Jocelyn berlari sekencang mungkin, menembus derasnya air hujan, rasa dingin yang menyerang tubuhnya tidak dapat menghapus segala rasa yang membuat dadanya terasa begitu sesak.
Jo menghentikan langkahnya saat ia merasa sudah sangat jauh dari lelaki itu. Lelaki itu adalah lelaki yang membuat dunianya penuh warna, lelaki yang membuat perasaannya bercampur aduk, lelaki yang selama ini menjadi dunianya yang begitu penuh keindahan, namum keindahan itu turut memberi luka pada hatinya.
Jo menghentikan taksi yang tengah menuju ke arahnya, hujan telah menyamarkan air matanya yang sedari tadi keluar melalui sepasang mata indahnya.
Setelah ciuman penuh kerinduan itu, hati Jo semakin takut, hatinya dipenuhi dengan rasa ragu dan hatinya tidak sanggup untuk terus menolak cinta dari lelaki yang begitu dicintainya. Ia lari dan terus berlari, menghindar dari lelaki itu adalah jalan yang selama ini ia jalani. Jay berusaha mengejar Jo dan menawarkan wanita itu untuk pulang bersama dengannya, tetapi Jo tidak ingin untuk bersama lelaki itu lebih lama lagi, ia mendorong lelaki itu untuk menjauh darinya. Seharusnya dari awal ia menolak ciuman itu, ciuman yang semakin membuat hatinya meragu, ciuman yang membuat semua pertahanannya runtuh dalam sekejap, ciuman yang membuatnya sadar bahwa ia tidak dapat melanjutkan permainan yang menghancurkan hatinya itu, ciuman itu membuatnya sadar bahwa seumur hidupnya ia tidak akan pernah bisa mencintai lelaki lain seperti ia mencintai Jay.
***
Menit demi menit telah berlalu, tidak lama taksi yang ia tumpangi sudah membawanya ke hadapan rumahnya. Tubuhnya mengigil karena rasa dingin yang menderanya, ia meminta supir taksi untuk menunggunya, ia tidak punya uang saat ini, ia berlari tanpa memikirkan tas tangannya yang masih tertinggal di dalam mobil Jay. Ia hanya ingin pergi menjauh dari lelaki itu.
“Jo...” suara panik seorang lelaki menyambutnya, Jo mengangkat wajahnya dan mendapati wajah panik Ken. Ken berlari pelan ke arah Jo dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat.
“Kamu kenapa basah-basahan begini? kenapa nggak di anterin sama Jay?” Ken melepaskan pelukannya dan mencengkram kedua lengan Jo, ia menatap kekasihnya itu dengan tatapan penuh tanya. ‘Apa yang terjadi padamu, Jo?’tanya Ken dalam hati.
“Tolong bayarin taksin aku,Ken.” Jo berkata dengan suara yang bergetar, tubuhnya menggigil saat ini, ia hanya ingin segera menghangatkan tubuhnya, ia tidak ingin menjawab apapun pertanyaan dari Ken, ia hanya ingin menghangatkan hati maupun tubuhnya.
Ken berlari ke arah pagar dan segera membayar taksi yang ditumpangi oleh Jo tadi. Ken segera berlari kembali ke arah Jo dan memeluk tubuh wanita itu dengan erat, ia mencoba membagi sedikit kehangatan tubuhnya kepada Jo.
Ken menuntun tangan Jo untuk masuk ke rumahnya sendiri, beruntung kedua orang tua Jo sedang tidak ada di rumah saat ini. Jika tidak, kedua orang tua Jo pasti akan panik melihat keadaan Jo saat ini. Lelaki itu menuntun Jo untuk masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil handuk kecil dari dalam walk in closet kamar kekasihnya itu dan mengeringkan rambut Jo. Jo hanya duduk terpaku di tepi tempat tidurnya dan membiarkan Ken mengurus dirinya.
Ken menatap kekasihnya itu dengan sendu, hatinya terasa teriris melihat kekasihnya saat ini, tanpa bertanya pun ia dapat menebak alasan kesedihan Jo. 'Pasti Jay lah penyebab semua kesedihan pada wajahmu ini, Jo.' Gumam Ken di dalam hatinya. Setelah mengeringkan rambut Jo, Ken segera mengisi bathtub dengan air hangat.
“Mandi dulu sayang, nanti kamu sakit,” Ken mengacak rambut Jo dengan lembut.
Jo tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya dengan pelan, ia berjalan ke arah kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Ken duduk dengan lemas di balkon kamar Jo dan menikmati rinai hujan yang seakan mengerti hatinya yang saat ini tengah menangis menyaksikan wanita yang dicintainya terluka, lagi dan lagi. Membuat hatinya sakit dan bersedih. Dan ia tahu hanya satu penyebab wanitanya itu terluka, semenjak dulu hingga sekarang hanya ada satu lelaki yang menjadi penyebab wanitanya itu meneteskan air mata, sedih maupun terluka. Jo mencintai dan mendambakan lelaki itu.
“Ken...” panggil Jo dengan lirih.
Ken mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara itu, ia tersenyum manis kepada kekasihnya itu. Ken menepuk-nepuk bagian kosong di sebelahnya dan meminta Jo untuk duduk bersama dengannya. Jo duduk di samping Ken dan menyandarkan kepalanya pada bahu yang selama ini telah menjadi tempatnya bersandar.
Ken membelai puncak kepala Jo dengan lembut dan mengecup puncak kepala wanitanya itu. “Aku nggak akan bertanya apa yang terjadi padamu, aku akan menunggu sampai kamu yang menceritakannya padaku.”
Jo tersenyum tipis.Ya, begitulah Ken yang dikenalnya. Ia tidak pernah memaksa Jo untuk melakukan hal yang tidak ia sukai, Ken selalu memperlakukannya dengan lembut dan penuh cinta, sedangkan apa yang selama ini telah Jo berikan kepada lelaki itu? Tidak ada, ia tidak pernah memberikan apapun untuk lelaki yang begitu mencintainya itu.
“Kamu terlalu sempurna untukku Ken,”Jo mengadahkan wajahnya dan tersenyum manis menatap wajah Ken yang terlihat begitu lembut, “Terkadang aku sering merasa begitu bersyukur karena Tuhan telah mengirimkanmu untukku.”
“Kalau kamu tahu aku begitu baik, kamu nggak boleh nakal dan menyia-nyiakan aku sayang...” Ken mencubit hidung mancung Jo dengan gemas.Mereka berdua saling bertukar senyum.
“Apa kamu nggak cape dengan cinta yang selalu menyakitimu Ken?”
Ken tersenyum lembut dan mengadahkan wajahnya ke arah langit. “Gimana aku bisa cape untuk terus bernafas?aku telah menjadikanmu sebagai oksigenku Jo, nggak mungkin kan aku cape bernafas?dan mencintaimu tidak pernah menyakitiku.” Ken tersenyum lebar.
Jo terkekeh pelan. Lelaki itu selalu mempunyai sejuta perkataan yang selalu membuatnya merasa begitu dicintai dan dihargai.Lelaki itu selalu terlihat baik-baik saja, tetapi Jo tahu lelaki itu telah tersakiti dengan segala perlakuannya selama ini. Jo tahu sudah saatnya bagi Jo untuk membalas semua cinta Ken walaupun ia tak mampu, tetapi ia akan mencoba untuk mencintainya.
“Nggak habis-habis gombalnya.”
“Ini bukan gombal Jo, semua perkataan itu adalah isi hatiku yang paling dalam.”
Jo tersenyum lirih. 'Jika saja kak Jay yang mengatakan semua itu, seandainya kak Jay yang ada di posisimu ini Ken, seandainya aku bisa memutar balikkan waktu, mungkin saja saat ini aku tidak akan terluka dan terus terluka,' gumam Jo di dalam hatinya.