Lylo membuka matanya dengan tenggorokan yang terasa kering dan begitu nyeri. Dengan tenaganya yang tersisa sedikit, Lylo memperhatikan di mana dia tengah berada sekarang. Rumah sakit ternyata, di kamar khusus untuk keluarganya.
Lylo mengangkat tangannya perlahan, menemukan bahwa otot-otot yang dulu tercetak indah di tubuhnya kini tidak terlihat dan malah digantikan dengan lengan ramping yang lembut.
Apa-apaan.
Lylo boleh seorang pribadi yang lembut. Namun melihat tubuhnya semakin hari semakin terlihat seperti Omega, dia bisa marah tentu saja.
Lylo bangun dengan paksaan. Bibirnya bergetar kesal, apalagi saat baju pasiennya terangkat, dia juga menemukan bahwa abs perutnya perlahan semakin memudar.
Sialan. Kenapa pengobatannya tidak bekerja?!
Lylo baru saja akan turun dari ranjang, sebelum sepasang lengan melingkari pingangnya lembut.
“Ke mana kamu akan pergi?”
Lylo menoleh, menemukan Lion yang tengah memeluknya dari belakang.
Persetan. Lylo seorang Alpha murni. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini di masa emosinya yang sekarang.
“Lepaskan aku! Persetan! Aku ini seorang Alpha!” lagi-lagi Lylo mengumpat, mencabut infusnya frustasi dengan niat turun dari ranjang yang ditempatinya.
“Lylo....”
“Aku ini seorang Alpha oke?! Jangan berani-berani kau memperlakukanku sepetti itu lagi. Sialan, kenapa ini bisa terjadi?!”
“Ly-”
“A-aku”
Grep
Bruk
Lylo kembali terbaring di tempat tidur. Tanpa aba-aba Lion langsung menciumnya kasar, membuat Lylo merasa bahwa dirinya lebih hina lagi saat ini.
Lylo berusaha memukul Lion. Namun sial, kini pukulannya bahkan hanya beda sedikit kekuatannya dari pukulan Al.
Ke mana kekuatannya? Ke mana perginya feromone yang dia miliki?
Lion terus mencium bibir Lylo kasar. Tidak apa bibirnya tergigit beberapa kali oleh gigi Lylo. Setidaknya dia harus menenangkan Lylo sekarang.
Mereka berciuman cukup lama, sampai Lylo melemas akibat kehabisan nafas. Nafas Lylo tersegal-segal, suara isakan perlahan terdengar di telinga Lion.
Lylo menangis. Untuk pertama kalinya dia merasa gagal hidup sebagai seorang Alpha.
Melihat lelaki itu menangis, tentu saja Lion menjadi lemah. Dia menganti posisinya yang semula mengungkung Lylo menjadi posisi di mana dia bisa memeluk Lylo dengan lembut.
“Aku harus kuat untuk adikku.... Hiks, apa-apaan ini? Aku bukan seorang Omega sialan...” isak Lylo perlahan. Dia seharusnya tidak mengecewakan Al seperti ini. Dia seharusnya bisa menjadi sosok yang melindungi dalam keadaan keluarganya saat ini.
Tapi apa ini? Pengobatannya gagal. Perlahan tapi pasti Lylo akan menjadi seseorang yang sama lemahnya dengan seorang Omega. Mata biru terangnya nanti hanya menjadi aib untuk Lylo.
Mana ada Alpha yang berbadan semampai seperti miliknya? Dia bisa ditertawakan.
“Kumohon Lylo.....” bisik Lion perlahan.
“Terimalah keadaanmu.... Aku menerima apapun kondisimu. Aku rela menjadi kekuatanmu, menjadi tanganmu, menjadi kakimu selama kamu mau menghentikan semua pengobatan itu... Kumohon, orang tua dan kakakmu khawatir sekali melihat keberadaanmu saat ini,” bujuk Lion.
Lylo menggeleng lemah. Bagamana bisa dia pasrah pada kondisinya? Bagaimana bisa dia menjadi pilar keluarganya jika suatu saat nanti Lylo benar-benar akan menjadi Alpha yang memiliki kemampuan seperti Omega?
“A-aku.....”
“Ah, seseorang memintaku untuk melakukan video call denganmu saat kamu sadar,” potong Lion tiba-tiba. Kening Lylo berkerut. Siapa lagi yang iseng sekali ingin ber video call dengannya saat suasana hatinya tengah buruk seperti ini?
Lion mencari kontak tujuannya. Menunggunya tersambung sebelum mengarahkannya pada Lylo.
Panggilan tersambung. Sebuah wajah familiar Lylo lihat bersembunyi malu-malu saat dominannya berusaha menyakinkan submissivenya.
“Baby, lihat. Kak Lylo sudah sadar Sayang.... Katakan hai padanya.”
Lylo mati-matian mencoba menahan air matanya saat melihat orang yang paling dia kasihi tengah berusaha menghubunginya pada saat seperti ini. Al, adiknya yang memiliki trauma besar pada benda persegi tipis itu mencoba menghubunginya walaupun ketakutan terlihat jelas di matanya.
Siluet seorang pria manis bertubuh kecil muncul. Perlahan, sebelum duduk manis dalam dekapan Steve yang posesif.
Al mencoba tersenyum pada layar, menyapa kakaknya dengan suara lembut miliknya.
“Kakak……… Bagaimana keadaanmu? Ma-maaf aku tidak bisa mengunjungimu ke rumah sakit.... Aku..”
“Tidak apa Sweetheart. Jangan paksakan panggilan ini jika kau-”
“TUNGGU!”
Suara pekikan Al menghentikan ucapan Lylo. Dapat Lylo lihat bahwa tangan adiknya itu gemetar hebat. Hatinya seakan teriris, Al belum bisa sembuh ternyata.
“Aku dengar dari Daddy kakak sakit dan menjalani pengobatan yang berbahaya..... Kenapa……. Kakak harus melakukannya?”
Suara Al terdengar rendah dan sedih. Sakit, Lylo lebih sakit melihat adik tersayangnya menangis dibandingkan rasa sakit yang sebelumnya dia tanggung.
“Kumohon jangan memaksakan dirimu Kak..... Aku sayang padamu.... Aku menyayangi Kakak tidak peduli Kakak akan berubah menjadi apa..... yang lain juga pasti merasakan hal yang sama denganku. Jadi, kumohon Kak…... Hentikan segala sesuatu yang bisa melukai Kakak seperti ini.”
Suara Al terdengar tulus sekali. Bahkan sang adik yang tengah dalam masa rehabilitasi pasca trauma mengkhawatirkannya. Apa mungkin...... Lylo sebaiknya menyerah?
Tapi bukankah itu berarti.....
Mata Lylo mengintip Lion yang masih serius memperhatikan video call itu. Apakah..... Lylo masih bisa menjadi seseorang jika dia sudah jatuh nanti?
“Lakukanlah itu untuk Mommy dan Daddy Kak. Lakukan itu untukku, dan untuk..... Kakak keren di sebelah Kakak.”
Merasa nyaman dalam pelukan Steve, Al perlahan kehilangan wajah tegangnya. Al sudah tahu perihal proposal pertunangan kakaknya dengan Lion. Dia turut bahagia untuk mereka. Yah, walaupun Gena juga menambahkan bahwa Lylo belum mau mengakui rasa yang dia miliki pada Lion.
Pipi Lylo sedikit memanas. Aish, adiknya mulai menggodanya sekarang.
Namun, melihat keadaan Al yang perlahan membaik, setidaknya Lylo lega. Steve telah membuktikan diri mampu mengaja Al dengan baik.
Lylo terus menimangnya. Matanya menatap wajah Al yang terlihat khawatir.
Khawatir akan keadaannya.
Lylo perlahan mengulum senyum kecil. Kadang kala mereka mungkin memang harus mengalah pada takdir kan? Lylo paling lemah jika sudah Al yang memintanya. Biarlah dia menjadi lemah. Dia tetap bisa melindungi Al dengan kekuatannya.
Atau mungkin dia harus banyak belajar dari Vaye. Seorang Omega murni yang setidaknya kekuatannya seimbang dengan seorang Beta.
Lylo tersenyum lembut. Walau sebenarnya itu adalah senyum yang dia paksakan.
“Kakak berjanji tidak akan menjalani pengobatan itu lagi untuk kalian semua. Kau senang sekarang Little Tritas?” ucap Lylo lemah sambil tersenyum kecil. Wajah Al berubah lega, matanya menatap Steve menyuarakan kebahagiaannya.
“Um! Mau jadi apa pun Kakak nanti, Kakak tetap akan menjadi orang terhebat dalam hidupku. Kalian semua, aku akan baik-baik saja selama kalian bahagia dan senang.”
Lylo mengangguk dalam diam. Dia tidak bisa mengecewakan Al lagi. Bahkan jika dia harus merelakan tubuhnya perlahan digerogoti oleh kelainan miliknya itu.
Mungkin, dia memang harus terlahir seperti ini sejak dulu. Dia melawan permintaan orang tuanya tanpa dia sadari, semua itu terjadi akibat efek fluktuatif emosi yang merupakan salah satu efek samping dari pengobatannya.
Mungkin, dia memang harus mengalah.
Menentang takdir itu memang tidak mungkin ternyata. Lylo seharusnya sadar akan hal itu.
“Baby. Masuk ke kamar duluan ya? Aku ingin berbicara dengan kakakmu sebagai sesama Alpha.”
Suara Steve terdengar meminta Al untuk menjauh. Al sempat protes pada awalnya, sebelum dengan malas dirinya pasrah saja saat Steve menggendongnya pergi sebelum Steve kembali lagi menghadap Lylo.
“Hai.”
Sapa Steve canggung. Entahlah, hubungannya dengan Lylo memang tidak sejelek hubungannya dengan Lussac yang selalu adu mulut saat dekat dengannya. Tapi berbicara berdua seperti ini, tentu saja Steve tetap akan merasa canggung.
“Aku tahu pasti berat bagimu untuk menerima keadaanmu sekarang. Jika.... Jika kamu khawatir masalah Al, sekarang telah menjadi tugasku untuk selalu menjaganya. Kamu lebih baik fokuskan saja kegiatanmu untuk pemulihan tubuhmu. Err.... Aku mungkin tidak pandai dalam mengatakan ini tapi... Aku tahu pria disebelahmu itu adalah orang yang baik. Dia menjagamu saat aku menjengukmu waktu itu. Tidak tertidur dan terus berdoa demi kesadaranmu seperti sedang membacakan sebuah mantra tanpa henti. Aku pernah mengalaminya, saat Al sakit dulu Lylo.”
Steve bercerita panjang lebar. Sebenarnya bukan style Steve sama sekali mengatakan semuanya secara langsung seperti ini.
“Jadi aku tahu dia tulus padamu. Bukan maksudku untuk ikut campur dalam urusanmu, namun bertunanagan dengannya kupikir bukan hal yang buruk. Paman Ryan dan Gena pasti sangat berhati-hati dalam memilih matemu. Jadi.... Kau tahu, aku saja bahkan tetap menghormatinu tidak peduli apapun yang terjadi. Percayalah, kami semua akan mengakuimu dengan apa yang kau miliki. Kamu hebat, aku tahu kamu mampu berusaha Lylo,” ujar Steve malu-malu. Dia menggaruk pipinya salah tingkah. Entahlah, rasanya ini terlalu berlebihan.
“Dan untukmu, jagalah kakak iparku dengan baik. Kakak Al adalah kakakku juga. Berani menyakitinya maka kau akan berurusan denganku. Tidak peduli bahkan jika kamu adalah dewa sekali pun,” ancam Steve serius. Lion menggangguk yakin, membuat Steve menghela nafas lega dan memutuskan panggilan dalam kecanggungan.
Lylo tertawa kecil setelah panggilan selesai. Cheesy sekali. Steve tidak pernah mengatakan hal yang begitu manis sejak dulu. Melihatnya tiba-tiba menyemangatinya..... Itu cukup hangat sebenarnya.
“Kalau begitu, aku tutup dulu panggilannya. Aku tidak bisa meninggalkan Al terlalu lama sendirian.”
Bip
Panggilan selesai. Lylo masih tersenyum kecil mengingat saran adiknya, walaupun hatinya perih karena dilema antara menyerah atau terus bertahan.
“Hei."
Lion terlihat salah tingkah. Dia memegang tangan Lylo lembut, berusaha memberi senyum untuk menyemangati tunangannya.
“Kami menerima apapun kondisimu Lylo. Tuhan pasti telah memiliki rencana-Nya tersendiri untukmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengikuti takdir dan terus hidup. Jangan bahayakan dirimu lagi seperti sebelumnya.”
Lylo hanya memperhatikan selimutnya. Menyerah ya....
Bukankah itu hanya akan membuatnya menjadi seorang Alpha gagal?
“Bisakah kamu....” nada Lylo seperti tercekat. Dia sebenarnya tahu, sangat tahu bahwa pengobatannya mungkin akan berujung pada kegagalan.
Namun Lylo bukanlah tipe orang yang mudah menyerah pada apa yang tidak dia lihat. Lylo pikir...... Dia akan berhasil. Dia akan berhasil dan membuat keluarganya bangga.
Namun, siapa sangka hasilnya malah begini?
“Bisakah kamu tinggalkan aku sebentar? Berikan aku waktu sendiri. Hanya untuk menjernihkan pikiranku.”
Suaranya terdengar begitu menyedihkan. Lylo tidak mau menatap Lion sedikitpun. Takut jika lelaki itu mengetahui bahwa matanya mulai memerah.
Lion awalnya ingin menolak, namun begitu mulutnya terbuka-
“Aku masih seorang Alpha, Lion. Tinggalkan aku sendiri, kumohon.”
-Lylo malah semakin menekankan ucapannya dan membuat Lion mau tidak mau mengalah. Mungkin benar Lylo butuh waktu, pikirnya sebelum keluar dari kamar dan meninggalkan Lylo sendirian.
Lylo menghela nafas berat berusaha menghentikan air mata yang ingin menerobos keluar dari matanya. Padahal tadi dia mampu menahannya, kenapa saat Al yang bicara dia selemah ini?
Menyerah? Haruskah? Bagaiamana dia bisa melindungi Al jika tubuhnya jadi lemah begini?
Lylo mengigit bibirnya. Sebelum sebuah suara menginterupsi sedihnya.
“Halo, Tuan Lylo.”
Dan penglihatan Lylo menggelap seiring seseorang membiusnya secara tiba-tiba.
To be continued