Mereka berdua tiba di rumah makan yang tampak indah dengan desain saung dan pedesaan, lagi-lagi Jo tersenyum bahagia, betapa ia mencintai suasana desa dan pegunungan, lahir di kota besar membuatnya tidak terlalu suka tinggal di tempat yang selalu tampak sibuk itu. Ken selalu tahu apa yang ia sukai dan tak pernah gagal membuatnya tersenyum. Harusnya, Jo bahagia saat bersama lelaki itu, namun anehnya ia merasa hampa.
Seperti biasa, Ken akan membukakan pintu mobil untuk kekasihnya dan memberikan senyum terbaiknya. Jo membalas senyum lelaki itu, lalu menggandeng lengan Ken dan memasuki restoran. Jo bahagia hari ini, begitupun Ken, melihat wajah bahagia Jo dapat membuatnya turut bahagia. Tak peduli apa yang hatinya rasakan, yang paling penting adalah melihat senyum wanita itu. Sebesar itu cinta Ken pada Jo, namun sayang, wanita itu tak ‘kan bisa merasakan cintanya, seakan hati wanita itu telah lama mati.
Setelah memesan beberapa makanan khas Sunda mereka memandang sekeliling dan menikmati dekorasi restoran yang dipenuhi dengan pepohonan dan perkebunan sayur. Pemandangan yang dapat mereka lihat dari saung yang mereka tempati. Jo ingin mempunyai restoran seperti ini jika ia sudah sukses nanti. Ia akan menambahkan beberapa kolam ikan dan membiarkan para pengunjung memacing makanan mereka sendiri. Sungguh indah mimpinya.
“Tampaknya kita harus sering ke sini,” ujar Ken. Jo mengalihkan pandangannya ke arah Ken dan menatap kekasihnya itu penuh tanya.
“Kamu kelihatan bahagia ke tempat seperti ini. Setelah menikah kita bisa tinggal di sini kalau kamu mau,” Ken melanjutkan perkataannya saat melihat wajah Jo yang terlihat bingung.
Jo tersenyum miris. Menikah? Ia lupa kalau jika dirinya akan segera menikah dengan Ken, ia lupa bahwa tidak lama lagi ia akan mengikat janji dengan lelaki itu, janji di mana ia akan bersama dengan lelaki itu sampai ajal menjemput mereka. Yang artinya, hatinya tak boleh memiliki cinta untuk lelaki lain, selain Ken. Sayang, hatinya telah lama mati, telah dimiliki satu orang yang tak ‘kan mungkin bisa ia miliki lagi.
“Aku masih ingin bekerja, Ken. Aku mau menjadi seorang desainer terkenal di Jakarta ini. Masih banyak impian yang mau kuwujudkan dan aku nggak mau pernikahan kita menghentikan mimpiku. Kamu ngerti, ‘kan?”
Ken tersenyum manis seraya mengangguk pelan. “Tentu saja, Jo. Aku akan mendukung semua keputusanmu, Jo.” Ia menggenggam erat kedua tangan Jo yang berada di meja.
Jo tersenyum manis, “Makasih, Ken. Kamu yang terbaik,” Jo tersenyum manis dan lelaki itu mengacak puncak kepalanya, mereka berdua saling bertukar senyum.
Menit demi menit telah berlalu. Makanan yang mereka pesan sudah terhidang pada meja di hadapan mereka. Keduanya bersantap dengan gembira, makan siang mereka dipenuhi dengan tawa canda, Ken membawa sejuta hal manis untuk Jo.
Jo memandang sekelilingnya, matanya berhenti pada satu titik, titik di mana ia menemukan sosok lelaki yang selama ini selalu memenuhi benak maupun hatinya. Senyuman Jo menghilang begitu saja saat matanya bertemu dengan sosok lelaki itu. Jo memperhatikan sosok lelaki itu dengan saksama, tidak banyak hal yang berubah dari penampilan fisik lelaki itu, ia masih saja terlihat tampan seperti dulu, tetapi remaja lelaki itu tampak lebih dewasa sekarang.
Kamu tampak gagah sekarang, Kak. Kamu bukanlah seorang remaja lagi. Garis wajahmu terlihat lebih tegas, mata birumu memabukkan, dan aku bahagia melihatmu yang menjalani hidupmu dengan baik. Jo meraba dadanya, memukulnya pelan mencoba mengusir sesak yang mulai menjalar ke penjuru hati.
Sayang sekali aku nggak punya kemampuan memutarbalikkan waktu. Mengapa cinta yang dulunya terasa hangat, sekarang menyiksa bathin? Haruskah aku menyalahkan hati atas semua kepedihan ini? Kak, jika kamu takdirku, maka kita akan bersama suatu hari nanti. Bolehkah aku mengemis pada takdir untuk cinta yang tak pernah tesampaikan ini?
Jo tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Jay, seakan matanya itu menempel pada sosok pemilik hatinya. Ken yang sedari tadi tak menerima respon saat bertanya pada Jo pun mulai penasaran Ia mengikuti arah pandang Jo, lalu mengeraskan rahangnya saat menyadari siapakah yang telah berhasil menarik perhatian kekasihnya.
Ken tersenyum lirih. Ingin marah, namun tak bisa. Ingin memberontak, tetapi takut kehilangan. Cintanya terasa begitu mengerikan, hingga ia tak mampu melakukan apa pun selain menikmati rasa pedih yang mengoyak bathin. Entah sampai kapan ia harus menahan rasa sesak itu, rasa sesak yang tercipta di saat ia melihat tatapan penuh cinta pada mata kekasihnya, tetapi cinta itu bukan untuknya. Ken memperhatikan wajah Jo yang tengah asyik menatap lelaki di seberang mereka dengan sendu.
Seandainya semua tatapan cinta itu milikku. Kenapa hangatnya cintaku nggak bisa mencairkan hatimu, Jo? Aku terlalu mencintaimu. Seandainya, kamu mau melihat ke arahku, hanya sedetik saja, maka kamu akan mengerti rasa cinta ini, Jo. Hurting more painfully means loving more deeply.
“Kenapa makanannya belum habis?” pertanyaan Jo membuat Ken tersadar dari lamunan panjangnya, Ken tersenyum manis dan berusaha membuat wajahnya sebiasa mungkin.
“Lihat kamu aja udah kenyang,” ujar Ken.
Jo terkekeh pelan, “Jangan gombal mulu Ken.”
“Kamu nggak percaya kalau aku tuh cinta mati sama kamu?” Ken memasang wajah sedih, sedang Jo tergelak, seakan lelaki itu baru saja mengatakan lelucon yang tak masuk akal.
Ken menatap ke dalam manik mata Jo, lalu menggenggam erat tangan wanita itu, berharap wanita itu dapat melihat sedalam apa cinta yang ia miliki.
“Kamu membuatku tergila-gila, Jo,” Ken mengeratkan, “Jangan pernah tinggalin aku ya, Jo.” Pintanya memelas sembari menatap Jo penuh harap.
Jo tak bergeming, sedetik kemudian tersenyum lirih. Ia sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan Ken walaupun hatinya harus tersakiti dan ia akan menepati janjinya, ia akan berada di samping lelaki itu sampai ajal yang memisahkan mereka.
Memang tak ‘kan ada cinta lain yang mampu menggantikan cinta yang telah terukir abadi di dalam hatinya, namun ia akan membunuh hatinya sendiri demi lelaki yang telah berkorban banyak untuknya. Tak apa jika hatinya perlahan mati karna kebekuan yang tercipta dari pedih yang menyayat hati. Tak mengapa, ia menderita karna cinta yang tak mampu dimiliki, selama lelaki di hadapannya bisa bahagia. Ia akan melakukannya.
Jo menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Ken mengecup punggung tangan Jo dan tersenyum, tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka penuh amarah.