Tuan Abraham mengirimkan seorang supir untuk menjemput Naomi pagi ini setelah Darrel berangkat ke kantornya.
Naomi kini berada di dalam sebuah gedung pencakar langit dengan lima puluh lantai di dalamnya.
Sekali lagi, gadis itu hanya mampu mendengus dan sembari menggelengkan kepalanya, saat pintu lift terbuka di lantai paling atas gedung perusahaan Abraham Corp.
Kehidupan Darrel sekeluarga memang benar benar hampir menyentuh langit, adil kah ini?
Seorang wanita dengan setelan blazer hitam dan rok span dengan warna senada menyambutnya dan membawanya memasuki ruangan CEO tempat tuan Abraham bertahta.
"Silakan masuk nona, tuan Abraham sudah menunggu anda sedari tadi."
Naomi tersenyum sambil mengangguk, ia dengan langkah pasti berjalan memasuki ruangan yang cukup besar dan luas di lantai paling atas itu.
Ruangan yang di d******i dengan warna putih serta perabotan mewah tertata apik , serta beberapa lukisan yang terpajang di dinding.
"Selamat pagi tuan Abraham. Saya sudah datang."
Naomi berdiri beberapa langkah di depan pintu.
Tuan Abraham yang tengah sibuk dengan tumpukan map di hadapannya, menengadahkan kepalanya, memandang Naomi sesaat kemudian tersenyum.
Diletakkannya kaca mata yang bertengger di hidungnya di atas meja kemudian pria paruh baya itu bangkit dari posisi duduknya dan berjalan menghampiri Naomi.
"ya, silakan duduk Naomi." tuan Abraham mempersilakan Naomi.
Mereka berdua duduk berhadapan di sofa berwarna coklat tua dengan meja kayu berukiran jepara di depannya.
"Terimakasih tuan." Naomi membetulkan kemeja yang di kenakan nya, ia bingung akan mengenakan pakaian apa untuk menemui ayah dari pria yang akan menjadi suaminya itu.
Pilihannya jatuh pada kemeja bermotif bunga dan celana panjang warna navy, ia pikir akan lebih sopan memakai pakaian seperti itu ke kantor dari pada harus memakai dress seperti yang biasa ia gunakan saat bersama Darrel.
Suasana hening seketika, kemudian terdengar deheman dari bibir tuan Abraham, Naomi kembali fokus untuk hal yang akan di sampaikan pria itu.
"Kamu sudah sarapan Naomi?"
"Sudah tuan, tadi pagi dengan kak Darrel."
"Naomi..."
"Iya tuan."
Tuan Abraham terkekeh, Naomi bingung dengan sikap pria paruh baya di hadapannya itu, ia sempat ragu dan gemetar saat dirinya melangkah memasuki perusahaan Abraham Corp.
Namun setelah melihat ekspresi tuan Abraham, menjadikan Naomi bingung mengartikan sikapnya.
"Tolong jangan panggil saya tuan,Naomi. Saya merasa seperti menjadi majikan kamu."
"Lalu, saya harus menyebut anda..'
"Papa..."
"Hmmm?"
"Panggil papa saja sama seperti Darrel."
Naomi terdiam, ia tidak salah dengar?
Semalam pria itu juga menyebut dirinya papa, dan sekarang juga...
"Baik, pa..pa..."
Tuan Abraham menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Apa kamu sibuk hari ini Naomi?"
"Tidak, pa. Hari ini saya tidak ada mata kuliah dan nanti sore kak Darrel mau mengajak ke panti asuhan untuk acara apa itu saya kurang faham."
Tuan Abraham mengangguk, wanita yang tadi mengantar Naomi masuk ke dalam ruangan , mengantar kan minuman untuk bos nya dan gadis itu.
"Silakan di minum nona."
"Terimakasih."
Wanita itupun pergi, pandangan Naomi kembali fokus pada tuan Abraham.
"Maaf kalau saya mengganggu waktu kamu."
"Saya yang harusnya minta maaf pada papa, karena datang kemari pagi pagi menganggu agenda papa."
"Hari ini saya tidak sibuk, makanya saya ingin berbincang dengan kamu."
Naomi mengangguk, menunggu lagi kata kata apa yang kan di sampaikan tuan Abraham.
"Saya, semalam sudah berbincang dengan Tonny menantu saya, soal kamu. Katanya kamu adalah teman sekolah David?"
"Iya betul pa, saya juga pernah menjadi tutor David saat SMA."
Pria paruh baya itu mendengarkan penjelasan Naomi, matanya berbinar kagum pada gadis muda di hadapannya.
Ia telah mendengar banyak hal tentang Naomi dari mulut Marchello dan juga orang kepercayaannya yang telah mencari tahu seluk beluk Naomi.
Baginya, Naomi memiliki banyak nilai plus walaupun keadaan gadis itu tengah jatuh di dasar.
"Temani lah Darrel, sekarang, besok, dan selamanya. Bahagiakan dia.Saya harap kamu tidak akan mengecewakan saya."
Mata Naomi membola, kata kata singkat yang di ucapkan tuan Abraham membuat jantungnya bergemuruh.
Inikah yang di sebut mendapat restu dari orang tua?
"Maksud papa..."
Pria itu mengangguk sembari tersenyum, ternyata wajah tampan Darrel di dapat dari pria paruh baya di hadapannya itu.
Namun bedanya tuan Abraham memiliki lesung pipi di kedua pipinya yang tidak di miliki Darrel.
"Ada satu hal lagi.."
Naomi masih menatap tuan Abraham dengan seksama.
"Ini hadiah pernikahan kalian.."
Tuan Abraham memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat pada Naomi, gadis itu menerimanya.
"Ini..apa pa?"
"Itu adalah separuh saham perusahaan saya atas namamu dan Darrel. Dan juga setengah aset serta properti yang keluarga kami miliki."
Mulut Naomi menganga mendengar jawaban tuan Abraham.
Apa apaan ini?
Apa sekarang Naomi harus bersorak senang atau harus sedih?
Tidak, dia mendapat jackpot triliyunan rupiah.
Wanita bodoh mana yang akan menolak rejeki seperti itu.
Namun Naomi bingung untuk menyikapinya.
"Pa..."
"Iya.."
"Saya tidak tahu harus senang, bersyukur atau.."
"Terimalah, ini hak Darrel. Dan apa yang menjadi miliknya tentu menjadi milikmu juga."
"Sepertinya saya tidak pantas pa.."
Naomi meletakan amplop coklat tersebut di atas meja, tuan Abraham menyunggingkan senyum.
"Kenapa kamu merasa tidak pantas nak?"
"Saya dan kak Darrel...entahlah...saya takut terjadi apa apa pada pernikahan kami..."
"Apa kau berencana untuk bercerai dengannya setelah menikah?" tuan Abraham menautkan alisnya, tatapannya tajam penuh selidik.
"Bukan begitu maksud saya pa, tapi saya tidak yakin kalau kak Darrel bisa bersama saya untuk waktu yang lama."
"Darrel memang dingin, tapi saya yakin dia serius dengan kamu Naomi."
"Papa yakin sekali..." Naomi mengulas senyum di bibirnya.
"Saya memang tidak terlalu dekat dengan putra saya, tapi saya tahu Darrel pria seperti apa. Dia bahkan tidak pernah menjalin hubungan seserius seperti dengan mu nak."
Naomi terdiam, tuan Abraham terlihat murung saat menceritakan hubungannya dengan Darrel.
Pria itu akhirnya menceritakan kalau Diana bukanlah ibu kandung Darrel.
Serta alasannya harus bersikap dingin pada Darrel, itu semata mata demi melindungi Darrel dan perasaan sensitif istrinya.
Sebagai seorang ayah, tuan Abraham tentunya sangatlah menyayangi Darrel terlebih pria tersebut telah mendambakan kehadiran anak laki laki dalam kehidupan rumahtangganya setelah berpuluh tahun.
Namun sikap tegas dan dingin tuan Abraham disalah artikan oleh Darrel.
Pria itu pikir ayahnya bersikap seperti itu untuk menguji dirinya, hingga menjadikan Darrel pribadi yang dingin pula namun tetap memiliki rasa tanggung jawab.
Oleh sebab itu Darrel tidak pernah serius berhubungan dengan wanita manapun, ia selalu ingin membuktikan kepada sang ayah kalau dirinya pantas menyandang sebagai putra Abraham.
Dan sekarang, ini lah Darrel, ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri walau tetap menyandang status sebagai putra Abraham.
Naomi menundukkan wajahnya, ada kesedihan dan perasaan bersalah yang teramat besar di hatinya.
Bahkan tuan Abraham, yang baru bertemu dengannya dalam hitungan jari pun bersikap amat baik padanya.
Bisakah ia membalas semuanya?
Membalas kebaikan nya?
***
Naomi mendatangi kantor Darrel, ia mengulum senyum saat datang ke gedung milik kekasih nya itu dan di sambut ramah oleh dua satpam yang menjaga di depan pintu masuk.
"Selamat datang nona."
Naomi mengangguk sembari melempar senyum.
"Kerja yang bagus pak, semangat."
Naomi berjalan melenggang, masuk ke dalam lift dan menuju ruangan Darrel di lantai paling atas.
Kenapa para bos suka sekali berada di lantai paling atas?
Padahal kalau lift ini mati, atau terjadi sesuatu pada bangunan ini, mereka berada di posisi paling sulit untuk menyelamatkan diri. Gumam Naomi dalam hati.
Begitu pintu lift terbuka, Naomi telah di sambut Anthony.
Pria itu tahu kalau Naomi akan mendatangi kantor Darrel.
"Bos sedang rapat dengan pak Mario dan pak William,nona. Anda di suruh menunggu di ruangannya sebentar."
Naomi mengangguk dan mengikuti Anthony dari belakang.
Pria tinggi tangan kanan Darrel itu membukakan pintu dan mempersilakan Naomi masuk.
"Silakan tunggu disini nona, anda mau minum apa?"
"Jus jeruk ada pak?"
Anthony mengangguk, kemudian berlalu meninggalkan ruangan Darrel.
Naomi mendudukkan tubuhnya di atas sofa berwarna abu abu di pojok ruangan.
Kantor Darrel tak kalah luas dengan milik tuan Abraham, hanya saja ruangannya di tata lebih simpel dan modern.
Tembok berwarna putih dengan perabotan yang mayoritas berwarna hitam, hanya sofa yang dudukinya saja yang berwarna abu abu.
Tak lama kemudian seorang wanita cantik berpakaian serba ketat masuk ke dalam ruangan kerja Darrel dan membawakan segelas jus jeruk dengan cemilan.
"Silakan diminum nona."
Wanita tersebut tersenyum memandang Naomi, namun tersirat rasa penasaran pula.
Di pandanginya tubuh Naomi dari atas ke bawah, kemudian wanita itupun berlalu.
'Pak Darrel sepertinya harus memeriksakan matanya. Gadis itu tak ada istimewanya sama sekali. Wajah yang pas pasan dan tubuh yang sama sekali tidak montok. Bagaimana bisa menarik perhatian si bos?' batin wanita yang pergi dari ruangan Darrel itu.
Naomi menyeruput jus jeruk di tangannya kemudian menggigit kue yang di sajikan pula.
Diletakkannya gelas jus kembali di atas meja saat sebuah notifikasi masuk ke dalam handphonenya.
'Kamu sudah tiba? Seperempat jam lagi saya selesai. Tunggu sebentar ya sayang..'
Naomi melempar handphone nya ke atas sofa, tiba tiba rasa mual menghinggapi perutnya hanya dengan membaca kata 'sayang' dari chat yang dikirim Darrel.
Naomi bangun dari posisi duduknya, ia berjalan mengitari ruangan kantor Darrel.
Matanya melihat satu persatu buku yang tertata rapi di dalam rak di samping sofa tempatnya duduk.
Dari mulai sisi atas hingga kebawah.
Tanpa menyentuh apapun, ia hanya melihat dan membaca sekilas.
Tubuhnya berpindah ke arah lemari yang lebih besar, terdapat jejeran piala serta piagam juga foto Darrel yang bertengger gagah di tengah.
Pria tampan dan tinggi itu memang selau fotogenik di momen apapun, bahkan saat dirinya berada di posko bencana besama dengan para relawan pun, Darrel terlihat menonjol di antara yang lainnya.
Naomi tak ingin berlama lama memandang wajah Darrel dalam foto, baginya sekarang ada yang lebih penting.
Mata gadis itu memperhatikan satu persatu map yang tertumpuk rapi di lemari paling besar di hadapannya.
Terdapat judul di setiap sisi map yang tertata rapi itu, walau terketik begitu kecil, namun mata gadis itu begitu jeli melihat satu persatu rangkaian huruf tersebut.
Baginya itu tidak sulit, dalam jarak 20 meter pun ia masih mampu melihat tulisan dengan jelas.
Matanya terhenti pada tumpukan map berwarna merah dengan judul proyek beserta tahun pengerjaannya.
Bibirnya mengulas senyum, matanya berbinar.
"Ketemu." gumamnya.
Naomi tidak menyadari, sepasang mata tengah mengawasinya, dengan serius, dan berkali kali menahan nafas geram.
***