CHAPTER 10

1618 Words
"Putra saya seorang yang sangat keras kepala, pemarah dan egois. Sudah puluhan guru privat yang tidak kuat menghadapinya. Apa kamu akan bertahan?" "Saya akan berusaha pak." "Berapa lama?" "Seberapa lama bapak menginginkannya." "Buat dia mau berangkat sekolah lagi dan mengikuti ujian." "Baik pak." "Kamu terlihat percaya dari gadis muda." "Saya hanya tak suka menyerah pak." "Saya suka semangat kamu. Saya akan bayar berapapun." "Tolong beri saya makan saja pak, urusan bayaran kalau anda sudah menerima hasilnya baru anda berikan pada saya." Bapak Marchello, ayah dari David mengenal Naomi dari bimbel tempat Naomi mengajar. Pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga, David menolak untuk bertemu gadis itu. Namun Naomi tidak menyerah, ina tetap datang dan dengan sabar menunggu David sampai pria itu siap untuk bertemu dengannya dan memulai pelajarannya yang tertinggal. Sampai akhirnya, David yang lelah menghindari Naomi akhirnya menatap gadis itu dan menatap lekat mata Naomi. Naomi selalu memasang wajah dingin dan datarnya bila bertemu dengan David. "Aku akan bayar kamu sepuluh kali lipat lebih banyak dari yang daddy kasih ke kamu kalau kamu mau pergi saja dari hadapan saya." Naomi tidak bergeming, ia sama sekali tak tertarik pada yang di tawarkan David. "Apa masih kurang?" "Saya hanya ingin anda bertemu saya seminggu empat kali dan belajar bersama saya." David tersenyum sumbang. "Apa ada yang lain yang kamu inginkan? Tubuh saya mungkin?" bisik David sexy di telinga Naomi. Bulu kuduk gadis itu meremang, mereka hanya berdua di kamar David. Siapa tahu apa yang kan terjadi. Naomi hanya terdiam tak menjawab lelucon David yang sedikit membuatnya takut. Tiba tiba David tertawa terbahak bahak, ia sepertinya puas mengerjai Naomi hingga melihat ekspresi takut gadis itu. "Kita bertaruh." David menatap manik mata Naomi, menunggu gadis itu melanjutkan kata katanya. "Kalau kamu bisa masuk sepuluh besar saat ujian mid semester akhir ini, kamu akan melanjutkan belajar dengan saya sampai kamu bisa masuk ke universitas." "Kalau kamu gagal?" Naomi terdiam, ia memang tak pernah gagal mengajari anak anak agar mereka lulus dalam ujian, tapi kali ini ia sedikit ragu. Gadis itu menghela nafas sesaat, menyetabilkan detak jantungnya yang tidak karuan. "Kalau saya gagal, sampai kamu lulus kuliah saya akan jadi pesuruh kamu. Bagaimana?" David membuang pandangannya. "Sayangnya kamu bukan selera ku." "Saya tidak meminta menjadi pasangan kamu." David tertawa mendengar jawaban lugu Naomi. Baru kali ini merasa seperti di tolak seorang gadis. Biasanya para gadis yang akan mendatanginya bahkan mereka rela sujud di kakinya agar bisa bersanding dengan David. "Baiklah." "Tapi saya punya syarat." "Katakan." "Kamu harus mendengar kata kata saya, dan berusahalah." "Hanya itu?" Naomi dengan sangat yakin menganggukkan kepalanya. Dan begitulah David bisa dekat dengan Naomi. Perlahan ia begitu menyukai ketekunan dan kegigihan yang dimiliki gadis itu. Bila dibandingkan dengan gadis gadis yang mengejarnya, Naomi bukanlah siapa siapa. Ia tidak termasuk dalam jejeran gadis gadis most wanted di sekolahnya. Tapi ada yang spesial di diri Naomi bagi David, ia mendapatkan sosok ibu dari gadis itu. Naomi terlihat muda namun begitu dewasa dibanding gadis seusianya. Dan saat penilaian ujian mid semester, David mendapat peringkat ke 9. Tentunya itu kabar gembira untuk pak Marchello dan tentunya Naomi patut berbangga hati karena usahanya dan David tidak sia sia. "Saya bangga sama kamu David, kamu tidak mengecewakan saya. Kamu benar benar menunjukkan diri kamu yang sebenarnya." David tersenyum, seketika ia memeluk Naomi dengan erat dan di balas tepukan lembut di punggung pria itu. Begitulah mereka mulai dekat, namun dalam hitungan hari Naomi yang tiba tiba menghilang membuat David kehilangan arah. Ia kembali terlihat lesu namun tetap berangkat sekolah seperti biasa. Dan pada suatu hari... "Perkenalkan nama saya Naomi Khanaya, semoga kita bisa akrab." Naomi masuk ke kelas David sebagai murid baru, tepatnya tiga bulan sebelum mereka ujian nasional. "Jadi kamu murid SMA juga?" David membulatkan matanya saat mendapati Naomi duduk sebagai teman sebangkunya. Ia tak hentinya melempar senyum pada gadis yang beberapa hari ini ia rindukan kehadirannya. Naomi mengangguk dan di balas pelukan oleh David, setiap mata memandang mereka, tidak menyangka seorang yang populer sepeti David bisa mengenal murid baru yang biasa saja seperti Naomi. *** "Apa aku perlu minta uang daddy agar kamu bisa pindah rumah?" "Tidak perlu Dave, nanti hutang ku semakin bertambah banyak pada pak Marchello kalau kamu berbuat seperti itu." "Aku bisa beralasan kalau kamu memberiku les privat" "Jangan membohongi ayah kamu demi aku, aku tidak suka." Naomi memang seperti itu, prinsip hidupnya yang membuat David semakin mengagumi gadis itu. Dan tentunya ingin memiliki Naomi seutuhnya. "Sudah sore, kamu gak pulang?" "Kamu ngusir?" "Ya nggak gitu Dave...Aku harus berangkat bekerja." "Aku akan mengantarmu." "Aku tidak punya sesuatu lagi untuk membayar ongkos antarnya..." Naomi memonyongkan bibirnya. "Aku menerima sebuah ciuman." bisik David. "Dengan sudut kursi?" Mereka tertawa bersama, ciuman dengan sudut kursi adalah sebuah kecelakaan yang terjadi akibat candaan mereka. David yang menggelitik Naomi dan akhirnya pria itu terjatuh dengan bibirnya yang mencium sudut kursi. *** "Mita tidak berangkat, kamu menggantikannya untuk melayani pelanggan di depan ya..." Naomi mengangguk. Ia mengganti pakaiannya dengan seragam yang telah di sediakan, ini bukan lah sesuatu yang baru. Selain mencuci piring terkadang ia memang di tugaskan untuk keluar kedepan melayani para tamu. "Selamat malam tuan, mau pesan apa?" Mata Naomi membola saat dirinya mendapati pelanggan yang di layani nya di ruang VVIP restoran ternyata adalah Darrel dan seorang pria muda klien bisnisnya. "Kamu juga bekerja disini? Saya pikir kamu cuma mengajar di bimbingan belajar." Darrel tak menyangka akan bertemu Naomi di tempat seperti ini. "Kamu mengenalnya?" "Ini gadis yang saya ceritakan sama kamu. Dia teman sekolahnya David." Pria tampan yang duduk berhadapan dengan Darrel menatap Naomi kemudian tersenyum. "Saya Mario Wijaya." pria itu mengulurkan tangannya pada Naomi. Naomi menyambutnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Saya Naomi." "Kamu benar benar gadis yang rajin." puji Mario. "Calon istri idaman Yo.." canda Darrel. Naomi menatap tajam ke arah Darrel, ia sudah senang beberapa hari tak bertemu dengan pria itu tapi sekarang nasib buruknya hadir kembali. Sial. "Anda ingin memesan apa? Saya tidak bisa berlama lama disini?" "Saya kenal pemilik Restorant ini. Kalau kamu mau saya bisa minta kamu untuk menemani saya makan disini." "Saya tidak lapar tuan Darrel." "Tuan?" Mario melihat ke arah Darrel dengan tatapan bingung. "Entahlah, padahal saya sudah menyuruhnya untuk memanggil kakak pada saya. Tapi dia terus menolak." Naomi tidak menyangka, Darrel yang dingin dan berwajah tanpa ekspresi itu bisa juga mengeluarkan banyolan. "Mungkin dia ingin memanggilmu dengan sebutan sayang." Mario menimpali. "Apa kalian tidak lapar?" Naomi meninggikan nada bicaranya, ia sudah mulai kesal dengan para oom oom yang sedang usil menjahilinya itu. "Eitss...tunggu dulu gadis kecil. Jangan emosi. Kami hanya ingin mengajakmu mengobrol." "Maaf, tapi saya sedang bekerja." "Kalau begitu saya tunggu sampai kamu pulang dari sini." "Kak Darrel..." Naomi mendengus kesal. "Akhirnya dia manggil kamu kakak, Darrel..." Mario meledek membuat Darrel menyeringai. "Iya Naomi..." "Mau pesan apa?" "Ayo Darrel, gadis kecil ini sepertinya sudah tidak sabar menunggu pertemuan kalian saat jam pulang." "Bukan begitu pak Mario." "Saya masih 25 tahun, tolong jangan panggil bapak, saya belum terlalu tua." Darrel tertawa mendengar jawaban Mario, sahabatnya yang satu itu memang agak sensitif kalau menyangkut umur. "Baiklah kakak kakak ganteng, mau pesan apa ya?" Naomi mencoba meredakan emosinya. Darrel tersenyum melihat ekspressi kesal Naomi, begitu terlihat imut dimatanya. "Apapun rekomendasi kamu S-A-Y-A-N-G" Darrel menggoda Naomi dengan menekan kata terakhirnya. "Baiklah, mohon tunggu sebentar." Naomi membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan VVIP menuju dapur. Di lemparnya kertas pesanan di atas meja, ia mengipas wajahnya yang tiba tiba terasa panas. "Kenapa Naomi?" tanya seorang juru masak penerima pesanan. "Pelanggan ruangan VVIP1, aku bertanya mereka mau memesan apa dan mereka malah menggodaku." "Tapi kenapa kertas pesanannya kosong?" "Akhirnya mereka meminta rekomendasi dari ku. Mana aku tahu selera mereka?" Salah seorang pelayan senior mendatangi Naomi. "VVIP1 adalah ruangan khusus yang di gunakan untuk keluarga Abraham kan?" "Iya, anda mengenal mereka?" "Tentu, yang satu putra sulung keluarga Wijaya, bapak Brandon Mario. Dan yang satunya putra bungsu keluarga Abraham, Darrel. Mereka adalah pelanggan VVIP dengan predikat gold di restorant ini." Naomi mendengus kesal, bahkan Darrel mendapat pelayanan khusus dan ruangan yang terpisah untuk keluarganya. Sebenarnya kita hidup di jaman apa sih? Kok masih ada hal yang seperti ini di temuinya? "Apa aku bisa minta untuk pindah tugas saja?" pinta Naomi. "Tidak bisa Naomi, bahkan mereka memintamu untuk makan malam bersama dengan mereka setelah ini." Naomi menjerit frustasi, membuat seisi dapur menatap nya aneh. 'Apa aku harus kabur saja?' batinnya. *** Darrel tak hentinya mengulum senyum karena Naomi sedang duduk di sampingnya menemaninya makan malam bersama sambil membicarakan proyeknya dengan sahabatnya semasa kuliah serta klien bisnisnya Mario Wijaya. Dua pria muda yang telah sukses di usianya itu begitu terlihat menawan malam ini. Sebenarnya Naomi patut bersyukur, ia tak bisa mengatakan kalau bersama dengan Darrel adalah nasib sial baginya. Hanya saja ia masih tak ingin terikat dengan apapun. Gadis itu merasa perjalanannya masih panjang dalam meraih cita citanya. Darrel meletakkan beberapa potongan daging di piring Naomi, membuat Naomi salah tingkah. "Makanlah yang banyak, saya tidak ingin calon bayi kita kurang gizi karena tubuh kamu yang bertambah kurus." Naomi membulatkan matanya, bagaimana bisa Darrel dengan entengnya berkata seperti itu di hadapan orang asing sementara dirinya dan Darrel belum menikah atau bahkan tak terikat hubungan apapun. Mario tesedak mendengar ucapan Darrel, wajah pria itu memerah karena kaget. "Jadi kalian? Oh shit..Kenapa cuma aku yang masih perjaka disini? Bahkan adiku saja sudah memiliki kekasih sejak SMA." umpat Mario. Darrel tertawa dengan reaksi Mario, sementara Naomi? Gadis itu ingin menghilang dari muka bumi saja karena malu. Secara tidak langsung Darrel mengatakan pada dunia kalau mereka telah b******a. "Apa Anthony juga punya kekasih?" tanya Mario penasaran. "Dia memiliki banyak wanita di ranjangnya setiap malam. Tapi entahlah, mungkin ia tak ingin memiliki kekasih. Apa kamu ingin seperti dia?" "Tidak, aku ingin memiliki seorang gadis saja di dunia ini seumur hidupku."jawab Mario ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD