Not Feeling Well

1493 Words
“Uhuk!” Lylo terbangun lagi dengan perasaan sakit pada tenggorokannya. Hidungnya seperti tersengat, dan kepalanya mengalami sakit yang sangat menusuk sampai untuk berkedi pun rasanya begitu menyakitkan. Hanya ada satu penjelasan untuk keadaanya saat ini. Dia sakit, dan berterima kasihlah pada hujan yang hanya membasahi tubuhnya walau sebentar. Padahal Lylo sudah sangat yakin bahwa tubuhnya sudah kuat untuk sekedar menerima hujan pada malam hari. Namun nyatanya masih ada saja efek buruk yang harus dia rasakan. Belum lagi Lylo tidak ikut makan malam tadi malam, karena masih kecewa dengan keputusan keluarganya. Gena dan Ryan juga nampaknya ingin memberikan Lylo waktu, sehingga tidak mengingatkannya untuk makan malam kemarin. Stupid condition, in stupid situation. Lylo rasanya ingin mengumpat terus-menerus karena keadaannya. “Sudah kubilang kan? Aku telah mengabarkan Tuan Besar bahwa kau tengah sakit. Mereka telah memanggil dokter keluargamu untuk datang saat ini.” Lylo menoleh pada Lion, yang sedang duduk di sofa kamarnya santai sambil membaca buku. Lylo enggan membalas. Ini semua memang salahnya, terlalu keras kepala dan akhirnya jatuh sakit, lagi. Tok tok “Ini aku Ares. Bolehkah aku masuk?” Suara Ares terdengar setelah ketukan pintu. Lylo baru saja hendak bangun, sebelum Lion menahan pergerakannya. “Biar aku saja,” ujarnya singkat. Lion membukakan pintu kamar Lylo, dan mempersilahkan Ares yang sempat kaget untuk masuk dan segera memeriksa Lylo. “Kamu demam. Kehujanan dan membiarkan perutmu kosong bukanlah perilaku yang baik Lylo. Aku sarankan kau beristirahat total untuk beberapa hari ini. Aku akan memberimu beberapa obat dan vitamin untuk ini.” Lylo melirik sekilas Lion, yang memberinya pandangan 'sudah kubilang'. Ares juga mengikuti arah pandang Lylo, dan sedikit tahu bahwa hubungan mereka tidak sesederhana seorang klien dan bodyguard biasa. Secara, dia adalah teman baik Ryan dan Gena. “Kamu tahu..... Kupikir kamu tidak perlu melakukan pengobatanmu lagi Lylo. Pengobatan itu berbahaya, belum ada Alpha yang terkena situasi serupa yang berhasil sampai saat ini.” Ares membuka mulutnya disana, merasa bahwa Lion juga berhak mendengarkan perihal masalah ini. Bagaimana pun, pasangan yang sebentar lagi akan terikat pertunamgan sudah seperti satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sekalipun mereka belum saling menandai untuk saat ini. Wajah Lylo berubah saat Lion hanya mendengarkan dengan serius. Persetan, Lylo itu kuat. Dia pasti akan sembuh. “Aku akan tetap menjalani pengobatannya Dok. Dan aku akan menjadi orang pertama yang berhasil menggunakan pengobatan itu,” tegas Lylo yakin. Dia bahkan enggan untuk melirik Ares lagi. Singkatnya, Lylo marah kini. Ares juga sadar situasi. Dengan helaan nafas akhirnya ia keluar kamar setelah menata obat yang dibutuhkan Lylo dengan rapi. Lion mengantarnya sampai ke pintu, sebelum berbalik menatap Lylo yang hanya menerawang ke arah luar. “Kamu tahu, kekeras kepalaan bisa membunuhmu,” desis Lion kecil. Lylo bahkan tidak perlu repot untuk meresponnya. Dia malas, dan juga lelah untuk saat ini. “Tidak ada salahnya menerima keadaanmu Lylo. Kita bisa bertunangan, dan-” “Dan aku harus menerima kenyataan bahwa lambat laun aku akan menjadi seseorang yang daya tahannya sama seperti seorang Omega? Cih, lebih baik aku mati daripada mengalaminya,” cibir Lylo, masih membuang mukanya ke jendela. “LYLO!” Lion membentak, sementara Lylo malah memandangnya tajam seakan menantang kesabaran Lion. “Apa?! Aku juga seorang Alpha! Feromonemu hanya akan membuatku tambah kesal kau tahu?! Sudah cukup dengan omong kosong ini! Sampai kapanpun aku tidak akan menerimamu sebagai mateku,” tegas Lylo mutlak. Tensi darahnya naik, cukup untuk membiarkan kepalanya berdenyut semakin sakit akibat terlalu kesal. Lion tahu kali ini dia harus mengalah. Lelaki itu menghela nafas panjang, sebelum memutuskan untuk duduk didekat ranjang Lylo. “Tidak pernahkah kau memikirkan perasaan orang tuamu? Keluargamu? Mereka masih ada di sampingmu apa pun yang terjadi Lylo. Kamu seharusnya mencintai dan menyayangi mereka selagi bisa. Jangan sepertiku, yang terlalu terlambat untuk melakukan itu semua,” lirih Lion pelan. Lylo terdiam. Memang benar, semenjak dia tahu perihal kelainannya yang semakin parah seiring waktu, Lylo memang tampak tidak peduli lagi dengan perasaan banyak orang. Bahkan termasuk perasaan orang tuanya sendiri. “Aku ingin tetap kuat. Aku memiliki adik yang harus kulindungi,” lirih Lylo pelan. Tangannya meremas selimut dengan erat, berusaha menahan gejolak perasaan yang menumpuk di hati. “Sebagai kakak aku seharusnya bisa melindungi Al, namun nyatanya aku tidak bisa. Aku masih lemah. Aku ingin tumbuh lebih kuat lagi.” Lion memperhatikan wajah frustasi Lylo dengan seksama. Tangannya terulur, mengusap surai coklat itu dengan penuh kelembutan. “Itu kata-kata sama yang aku ucapkan ketika p*********n di rumahku terjadi. Aku membalaskan dendamku, ya. Namun aku kosong setelah itu Lylo. Aku sendiri dalam jalan yang kubuat,” jelas Lion perlahan. Matanya menyiratkan kesedihan, Lylo tahu benar akan hal itu. Lion melihat mata penasaran Lylo. Tangannya menepuk kepala Lylo dengan ringan, tersenyum lembut dan menunjukan sikap tidak pernah dia lakukan sebelumnya. “Ah ya, dokter itu bilang kamu butuh makan. Ini, sudah dibuat dan masih hangat.” Lion mengambil bubur yang sedari tadi didiamkan. Masih hangat, dan baunya juga sangat harum. Lylo hanya diam, raut keenganan terlihat jelas dari wajahnya. “Jangan mencoba merajuk. Aku akan menyuapimu jika kau menolak makan Lylo.” Lion mengambil satu sendok bubur untuk dia suapkan pada Lylo. Namun belum tangannya mengangkat, gerakannya telah terhenti oleh Lylo yang wajahnya memerah. “Tidak lucu. Aku akan makan sendiri. Aku bukan seorang Omega manja tipemu yang perlu untuk kamu perhatikan,” sinis Lylo kesal. Lion tidak marah diperlakukan seperti itu. Sebaliknya, dia malah tersenyum lalu bertopang dagu untuk memerhatikan Lylo yang makan dengan perlahan. Merasa diperhatikan, lelaki itu mendengus. Menatap tajam Lion yang tidak berubah posisi sedikit pun. “Apa?” tanya Lylo dengan kesal. “Kamu terlihat manis saat sedang makan,” jujur Lion santai. Lylo menyimpan sendoknya kesal, nafsu makannya jadi hilang begitu saja setelah mendengar ucapan Lion. “Aku seorang Alpha. Jangan mengejekku.” “Memangnya hanya seorang Omega yang boleh bersikap manis? Kamu ini, senang sekali ya menilai sikap seseorang dari kasta mereka,” ujar Lion jujur. Lylo terdiam setelahnya. Membalas Lion sepertinya hanya akan membawa kepalanya menjadi lebih sakit dari ini. Lihat saja wajah itu, mana mau lelaki itu mengalah pada Lylo? Lion tersenyum kecil. Demi apapun dokter tadi memang benar. Obat itu tidak berpengaruh sama sekali pada Lylo. Perlahan tapi pasti, Lylo bahkan senang bersikap lebih manis lagi. Tidak apa, Lion menyukainya. Lelaki itu mendorong Lylo untuk kembali berbaring. Menyelimutinya lalu tersenyum dengan lembut. "Tidurlah. Kamu akan merasa lebih baik setelah ini." ***** Lion menutup pintu kamar Lylo dengan sangat perlahan, takut jika sedikit suara bisa membangunkan pria yang baru saja tertidur itu. Saat dia keluar, Gena dan Ryan telah berdiri didepannya dengan raut muka khawatir. Memilih menunda kepergiannya ke kantor demi mengetahui kondisi si anak kedua. “Bagaimana keadaan Lylo?” Gena bertanya khawatir. Sedari tadi dia bahkan sudah berpikir untuk masuk saja dan meluruskan segalanya, jika saja sang suami tidak mengingatkan bahwa Lylo tidak semudah itu untuk dibujuk saat sedang marah begitu. Lion di lain sisi menghela nafas berat. Lion memang sudah tidur, dan demamnya juga perlahan turun berterimakasih pada obat yang diberikan Ares. Namun, entah kenapa Lion masih kesal, dia harus mendinginkan kepalanya dulu untuk sementara. “Lylo sudah tidur Nyonya. Demamnya sudah turun dan Lylo juga sudah menghabiskan makanannya dengan baik,” lapor Lion sopan. Gena menghela nafas lega, setidaknya anaknya akan baik-baik saja sekarang. “Oh ya Lion, sudah kubilang beberapa kali berhentilah memanggilku Nyonya. Panggil aku Mom mulai sekarang, kamu juga akan menjadi bagian dari keluarga ini.” Seakan sadar sesuatu, wajah Gena cemberut saat memperingati Lion. Membuat Alpha muda itu terkekeh kecil ketika melihat wajah lucu calon mertuanya itu. “Maafkan aku Mom. Aku belum terbiasa,” sesal Lion pelan. Gena perlu berjinjit untuk mengelus rambut hitam Lion. Anak itu memang tinggi sekali, Lylo saja kalah tinggi dengan Lion. “Jangan menanggungnya sendirian lagi ya? Pasti berat bagimu untuk membujuk Lylo yang keras kepala. Maaf, seharusnya kami yang membujuknya untukmu,” sesal Omega itu. Lion menggeleng pelan, bibirnya tersenyum kecil saat melihat Gena. “Aku yang akan membujuknya Mom. Jika melakukan ini saja aku tidak bisa, maka aku tidak pantas menjadi matenya bukan?” Wajah itu tersenyum, namun matanya bahkan hanya terlibat seperti ikan mati. Ryan dapat melihatnya jelas. Keduanya menyerah. Bukan hanya Lylo yang butuh sandaran disini. Mereka berdua setuju dengan lamaran ini karena satu hal. Mereka memang saling membutuhkan, keduanya punya firasat untuk itu. Puk “Kamu punya kami untuk bicara kapan pun kamu mau. Tidak perlu memaksakan diri disekitar kami. Keluarkan saja apak pun yang kamu mau bicarakan Lion.” Lion hanya tersenyum dengan mata yang tertutup. Mata sialan, organ itu memang sulit diajak berkompromi sekalipun dia sudah memasang topeng sebaik mungkin. Mata memang sulit berbohong, itu benar. Dan Lion sangat membenci fakta itu. Jujur, Lion bahkan sudah lupa bagaimana sikap aslinya dulu. Apakah dulu dia suka bercerita pada orang lain? Apakah dulu dia bisa tersenyum dengan bebas pada semua orang? Entah. Lion tidak bisa mengingatnya lagi. Pada akhirnya dia hanya bisa menjawab, “Aku akan mencobanya, Dad” dengan senyumnya yang terlihat kosong dan aneh. To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD