Mario langsung menghubungi manager hotel tempat David dan Naomi berada.
"Saya ingin anda menyiapkan master key nya, kami segera ke sana." panggilan pun terputus.
Dengan mudah Mario menurunkan perintahnya pada sang manager hotel karena ia adalah salah satu eksekutif di hotel itu.
Raut muka Darrel sungguh tak bisa dibayangkan lagi.
Amarah dan emosi yang begitu meluap hampir tak terbendung.
'Dasar w***********g. Kamu menolak saya dan menginginkan keponakan saya juga.
Sebegitukah serakahnya kamu hingga berbuat seperti ini di belakang saya? Saya akan lihat seberapa jauh kamu akan bertingkah' batin Darrel dalam hati begitu geramnya.
Begitu mereka tiba di lobby hotel, manager hotel dengan tergopoh berlari menghampiri tiga pria tampan dan segera menyerahkan master key yang di minta Mario.
Darrel langsung menyerobot kunci itu dari tangan Mario dan langsung berlari menuju lift yang di ikuti Mario dan juga Anthony.
Tak hentinya Mario berdoa dalam hati, berharap tak akan terjadi perang saudara yang tidak di inginkan di tempat umum.
Begitu pintu lift terbuka, Darrel berlari menuju kamar hotel yang di maksud dan menempelkan master key pada pintu kamar.
Dan saat pintu kamar terbuka, Darrel bisa langsung mendengar teriakan Naomi yang memohon pada David agar tidak menyentuhnya.
Gadis itu menangis, bukan tersenyum bahagia seperti bayangannya.
Tadinya Darrel berniat menyeret dua muda mudi itu untuk di hukum bersama.
Namun begitu melihat kenyataannya tak seperti apa yang di bayangkannya, rasa emosinya pada Naomi menghilang dan jadilah David menjadi sasaran empuk kepalan tangannya.
***
Mario meminta Anthony mengejar Darrel dan Naomi sementara dirinya akan membantu David yang tersungkur babak belur.
"Lewat sini bos, jangan lewat pintu utama. Anda dan nona Naomi bisa masuk ke media besok kalau seperti ini."
Anthony mengarahkan Darrel agar lewat pintu samping, kemudian memberikan kunci mobil pada pria itu.
Darrel terus menggenggam pergelangan tangan Naomi dan menyeret gadis itu hingga basement.
Darrel mendorong paksa tubuh Naomi dan ia pun berjalan memutar menuju kemudi.
"s**t s**t shit..." umpatnya sambil memukul mukul setir mobil.
Naomi melirik Darrel yang sedang emosi, ia bingung.
"Apa yang kamu lakukan dengan David di dalam kamar hotel?"
Naomi masih terdiam menatap Darrel.
"Ayo jawab! Apa yang kalian lakukan? Apa kamu berniat merayu keponakanku juga?"
"David kabur dari rumah dan memintaku mendatanginya. Aku sedang membujuknya untuk pulang kerumah."
"Dengan cara b******a dengannya? Begitu?"
Reflek Naomi melayangakn tamparan ke pipi Darrel yang menghinanya dengan sangat rendah.
"Tutup mulut anda!"
Darrel yang masih emosi langsung mencengkeram tengkuk leher Naomi, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Awww...lepaskan uncle."
"Katakan. Apa kamu b******a dengannya? Apa kamu b******a dengan David tadi?"
Naomi meneteskan air matanya, mata Darrel menatapnya tajam penuh amarah, ia merasa ketakutan.
"Aku bukan p*****r yang memasrahkan tubuhku dengan banyak pria." matanya menatap nyalang balik pada Darrel, ia tak ingin kalah pada pria congkak di hadapannya itu.
Melihat reaksi Naomi yang menantangnya, Darrel langsung menarik tali bathrobe yang di kenkaan Naomi hingga terpampanglah tubuh gadis itu yang tidak di lapisi apapun.
"Dimana ia menyentuhmu? Disini? atau disini? Apa dia berhasil memasuki mu?" Darrel menyentuh setiap inchi tubuh Naomi.
Gadis itu semakin tidak tahan dengan ucapan Darrel, di dorongnya wajah Darrel agar menjauh darinya.
Ia pun menarik kembali tali bathrob yang di kenakannya, tangis nya pecah seketika.
Gadis itu masih terus menangis, menekuk kakinya dan menaikannya ke atas tempat duduknya dan menenggelamkan wajahnya di balik dua tangannya.
Darrel yang begitu emosi masih terdiam.
Pria itu masih shock dengan kejadian yang telah berlalu setengah jam yang lalu itu.
Sesekali Darrel melirik ke arah Naomi, menunggu gadis itu tenang terlebih dahulu sebelum mengajaknya berbicara.
Naomi mengusap wajahnya, ia menarik tissue yang berada di hadapannya dan membersihkan wajahnya yang basah karena air mata.
Tangis nya mereda, hanya terdengar sedikit isakan.
"Minumlah." Darrel menyodorkan botol mineral pada Naomi dan langsung di terima gadis itu.
Ia tidak mengerti bagaimana Darrel bisa tahu keberadaannya dan tiba tiba pria itu datang.
"Terimakasih."
Suasana kembali hening.
"Bisa tolong antarkan aku pulang, uncle..." tanpa memandang wajah Darrel Naomi berbicara sembari menundukkan wajahnya.
Darrel mengusap air mata yang kembali mengalir di pipi mulus gadis itu.
"Naomi..."
"David...David yang menjebak ku. Dia yang menaruh obat perangsang ke dalam minumanku hingga akhirnya...akhirnya kita melakukannya. Anak manja itu...tega sekali ia melakukannya padaku...." tangis Naomi kembali pecah, dadanya begitu sesak teringat ucapan David tadi.
Darrel terdiam, ia tak kalah kaget mendengar pernyataan Naomi.
"Karena pria b******k itu...Brengsek b******k brengsek..." umpat Naomi kesal.
Darrel memeluk tubuh Naomi, membelai rambut panjangnya dengan lembut.
"Saya juga salah Naomi, harusnya malam itu aku menolak mu. Saya minta maaf."
Naomi terus menangis, ia tak menjawab ucapan Darrel.
"Saya yang akan bertanggungjawab. Saya akan menjaga mu Naomi."
Naomi menengadahkan wajahnya, menatap Darrel dengan penuh amarah.
"Kalian berdua, kalian seenaknya mempermainkan ku."
"Saya minta maaf Naomi."
Naomi tak mempedulikan Darrel, gadis itu sibuk membuka pintu mobil yang telah terkunci otomatis oleh Darrel.
"Buka pintunya uncle."
"Kamu tidak akan kemana mana."
"Biarkan aku pergi."
"Kalau kamu pergi, itu ke tempat saya."
***
Darrel dengan paksa membawa Naomi ke mansionnya.
Ia tahu kalau gadis itu sudah tidak memiliki tempat berteduh lagi.
"Selamat datang tuan." sapa beberapa pelayan yang berpapasan dengan Darrel serta Naomi yang masih berada dalam genggaman tangannya.
Darrel membawa gadis itu ke kamarnya lalu menguncinya.
Naomi hanya diam, karena hanya dengan cara seperti itu nantinya ia akan bisa bebas kembali.
Percuma menolak Darrel, yang ada mereka akan berdebat dan membuat Naomi semakin pusing dengan masalah nya yang menumpuk.
"Ganti pakaianmu. Tidak mungkin seharian kamu akan memakai itu terus."
Darrel memberikan sesetel baju tidur untuk Naomi, entah kapan pria itu menyiapkannya.
Dan saat Naomi akan beranjak pergi dari hadapannya, Darrel menahan lengan gadis itu.
"Kamu mau kemana?"
"Ganti baju." jawab Naomi ketus.
"Ganti saja di sini."
Naomi menatap kesal pada Darrel 'sudah gila pria ini' batinnya.
"Toh aku sudah sering melihatnya, apa masih perlu risih?"
Naomi mendengus kesal, di bukanya ikatan tali bathrobe nya setelah terlepas, di lemparnya bathrobe itu asal ke lantai.
Mata Darrel tak berhenti memandang Naomi yang sedang berganti pakaian.
Pria itu begitu merindukan Naomi, kalau saja saat dirinya pulang ke rumah dan gadis itu sudah berada di kamarnya, ia tak akan melangkah kemanapun.
Ia hanya ingin berada di dekan Naomi.
Cukup lama Naomi membuka kancing piyama yang agak kencang, hingga membuat dirinya dalam posisi fullnaked dalam beberapa detik dan sukses membuat Darrel onfire.
Pria itu langsung menarik Naomi dan membekapnya dalam pangkuannya.
Tak menunggu lama Darrel langsung meraup bibir ranum Naomi, menghisapnya dengan lembut dan menuntut.
Naomi membalasnya, ya...dia membalas ciuman Darrel.
Naomi memejamkan matanya dan merangkulkan kedua tangannya ke leher Darrel.
Hatinya tiba tiba merasa tenang saat pria itu mendekap hangat dan menciumnya, oleh sebab itu Naomi membalas ciuman Darrel.
Mereka terbuai dan terhanyut dalam setiap cecapan bibir masing masing.
Darrel begitu merindukan Naomi, merindukan berada di dalam gadis itu dan memenuhi miliknya.
Naomi membuka satu persatu kancing kemeja Darrel sambil masih mencium pria itu.
Darrel menurut, ia mengikuti apa yang di inginkan gadis yang berada dalam pangkuannya.
Dan tanpa Darrel sadari, Naomi telah melepaskan pengait celananya hingga dengan sekali tarikan, celana pria itu lolos dari tempatnya.
Pelan pelan Naomi merebahkan tubuh Darrel, gadis itu masih dengan beraninya mencium bibir Darrel tanpa berniat melepaskannya.
Hingga akhirnya merasa pasokan oksigennya habis, mereka saling melepaskan satu sama lain.
Darrel tersenyum memandang manik mata Naomi.
Di remasnya p****t gadis itu dengan gemas sembari menyeringai.
"Gadis nakal, kamu berani menggoda saya? Apa kamu tidak takut dengan hukuman yang saya berikan?"
Naomi menyunggingkan senyumannya.
Darrel meloloskan boxer yang di kenakannya.
Entah sejak kapan Naomi memiliki keberanian seperti ini.
Bisa saja tadi ia melakukannya dengan David, namun perasaan ini ternyata jatuh kepada Darrel.
Ia telah terpikat pada pria dewasa itu.
"Aaaahhhhh..." desahan kembali meluncur.
Darrel begitu menikmati permainan yang di suguhkan gadis kecilnya, tak menyangkan Naomi akan melakukan itu padanya.
Tubuh Naomi ambruk berada di atas tubuh Darrel yang telah terlebih dahulu terkapar.
Gadis itu mencium ceruk leher Darrel namun tak bisa meninggalkan bekas apapun.
Ia tak ingin di sebut jalang karena melakukannya.
"Aku merindukan mu Naomi. Begitu merindukanmu." gumam Darrel sembari memeluk tubuh Naomi yang masih saja berada di atas tubuhnya.
'Apa kau mencintaiku uncle?' tanya Naomi dalam hati.
Ia tak berani mengungkapkannya.