Mereka kembali terjebak di dalam keheningan yang menyesakkan d**a. Jo sesekali melirik ke arah Jay melalui sudut matanya, perjalanan yang seharusnya dapat mereka tempuh dalam hitungan menit, tetapi entah mengapa perjalanan kali ini terasa bagaikan berjam-jam. Bathin wanita itu terasa begitu tersiksa hanya melihat dan berada di dekat lelaki itu. Situasi mereka, hubungan mereka saat ini dan kilatan kebencian pada mata lelaki itu membuatnya hancur.
Jo memandang sekelilingnya saat Jay menghentikan mobilnya, ia mengernyitkan dahinya dan mengarahkan pandangannya ke arah Jay yang tengah menatap taman di hadapan mereka.
“Kita di mana kak? Bukannya kita mau ketemu mama Cora?”
Jay mengarahkan pandangannya ke arah Jo. “Itu cuma alasan aku untuk nyulik kamu.” Jay berkata dengan datar.
Jo menatap Jay dengan tidak percaya. “Kamu nggak perlu berbohong seperti itu kak.”
“Kamu nggak akan mau aku ajak berduaan bukan?”
Jo menundukkan kepalanya. Tentu saja ia tidak mau berdua bersama dengan Jay, berdua dengan lelaki itu membuatnya sedih dan bahagia secara bersamaan. Cinta itu aneh bukan? cinta adalah sebuah perasaan yang begitu menyesakkan d**a bagi seorang Jocelyn.
“Duduk di luar yuk!.” Jay membuka pintu di sebelahnya dan duduk di bagian depan mobilnya, Jo menatap Jay dengan ragu, ia tidak mau berada di dekat lelaki itu lebih lama lagi, tetapi ia juga tidak bisa menolak dan memberontak hatinya sendiri yang menginginkan lelaki itu lebih dari siapapun. Ia keluar dari mobil dan mengambil tempat di samping Jay.
Jay mengarahkan pandangannya ke arah Jo dan menatap ke dalam manik mata wanita itu. ‘Bukan inginku untuk melukaimu,sadarkah kamu disinipun aku terluka?’ gumam Jay di dalam hatinya. Ia memperhatikan wajah wanitanya itu. Jocelyn Enid masih terlihat sama seperti dulu, wanita itu cantik bagaikan seorang malaikat, hatinya polos dan senyumannya tulus, wanita itu tidak pernah bisa membuatnya melupakan cinta yang dimilikinya untuk wanita itu.
Jo menjadi salah tingkah karena tatapan intens dari Jay, ia lebih memilih untuk menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan yang membuat jantungnya semakin berdebar dengan tidak menentu.
“Kenapa kamu nggak pernah bertanya kenapa aku nggak membalas semua email-mu?”
Jo mengarahkan pandangannya ke arah Jay, sedangkan lelaki itu sudah mengarahkan wajahnya ke arah langit. “Jika aku bertanya, apa kakak akan memberitahu alasannya padaku?”
Jay tersenyum tipis memandang langit. “Karena aku tengah belajar Jo,”
“Terlalu sibuk belajar? Pelajaranmu di sana telah membuatmu mengabaikanku?”
Jay mengarahkan pandangannya ke arah Jo. “Aku belajar untuk melupakanmu.”
Jo menatap Jay dengan sedih, mengapa lelaki itu ingin melupakannya? Jika saja lelaki itu tidak memutuskan semua hubungannya dengan Jo, mungkin saja mereka tidak akan berakhir di dalam situasi aneh seperti saat ini. Mungkin saja tak ‘kan ada sesak mendera kala mereka bersama. Semua ini tak ‘kan terjadi jika mereka masih menjaga komunikasi dengan baik.
“Apa kamu berhasil?”
Jay tersenyum miris, “Jika aku berhasil, mungkin kita tidak akan berakhir saling menyakiti seperti ini Jo. Aku nggak akan mengais perasaan yang masih begitu indah.”
Keduanya saling terkunci dalam satu pandangan mata. Jo merasakan dadanya begitu sakit saat ini, rasa sesak telah menyiksanya, ingin rasanya ia menangis saat ini, tetapi ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan lelaki itu, ia harus kuat dan membuat masa depan baru untuk mereka.
Rintik hujan turun dan membasahi kedua pasang manusia itu, lama- kelamaan volume air hujan itu turun seakan berlomba-lomba untuk menyentuh bumi, Jo mulai menarik tangan Jay untuk masuk ke dalam mobil, Jay menghentikan langkah wanita itu dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Jo dapat mendengar detakan jantung lelaki itu, jantung itu masih berdetak dengan irama yang sama, walaupun mulut dan sikap lelaki itu kerap menyakitinya, tetapi irama jantung lelaki itu memberikannya kehangatan dan kelembutan yang ia inginkan.
“Kak…” Jo berusaha untuk melepaskan pelukan Jay.
“Cuma sebentar Jo, biarin aku memelukmu untuk sebentar saja. Mungkin setelah ini aku nggak akan pernah bisa untuk memelukmu lagi,” ujar Jay sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Jo. Jo berhenti meronta dan membiarkan tubuh lelaki itu membungkus tubuhnya.
“Kita bakalan sakit kalau pelukan di bawah hujan begini kak,” bisik Jo
“Sakit fisik gampang untuk di obati, tapi sakit di hati ini nggak akan ada obatnya Jo.”
Jo membalas pelukan lelaki itu dan mereka saling berbagi kehangatan. Jo sangat mengerti bahwa tidak ada obat yang dapat menyembuhkan rasa sakit yang mendera hati mereka. raga terluka mungkin masih bisa diobati, tetapi bila hati yang terluka, maka tidak akan ada obat yang dapat mengobatinya.
Lama mereka berpelukan dibawah hujan. Jay melepaskan pelukannya dan menatap ke dalam manik mata Jo. Hatinya begitu sakit, dadanya terasa begitu sesak, jarak di antara tubuh mereka hanya berjarak beberapa cm tetapi seakan ada jarak tak kasat mata yang memisahkan mereka berdua, Jay menempatkan jari telunjuk dan ibu jarinya pada dagu Jo, ia mendekatkan wajah wanita itu ke arahnya. Entah karena hujan atau rasa dingin yang menderanya, Jo hanya mengikuti kemana jemari Jay menuntunnya, jemari itu membawa bibirnya untuk bersentuhan dengan bibir lelaki itu, awalnya sentuhan di bibir itu penuh dengan keraguan, sentuhan itu berubah menjadi kecupan-kecupan kecil, dan kecupan itu berubah menjadi lumatan yang menuntut, keduanya saling berpelukan dan melumat bibir dengan rakus, kerinduan yang begitu besar seakan ikut mengalir di dalam ciuman mereka.
Bila kata tidak dapat diucapkan, maka mata dan gerak tubuh yang akan berbicara. Jay tahu bahwa Jo mencintainya, ciuman itu membuatnya yakin bahwa cinta itu ada, tetapi ia tidak tahu mengapa wanita itu lebih memilih jalan dimana mereka saling menyakiti. Jay maupun Jo tidak ingin melepaskan ciuman penuh kerinduan itu. Jika memang esok hari tidak akan pernah datang lagi, maka biarkan rintik hujan menjadi saksi bisu bahwa mereka berdua saling mencintai dan ingin saling memiliki. Jika memang semua ini adalah awal dari akhir kisah mereka, maka mereka akan mengenang ciuman penuh kerinduan itu untuk selamanya.