CHAPTER 8

1510 Words
Darrel berada di ruang kerjanya di mansion pribadinya, hari ini ia tak berniat berangkat bekerja. Hati dan pikirannya hanya tertuju pada seseorang, Naomi. Perasaan bersalah yang teramat besar begitu membebaninya. Semalam, karena salah menyangka, ia memperkosa gadis itu, LAGI. Darrel mengusap wajahnya dan mengacak rambutnya kasar berkali kali. Ia sedang memikirkan cara bagaimana agar bisa minta maaf pada Naomi. *** Apa aku perlu mandi tujuh sumur atau kah perlu memakai kembang tujuh rupa sekalian? Kenapa akhir akhir ini nasib ku begitu apes? Penyesalan yang ada di hati cukup ku pendam sendiri, aku tidak ingin membebani siapapun, dan aku harap tidak akan lagi berurusan dengan pria tua aneh itu lagi. Aku bersiap menuju kampus, setelah mendapat pinjaman uang dari kak Adrian semalam, hari ini akan ku bayar lunas biaya administrasi yang harus ku tutup. Baru menutup pintu, di depan pintu tergeletak sebuah kotak yang entah sejak kapan berada di situ. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ada orang yang sengaja menjahili. Namun tak ada ku dapati seorang pun yang lewat. Ku coba membuka kotak tersebut, dan ternyata isinya adalah sebuah gaun yang ku gunakan saat kemarin datang ke pesta David dan tentunya tertinggal di mansion milik pamannya. Oh...mungkin tadi Anthony yang meletakannya disini karena lupa memberikannya langsung padaku. Tapi...apa ini? Ada sebuah kemeja juga, tapi ini bukan milikku. Oh my God... Aku menutup mulutku dan melebarkan mataku karena melihat harga yang tertera di bandrol kemeja tersebut. Hanya sebuah kemeja kotak kotak biasa dan ini seharga ongkos makan ku sebulan??? Darrel sudah gila sepertinya. Ku masukkan kemeja itu ke dalam tas ku sementara ku taruh gaunku kembali ke dalam rumah. Aku harus bergegas, hari ini jadwal ku penuh. Bukannya sok sibuk, tapi setelah ke kampus aku harus mendatangi kak Adrian untuk melihat keadaannya dan tentunya aku harus mengembalikan kemeja yang di berikan Darrel lewat David saja. Aku benar benar sudah tak ingin bertemu pria sialan itu lagi. Siang ini begitu panas, dan kakiku juga masih terasa lemas karena ulah pria b******k itu semalam padaku. Ku hembuskan nafasku kasar, semakin aku mengingatnya, semakin sesak dadaku, tentunya perasaan muak yang berefek mual dan ingin muntah selalu membayangiku. Darrel Darrel Darrel, ENYAHLAH!!! *** "Saya Naomi Khanaya bu, ingin membayar administrasi untuk biaya ektrakurikuler." "Tunggu sebentar..." Naomi menunggu pihak TU mengecek namanya di daftar mahasiswa. Sembari menunggu, ia mengirim chat untuk Adrian. 'Kak Adrian, apakah di rumah?' "Naomi Khanaya?" "Iya." "Semua administrasi anda sudah di selesaikan sampai akhir pendidikan." "Apa? Bagaimana bisa?" "Saya dapat konfirmasi dan yang bertanggungjawab adalah atas nama bapak Anthony Permana tadi pagi" Naomi terdiam sesaat, kaget dan bingung tentunya. "Anthony Permana? Anthony...siapa ya?" gumamnya. Matanya membola, ia mengingat sesuatu. "Darrel..." Tanpa permisi, ia meninggalkan kantor tata usaha dan berniat menemui Darrel sekarang. Pria itu sudah terlalu jauh ikut campur dalam kehidupannya. Tiba tiba telephone genggamnya bergetar. Adrian is calling. "Hallo kak?" "Naomi, ada apa?" "Kakak dimana?" "Di rumah, ada apa Naomi?" Naomi berubah pikiran, sepertinya ia akan menemui Adrian terlebih dahulu sebelum menemui Darrel. "Aku ketempat kakak sekarang." *** "Kakak baik baik saja? Bagaimana lukanya? Apa kata dokter?" Adrian terkekeh melihat tingkah adik tirinya yang panik melihat keadaannya dan memegangi wajahnya yang penuh luka. Pria tampan itu mengusap lembut puncak kepala Naomi. "Kakak baik baik saja, semalam kakak menemui dokter dan di berikan banyak sekali obat." Adrian menunjukkan sekantong plastik penuh obat serta salep dan obat luar lainnya. "Darrel si b******k itu, aku harus buat perhitungan sama dia." dengus Naomi kesal. "Sepertinya kekasihmu itu begitu mencintaimu hingga cemburu buta seperti itu pada kakak." "Kekasih? Siapa? Darrel maksud kakak?" "Iya, dia. Siapa lagi?" "Kami tidak punya hubungan apapun." bantah Naomi dengan nada meninggi. ia kesal di sebut sebagai kekasih pria b******k yang dengan sesukanya melecehkannya. "Apa kalian sedang bertengkar? Pasangan kekasih memang sering seperti itu, dan kakak memakluminya Naomi." "Tapi dia bukan kekasih Naomi kak..." Adrian kembali terkekeh kemudian merangkul pundak adiknya yang sedang kesal itu. "Oke oke...terserah apapun itu, setidaknya kakak tidak perlu begitu mengkhawatirkan mu karena sekarang selain punya kakak, kamu juga punya seseorang yang akan selalu menjagamu." Naomi terdiam, Darrel tak memiliki nilai positif apapun di mata Naomi. "Eh tunggu, kenapa adik kakak sepertinya agak kurusan? Wajah kamu juga terlihat lesu. Apa kamu sedang sakit?" Adrian menatap Naomi dari atas ke bawah lalu ke atas lagi dengan sorot mata cemas. "Ehm...sepertinya begitu kak, akhir akhir ini aku merasa tidak enak badan. Paling sebentar lagi juga baikkan. Naomi baik baik saja kak, kakak tidak perlu khawatir." "Kakak selalu ada untuk mu Naomi, jangan sungkan." Naomi mengangguk, ia menyadari Adrian memang sangat menyayanginya sejak kecil. Pria itu tak pernah menganggap Naomi sebagai saudara tiri. Kasih sayangnya nya seperti saudara kandung pada Naomi. "Benar tidak mau di antar?" "Kakak istirahat saja, Naomi bisa naik bis." "Tapi hari sudah petang Naomi." "Ini masih sore kak, jalan juga masih ramai." "Baiklah kalau begitu, hati hati di jalan ya adikku..." "Ya kak..." Mereka saling berpelukan sesaat kemudian Naomi pergi meninggalkan Adrian. Berjalan sesaat menuju halte bis. Ini tujuan akhirnya hari ini, menemui Darrel. Darrel menekuk wajah nya sejak Naomi pergi pagi tadi. Ia berharap dengan tindakannya kali ini, gadis itu mau memaafkannya. Wajahnya tiba tiba ceria saat mendapati layar telephone genggamnya tertulis nama Naomi memanggil. Buru buru di angkatnya panggilan dari gadis itu, hatinya bagaikan balon di ujung jarum yang kapan saja siap untuk meledak. "Hallo Naomi.." bibirnya tersenyum manis namun nada bicaranya tetap di buat sedatar mungkin. Ia tak ingin memperlihatkan rasa senangnya karena di hubungi gadis itu terlebih dahulu. "Anda dimana tuan Darrel?" Ekspresi wajah Darrel berubah kesal, mendengar Naomi memanggilnya dengan sebutan tuan. "Di rumah." Tak ada jawaban lagi dari gadis itu, panggilan terputus. Darrel menatap layar handphone nya bingung. "Apa maksudnya? dia cuma bertanya saya dimana?" Darrel melempar telephone genggamnya ke atas meja, di hempaskannya punggungnya ke kursi dan kursi kerjanya itupun berputar. Rasa kesal kembali menyelimuti hatinya. *** Naomi turun dari bis, perjalanan menuju mension Darrel memakan waktu hampir setengah jam. Namun baru beberapa langkah gadis itu berjalan meninggalkan halte, sebuah sedan mewah berwarna hitam menghampirinya. Kaca jendela terbuka dan wajah Anthony sembari tersenyum menyapa Naomi. "Nona Naomi." Naomi berhenti, gadis itu bahkan sempat melihat ke arah kursi penumpang, mencari keberadaan Darrel. "Pak Anthony." "Mau bertemu bos?" "Apa bos mu yang menyuruh menjemputku?" "Tidak, kebetulan saja saya dari kantor dan akan ke mansion bos Darrel. Apa anda mau ikut?" Naomi terdiam sesaat lalu mengangguk, tentunya ia tak perlu capek capek berjalan untuk samapi ke mansion milik Darrel. Sepanjang jalan Naomi tak berbicara, pikirannya mulai menyusun kata kata untuk meluapkan kekesalannya pada Darrel. Tak lama kemudian mereka sampai di mansion milik Darrel. "Silakan kemari nona." Anthony mengantar Naomi menemui Darrel di ruang kerjanya. "Bisa anda tinggalkan kami berdua pak Anthony, saya ada urusan dengan bos anda." Sebelum masuk ke dalam ruang kerja Darrel, Naomi meminta Anthony agar tidak mengikutinya. "Baiklah." Anthony pamit dan Naomi tersenyum membalas. Tok tok tok... Naomi menata nafasnya, ia berusaha meredam emosinya yang sudah memuncak. "Masuk" Naomi membuka pintu ruang kerja Darrel, pemandangan pertama yang ia lihat adalah pria tampan dengan wajah tergores nyaris sempurna dengan menggunakan kaos oblong warna hitam bergaris merah sedang duduk di depan laptop. Darrel terlihat begitu tampan dan cerdas dengan posisi seperti itu. Naomi meneguk salivanya. Baru pertama kali ia menyadari kalau Darrel ternyata tampan. Gadis itu tak begitu memperhatikan karena selain jarang bertemu Darrel, pria itu selalu bersikap datar dan dingin padanya di setiap pertemuan mereka. Naomi menutup pintu agak kencang, membuat Darrel melihat ke arahnya. "Naomi?" Mata Darrel membulat, tak percaya dengan pandangan matanya. Pria itu bangkit dari posisi duduknya dan tersenyum menghampiri Naomi. Namun jangan tanyakan keadaan Naomi sekarang, gadis itu hampir mirip singa kelaparan yang siap memangsa apapun di hadapannya. Naomi mengambil kemeja dari dalam tas rangselnya dan sebuah amplop berisikan uang yang semalam ia pinjam dari Adrian yang harusnya siang tadi ia gunakan untuk membayar biaya administrasi di kampusnya. Di lemparnya dua benda itu ke atas meja di depan sofa . "Ini." "Apa ini?" "Itu kemeja yang anda berikan dan juga uang yang harusnya saya bayarkan di kampus." Darrel terdiam, ia faham maksud Naomi. Ekspresi kesal Naomi mewakili segala penjelasan singkat gadis itu. "Naomi, biarkan saya jelaskan dulu." "Jelaskan apa? Untuk apa anda membelikan saya kemeja mahal seperti ini dan membayar uang sekolah saya?" "Kemeja ini, karena semalam saya merusak kemeja kamu jadi saya menggantinya. Dan untuk uang sekolah kamu..." "Itu untuk bayaran dari anda karena anda sudah memperkosa saya semalam? Begitu?" Bibir Naomi bergetar, ia sendiri tak menyangka kata kata itu akan keluar dari mulutnya. "Bukan itu maksud saya Naomi." "Saya kembalikan uang anda, tapi baru segini. Sisanya saya akan menyicilnya. Saya bekerja dan saya pasti akan melunasinya." "Naomi..." Darrel merendahkan nada bicaranya, ia tak ingin gadis di hadapannya itu bertambah emosi karena mereka berdebat. Dan saat Darrel akan menyentuh tangan gadis itu, Naomi segera menepisnya. Air matanya seketika mengalir. "Jangan sentuh saya. Anda begitu menganggap rendah saya tuan Darrel." "Maksud saya bukan seperti itu Naomi. Saya justru merasa bersalah pada kamu." "Kalau anda memang benar benar merasa bersalah, harusnya anda pergi dari kehidupan saya di saat saya tidak meminta apapun pada anda." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD