Rasa Yang Membingungkan

877 Words
“Kamu udah minum obat?” Jo mencoba mengalihkan pembicaraan tentang cinta yang tidak dapat ia mengerti lagi artinya. “Belum, gimana aku bisa minum obat kalau aku belum dapat kabar darimu,” “Maaf Ken,” ujar Jo dengan lirih, “Sekarang minum obat ya, di mana obat kamu?” Jo hendak berdiri tetapi gerakannya terhenti oleh tangan Ken. Ken tersenyum manis dan menarik tubuh Jo untuk mendekat ke arahnya, ia mendekatkan wajah kekasihnya itu kepada wajahnya, dan mengecup bibir Jo, kecupan itu membuat Jo terpaku sesaat. “Aku sudah minum obat sekarang,” ujar Ken sembari tersenyum manis. “Jangan nakal Ken, mana obatmu?” Jo mengerucutkan bibirnya, ia menggerak-gerakkan tangannya di udara. Ken terkekeh pelan dan mengeluarkan sebotol pil dari saku celananya. Ken menunjukkan sebotol pil itu kepada Jo, “Ini obatnya sayangku yang bawel.” Jo tersenyum lebar dan menarik tangan Ken untuk masuk kembali ke dalam kamarnya. Jo menuang air ke dalam gelas yang terletak di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya, ia mengeluarkan satu butir pil dan menyerahkannya kepada Ken, lalu ia mengulurkan segelas air putih kepada kekasihnya itu. Ken tersenyum manis dan segera meminum obatnya di hadapan Jo. “Apakah mencintai seseorang adalah sebuah kesalahan?” tanya Ken kepada Jo. Jo tersenyum lirih, “Tentu saja tidak.” Jo mengusap pipi Ken dengan lembut, “Hanya terkadang kita kerap mencintai orang yang salah, mencintai seseorang adalah hak setiap manusia dan dengan mencintai kita bisa sadar bahwa dunia itu adalah tempat yang sangat indah.” Ken tersenyum manis, merasa puas dengan jawaban yang Jo berikan. “Jika mencintai seseorang bukanlah sebuah kesalahan, kamu jangan pernah berpikir bahwa aku tersakiti karena mencintaimu, mencintaimu adalah hal yang paling benar yang pernah aku lakukan selama ini.” Ken mengusap pipi Jo dengan lembut. Jo tersenyum lirih, mencintai bukanlah sebuah kesalahan, tetapi Ken telah mencintai seorang wanita yang salah, Jo tahu Ken selalu mencoba menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, mungkin tubuh lelaki itu lemah, tetapi tidak dengan hati lelaki itu, lelaki itu adalah lelaki terkuat yang pernah ia kenal, dan ia sangat beruntung dicintai oleh seorang lelaki seperti Ken. Jo memeluk tubuh Ken dengan erat, Ken membalas pelukan Jo dan mengecup puncak kepala wanitanya itu. ‘Tetaplah seperti ini Jo, tetaplah di sisiku, hanya dengan kamu berada di sisiku aku sudah memiliki seluruh dunia, aku mencintaimu dan tidak sanggup untuk kehilanganmu,’ gumam Ken di dalam hatinya. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Jo. *** Di sisi lain, Jay tengah menatap figura foto wanita yang selama ini mengisi hatinya dengan sendu, ia tidak mengerti mengapa cinta harus saling melukai? Bukankah cinta itu perasaan lembut yang tidak akan membuat orang yang dicintainya terluka? Tapi apa yang telah ia lalukan selama ini, ia membuat wanita itu terluka, walaupun ia sendiri merasakan luka yang sama. “Jay…” suara ibunya membuat Jay meletakkan kembali figura foto yang sedari tadi dipegangnya ke atas nakas. “Tumben mama belum tidur,” ujar Jay. Cora, ibu Jay, tersenyum lembut dan berjalan mendekati Jay, ia duduk di samping anaknya itu dan menatap anaknya dengan sedih. Cora mengerti hingga saat ini anaknya itu masih mencintai Jo, tetapi yang ia tidak mengerti adalah mengapa puteranya itu memilih untuk  melepaskan Jo dan menikah dengan wanita lain. “Mama belum bisa tidur, kamu kenapa pulangnya basah-basahan seperti tadi?” Cora mengusap puncak kepala Jay. “Kehujanan ma,” ujar Jay singkat. “Udah besar masih saja suka mandi hujan,” Cora terkekeh pelan, “Kamu kenapa berubah Jay?” Cora melanjutkan perkataannya dan menatap Jay dengan sendu. Jay tersenyum miris, “Maksud mama? Aku nggak pernah berubah.” Cora menarik nafas panjang dan menghelanya, “Mama yang melahirkanmu Jay, mama tahu jika kamu berubah, setidaknya kamu berubah memperlakukan Jo, kamu masih mencintainya bukan?” Jay menundukkan kepalanya dan memijat pelipisnya, bahkan orang bodoh pun dapat melihat tatapan cinta yang selama ini hanya ia berikan kepada Jo, tetapi wanita itu tidak mau menerimanya dan terus menolaknya. “Nggak menjawab, berarti benar,” ujar Cora, “Terkadang karena terlalu mencintai seseorang, kita kerap melukainya, tetapi mama mohon jangan melakukan kesalahan yang akan kamu sesali seumur hidupmu.” Cora melanjutkan perkataannya dan mengusap puncak kepala anak lelaki satu-satunya. “Aku hanya berharap, aku dapat memutar balikkan waktu ma,” ujar Jay dengan lirih. “Mama tahu mungkin ini adalah caramu mencintai Jo, mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu Jay.” Cora tersenyum lembut, ia memeluk tubuh puteranya itu. “Makasih ma,” Jay tersenyum tipis, Cora menganggukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Jay. Cora selalu berharap anak lelakinya itu akan mendapatkan kebahagiannya, walaupun ia tidak mengerti cara puteranya itu mencintai Jo, tetapi ia yakin bahwa suatu saat nanti Jay akan bahagia. “Salahkah cinta ini Jo? salahkah aku yang pergi darimu? Salahkah kamu yang terlambat menyadari perasaanmu, mengapa semua ini terasa salah bagiku?” gumam Jay pelan, ia mengacak rambutnya dengan frustasi, “Aku akan menculikmu, kita akan hidup berdua tanpa ada seorangpun yang akan menjadi alasan untuk kita berpisah,” Jay melanjutkan perkataannya. Jay menghempaskan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya. Waktu, satu kata itu telah berpengaruh banyak dalam hidupnya, satu kata itu telah merubah banyak hal dalam hidup maupun dirinya. Kata orang waktu dapat menghapus segala rasa yang kita miliki, waktu dapat menyembuhkan luka, tetapi entah mengapa waktu tidak dapat merubah cintanya. Jay tahu ia sudah sangat terlambat untuk kembali pada wanita yang dicintainya itu, tetapi ia tahu ada jalan yang akan membawanya kembali kepada wanita itu, jalan di mana ia dan Jo akan menemukan akhir yang bahagia untuk mereka berdua. Jay memejamkan matanya dan menikmati bayang-bayang wajah Jo yang selalu menari-nari di dalam benaknya, ia tidak dapat menghapuskan bayangan wanita itu sebagaimana ia tidak dapat menghapus rasa cintanya untuk Jo. Jocelyn Enid, nama itu telah tertulis abadi di dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD