Simply In Love With You

814 Words
I'm still in love with you, maybe that's fated. After many years, nobody can replace you. All those times were the most beautiful in my life, all those memories are still those I can't forget. Jay berkata dalam hati, ia tidak dapat mengalihkan pandangan dari Jo yang tampak sangat cantik pada pesta pertunangan mereka. Sayangnya, bukan Jay lah yang menjadi pasangan Jo hari ini, melainkan lelaki lain. Jay tersenyum lirih, walaupun ia selalu berusaha terlihat baik-baik saja, tetapi hatinya tidak pernah merasa demikian. Hatinya sakit dan hancur saat melihat wanita yang dicintainya memiliki seorang lelaki di sampingnya. Sekarang bukan dirinya yang berada di samping wanita itu, bukan pula menjadi orang yang akan menjaga wanita itu, dan sekarang bukan dirinya lah yang dapat memiliki wanita pemilik hatinya. Jay mengarahkan pandangannya ke arah Margareth saat wanita itu menarik-narik lengannya bagai anak kecil yang minta dibelikan permen. ‘I'm not who I used to be and you're a bit not like you, but in my eyes, your smile is still beautiful, this time I only can go forward, in one direction following the clock, I'm still in love with you, that's the only path I'll take. Jo mengalihkan pandangan ke arah lelaki yang tampak tampan dalam balutan tuksedonya. Ia tersenyum lirih, dadanya sesak dan hatinya sakit saat ini, walaupun ia berusaha sekuatnya untuk terlihat baik-baik saja, tetapi nyatanya keadaan hatinya jauh dari kata baik. Jo mencintai lelaki itu, ia ingin memiliki lelaki itu seutuhnya, tetapi takdir berkata lain dan sang waktu telah merubah segalanya. Jo tersenyum lirih untuk kesekian kalinya, ia memejamkan matanya dan berusaha mengontrol rasa sesak di dadanya. “Kenapa Jo?” suara lelaki di sampingnya membuat Jo membuka matanya, ia tersenyum manis kepada lelaki yang tidak lain adalah Ken itu. Lelaki yang sekarang resmi menjadi tunangannya, tunangan yang akan di nikahinya dalam hitungan bulan. “Aku nggak pa-pa, cuma sedikit cape,” ujar Jo sembari tersenyum manis. “Kita duduk di sana yuk!” Ken menuntun Jo untuk duduk di sebuah kursi di sudut ruangan. Acara pertunangan mereka berempat berlangsung dengan lancar dan mewah, kedua orang tua mereka terlihat bahagia, mereka tidak dapat memaksakan kehendak mereka kepada anak mereka masing-masing. Mereka menyerahkan kehidupan dan percintaan kedua anak mereka, kepada anak mereka masing-masing. Saat ini mereka, para orang tua, hanya bisa berdoa semoga anak-anak mereka dapat mendapatkan kebahagian mereka masing-masing. *** Jo duduk di balkon kamarnya dan menatap bintang-bintang yang tampak berkilau di atas sana, ia memeluk lututnya dan mencoba untuk mengatur sakit di hatinya. Ia tahu semua ini salah, ia tahu sebuah pernikahan tidak bisa dilandasi dengan rasa iba semata, tetapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya ingin membalas semua cinta dan kebaikan Ken selama ini, ia hanya ingin melihat malaikatnya itu bahagia, ia tidak ingin malaikat tanpa sayapnya itu harus bersedih karena cinta yang hanya menyakitinya itu. Tetapi hati Jo memberontak, hatinya tidak sanggup melihat lelaki yang dicintainya dimiliki oleh wanita lain, ia tidak sanggup untuk bahagia di atas lukanya. “Bintang –bintang kecil yang berkilau menyisakan jejak-jejak waktu yang telah kita lalui. Duniaku adalah dirimu kak, tahun berganti tahun dan waktu seakan menghilang dalam sekejap mata, hanya satu hal yang tidak pernah berubah, hal itu adalah hal yang selamanya tidak akan pernah bisa berubah, cintaku kak, cinta ini hanya untukmu.” ujar Jo sembari menatap bintang di atas langit, air matanya keluar begitu saja dari kedua bola matanya. Jay tersenyum lebar saat mendengarkan perkataan Jo dengan sang bintang. Wanita itu tidak menyadari kehadiran Jay di kamarnya. Jay duduk di samping Jo, Jo terperanjat dengan Jay yang tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya, Jo mengusap air matanya dengan kasar, dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia tidak ingin lelaki itu tahu bahwa ia tengah menangis, ia harus terlihat bahagia dan ia harus terlihat kuat dihadapan lelaki itu. “Sejak kapan kakak sudah ada di dalam kamarku?” tanya Jo tanpa melihat ke arah Jay. “Baru dalam hitungan detik,” bohong Jay. Ia menarik wajah Jo untuk melihat ke arahnya, Jo mengarahkan matanya ke balik punggung Jay, ia tidak sanggup untuk menatap mata lelaki itu, ia belum sanggup untuk bertemu dengan lelaki itu, hatinya masih dipenuhi rasa sesak saat ini. “Kenapa kamu nggak mau lihat aku?” Jo mengalihkan pandangannya dan menatap ke dalam manik mata Jay. Ia tidak mau lelaki itu melihat kelemahannya, walaupun berat ia akan berusaha untuk terlihat kuat di hadapan lelaki itu. “Ngapain kakak ke sini?” “Mau kasih selamat atas pertunangan kamu, selamat Jo,” Jay tersenyum manis. Jo membulatkan kedua bola matanya dan menatap Jay tidak percaya, benarkah lelaki itu datang hanya untuk mengucapkan kata selamat padanya? “Selamat juga atas pertunanganmu kak,” ujar Jo. Ini hal paling konyol yang pernah diucapkan Jo, bagaimana mereka berdua bisa saling memberi selamat atas rasa sakit yang tengah mereka nikmati. Jay menangkup wajah Jo dengan kedua tangannya, “Kenapa kamu begitu sulit untuk diraih, padahal jarak kita sedekat ini,” ujar Jay dengan lirih. Jo menundukkan wajahnya. Jay tersenyum tipis, Jay mendekatkan wajahnya pada telinga Jo, “Sebenarnya, aku ingin menculikmu.” Bisik Jay dengan pelan. Jo membelalakkan kedua matanya, ia mengangkat wajahnya dan menatap Jay penuh tanya. “Maksud kakak apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD