Jealous

1451 Words
Suasana ruang makan itu terlihat begitu hening. Gena memandang suaminya, Ryan yang juga menatap istrinya, sementara Lion memakan sarapannya dalam diam. Lylo juga sama. Dia sarapan di ruang makan seperti sebelumnya tanpa perasaan apa pun sama sekali. “Sayang....” Gena menegur dengan hati-hati. Lylo menoleh, dimulutnya ada roti daging yang tengah dia kunyah dengan perlahan. “Kamu maafkan kami ya? Err.... Berkenalanlah dengan Lion pelan-pelan. Jangan buat dirimu sakit seperti itu, kamu membuat Mom khawatir.” Lylo telah selesai menguyah. Dia tidak mengangguk setuju, tapi tidak juga menggeleng seperti sebelumnya. “Mari bertaruh Mom, Dad.” Keduanya segera melirik Lion yang duduk di sebelah Lylo tetap diam dan asik memakan makanannya. Seakan dia memang setuju dengan ide yang akan diajukan Lylo. Biarlah calon matenya itu yang memutuskan sendiri. “Aku akan tetap melakukan pengobatanku. Jika berhasil dan hormon Alphaku kembali meningkat, maka kalian harus membatalkan pertunangan ini dan aku berhak menikah dengan seorang Omega. Namun jika gagal...” Lylo melirik sekilas pada Lion yang entah sengaja atau tidak, malah bertatap mata dengannya. “Tuhan pasti memiliki sesuatu yang lain untukku. Tidak masalah, selama kalian bahagia,” putus Lylo pada akhirnya. Gena dan Ryan tersenyum senang, setidaknya Lylo tidak menolak saran mereka seperti sebelumnya. “Deal Son. Tapi ingat untuk jangan memaksakan dirimu. Kami akan selalu mendukung apapun keputusanmu selama itu baik,” final Ryan pada akhirnya. ***** Langkah pertama, ...... Langkah kedua, ....... Ketiga..... Lylo berbalik jengah, sementara yang ditatap tajam malah menampakan senyum yang seolah tanpa dosa. “Berhenti mengikuti setiap langkahku!” perintah Lylo kesal. Namun bukannya menjawab, Lion malah menaikan bahunya dingin sambil memasang wajah bingung. “Tugasku itu mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Dan aku tidak mengikuti setiap langkahmu. Kamu ini galak sekali ya, seperti wanita PMS,” celetuk Lion santai, membuat Lylo semakin geram dengan ucapannya. Namun tetap, sebagai Alpha elit yang berwibawa, Lylo berusaha sekuat tenaga untuk santai. Dia mengambil nafas panjang, kembali melanjutkan jalannya sambil menahan kesal pada tingkah Lion yang semakin menjadi. Lylo kembali berbalik, kali ini dengan tatapan yang lebih marah. “Berhenti menempeliku!” bentak Lylo kesal. Jika didepan orang lelaki itu selalu terlihat tenang, namun jika sudah berhadapan dengan iblis ini, entahlah. Rasanya Lylo ingin selalu marah-marah dibuatnya. Seperti tadi, Lion kembali mengangkat bahu seolah apa yang dia lakukan bukanlah sebuah kesalahan. “Aku tidak menempelimu manis,” goda Lion santai. “Kau-” “Lylo?” seseorang menginterupsi amarah Lylo. Wajahnya putih mulus, dengan rambut potong pendek yang tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia seorang Omega. Dan cara pipinya itu memerah, Lion sangat tidak suka itu. Apalagi saat dia dengan santai memanggil Lylo dengan nama panggilannya. Dia pikir dia itu siapa huh? Mata Lion menggelap, memerhatikan Omega kecil itu dengan tatapan yang tajam. Sayang baik Lylo maupun Omega itu sama sekali tidak peka dengan tatapan yang dilayangkan Lion. Lelaki Alpha itu kini malah asik mengobrol dengan si Omega sambil sesekali mengusap kepalanya. Lima menit Lion masih tahan melihat 'kemesraan' itu. Terus.... Terus.... Sebelum- “Tuan Muda... Ini waktu kerja bukan waktunya untuk mengobrol di lorong perusahaan.” Lion tersenyum manis sekali, menampakan senyum yang malah terlihat seperti senyum iblis di mata si Omega. “Tch, sesukaku dong jika aku ingin-Hei! Kau-” “Tugasku adalah memastikan Tuan Muda bekerja tanpa kekhawatiran sedikit pun. Nah, sekarang cepatlah masuk kantormu sendiri dan lakukan tugasmu,” potong Lion santai. Lylo melotot kesal, tidak terima diperintahkan oleh seseorang yang memiliki derajat yang sama dengannya. “Kamu tidak bisa mengaturku seenaknya dasar bodyguard sialan!” umpat Lylo kasar. Alpha itu tidak habis pikir. Tadi Lion terus menempelinya seperti prangko, lalu sekarang, apa-apaan lelaki itu malah menariknya kesana-kemari dan membatasi langkahnya?! Belum lagi senyumnya. Sungguh, Lylo benci senyuman palsu itu. Menyerah, Lylo menghempaskan tubuhnya di sofa besar untuk meredakan amarahnya. Sungguh, satu minggu saja bersama dengan iblis ini sudah cukup untuk membuat Lylo sakit kepala. Bagaimana jika nanti mereka akan terus bersama? Seterusnya? Sampai menikah? Ei, kenapa juga Lylo jadi berpikir seperti itu? Sampai.Kapan.Pun.Lylo.Tidak.Akan.Menikahi.Alpha.Mesum.Itu Cih, dia pasti akan sembuh dari kelainan menyebalkan ini. “Aku cemburu,” ungkap Lion tiba-tiba. Wajahnya menatap Lylo cemberut, mendudukan dirinya dengan santai disebelah Lylo. “Kamu itu calon tunanganku, tapi masih santai saja bercanda begitu dengan seorang Omega di depanku,” lanjut Lion lagi, sukses membuat Lylo melongo kosong. “Tunggu.” Lylo mengangkat tangannya, bingung dengan apa maksud perkataan Lion. “Jangan bilang kau cemburu dengan Vaye,” tebak Lylo tidak yakin. Mendengar Lylo menyebut nama Omega itu dengan akrab, Lion bahkan lebih sedih lagi. Bibirnya mengerucut sok tersakiti, memandang Lylo dengan tatapan anjing yang baru saja dibuang majikannya. “Kamu pikir siapa lagi? Memangnya kamu bicara dengan orang lain hari ini?” gerutu Lion kecil. Lylo memijit pelilisnya frustasi, bingung harus sesabar apa lagi dalam menghadapi Alpha konyol seperti ini. “Dengar. Vaye itu kakak iparku! Kamu dengar? Dia kakak iparku! Lucu sekali jika aku sampai tertarik padanya. Kak Lu mungkin akan membunuhku jika saja aku benar-benar menyukainya,” jelas Lylo frustasi. Berapa kali dia berteriak hari ini? Entahlah. Hidupnya memang berpindah halauan semenjak kedatangan Lion. Lagipula, untuk apa Lylo menjelaskan semua itu? Ah, hanya agar lelaki itu berhenti merajuk mungkin. Mungkin. Mendengar penjelasan Lylo, bukan Lion namanya jika dia langsung percaya. Mata biru terangnya menyipit curiga, tampak sekali bahwa dia belum percaya sepenuhnya pada ucapan Lylo. Lylo melirik lelah kepada Lion. Terserahlah, dia tidak mau pagi-pagi begini cepat lelah hanya karena mengurusi satu pria yang baru dikenalnya kurang dari sebulan ini. “Terserah kamu mau percaya padaku atau tidak. Aku akan memulai pekerjaanku, dan aku harap kamu juga melakukan tugasmu untuk menjagaku,” final Lylo. Lelaki itu segera duduk dibangku kerjanya, mengabaikan mata Lylo yang terlihat semakin menggelap. Tangan besarnya menekan earphone kecil yang terpasang di telinganya. Terdengar suara gumaman kecil, dan tanpa mau menunggu, Lion segera bicara. “Cari tahu siapa itu Vaye, dan hubungannya dengan keluarga Tritas. Lakukan sekarang atau aku akan menembak kepalamu jika kita bertemu kawan.” Earphone itu kembali dimatikan. Lion berdiri tegap, tersenyum memerhatikan Lylo yang mulai fokus dengan tugasnya sendiri. Penyelamatnya, tidak akan pernah Lion berikan pada siapapun. Tidak setelah apa yang dia perjuangkan untuk Lylo selama ini ***** Satu tumpukan pekerjaan berhasil Lylo bereskan. Alpha itu merenggangkan badannya sejenak, menatap Lion yang kini senyum-senyum sendiri. “Sekarang kamu kenapa?” tanya Lylo kesal. Tadi lelaki itu memasang wajah murung tidak enak dilihat yang bahkan hampir mengusir semua koleganya. Namun kini, lihatlah wajah konyolnya itu. Lelaki itu kini malah tersenyum asik sendiri sambil terus memandanginya. “Kakak iparmu ya……” senandung Lion riang. Senyumnya semakin mengembang, membuat Lylo yang melihatnya jadi merinding sendiri. “Lagipula, mana mungkin kamu dekat dengan seorang Omega iya kan?” Senyum Lion malah disalah artikan oleh Lylo. Lelaki itu melotot kesal, merasa kegagahannya sebagai seorang Alpha kini diragukan oleh bodyguardnya sendiri. “Kamu pikir aku tidak bisa dekat dengan Omega lain huh? Aku bahkan bisa-umpppt.” Lagi, Lion kembali menciumnya tanpa ijin. Bibirnya tersenyum senang, apalagi saat lidahnya menjilat bibir Lylo lembut. Lylo masih enggan membuka mulut. Tidak apa, waktu mereka masih panjang untuk memperbaiki kekurangan itu. Srat Lion hampir saja terkena tebasan pulpen milik Lylo jika saja dia tidak menghindar. Wajah Lylo merah padam, lagi-lagi merasa terhina setelah dilecehkan oleh bodyguardnya sendiri. “Jangan marah. Aku akan semakin ingin memakanmu jika begitu,” goda Lion polos. Lylo melotot kesal, “Kau!” namun menghentikan kalimatnya, saat merasa bahwa apapun yang dia katakan, pasti hanya akan dianggap angin lalu oleh Lion. Namun kenapa mulutnya selalu ingin mengomel ya? Lylo tidak pernah bisa tahan untuk menghina Lion kapanpun lelaki itu berbuat ulah. “b******n m***m sialan. Lihat saja, saat aku telah terlepas dari kelainan ini, aku yang akan menjatuhkanmu. Jika perlu, aku akan menjadikanmu Omegaku! Dengar, kamu-yang-akan-menjadi-pihak-yang-mendesah jika kita memang perlu bertunagan!” tekan Lylo kuat-kuat. Sedetik dia masih merasa baik-baik saja. Sebelum otaknya mencerna apa yang baru saja dia ucapkan. Kupingnya memerah. Seumur hidupnya, belum pernah sekalipun Lylo berbicara sefrontal ini pada seseorang. Ingat, sekali pun tidak pernah. Apalagi jika tengah didepan adik manisnya Al. Lion dilain sisi, menanggapinya dengan hati berbunga-bunga. Matanya membentuk bulan sabit, efek terlalu senang katanya. “Aku tidak menyangka kau bahkan berpikir sejauh itu Sayang," ujar Lion riang. Entahlah, suasana hatinya mudah membaik saat tahu Vaye itu benar-benar kakak ipar Lylo. Mate sah dari kakak Lylo, Lussac. Apalagi tadi Lylo sepertinya berusaha sekali menjelaskan yang sebenarnya pada Lion. Itu bisa diartikan bahwa Lylo tidak ingin dia cemburu kan? Lagi-lagi Lion tertawa pelan karena pemikirannya sendiri. Kisah cintanya memang sangat indah dan berwarna. Menciptakan getaran hawa dingin, pada Lylo yang memandang horror Lion yang asik tersenyum sendiri. Lylo meyakini, calon tunangan yang tidak diakunya itu memang gila dilihat dari sisi mana pun juga. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD