita lanjutkan nanti."
Darrel bangkit dari atas tubuh Naomi dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut, sementara dirinya berjalan melenggang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Naomi menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, ia menangis tanpa mengeluarkan suaranya.
Darrel menyiram tubuhnya di bawah shower.
Ia menatap wajahnya sendiri penuh rasa kesal.
Bisa bisanya ia berbuat seperti itu pada Naomi.
Sepertinya ia sudah hilang akal.
Tapi kenapa hanya pada Naomi?
Dari pertama ia memasuki club, banyak wanita yang menghampirinya dan menggodanya, namun sama sekali tak menarik perhatiannya bahkan saat wanita wanita itu menyentuhnya, tubuhnya tak bereaksi apapun.
Berbeda saat dengan Naomi.
Hanya dengan membayangkan gadis itu saja, milik nya sudah mulai on.
Ini gila, benar benar gila.
Darrel keluar dari kamar mandi dan mendapati Naomi tengah tertidur hanya tertutup selimut.
Sepertinya Darrel harus membiarkan gadis itu istirahat terlebih dahulu dan melanjutkan malam panas mereka nanti.
Darrel memasuki ruang kerjanya dan mendapati Anthony tengah duduk menunggunya.
"Bos..."
"Bagaimana dengan pria itu?"
Anthony terdiam sesaat baru menjawab pertanyaan Darrel.
"Sepertinya kita salah..."
Darrel membulatkan matanya, menunggu penjelasan Anthony.
***