Jo tersenyum manis menatap pantulan dirinya pada cermin besar di hadapannya, hari ini ia akan pergi bersama dengan kekasihnya, entah kapan terakhir kalinya ia pergi kencan dengan lelaki itu. Hari ini, ia akan menghabiskan harinya dengan bahagia dan mencoba untuk menikmati kebersamaannya dengan kekasihnya itu.
“Anak mama cantik banget,” Angel berdiri di ambang pintu dan tersenyum manis melihat puterinya yang tampak bahagia hari ini.
Jo membalikkan tubuhnya dan tersenyum kepada wanita berusia senja yang tidak lain adalah ibunya itu, “Iya ma, Jo mau pergi sama Ken ya ma,” ujar Jo sembari berjalan ke arah Angel.
“Iya sayang, have fun ya anak mama yang cantik,” Angel mengecup kening Jo dan segera berlalu meninggalkan puterinya itu.
***
Jo menghirup udara pegunungan yang terasa begitu segar, ia membentangkan kedua tangannya dan membiarkan angin sejuk itu menerpa wajahnya. Ken tahu wanita itu menyukai udara pegunungan, memilih mobil tanpa atap seperti ini adalah keputusan yang benar, ia dapat melihat senyuman manis dari kekasihnya itu hanya karena wanita itu dapat menikmati udara pegununggan yang terasa begitu sejuk.
“Kamu senang Jo?”
Jo tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya. “Sangat senang,” Ujar Jo sembari tersenyum lebar, “Kita sudah lama nggak pergi kencan seperti ini, di Paris kita selalu pergi kencan hampir setiap hari.” Jo melanjutkan perkataannya.
“Seminggu lagi aku sudah mulai sibuk dengan perusahaan yang baru kudirikan, mungkin kita akan lebih jarang pergi kencan seperti saat ini.”
Jo mengerucutkan bibirnya, “Jangan terlalu sibuk dan melupakanku!”
Ken terkekeh pelan, “Mana mungkin aku bisa melupakanmu sayang, kamu adalah belahan jiwaku, setiap detakan jantungku selalu ada namamu, mana mungkin aku melupakanmu,” Ken mengusap pipi Jo dengan sebelah tangannya yang bebas.
Jo tersenyum lebar, Ken menyematkan jemarinya pada sela jemari Jo, mereka saling bertukar senyum. ‘Seandainya waktu dapat berhenti saat ini juga,’ gumam Ken dalam hati.
“Kita mau kemana Ken?”
Ken tersenyum lebar, “Ke suatu tempat, kamu pasti suka di sana,” ujar Ken.
“Sok misterius!” Jo mendengus kesal, Ken terkekeh pelan dan mencubit pipi kekasihnya itu dengan gemas.
Menit demi menit telah berlalu, mereka berdua tiba di sebuah perkebunan teh yang begitu luas, mobil yang mereka tumpagi melewati kebun teh itu dan memasuki perkarangan sebuah villa yang tampak sederhana namun tampak begitu indah.
Jo mengalihkan pandangannya ke sekeliling dan menikmati keindahan alam yang begitu memukau, sedangkan Ken hanya bisa tersenyum bahagia menyaksikan senyuman bahagia dari kekasihnya itu.
“Ini villa siapa?” tanya Jo.
“Villa orang tuaku, sekarang villa ini milikku,” Ken tersenyum manis.
Jo menganggukkan kepalanya, ia tidak pernah tahu jika Ken memiliki sebuah villa di kawasan pegunungan seperti ini, mungkin memang selama ini ia tidak tahu banyak hal tentang kekasihnya itu.
Yang ia tahu, Ken adalah seorang anak yatim piatu yang berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa agar ia bisa melanjutkan kuliahnya bersama dengan Jo di Paris, Ken orang yang lembut, perhatian dan juga tampan. Ken memiliki kondisi kesehatan yang buruk, tubuhnya lemah, tetapi ia tidak pernah terlihat lemah di hadapan Jo, Ken memiliki hati yang kuat dan indah bagaikan berlian, dan bagi Jo, Ken adalah malaikat tak bersayapnya.
Ken memutari bagian depan mobilnya dan membukakan pintu untuk Jo, “Silahkan turun tuan putri,” Ken mempersilahkan wanitanya itu untuk turun, Jo terkekeh pelan dan turun dari mobil Ken.
Ken melingkarkan tangannya pada pinggang Jo dan memeluk wanita itu dari belakang, “Aku mencintaimu Jo,” bisik Ken pada telinga Jo, Jo tersenyum miris, seandainya ia bisa membalas cinta lelaki yang selama ini selalu berada di sampingnya.
‘Maafkan aku Ken,' gumam Jo di dalam hatinya.
Ken melepaskan pelukannya dan menarik tangan Jo, mereka jalan beriringan menuju kebun kecil yang berada di samping villa itu. Jo tersenyum bahagia menatap begitu banyak bunga dan juga buah-buahan yang tumbuh di kebun yang tidak luas itu.
“Mau berkebun?” tanya Ken
Jo menganggukkan kepalanya dengan antusias, “Mau banget.”
Ken berlari pelan ke arah sebuah lemari kaca yang berada di perkarangan kebun miliknya, ia mengeluarkan beberapa alat berkebun dan memberikannya kepada Jo, setelah memakai sarung tangan dan juga membawa beberapa sekop kecil mereka berdua mulai berkebun, Jo sangat menyukai alam, berkebun adalah hobby-nya, mereka larut dalam kegiatan berkebun mereka.
Setelah menghabiskan beberapa jam menata dan memanen beberapa sayuran dan buah-buahan dari kebun kecil itu, mereka berdua duduk di sebuah gazebo yang berada di halaman villa sederhana itu, mereka berdua menikmati secangkir teh dengan damai.
Sesekali Ken melirik ke arah Jo melalui sudut matanya. Ia bahagia melihat senyuman bahagia pada wajah kekasihnya itu. Ia mencintai Jo bukan karena parasnya yang cantik, ia mencintai semua yang ada pada wanitanya itu, sikap lembutnya, sikap pura-pura tegarnya dan sikapnya yang selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Ia tidak tahu sejak kapan ia jatuh cinta pada wanita itu, mungkin pada saat mereka bertemu sewaktu masa SMA mereka, ia sudah mulai jatuh cinta pada Jo, ia tidak peduli kapan perasaan itu ada di dalam hatinya. Yang ia tahu, ia mencintai Jo dan ingin selamanya berada di sisi wanitanya itu.
“Aku tahu kalau aku itu cantik, tapi jangan dilihatin mulu Ken,” Jo terkekeh pelan, Ken menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan menjadi salah tingkah. Begitulah Ken, selalu menjadi salah tingkah bila Jo mendapatinya yang tengah mencuri pandang dirinya.
“Aku heran kenapa aku nggak pernah bosan lihat wajah kamu ya?” Ken menyengir kuda.
Jo kembali terkekeh pelan, “Aku juga heran, sejak kapan kamu jadi tukang gombal ya?” Mereka berdua saling menatap dan terkekeh pelan.
‘Seandainya waktu dapat berhenti saat ini juga,’ kembali Ken mengucapkan mantra yang selalu di ucapkannya saat ia menjalani harinya bersama dengan Jo.
“Makan yuk!” Jo mengusap-usap perutnya yang rata.
Ken terkekeh geli, “Tumben kamu lapar?”
Jo mendengus kesal, “Maksud kamu apa? Ya sudah pasti aku bisa merasa lapar,” Jo mengerucutkan bibirnya dan menatap Ken dengan kesal.
Ken terkekeh pelan, “Biasanya kamu paling susah makan, makanya kamu kurus banget, kita ke restoran dekat sini ya,” Ken segera berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Jo, Jo menyambut tangan Ken dan mendengus kesal. Ken mengacak puncak kepala Jo dan mengecup kening wanitanya itu. Ken merangkul pundak Jo dan mereka berdua berjalan ke arah mobil Ken.