"Kak..." Naomi menarik lengan Darrel sebelum mereka masuk ke dalam kediaman keluarga Abraham, sebuah mansion yang tak kalah mewah dari yang dimiliki Darrel.
Darrel menoleh kemudian tersenyum, tangannya beralih merangkul pundak gadis di sampingnya itu.
Darrel bisa merasakan kalau tubuh Naomi bergetar hebat.
"Tidak apa apa, ada saya disini." Darrel mencoba menenangkan.
Naomi sedikit merasa tenang, bagaimana pun ini pengalaman pertama baginya.
Ia takut kalau terjadi hal hal yang tidak di inginkan padanya, bagaimanapun keluarga Darrel adalah salah satu keluarga terpandang di tanah air.
Mereka tidak mungkin dengan mudah menerima calon menantu, apalagi Naomi bukanlah siapa siapa.
"Selamat sore tuan muda." pintu terbuka.
Darrel, Naomi serta Anthony yang selalu mengikuti mereka di belakang memasuki kediaman keluarga Abraham dan langsung di sambut beberapa pelayan yang memang telah menunggu mereka di depan pintu.
Darrel hanya mengangguk dan seperti biasa dengan ekspresi datarnya berlalu begitu saja tanpa basa basi.
Naomi terus menundukkan wajahnya dalam rangkulan tangan Darrel.
Gadis itu tak berani mengangkat wajahnya padahal sebelum datang ke kediaman keluarga Abraham, Mario sempat membawanya ke salon serta mengganti pakaiannya di butik agar gadis itu terlihat anggun dan menawan dengan balutan dress berwarna putih lengan pendek dan sepatu kets warna senada.
"Tuan besar dan nyonya sudah menunggu anda di ruang keluarga tuan." seorang pria berbalut jas hitam berjalan beriringan dengan Darrel dan Naomi.
Naomi berkali kali menarik nafasnya dan menghembuskan nya pelan, ia mencoba menghilangkan perasaan tidak karuan di hatinya.
***
Naomi dan Darrel duduk berdampingan dengan tuan Abraham beserta nyonya Diana berhadapan dengan mereka.
Suasana masih hening, namun sorot mata nyonya Diana yang tajam menatap ke arah Darrel dan Naomi bergantian, membuat suhu ruangan yang telah dingin bertambah dingin bagi Naomi.
Inginnya dia segera menghilang dari tempat itu secepatnya, namun Naomi tidak punya kemampuan yang seperti itu.
Gadis itu terus saja meremas ujung roknya, keringat di telapak tangannya sepertinya tak mau berhenti mengalir.
"Maaf baru sempat berkunjung, papa dan mama apa kabar?" Darrel membuka pembicaraan.
Naomi melirik sesaat pria tampan di sampingnya, merasa aneh, namun ia hanya mampu menundukkan kepalanya.
'Apakah seperti ini percakapan anak pada orangtuanya di keluarga kaya?' batin Naomi.
"Apa semua pekerjaan mu sudah selesai?' tanya tuan Abraham.
Pertanyaannya di tujukan untuk putranya namun sorot matanya malah menatap tajam ke arah Naomi.
"Sudah pa, tadi sudah tanda tangan kerjasama dengan William Dominic. Dan akan langsung di kerjakan minggu depan." Darrel menjawab pertanyaan ayahnya dengan tegas dan wajah datar nya.
"Darrel Alexander Abraham, apa kau masih menganggap kami orang tuamu? Apa masalah sebesar ini kami harus mendengarnya lewat media?" tatapan tajam serta nada tinggi nyonya Diana memecah keheningan.
Wanita paruh baya dengan rambut sebahu yang terurai serta wajah cantiknya yang bahkan tak di tumbuhi keriput sedikitpun itu seperti nya sudah tidak mampu membendung amarahnya lagi.
Namun tuan Abraham menahan tangan wanita itu agar tidak beranjak dari posisi duduknya.
Darrel membuang nafasnya kemudian menatap datar wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Maafkan sikap Darrel yang kurang ajar ma, Darrel tidak bermaksud menyakiti hati mama." Darrel menahan nafasnya, terasa sekali pria tampan itu hampir terisak karena bentakan wanita di hadapannya.
Naomi bisa merasakan d**a Darrel yang naik turun menahan emosinya.
"Siapa namamu nona?" tuan Abraham beralih.
Darrel menyentuh lengan Naomi, gadis itu tersadar dari pikirannya yang melayang entah kemana.
"Hmmm? Saya Naomi tuan."
"Nona Naomi, kau terlihat begitu muda. Berapa usiamu?"
"19 tahun tuan."
"Apa itu penting sekarang pa?" nyonya Diana menatap tajam suaminya.
"Apa kau serius ingin bersama Darrel?"
Naomi melirik sesaat pada Darrel, pria itu tersenyum dan mengangguk.
"Iya tuan Abraham, saya menyukai putra anda, semoga anda beserta nyonya mau merestui hubungan kami." entah Naomi mendapat kekuatan dari mana bisa lancar mengucapkan kata seperti itu.
Bahkan Darrel menatap kagum pada gadis muda yang duduk di sampingnya.
Darrel tahu kalau Naomi adalah gadis pintar yang gigih dan berani, namun ia tak menyangka kalau Naomi juga berani mengakui perasaannya di hadapan orang tuanya.
"Berani sekali gadis kecil seperti mu berkata seperti itu. Apa tujuan mu?" nyonya Diana yang sedari tadi mengeluarkan kata kata menyebalkan yang panas di telinga Naomi, membuat gadis itu bersemangat menantang wanita paruh baya di hadapannya itu.
"Saya ingin bersama putra anda nyonya." Darrel mengulum senyum, hatinya berbunga bunga tidak karuan mendengar pengakuan Naomi.
Nyonya Diana meremas tangannya sendiri, kekesalannya memuncak.
"Nyonya, tuan, makan malam sudah siap."
Seorang pelayan mendatangi mereka dengan tergopoh, tak menyangka suasana di ruang keluarga begitu mencekam.
"Kita makan dulu ma, sepertinya menantu dan cucu kita sudah tiba."
Tuan Abraham membawa nyonya Diana pergi meninggalkan Naomi dan Darrel yang masih terpaku di tempat.
Setelah beberapa saat, Naomi membuang nafas kemudian menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.
Jantungnya hampir saja lolos dari rongga dadanya.
"Aaaaahhhhh..."hela gadis itu.
"Kamu baik baik saja?" tanya Darrel.
"Apa aku terlihat baik baik saja kak? Kau membawaku ke dalam jurang yang lebih dalam."
"Tadi sepertinya kamu tidak takut menjawab pertanyaan papa."
"Siapa bilang? Jantungku hampir lepas kak."
"Benarkah? Boleh saya lihat?" Darrel meraba d**a Naomi, namun gadis itu langsung mengibaskan tangan Darrel.
"Apa ini waktunya untuk bercanda kak?" Darrel terkekeh
"Jadi kamu menyukai saya? saya baru tahu."
"Apa itu penting sekarang? Aku mau ke kamar mandi dulu, hampir saja aku kencing di celana kalau saja pelayan tadi tidak datang dan membuat kedua orang tua mu pergi."
"Jangan kencing di celana, bagaimana kalau kencing bersama ku saja."
"Kak Darrel!!" Naomi memukul lengan Darrel, pria itu mengaduh padahal tidak terasa sakit sama sekali.
"Dimana kamar mandinya?"
"Naiklah ke atas, kamar paling ujung itu kamar saya. Perlu di temani?"
"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri."
Naomi beranjak dari posisi duduknya dan berlalu meninggalkan Darrel.
Pria itu kembali terdiam, bahkan air mata di pelupuk matanya hampir saja menetes kalau tidak buru buru di seka nya.
Hatinya begitu remuk.
Wanita yang di panggilnya mama itu sama sekali tidak pernah berkata lembut padanya.
Bahkan sekarang, saat dirinya membawa gadis pujaan hatinya pulang ke rumahnya, setidaknya ia bisa berpura pura lembut atau bersikap sebagai mana layaknya seorang ibu.
Darrel tidak bisa memberontak, apalagi melawan, ia tak ingin di anggap durhaka.
Bagaimana pun Diana telah berbesar hati membesarkannya, memberinya makan, tempatnya untuk berteduh, pendidikan, serta segala fasilitas hidup mewah.
Ya, Diana memang bukan ibu kandung Darrel.
Ia adalah putra dari tuan Abraham dengan seorang wanita yang di rahasiakan.
Tuan Abraham dan nyonya Diana hanya memiliki seorang putri, Lidya Abraham yang telah lama meninggal.
Dia adalah ibu kandung David, dan juga orang yang paling menyayangi Darrel walaupun pria itu hanyalah seorang adik tiri.
Darrel mendapatkan kasih sayang dari Lidya yang berjarak usia 18 tahun lebih tua darinya.
Dan ibu kandung Darrel yang tak pernah ia lihat semenjak kecil itu entah seperti apa kabar nya.
Pria itu tak pernah mencari tahu atau bahkan untuk sekedar tahu ibu nya yang sebenarnya.
Tuan Abraham menginginkan seorang putra yang tidak bisa ia dapatkan dari nyonya Diana karena wanita itu harus mengangkat kedua rahimnya sehingga tidak mungkin baginya memiliki anak lagi.
Dan lahirlah Darrel, hasil pernikahan keduanya dengan seorang wanita yang di sembunyikan identitasnya.
***
Naomi berjalan di lorong lantai dua, ia terus berjalan menuju kamar yang berada di ujung ruangan itu.
Tiba tiba tangannya ada yang menarik, tubuhnya seketika berbalik.
"Naomi."
"David?" Naomi membulatkan matanya, sedikit kaget, namun pikirannya kembali.
Bagaimanapun hal ini pasti terjadi.
David adalah keponakan Darrel, dan akan menjadi keponakan nya pula.
Pria itu cepat atau lambat pasti akan mengetahui hubungannya dengan pamannya.
"Jadi akhirnya kau bersama dengan uncle Darrel?" kata kata yang keluar dari bibir David terdengar seperti sindiran atau hinaan di telinga Naomi, namun juga terdengar nada putus asa.
"Kau sudah tahu kan?"
"Tapi kenapa harus uncle Darrel? Sejak kapan kalian.."
"Sejak hari dimana kau mencoba menjebak ku dengan obat perangsang di mansion milik uncle mu, membuatku berakhir naik keranjangnya." Naomi menahan air matanya agar tidak menetes.
Ia begitu membenci pria di hadapannya itu setelah mengetahui kenyataan kalau David lah yang berusaha menjebaknya.
David membulatkan matanya, ia begitu shock mendengar jawaban dari mulut Naomi.
Pria itu memundurkan tubuhnya beberapa langkah terhuyung.
"Jadi kalian..."
"Ya, sama seperti mu dan Citra."
"Kau juga tahu?"
"Setidaknya kau harus bertanggung jawab padanya David. Jangan bersikap pengecut."
"Dia tidak hamil, untuk apa aku bertanggung jawab?"
"Apa perlu hamil dulu baru mau bertanggungjawab?" tantang Naomi dengan tatapan tajamnya.
"Jadi apa kau hamil? Oleh sebab itu kau bersama dengan uncle Darrel?"
Naomi tersenyum sinis.
"Apa begitu anggapan mu pada hubungan ku dengan uncle mu?"
"Jadi kau tidak hamil Naomi?"
"Itu bukan urusan mu Dave..."
"Naomi, ku mohon jangan teruskan hubungan mu dengan uncle Darrel. Walau kau sudah pernah b******a dengannya, aku tidak masalah. Aku mohon bersama lah dengan ku. Putuskan hubungan kalian."
"Tidak mungkin Dave.."
"Ku mohon Naomi..."
"Hentikan omong kosong mu Dave.."
"Jadi kau memilih bersamanya?" David meninggikan nada bicaranya, matanya melebar menahan amarah.
Tangannya mencengkeram lengan Naomi kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Lepaskan Dave...sakit..." rintihnya.
"Aku harap kau mengubah keputusanmu Naomi. Aku bersedia menunggu mu."
"Jangan menunggu ku Dave. Keputusanku tidak akan berubah." Naomi berhasil melepaskan lengannya dari cengkraman David, ia pun berlalu menuju kamar paling ujung di lantai atas, kamar Darrel.
***