Lion berkedip cepat. Ah ya, Lylo masih terikat ternyata. Pantas saja dari tadi dia bicara, Lylo hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa.
Lion tertawa renyah, melepaskan ikatan itu lembut dengan hati sedikit menyesal.
“Maafkan aku. Um... Kamu baik-baik saja kan?”
Lion memperhatikan bekas merah yang terdapat di pergelangan tangan Lylo. Mati, pikirnya. Bagaimana jika Ryan tahu nanti? Bukankah dia bisa dipecat sebagai calon menantu karena telah melukai putranya?
Lagipula salah dia juga sih. Kok bisa kelepasan begitu saat marah.
“Um.... Kamu tahu....”
“Aku tidak tahu bahwa kita pernah bertemu dulu. Kenapa kamu tidak memberitahuku pada pertemuan pertama kita?” sela Lylo tiba-tiba. Wajahnya terlihat seperti sedikit menyesal dan kesal. Bagaimana pun, Lylo itu sebenarnya memiliki hati yang sangat baik pada sekitarnya.
“Aku ingin kamu mengetahuinya sendiri,” ujar Lion bangga. Senyumnya melebar, menatap Lylo yang sedikit terpesona melihat wajah cerah itu.
Siapa sangka, wajah m***m itu memiliki sisi indah dan tampan eh?
Ekhem, Lylo hanya khilaf tadi.
“Na-namun, sedekat apa pun kita dulu. Itu tidak berarti kamu bisa mengaturku atau apa pun. Kamu pasti sadar bahwa aku seorang Alpha, dan kamu juga seorang Alpha. Terlebih lagi, kita sama-sana seorang pria. Kamu tidak bisa memaksakan kehendakmu padaku karena aku pun memiliki harga diri. Dan untuk masalah surat itu...... Aku telah mendapatkan berbagai macam jenis surat seperti itu sejak kecil. Kamu tidak perlu khawatir, aku sudah terbiasa menghadapinya,” jelas Lylo panjang.
Lion jelas tidak terima. Kali ini dia kembali pada dirinya yang biasa. Mengerucutkan bibir dengan wajah terluka dibuat-buat.
“Tapi itu kan....”
“Juga, terima kasih.”
Lylo memerhatikan wajah Lion dengan baik. Memotong ucapan Lion yang mengggantung sebelumnya.
“Terima kasih karena telah menganggapku sebagai pahlawan di kehidupanmu. Setidaknya aku lega, aku tidak terlahir di dunia ini tanpa rencana apa pun,” ujar Lylo sambil tersenyum kecil.
“Kamu tidak begitu!” bantah Lion tegas. Alisnya menyatu seperti menolak keras ucapan Lylo. Lucu juga, menurut Lylo.
“Kamu selalu berusaha. Bahkan untuk tetap kuat pun, kamu.... berusaha keras bukan?”
Lylo menggeleng pelan. “Tapi aku masih gagal melindungi adikku,” sesalnya kecil.
“Tuan Muda Al?” tebak Lion. Lylo mengangguk.
“Kamu.... Tidak bisa selalu melakukan semuanya sekaligus Lylo. Aku tahu kau telah berusaha sekuat tenaga selama ini. Aku tahu tidak banyak, Alpha yang tetap bisa melanjutkan hidupnya dengan kepala tegak setelah didiagnosa memiliki kelainan ini,” ujar Lion menghibur. Matanya berapi-api menyemangati Lylo. Dia tampak lebih hidup daripada sebelumnya.
Hal yang dibenci Lylo di awal adalah, Alpha itu selalu terlihat pura-pura di depannya. Dia selalu tersenyum dan menggoda Lylo, tapi matanya kadang terlihat kosong pada berbagai kesempatan. Jujur, Lylo lebih suka Lion yang berapi-api begini.
Lylo terkekeh kecil, membuat wajah Lion berubah semakin bingung lagi.
Sesaat sebelumnya Lylo sedang sedih. Lalu sesaat kemudian wajahnya berubah senang.
Kok, rasanya menakutkan ya?
“Terima kasih. Setelah kupikir-pikir, tidak buruk juga jika kita memulainya dari pertemanan.”
Senyum indahnya mengembang. Terlihat cocok pada Lylo yang bermuka menyenangkan.
Dan saat itu juga, Lion merasakan bahwa hidupnya memang akan sempurna jika dia hidup bersama Lylo.
*****
“Uhuk, uhuk.”
Lagi, pagi itu Lylo kembali muntah darah. Sial memang, lagi-lagi tubuhnya menolak obat penaik hormon yang diberikan dokternya.
Lylo memukul tembok dengan frustasi. Dia tidak akan membiarkan tubuhnya berubah menjadi Alpha lemah yang gagal. Tidak akan, Lylo seorang Alpha kuat dari keluarga elit bagaimana pun juga.
“Hueek.”
Lylo memuntahkan cairan hitam yang merupakan obat yang selama ini dia konsumsi. Bagaimana bisa dia sembuh jika obat yang dia minum selalu keluar sendiri seperti ini?
Tok tok
Pintu kamar mandi diketuk, seseorang berdiri dibalik kamar mandi Lylo yang berpintu kaca tebal.
“Lylo? Apa kamu baik-baik saja? Aku mendengar suara muntahan dari dalam sana.”
Ada nada khawatir dari suara Lion. Lylo menggeleng pelan, Lion tidak boleh melihatnya dalam keadaan seperti ini.
“Aku baik-uhuk uhuk.”
Lylo lagi-lagi terbatuk. Kali ini lebih parah, dadanya sampai sakit sekali tiap kali dia terbatuk.
Mendengar suara batuk mengerikan itu, Lion segera menerobos masuk ke kamar mandi. Menemukan Lylo dengan piyama hitam miliknya tengah duduk dilantai sambil terbatuk hebat.
Bukan batuk yang jadi masalah disini, tapi darah yang keluar baik dari hidung maupun mulutnya.
Lion? Jangan ditanya. Dia sangat panik sampai dengan cepat dia mengangkat tubuh Lylo seperti tubuh itu hanya seringan kapas ditangannya lalu membawa Lylo keluar. Berteriak memanggil beberapa pengawal yang tengah berjaga untuk menyiapkan mobil.
Seseorang diminta untuk membangunkan Ryan dan Gena. Sementara Lion dengan cepat membawa Lylo ke mobil BMWnya lalu memakaikan seatbelt pada tubuh lemas Lylo dengan cepat. Keluarga Tritas bisa menyusul nanti. Keadaan Lylo prioritasnya sekarang.
Mata Lylo mulai berkunang-kunang. Seluruh tubuhnya terasa sakit sekali. Samar-samar, Lylo dapat melihat raut kepanikan dalam wajah Lion. Lelaki itu sampai menahan tangis saking takutnya. Membuat perasaan Lylo sedikit tersentuh di tengah lemasnya.
“Kumohon bertahanlah! Bertahanlah untukku Lylo!” mohon Lion samar. Lylo tersenyum lemah, ternyata Lion belum berubah sejak dulu.
Melihat Lion menangis begini, dia jadi merasa deja vu. Dia seperti sering menyaksikan lelaki gagah itu menangis dulu. Bagaimana dia mengusap hidungnya saat menangis, atau isakannya yang heboh sekali jika telah selesai menangis lama.
Padahal, Lylo tidak akan mati kan?
Ini hanya reaksi normal saat tubuhnya menolak pengobatan yang Lylo jalani. Biasanya, dia hanya akan pingsan dan bangun dalam kamarnya sendiri karena pintu kamar Lylo selalu tertutup sehingga baik Gena maupun Ryan hanya berpikir bahwa Lylo masih tidur.
Tapi semenjak kehadiran pria m***m itu, selalu saja ada Lion yang memperhatikan Lylo. Baik untuk pola makannya yang jelek, atau sekedar mengingatkan Lylo untuk istirahat saat dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, atau bahkan mengomentari hal terkecil sekali pun.
Dipikir-pikir, perasaan diperhatikan itu, tidak buruk juga. Bagamanapun, sejak kecil Lylo selalu memegang prinsip bahwa sebagai seorang kakak, dia harus mampu menjadi kakak yang baik untuk adiknya yang seorang Omega. Kasih sayang semua mereka limpahkan untuk si bungsu. Dan Lylo menyukainya.
Namun siapa sangka, diperhatikan seseorang itu, senyaman ini.
Sesampainya di rumah sakit, Lion segera keluar dengan terburu-buru dan memanggil dokter untuk segera menangani Lylo. Melihat anak kedua pemilik rumah sakit datang, tentu saja mereka panik. Lylo segera dibawa ke ruang khusus. Diperiksa oleh dokter ahli yang tengah berjaga saat itu.
Lion menunggu dengan wajah tegang. Tidak lama kemudian Ryan dan Gena datang, diikuti dengan Lussac dan seorang Omega yang Lion kenal bernama Vaye.
Mereka pasti datang setelah diberitahu Ryan.
“Bagaimana bisa Lylo tiba-tiba seperti ini Dad?” Lussac bertanya dengan dahi berkerut. Ini masih dini hari, namun Lussac telah mendapat telfon seperti itu.
Bukan karena apa, tapi mendapat panggilan di jam segitu membuat Lussac panik bukan main. Untung anaknya tengah pergi camping di acara sekolah hari ini. Dahi Lussac kini berkerut cemas, dari awal Lussac memang tidak setuju dengan usul adik pertamanya yang ingin menjalani pengobatan itu.
“Dad, kumohon! Bujuk Lylo untuk menghentikan pengobatan berbahaya itu. Aku mengkhawatirkannya! Gosh, aku tidak tega jika harus membiarkannya tersiksa seperti ini Dad!” protes Lussac kesal.
Ryan memijit hidungnya frustasi. “Kamu tahu sendiri bagaimana adikmu itu Lu. Bahkan dengan Lion di sisinya, Lylo masih terus keras kepala untuk memperhatahankan pendiriannya.”
Mendengar nama lain disebut, Lussac baru sadar ada orang lain disana. Orang itu menunduk sopan, membuat Lussac menghela nafas lega lalu bergerak memeluk ala lelaki pria tersebut.
“Lama tidak melihatmu Lion. Akhirnya memutuskan untuk mengejar adikku? Kamu seharusnya datang lebih awal.” Lussac berucap lemah. Jika saja mereka bertemu saat Lylo tidak dalam keadaan seperti ini, Lussac mungkin akan menyambutnya lebih hangat.
Bagamana pun, Lussac adalah salah satu saksi bagainana Lion begitu menyayangi Lylo. Lelaki itu rela mengorbankan nama keluarga dan kenyamanannya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih kuat. Agar bisa melindungi Lylo katanya.
Lussac tahu mereka berdua sama-sama seorang Alpha. Namun melihat ketulusannya bahkan saat tahu Lylo memiliki kelainan, mengingatkannya pada Steve mate sang adik.
Keduanya begitu tulus. Lussac juga berharap, dia telah menjadi mate yang baik untuk Vaye.
Sejam telah berlalu. Dokter akhirnya keluar, menatap deretan orang yang menatapnya penuh rasa cemas.
“Tuan Lylo mengalami penolakan atas obat yang dia konsumsi. Obat itu, dalam tubuh Tuan Lylo malah mengeluarkan efek yang sebaliknya. Tingkat produktivitas feromone yang dihasilkan Tuan Lylo menurun drastis. Dan dia..... Hampir kehilangan semua feromone Alphanya sekarang.” Dokter itu mengatakannya dengan hati-hati. Takut menyinggung keluarga besar ini.
“Saya sarankan Tuan Lylo segera menghentikan pengobatan itu, Tuan. Mereka masih dalam masa uji coba dan tidak stabil dalam penggunaannya. Penting bagi pihak keluarga memberinya dorongan untuk menerima keadaannya yang sekarang. Terus melanjutkan pengobatan hanya akan membahayakan nyawanya,” lanjut Dokter itu lagi. Dia mohon undur diri tidak kemudian, meninggalkan keluarga Tritas yang terdiam bisu memandang Lylo yang mulai dipindahkan ke ruang rawat.
To be continued